Senin, 28 Desember 2015

[Resensi: Perfect Pain - Anggun Prameswari] Ketegaran Bi sebagai Penyintas KDRT


Judul buku: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Editor: Jia Effendi
Desainer sampul: Levina Lesmana
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: November 2015
Tebal buku: viii + 316 halaman
ISBN: 979-780-840-8
Book available at: bukupedia.com





BLURB

Sayang, menurutmu apa itu cinta?
Mungkin beragam jawab akan kau dapati.
Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi.
Atau malah tentang bekas luka
dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang?
Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka
yang mudah tersembuhkan.
Namun, kau akan jumpai pula luka
yang selamanya terpatri.
Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai,
juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu.
Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri,
sebelum melabuhkan hati?
Memaafkan tak pernah mudah, Sayang.
Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.


RESENSI

Bidari cukup panik saat dipanggil oleh pihak sekolah puteranya, Karel. Menurut Miss Elena, wali kelas Karel, bocah kelas enam itu telah berkelahi dengan teman sekelasnya. Karena buku sketsanya diambil, Karel menonjok dan mencekik temannya. Pilu hati Bidari karena Karel sanggup melakukannya, karena Bidari tahu, Karel yang paling paham kalau dipukul itu sakit.
Bagi sebuah keluarga, meja makan selalu punya cerita tentang apa saja yang terjadi dalam sebuah keluarga. Demikian juga meja makan keluarga Bidari. Hanya saja, ini bukan kisah bahagia, ini kisah tentang tamparan, pukulan dan cekikan yang sering terjadi dalam keluarganya. Kekerasan rumah tangga yang dilakukan Bram, suaminya terhadap dirinya. Meja makan Bi telah merekam hal-hal menyakitkan itu.
Selama ini Bi bertahan, demi Karel, demi keutuhan keluarganya. Juga karena Bi yakin dirinya memang layak diperlakukan seperti itu oleh Bram, suaminya. Bi yakin ia memang tak becus masak dan tak becus mengurus rumah tangga.
Namun tiba-tiba saja Karel pergi tanpa pamit. Rupanya sejak ngobrol dengan Miss Elena dan tahu bahwa pacar Miss Elena adalah seorang pengacara, Karel memutuskan untuk mencari bantuan bagi mamanya. Pilihannya jatuh pada Sindhu, kekasih Miss Elena.
Awalnya Bi menolak. Berpura-pura bahwa yang terjadi dalam rumah tangganya adalah hal yang wajar. Namun ketika pukulan dan penganiayaan Bram membuatnya harus dibawa ke rumah sakit, Bi tak punya pilihan lain. Ia harus berjuang. Demi keselamatannya sendiri dan demi keselamatan Karel.
Mampukah Bi lepas dari jerat KDRT yang dilakukan suaminya? Apakah Bi bisa melepaskan dan memaafkan masa lalunya yang ternyata ikut andil dalam penderitaannya kini? Sanggupkah ia menggapai bantuan yang ditawarkan Sindhu atau justru memilih kembali pada Bram?

------------

Saya akui membaca novel ini perlu kerja keras. Pada awalnya saya hampir menyerah melanjutkan. Bukan karena ceritanya nggak asyik, atau gaya cerita yang membosankan, bukan. Anggun tetaplah penulis kesayangan saya karena gaya berceritanya yang mengalir dan membius. Saya merasa nggak sanggup lebih karena saya nggak tega dan ngilu mengikuti perjalanan kisah Bi.
Sesak napas saya sampai kumat karena ikutan merana memikirkan nasib Bi. Gilak!!

Perfect Pain diceritakan dari sudut pandang Bidari, jadi nyesek-nyesek dan ngilu-ngilunya berasa banget. Diksi yang digunakan dalam novel juga makin menambah rasa teriris-iris. Plotnya pun rapi dan runtut.
Bagi saya yang paling sedih sih bukan kekerasan fisik yang dialami Bi (walau itu  bagian yang ngilu juga) tapi kekerasan mental dari ayah Bi yang bikin saya marah banget. Saya marah karena seharusnya nggak ada anak perempuan yang boleh dilecehkan ayah sendiri!
Sosok ayah kan seharusnya menjadi cinta pertama setiap anak perempuannya. :(

Bidari menjadi karakter yang istimewa bagi saya. Seorang penyintas. Meskipun kemudian saya memakinya karena keputusannya yang sembrono, saya tetap merasa Bi wanita yang tangguh. Melewati tahun-tahun sebagai anak perempuan yang kerap dimaki, kemudian menghabiskan tahun-tahun sebagai samsak istri yang selalu jadi sasaran kemarahan, ia nrimo saja. Memang kesetiaan dan kebebalan itu garis batasnya tipis banget :'(
Kalau saya jadi Bi, pasti sudah memilih kabur dari dulu-dulu. Eh tapi nanti jadi nggak bisa ketemu Sindhu, ya :p
Saya jatuh hati pada Karel. Anak semuda itu melihat kekerasan langsung di depan matanya, berusaha melindungi sang ibu, berusaha bertanggung jawab dan punya tekad kuat. Ada rasa iba sekaligus kagum dalam benak saya. Hanya saja saya merasa terganggu dengan istilah 'tangan mungil' untuk menggambarkan tangan Karel. Ngg... saya sampai menatap tangan murid saya dan merasa nggak pas dikategorikan tangan mungil. Apa karena saya menganggap tangan mungil itu ya tangan seukuran anak-anak saya yang masih balita?

Roman antara Bi dan Sindhu menjadi pemanis di antara gelap dan sakitnya kehidupan Bi. Roman yang pas dan nggak berlebihan. Ya, Bi kan statusnya istri seseorang, jadi romannya tentu nggak neko-neko, dong. Tapi saya suka interaksi Sindhu, Karel dan Bi ketika lomba makan es krim. Aaah... itu bagian yang paling saya suka.

Banyak hal yang saya dapatkan dalam novel ini. Bukan hanya tentang rasa pilu, tapi juga ketegaran. Bahwa kita harus mencintai diri kita sendiri agar orang lain bisa mencintai dan menghargai kita. Ada pelajaran tentang cara melindungi diri juga dalam novel ini. Perfect Pain adalah kisah perjuangan seorang penyintas yang reccomended banget, deh. Kamu, para perempuan yang dilahirkan sebagai perempuan hebat harus baca novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Rumah adalah tempat kau titipkan hatimu agar kau ada alasan untuk pulang. (hlm. 7)

"Jangan jadikan orang lain alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian." (hlm. 91)

"A father is every girl's first love. Suka nggak suka, Bi, relasi ayah dan anak perempuannya akan selalu memengaruhi bagaimana anak perempuan memilih pasangannya." (hlm. 150)

"Ada hal-hal yang begitu indah, tapi hanya bisa dikenang. Sejauh apa pun kita berusaha menghidupkannya kembali, nggak akan pernah bisa." (hlm. 175)

"Bi, setiap orang layak dicintai. Kalau di kepalamu selalu tertanam ide bahwa kamu nggak pantas dicintai, maka itulah cara orang akan memperlakukanmu." (hlm. 188)

Sabtu, 26 Desember 2015

[Blogtour: Resensi] Meet Lame - Christian Simamora


Judul buku: Meet Lame
Penulis: Christian Simamora
Editor: Prisca Primasari
Designer sampul: Dwi Anissa Anindhika
Ilustrator isi: Mailoor
Penerbit: Twigora
Tahun terbit: November 2015
Tebal buku: viii + 296 halaman
ISBN: 978-602-70362-3-9
Book available at: Bukupedia.com





TAGLINE

I love you.
You love her.
He kissed me.

BLURB

Dear all,

Saat ini, aku sedang terlibat perasaan dengan dua cowok sekaligus.

JANIEL...
Bahkan sampai detik ini pun, Janiel masih belum ada tanda-tanda ngeh mengenai betapa patah hatinya aku karenanya. Yah, aku memang nggak ada rencana untuk memberi tahu sih—buat apa juga? Memangnya situasi bakal berubah? Memangnya Janiel punya perasaan terpendam juga padaku sehingga pernyataan cintaku itu mendorongnya untuk memutuskan Putri dan memacariku?

DANIEL...
Di hari perpisahan itu, aku melakukan sesuatu yang percuma juga untuk aku sesali. Daniel Kelvin Vincensius—itu nama panjangnya—mencuri ciuman dan keperawananku pada hari yang sama. Meninggalkan Indonesia beberapa jam kemudian. Membiarkan aku bertanya-tanya tentang arti kebersamaan singkat itu selama bertahun-tahun... sampai akhirnya aku capek sendiri.

JANIEL atau DANIEL?
Atau lebih baik nggak dua-duanya saja? Aku lagi nggak kepengen bermain-main dengan perasaan dan kebahagiaanku sendiri. Apalagi karena kamu dan aku sama-sama tahu: love hurts, love gives you pain.

You know what... FUCK LOVE! Maybe this is for the best. Sekian dan terima kasih.

Tertanda,

AKU YANG LAGI STRES SENDIRI


RESENSI

Saat sedang asyik membalas pertanyaan dan komentar para calon pembeli di lapak jualannya di facebook, Aku terkejut bukan kepalang mendapati message dari Janiel di inboxnya. Setelah sekian tahun tak bersua tiba-tiba saja Janiel muncul lagi di hidup Aku. Janiel, pria yang pernah ditaksir Aku di masa sekolah itu, dengan lugas meminta bantuan Aku agar mau menjadi mentornya sebagai wirausaha.
Maka dengan hati berdebar tak karuan, Aku pun setuju dan mengijinkan Janiel berkeliaran di dalam rumahnya agar Janiel bisa mempelajari sistem kerja bisnis online.
Perlakuan Janiel kepada Aku sungguh manis dan sempat membuat Aku merasa GR. Sayang, Aku harus dibuat patah hati lagi oleh Janiel dengan adanya Putri, pacar Janiel.
Ketika Aku sedang patah hati itulah, Daniel kembali. Daniel sosok yang amat sangat dibenci Aku karena menghilang tanpa kabar setelah Aku menyerahkan keperawanannya. Bertekad untuk mengusir Daniel dari rumahnya, Aku meminta bantuan Janiel untuk berpura-pura sebagai pacar Aku.
Sayangnya pesona Daniel yang dulu bisa menaklukkan Aku belum memudar. Aku mendapati dirinya masih mudah dilanda gairah saat berdekatan dengan Daniel.
Ketika dua pria itu memutuskan untuk mengejar dan menaklukkan Aku, siapa yang akan Aku pilih? Janiel atau Daniel? Bagaimana pula Aku menghadapi amukan Putri?

--------------

Jangan salah ya, meski salah satu tokoh dalam Meet Lame berinisial J, namun novel ini nggak termasuk dalam deretan novel jboyfriend melainkan novel lepas yang berdiri sendiri. Konsepnya unik dan kemasannya lain dari yang lain.
Meet Lame memang novel yang kocaknya kebangetan. Ide ceritanya yang biasa, dikemas dengan apik oleh Christian Simamora sehingga menjadikan novel ini benar-benar light and fun.

Tokoh perempuan dalam novel ini memang nggak bernama dan hanya disebutkan sebagai Aku, ini adalah keputusan penulis berdasarkan permintaan para pembaca di wattpad. Seru juga menurut saya, karena dengan begini pembaca bisa lebih mudah masuk ke dalam tokoh Aku.
Aku merupakan perempuan yang mandiri, ceplas-ceplos, gokil dan lumayan dramatis. Meskipun tubuhnya gendut tapi cuek dan nggak jaim waktu makan :)) Yang pasti, saya bakal suka kalau punya teman seperti Aku. Tapi ngomong-ngomong kenapa si Aku nggak punya teman dekat cewek ya? Padahal saya mau deh sahabatan sama dia.
Sedangkan Janiel... hufft seandainya saja ada mantan teman SMA saya yang masih hot kayak Janiel. Saya sampai ngoprek-ngoprek facebook nyari foto teman-teman SMA dulu yang kemungkinan bisa sebelas-duabelas sama Janiel, tapi nggak ada. Kebanyakan udah buncit. Hahaha~
Saya suka karakter Janiel yang manis dan sederhana. Perlakuannya memang manis banget terhadap Aku. Bukan mentang-mentang ganteng terus semena-mena sama perempuan gendut dan cuma mau manfaatin doang. Nooo!! Asli, Janiel ini tipe suamiable banget.
Karakter Daniel bisa dibilang tipe muka badak. Pedenyaaaaa selangit. Tapi salut deh sama perjuangan dia. Lagi-lagi kenapa nggak ada pria seganteng Daniel yang bertetangga dengan saya :p

Walau nggak bertabur barang branded dan kemewahan, tapi novel ini masih berciri khas. Apalagi kalau bukan istilah-istilah unik dan analogi-analogi 'kacau' yang tercermin dalam ucapan-ucapan dan pemikiran si tokoh Aku. Saya yakin, sejak membaca novel ini, pandangan saya terhadap alpenliebe nggak akan pernah sama lagi. Duh!

Ilustrasi juga jadi hal menarik dalam novel ini. Tentunya dengan dihiasi judul-judul bab yang kontroversial. Haha~ Sumpah, judulnya bikin ngakak, deh.
Sayangnya untuk ilustrasi, kenapa gambar si tokoh perempuan terlihat langsing? Padahal menurut cerita kan tokohnya berbadan besar?

Overall, Meet Lame menjadi bacaan yang ringan dan asyik untuk diikuti. Adegan kipasnya hanya sebatas ciuman yang masih wajar, jadi masih aman untuk pembaca usia dewasa muda.



***************CHALLENGE***************

Dan untuk tantangan dari Bang Ino, apalah yang bisa saya lakukan selain pasrah menjalankan *tutup muka*

Well, bagi yang sudah mengikuti blog tour dari awal pasti tahulah kalau para bloghost ditantang untuk berfoto bersama novel MEET LAME dengan pose ikonik 'Bryanboy Pose' yang diabadikan di iklan Fendi 2006.

Tapi yaaaaa namanya juga model KW, udah niat pun hasilnya nggak mirip >.< *pundung*




Sambil nyari recehan yang jatuh
buat beli Tiger in My Bed XD


Jumat, 25 Desember 2015

[Resensi: Konstelasi Rindu] Perjuangan Rindu di Tahun Pertama Kuliahnya


Judul buku: Konstelasi Rindu
Penulis: Farah Hidayati
Desain sampul: Farah Hidayati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 352 halaman
ISBN: 978-602-03-0012-2



BLURB

Akhirnya Rindu Vanila menyandang status mahasiswa arsitektur. Ia akan belajar mendesain bangunan menakjubkan seperti Menara Eiffel, atau gedung pertunjukan seperti Sydney Opera House, atau taman buatan Gaudi, mungkin juga mendesain barisan pencakar langit yang menghutan di New York City, atau mal, atau rumah, tentu saja. Untuk seseorang yang ia kasihi.

Namun di hari pertama kuliah, ia sadar menjadi arsitek tidak semudah yang dibayangkan. Berkutat dengan garis lurus selama seminggu penuh, lembur hanya untuk mengarsir, bukan bagian dari impian indahnya.

Menjadi arsitek, juga menjadi impian Djo, Bening, Langit, Sherin dan Saras. Bersama-sama mereka menjadi bagian dari konstelasi Rindu dalam menjalani kehidupan kampus. Bagaimana mereka belajar memaknai setitik garis yang menghubungkan impian mereka masing-masing?

RESENSI

Impian Rindu adalah menjadi mahasiswa arsitektur Universitas Mayapada di Jogjakarta, tapi Abah melarang dan menyuruh Rindu untuk kuliah di Surabaya. Alasan Rindu untuk berkuliah di Jogja sama dengan alasan abah melarang; ibu Rindu yang terbaring koma di rumah sakit universitas Mayapada.
Tapi diam-diam tanpa sepengetahuan abah, Rindu nekat tetap kuliah di Jogja. Ia merasa harus tetap ada seseorang yang menjaga ibu dan mengajak ibu bicara, walaupun itu adalah pembicaraan satu arah.
Di kampusnya, Rindu berkenalan dengan teman-teman yang akan menjadi teman seperjuangannya. Ada Bening dan Djo yang sangat dekat dengannya, Sherin yang aneh, Langit yang jenius, dan Saras yang dengan terang-terangan berusaha mendekati Langit.

Suatu hari, Langit menemukan buku agenda Rindu. Isi agenda itu membawa sesuatu yang familier bagi Langit. Sayangnya, sebelum bisa mengembalikannya pada Rindu, Langit menghilangkannya. Langit tak berani berterus terang sehingga ia merahasiakannya. Tapi ternyata, bukan hanya Rindu dan Langit saja yang punya rahasia.
Rindu, Bening, Djo, Sherin, Langit dan Saras, jiwa-jiwa yang antusias menaklukkan tahun pertama kuliah mereka, juga punya rahasia yang mereka sembunyikan. Masalah yang harus mereka hadapi dan yang harus mereka ungkapkan.
Akankah rahasia Rindu terbongkar? Akankah Rindu bisa melihat ibunya bangun dan tersenyum kembali? Bagaimana kisah cinta Rindu dan Langit sementara ada rahasia dan Saras di antara mereka?

--------------

Wow. Selesai membaca novel ini membuat saya terkagum-kagum pada mahasiswa arsitektur. Saya banyak mendengar tugas-tugas yang harus mereka hadapi, tapi di novel ini lebih banyak yang diungkapkan dan diceritakan.

Menyenangkan sekali membaca novel yang 'berisi' ini. Konstelasi Rindu memberi pengalaman baru bagi saya yang bukan mahasiswa jurusan arsitektur. Ada banyak hal tentang arsitektur menghiasi kisah ini; mata kuliah arsitektur, dalil-dalil arsitektur, tugas-tugas arsitektur, barang-barang khas arsitektur, juga mimpi-mimpi para calon arsitek. Tapi bukannya kebingungan dengan istilah dan ritmenya, saya menjadi semacam tercerahkan. #tsahbahasanya

Konstelasi Rindu dikisahkan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang yang cukup berimbang sehingga saya bisa merasakan keresahan tokoh yang lain. Arus alurnya unik dan sempat membuat saya tersendat-sendat di awal, namun semakin ke belakang saya semakin bisa menikmati.

Saya suka penggunaan nama Mayapada sebagai nama universitasnya. Tapi yang terbayang malah kampus UGM. Haha~
Entah kenapa penulis nggak menggunakan kampus asli saja sebagai settingnya dan memilih menggunakan nama fiktif. Toh daerah dan kawasannya asli ada di Jogja.

Saya kagum juga pada tokoh Rindu. Keputusannya menentang abah dan berbohong demi bisa berada di sisi sang ibu sangat berisiko. Saya nggak kebayang bisa mengambil keputusan seperti itu. Cewek yang punya prinsip.
Terus mupeng banget dong sama kemampuan menggambar si Langit. Sampai bisa menang lomba dan punya kesempatan magang.
Suka deh sama interaksi Langit dan Rindu. Cara Langit ngasih perhatian buat Rindu itu berasa manis. Terutama di bagian akhirnya. Aww~
Tapi tokoh yang mencuri perhatian saya malah Sherin. Cewek ini justru pengamat yang cerdas. Dia banyak mengamati dan.... menyelidiki. Haha~
Dan yang membuat saya mengerenyit... adalah tentang Saras. Ketika penulis menggambarkan Saras yang suka menggerombol dengan gengnya dan menggosip, tertawa keras-keras, dan merasa wajar karena mungkin sebagai anak asli Jogja berhak 'menguasai' alias cekakakan di area itu. Saya jadi berpikir, apa saya begitu juga ya dulu di kampus? Bikin teman-teman dari luar Jogja nggak nyaman karena cekakakan di lorong koridor kampus :D

Ending Konstelasi Rindu realistis bagi saya. Bukannya saya mengecilkan keajaiban tapi perjuangan hidup nggak selalu berujung manis. Ada ketegaran yang harus kita pelajari dari sakitnya kehilangan.

Saya rekomendasikan Konstelasi Rindu buat pembaca yang ingin menikmati cerita roman dengan kemasan yang arsitektur banget. Novel ini membuat saya merasa ingin kembali ke masa-masa awal kuliah dan mengingat teman-teman senasib di kala itu.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Kalau ada yang menganggapku keras kepala, aku akan mengingat Eiffel dan menaranya.
Aku percaya. Seperti Eiffel yang percaya pada menaranya. (hlm. 8)

Yah, kalau kita baru terhadap sesuatu, kita memang tidak harus langsung memahaminya. Kita memang harus menunggu beberapa waktu sampai pemahaman itu mengendap sendiri di benak, kan? (hlm. 38)

Tak ada yang pasti, tapi menjalani hidup harus penuh keyakinan. (hlm. 88)

Apakah cinta bisa dihasilkan oleh mata seseorang, karena memandangmu membuatku seperti memandang surga. (hlm. 104)

"Ben, kenapa seseorang mempertahankan sesuatu yang nggak seharusnya dipertahankan?" (hlm. 110)

"Keterbukaan dan kejujuran kadang menyakitkan. Tapi ia harus ada dalam hubungan yang sehat." (hlm. 111)

"Tapi sesuatu yang paling penting terkadang adalah sesuatu yang tidak berani kita ucapkan." (hlm. 147-148)

Kehilangan sesuatu sedikit demi sedikit tidak terlalu menyedihkan dibandingkan sekaligus dalam jumlah banyak. (hlm. 151)

Mungkin kata-kata klise itu benar, bahwa kritik adalah vitamin, zat yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh namun diperlukan untuk kesehatan jiwa yang bertumbuh. (hlm. 220)

"Berbuat sebanyak-banyaknya selagi masih bisa. Berbuat sebelum semesta menghentikan dengan caranya. (hlm. 250)

Masalahnya, Rin, you can't live the truth if you always try to please everyone.... (hlm. 334)

Selasa, 22 Desember 2015

[Resensi: Cinder - Marissa Meyer] Kisah Cinta Si Upik Bernoda Pelumas


Judul buku: Cinder (The Lunar Chronicles #1)
Penulis: Marissa Meyer
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: Januari 2016
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 9786027150546
Book available at: Bukupedia.com




BLURB

Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya.
Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan Sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan Sang Pangeran dan Bumi?

RESENSI

Nama Linh Cinder cukup terkenal di seantero New Beijing sebagai mekanik terbaik. Tentunya wajar bagi orang-orang bila mengasosiasikan namanya dengan seorang pria tua. Banyak yang tak menyangka bahwa sang mekanik ternama itu adalah seorang gadis muda. Demikian juga dengan Pangeran Kaito, putra mahkota Persemakmuran Timur, yang siang itu datang ke stan milik Cinder di pasar mingguan Beijing.
Pangeran Kai datang diam-diam karena ingin memperbaiki androidnya. Android yang cukup tua namun seolah begitu penting bagi Pangeran Kai. Mereka pun berkenalan tanpa Pangeran Kai tahu bahwa Cinder adalah seorang cyborg.
Cinder menutupi kenyataan itu karena tak ingin pangeran merasa jijik padanya.
Beberapa saat setelah pangeran pergi, seketika terjadi kegemparan di pasar itu.
Salah satu pemilik toko di pasar itu tiba-tiba terserang wabah Letumosis. Orang-orang pergi dengan panik sementara sang pasien dibawa ke karantina. Beberapa tahun terakhir bumi memang diserang wabah penyakit mematikan, penyakit itu pula yang telah menyerang ayah Kaito, Kaisar Rikan, sehingga sang kaisar harus terbaring dalam ruang karantina. Dan hari itu bukan hanya pemilik toko roti saja yang terjangkiti Letumosis, tapi Peony—salah satu adik angkat Cinder—pun tertular dan harus dikarantina.
Adri, ibu angkat Cinder merasa marah dan menuduh Cinder lah yang telah menularkan penyakit itu pada Peony. Adri lalu memutuskan mengirim Cinder untuk dijadikan kelinci percobaan vaksin-vaksin anti Letumosis yang sedang diuji coba. Perlawanan Cinder sia-sia dan ia menyerah.
Tetapi ketika diuji, rupanya Cinder kebal terhadap penyakit itu. Hal ini membuat dokter Erland tertarik untuk semakin dalam meneliti Cinder.
Wabah Letumosis semakin berbahaya ketika Kaisar meninggal karenanya. Namun ancaman bukan hanya berasal dari Letumosis tapi juga datang dari Ratu Levana penguasa Bulan yang sejak lama menginginkan aliansi dengan cara menikah dengan Pangeran Kaito. Dengan kemampuan mengendalikan pikirannya yang mengerikan, Ratu Levana menjadi ancaman besar bagi makhluk Bumi. Terutama karena makhluk Bulan adalah makhluk kejam dan mengerikan. 
Akankah vaksin pengendali wabah penyakit berhasil didapatkan? Haruskah Kaito menikah dengan Levana demi beraliansi dengan Bulan dan menyelamatkan manusia? Dan akankah Pangeran Kaito mengetahui jati diri Cinder?

---------------

Saya senang sekali saat tahu Penerbit Spring hendak menerjemahkan Cinder. Novel young adult, bergenre dystopian dan romance ini merupakan novel yang mengambil cerita Cinderella sebagai dasar ceritanya. Saya cukup penasaran akan seperti apa jadinya jika sebuah tokoh fairy tale "ditempatkan" dalam dunia futuristik di Beijing.

Setting waktu novel Cinder terjadi di kisaran Third Era, yaitu pada periode waktu yang dimulai setelah Perang Dunia Keempat. Ceritanya sendiri terjadi di Beijing yang konon katanya, menurut sang penulis merupakan daerah di mana cerita Cinderella yang asli berasal. Penggambaran kota dan pemerintahan ala dystopiannya sangat detail dan fresh. Marissa memberi penggambaran yang mudah terbayangkan.

Alur cerita Cinder begitu rapi dan mengalir, asyik untuk dinikmati. Beberapa hal mirip dengan dongeng Cinderella, misalnya saja seperti Cinder yang punya ibu angkat dan dua saudari angkat, Cinder yang harus bekerja, mobil kuning sewarna labu, pesta dansa, dan kaki cyborg Cinder yang jatuh di pesta dansa!
Sangat mengasyikkan menemukan hal-hal yang akrab dalam suatu cerita namun juga dimodifikasi dengan begitu cerdas.

Cinder sendiri adalah tokoh protagonis favorit saya. Tegar, mandiri, kuat dan hati-hati. Meski ada kalanya dia merasa nggak percaya diri karena dia adalah cyborg, tapi Cinder nggak langsung klepek-klepek gitu aja terhadap Pangeran Kai. Good girl!
Pangeran Kaito Kid pastilah mencuri perhatian dengan sifatnya yang humble dan sudah terlihat bibit-bibit bijaksananya. Saya merasa kasihan melihatnya menderita di bawah tekanan Ratu Levana yang terus berusaha menyihir pikiran Kaito.
Tapiiiii... tokoh yang menyebalkan bukan hanya Levana yang angkuh saja. Yang paling menyebalkan tentu saja Linh Adri dan Linh Pearl, ibu dan kakak angkat Cinder. Marissa benar-benar bisa mengaduk emosi saya gara-gara mereka.


Sayangnya masih banyak misteri yang belum terpecahkan di dalam novel ini. Terutama tentang masa lalu Cinder, apa peranan mendiang ayah angkatnya dalam misi penyelamatan Cinder di masa lalu, dan dari mana kemampuan mekanik Cinder berasal. Masih banyak pertanyaan di benak saya yang semoga bisa terjawab di buku kedua.

Penerjemahannya bagus dan enak dibaca. Saya nggak menemukan kesalahan tata bahasa ataupun kalimat yang rancu. Terdapat catatan kaki untuk kata-kata yang asing ataupun istilah yang sulit dimengerti sehingga memudahlan saya dalam memahami cerita.

Cinder menjadi bacaan young adult terbaik saya sepanjang tahun ini. Semoga saja terjemahan buku keduanya, Scarlet, segera terbit menyusul novel ini. Sudah nggak sabar rasanya mengikuti seri Lunar Chronicles yang seru ini.
Bagi kalian yang penasaran terhadap novel ini, nantikan terbitnya Cinder pada awal Januari 2016 yaa :)



Senin, 21 Desember 2015

[Resensi: Notte - Dita Safitri] Perjumpaan di Bawah Langit Florence


Judul buku: Notte: Satu Malam Ketika Kita Bertemu
Penulis: Dita Safitri
Editor: Cicilia Prima
Desainer kover: Dyndha Hanjani P.
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Juli 2015
Tebal buku:
ISBN: 978-602-375-120-4




BLURB

Arjuna Batilada, 25 tahun. Seumur hidup hanya melakukan apa yang diinginkan ibunya. Ia pergi ke Florence setelah kematian ibunya yang mendadak. Ia menyangka kalau tiket itu adalah wasiat ibunya sebelum meninggal.

Vecchio, 22 tahun. Seorang gadis yang tak seperti kelihatannya, ternyata adalah seseorang yang telah melakukan banyak hal berani dalam hidupnya, juga pergi ke Florence setelah mendapat warisan dari ibunya yang sudah lama menghilang.

Bertemu di tengah keajaiban Florence yang memukau, mereka kemudian jatuh cinta di atas bench di bawah lampu jalan malam itu. Sampai akhirnya Ve menghilang begitu saja di satu siang sebelum janji bertemu yang ketiga kalinya dengan Jun.

Jun dan Ve mungkin sama-sama tidak tahu, kalau pertemuan malam itu akan membuat mereka menyadari bahwa kadang orang yang berada terlalu dekat  terkadang tidak disadari keberadaannya. Jun dan Ve sama-sama tidak tahu kalau malam itu akan benar-benar mengubah hidup mereka untuk selama-lamanya.

REVIEW

Arjuna datang ke Florence dengan perasaan yang masih berselimut duka. Kematian ibunya yang mendadak membuatnya menyesal. Seumur hidupnya Arjuna selalu menuruti kemauan ibunya hingga ia tumbuh jadi pria yang kaku dan tak pernah bersenang-senang. Maka, dengan dorongan Mikaela, sahabatnya, Arjuna pun berlibur ke Florence untuk memenuhi wasiat ibunya.
Di Florence, tanpa sengaja ia bertemu gadis aneh yang terlalu periang. Nama gadis itu pun unik, Vecchio. Semula Jun menganggap gadis itu sebagai pengganggu. Namun ketika mereka beberapa kali bertemu kembali, Jun mulai menikmati kebersamaan mereka.
Sayangnya, ketika Jun merasa gembira atas kedekatan mereka, gadis itu tiba-tiba menghilang. Jun pun tak punya keinginan untuk melanjutkan perjalanannya dan memilih kembali ke Indonesia.
Setiba di Jakarta, tindak-tanduk Jun yang berbeda tak luput dari perhatian Mikaela. Hingga Mikaela pun sadar Jun telah jatuh cinta pada gadis lain.
Ve sendiri secara tiba-tiba memutuskan kembali ke Jakarta karena diberi tahu bahwa Max sakit. Anak laki-laki berusia empat tahun itu kangen pada Ve meskipun tetap bersikap cuek seolah tak membutuhkan Ve. Tapi Ronald, ayahnya, yakin Max membutuhkan Ve. Ve kembali dan berjanji pada Max untuk tidak akan pernah meninggalkan Max seperti ibu anak itu.
Bisakah Ve menepati janjinya, sementara hatinya telah dicuri Jun? Akankah takdir mempertemukan Jun dan Ve lagi? Apakah Mikaela harus menekan perasaannya dan merelakan Jun?
Sementara kedua gadis itu ternyata menyimpan rahasia besar dari Jun. Rahasia yang bisa menghancurkan hati Jun.

------------

Saya tertarik membaca novel ini karena kavernya yang berwarna ungu dan berkesan romantis. Ya ampun, saya memang selalu takluk dengan kaver cantik. Juga blurbnya yang lumayan menumbuhkan rasa penasaran.

Notte menggunakan POV orang ketiga dan nggak hanya menekankan konflik batin Jun dan Ve saja. Semua tokohnya diberi kesempatan untuk mengungkapkan keresahan hati mereka dengan berimbang.
Alurnya mengalir maju dan penuh misteri. Sepanjang cerita saya dibuat penasaran dengan kemisteriusan Ve. Ada hubungan apa Ve dengan Ronald dan Max. Rahasia apa yang disembunyikan tokoh-tokoh novel ini. Geregetan banget.

Ve digambarkan sebagai gadis yang periang dan bersemangat. Meski ternyata ia menyimpan banyak keresahan dan kesedihan. Tadinya saya setuju dengan Jun bahwa Ve memang lumayan annoying. Haha~
Jun tipe pria kaku yang terbentuk karena usahanya untuk menyenangkan ibunya. Bukan berarti anak mami, lho. Suka dengan keinginannya untuk belajar dan bekerja keras demi ibunda. Aww~ its so romantic. ^^
Mikaela menjadi karakter yang perhatian dan tegar. Ia selalu ingin yang terbaik demi Jun. Sama halnya dengan Ronald yang meski terlihat tak peduli tapi menyimpan jiwa besar dengan pasrah menerima keputusan Ve.
Hmm~ karakter mereka loveable semua, ya :)

Penggambaran settingnya bagus, dan detailnya diselipkan dengan rapi. Profesi tokoh utama juga jelas dan nggak berkesan hanya tempelan. Sungguh menarik mengikuti pekerjaan mereka yang berbeda-beda.

Cukup geregetan juga karena penulis lumayan pelit memberi clue untuk misteri yang menyelubungi setiap tokohnya. Saya terus saja dibuat bertanya-tanya, "oke, jadi kamu dan dia punya hubungan apaaaa?" XD
Maka saya pikir, twistnya cukup berhasil bagi saya. Saya kaget dengan rahasia Ve dan Mikaela dan malah jadi penasaran dengan penyelesaian konfliknya.

Saya berdebar menunggu eksekusi Dita untuk cerita ini. Dan kemudian lega. Lalu saya teringat quote yang ada di awal mula novel dan menjadi paham. Aaah... ini ending yang logis menurut saya. Memang nggak selamanya kita menjalani romansa seindah dongeng.

Saya rekomendasikan novel ini buat kalian pembaca yang menginginkan kisah cinta di bawah langit malam kota Florence dan yang akhirnya berbicara dengan logika. Love this story so much.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Ya, orang yang mengelak keras-keras sebelum orang lain menuduh, biasanya memang nelakukan hal yang dituduhkan." (hlm. 31)

Pada akhirnya akan selalu ada balasan untuk setiap keegoisan. (hlm. 95)

Benar yang selama ini dikatakan orang, bahwa kadang kala kenyataan yang menyakitkan itu akan tersimpan jauh lebih lama ketimbang yang menyenangkan. (hlm. 111)

"Tuhan selalu punya cara untuk kita. Mungkin dia mempertemukan kita untuk bersama, tetapi juga mungkin hanya ingin membuat kita jatuh cinta dan menyadari ada hal lain di depan mata yang tak akan kita lihat kalau kita nggak bertemu. (hlm. 138)

Minggu, 20 Desember 2015

[Resensi: In Between - Angelique Puspadewi] Di Antara Membohongi Diri dan Bertepuk Sebelah Tangan


Judul buku: In Between
Penulis: Angelique Puspadewi
Desain cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-1354-2
Available at: bukupedia.com



BLURB

Bagi Adelita, hanya Alvaro yang bisa membuat dunianya berwarna. Membuatnya jatuh cinta hingga tergila-gila. Tetapi karena pria itu atasannya di kantor, Adelita merasa minder. Mana mungkin Alvaro membalas perasaannya? Akhirnya Adelita malah menjodohkan Alvaro dengan sahabat baiknya, Keyla.

Tetapi ketika Alvaro jadian dengan Keyla, Adelita malah terjebak dilema. Antara bahagia menyaksikan kemesraan dua orang yang dia sayangi dan benci karena tak berdaya menanggung derita patah hati.

Namun, bagaimana jika ternyata Alvaro juga memendam perasaan yang sama terhadap Adelita?

REVIEW

Sejak Alvaro Curchez menggantikan posisi Pak Ardhan yang telah meninggal sebagai direktur operasional, hidup Adelita Suryadipraja mulai berubah. Adelita yang menjadi sekretaris Alvaro merasa stres dan gila. Bukan karena pekerjaan. Tapi karena tergila-gila pada Alvaro!
Adelita sibuk menahan perasaannya dan memilih menyukai Alvaro dalam diam. Hingga tiba-tiba Keyla, sahabatnya yang lama bermukim di Australia kembali dan melamar pekerjaan di kantor Adelita. Keyla diterima sebagai manajer umum proyek dan langsung menjadi primadona. Salah satu pria yang gencar mengejar Keyla adalah Edward, seorang duda yang terkenal sebagai don juan.
Ketika Alvaro curhat tentang masalah cintanya, muncul gagasan dalam benak Adelita untuk menyatukan Alvaro dan Keyla. Adelita yang minder dan merasa tak mungkin mendapatkan Alvaro, mulai menjadi mak comblang.
Usaha apa saja yang dilakukan Adelita untuk menjodohkan Alvaro dan Keyla? Dan ketika misinya berhasil mengapa ia semakin terluka? Dan bagaimana jika Alvaro mengungkapkan cintanya pada Adelita justru ketika Alvaro telah menjadi milik Keyla?

---------------

In Between menjadi karya pertama Angelique Puspadewi yang saya baca. Tertarik baca buku ini apalagi kalau bukan karena tagline-nya:

Membohongi diri sendiri lebih sakit dari cinta tak berbalas.

Duh, cinta tak berbalas aja sakitnya udah minta ampun, gimana membohongi diri sendiri?
Ide ceritanya menarik menurut saya, meski saya nggak setuju juga sama perbuatan si tokoh utama. Haha~

Diceritakan dengan POV orang pertama, yaitu sudut pandang Adelita, novel ini lebih berasa seperti curahan hati seorang teman. Angelique menuliskan konflik batin Adelita dengan gaya seolah Adelita ini seorang sahabat yang sedang bercerita pada saya.
Pilihan diksinya ringan dan renyah. Deskripsi juga ditulis rapi, meskipun saya nggak suka Keanu Reeves tapi ya okelah saya bisa bayangkan Alvaro sekeren itu.

Karakter Adelita entah saya pengin getok kepalanya atau pengin peluk dia erat-erat. Sebel tapi prihatin ketika dia setengah mati mengingkari perasaannya. Memang yang seperti itu bisa digolongkan sebagai penyakit psikis, ya. Saya pun kalau kepikiran tentang suatu masalah, asma langsung kambuh dan tulang punggung rasanya nyeri.
Pengkarakteran tokohnya bagus, konsisten dan kuat. Ada perbedaan antara tokoh yang satu dengan yang lain.

Cukup kaget dengan twistnya. Nggak nyangka bakal "berbelok" seperti itu, saya pikir bakal ada adegan cakar-cakaran antar sahabat. Hehe~
Tapi maniiiiis banget. Di bagian pergi ke Korea itu yang nggak nahan. Meski terkesan tiba-tiba, ada bagian di mana Keyla mengambil peran sebagai "aku" dan menjelaskan segalanya. Keresahannya, kemarahannya dan konflik batinnya.
Tapi sebenarnya saya lebih suka jika POV  tetap konsisten dan nggak pernah berubah, mestinya akan menjadi tantangan bagi penulis untuk menggambarkan konflik batin Keyla namun tetap dalam POV Adelita. Kecuali memang sedari awal POV bergiliran antara Adelita dan Keyla.

Beberapa typo dan kekurangan tanda baca dalam novel ini:

- Ahaaa... lihatlah matanya yang berbinar --> Ahaaa... lihatlah matanya yang berbinar. (hlm. 36)
- jangtungku --> jantungku (hlm. 39)
- thanks giving --> thanksgiving (hlm. 47)
- ...cerocos Keyla geregetan --> ...cerocos Keyla geregetan. (hlm. 59)
- daeran --> daerah (hlm. 87)
- Jadi biar kami ikut Pak Alvaro" --> Jadi biar kami ikit Pak Alvaro." (hlm. 99)
- di mulai --> dimulai (hlm. 140)
- persaanku --> perasaanku (hlm. 143)

Saya rekomendasikan novel Amore ini untuk teman-teman yang suka romance ala K-drama. Karena kalian akan dimanjakan dengan nama-nama aktor dan aktris Korea dan tak lupa keindahan Pulau Nami dalam novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Semua wanita bahagia bila pria mengistimewakannya. Bahagia diperlakukan sebagai si nomor satu. Tetapi pria belajar menyayangi perempuan melalui ibunya. Wanita pertama yang dilihatnya ketika membuka mata. Jadi, wajar seandainya dia mementingkan kepentingan ibunya. Berharap dia melakukan hal sama pada istrinya kelak." (hlm. 56)

"Key, tidak usah dipikir pakai logika. Cepat atau lambat, cinta itu datang tak terduga." (hlm. 105-106)

"Terima perasaan itu sebagai anugerah. Jangan merasa berbeda. Melepaskan adalah bersabar sementara terhadap ketentuan Tuhan. Jika dia jodohmu, pasti akan bertemu di kemudian hari. Kamu juga tidak boleh takut kehilangan dia. Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian. Setiap orang pasti akan berpisah dengan orang yang disayang. Sekarang, atau nanti. Cepat, atau lambat." (hlm. 138)

Sabtu, 19 Desember 2015

[Blogtour: Resensi + Giveaway] Replay - Seplia


Judul buku: Replay
Penulis: Seplia
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Young Adult
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-2319-0
Available at: bukupedia.com



BLURB

Nada pernah berjanji tidak akan membiarkan orang lain bunuh diri. Tapi sejak mengenal Audy, ia kehabisan akal dalam menepati janji tersebut. Audy, gadis yang berulang kali mencoba bunuh diri itu, begitu penuh kejutan.

Ujian tari membuat Nada terpaksa meminta bantuan Nino, pacar Audy, untuk mengiringi komposisi tariannya. Ia tidak memahami perasaan hangat yang timbul setiap melihat pemuda itu bernyanyi sambil memainkan jemari di tuts piano.

Nada tidak menyadari bahwa secara perlahan kehadirannya mengganggu hubungan Nino dan Audy. Perlahan, Nada menjadi orang yang ia benci. Seperti wanita yang merebut ayahnya dan membuat ibunya bunuh diri.

Dapatkah Nada menepati janji?

REVIEW

Sejak ibunya meninggal karena bunuh diri, Nada pergi dari rumah dan memilih tinggal di apartemen. Ia sulit memaafkan ayah dan Diana, si kekasih gelap, yang telah membuat ibunya sedih dan memilih bunuh diri. Di apartemen, Nada berkenalan dengan tetangga barunya, seorang gadis bernama Audy. Namun baru saja mereka berkenalan, malamnya Nada harus menyaksikan pertengkaran Audy dengan pacarnya, Nino, yang berujung pada ancaman Audy untuk bunuh diri. Audy cemburu buta pada Nino. Begitu Audy merasa Nino terlalu dekat dengan gadis lain, Audy mengancam akan bunuh diri.
Nada yang pernah merasa tak berdaya karena tak berhasil menyelamatkan ibunya berusaha mati-matian mencegah usaha bunuh diri Audy. Ia tak ingin lagi ada orang yang bunuh diri.
Tanpa sengaja Nada bertemu lagi dengan Nino ketika Nino sedang bermain piano. Musik yang dimainkan Nino menarik hati Nada sehingga Nada ingin menggunakannya sebagai musik pengiring ujian tarinya. Mereka pun bekerja sama diam-diam tanpa sepengetahuan Audy.
Lama-lama Nada merasakan getaran yang aneh saat bersama Nino. Hubungan mereka semakin dekat dan intens. Apakah Nada akan menjelma menjadi orang ketiga? Apakah ia bisa memposisikan diri sebagai perusak hubungan, dan menyakiti hati Audy?

---------------

Senang rasanya bisa membaca sebuah karya yang premisnya menarik. Replay termasuk salah satu di antaranya. Saya begitu menikmati kisah yang dituturkan Seplia dalam novel bergenre young adult ini.

Berapa banyak dari kita yang dengan mudah menyalahkan orang lain dan menghakimi mereka tanpa memandang dengan adil? Dan ketika kita tanpa sengaja jatuh dalam situasi yang sama, apakah kita bisa adil menghakimi diri kita sendiri? Seplia dengan cerdik meramu ide ini dan merangkainya menjadi jalinan kisah yang manis.

Diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, porsi konflik batin lebih banyak diungkapkan dari sisi Nada dan Nino. Keresahan dan kerisauan mereka dituturkan dengan apik oleh Seplia. Walau sebenarnya saya ingin juga mendapatkan konflik batin dari Audy sebagai penyeimbang. Karena saya masih merasa bertanya-tanya apa yang ada di benak Audy di akhir penyelesaian konflik.

Hal yang saya suka dari novel Replay adalah tokohnya yang masih manusiawi. Punya kekurangan. Punya kesalahan. Punya dosa. Meskipun sosok Nino ini jenius dalam bermusik dan ganteng dan sabar dan perhatian tapiii... ia toh manusia juga yang bisa khilaf.
Tokohnya konsisten dengan karakter masing-masing. Audy jelas kelihatan banget kalau labil. Sedangkan karakter ayah, saya merasa cukup kocak juga. Cocok sebagai pemilik label musik mayor yang biasanya lebih santai karakternya.
Interaksi antar tokohnya pas banget. Asyik diikuti dan terasa chemistrynya.

Namun memang untuk penyelesaian konfliknya masih terasa ada ganjalan dalam benak saya. Meskipun memuaskan semua pihak, tapi perasaan Audy masih saja menjadi misteri bagi saya.

Saya rekomendasikan novel ini bagi kalian penikmat romance yang berliku. Proses pendewasaan tokohnya layak untuk diikuti dan banyak hal bisa kita dapatkan dalam novel ini.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Aku tahu, cinta memang egois. Tidak mau berbagi pada siapa pun atau apa pun. Tapi kamu harus percaya pada pasanganmu. Sebisa mungkin membicarakannya baik-baik kalau ada masalah." (hlm. 100)

"Tidak sepatutnya kau berubah. Penderitaan tidak berarti mengubah orang baik menjadi buruk." (hlm. 114)

"Kalau suatu saat kebahagiaan tak memihak, masih yakin kamu akan jadi orang baik?" (hlm. 143)

*********GIVEAWAY TIME*****************



Nah, sekarang saya mau membagikan satu buah novel Young Adult yang keren ini buat seorang yang beruntung.

Caranya gampang banget:

1. Peserta berdomisili atau punya alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @LiaSeplia dan @KendengPanali
3. Share giveaway ini dengan hashtag #Replay dan jangan lupa mention akun kami berdua.
4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via GFC atau email (optional saja, nggak wajib, tapi saya bakal senang banget kalau difollow ^^)
5. Jawab pertanyaan di kolom komentar dengan menyertakan nama, akun twitter dan alamat email.
Pertanyaannya:

Kalau orang terdekatmu ingin bunuh diri, apa yang akan kamu lakukan?

6. Giveaway akan dimulai dari hari ini dan berakhir tanggal 24 Desember 2015 pukul 23.59. Nama pemenang akan saya umumkan di tanggal 25 Desember 2015.
7. Yang terakhir, good luck ya :)


************THE WINNER*****************

Setelah bersenang-senang selama 6 hari, kini saatnya saya memilih satu orang yang beruntung untuk mendapatkan novel Replay.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk para peserta giveaway ini. Kalian teman yang luar biasa, sahabat yang pasti sangat berharga karena berusaha sekuat tenaga melindungi orang-orang terdekat kalian. Kalian semua bikin saya terharu.

Dan di antara jawaban untuk pertanyaan saya sebelumnya, yang beruntung mendapatkan novel Replay adalaaaaaah:

Nama: Aya Murning

Twitter: @murniaya


Selamaaaat! Jawabanmu beda dari yang lain dan bikin saya geleng-geleng kepala. Berdoa saja semoga sahabatmu nggak kalap dan benar-benar membunuhmu lebih dulu. XD

Sila kirimkan data diri berupa alamat kirim dan nomor telepon ke email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com, dan saya tunggu dalam waktu 2x24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih, karena masih ada satu bloghost lain yang sedang memandu giveaway Replay juga.

Sampai bertemu di giveaway yang lain :)

Jumat, 18 Desember 2015

[Blogtour: Review + Giveaway] Cinderella Teeth - Sakaki Tsukasa


Judul buku: Cinderella Teeth
Penulis: Sakaki Tsukasa
Penerjemah: Nurul Maulidia
Penyunting: Nyi Blo
Proofreader: Dini Novita Sari
Design Cover: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: Oktober 2015
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-602-7742-63-5



BLURB

Saki ditipu oleh ibunya sendiri hingga gadis itu harus bekerja di sebuah klinik dokter gigi.
Padahal, ia benci dokter gigi!

Namun, musim panas itu akan menjadi musim panas yang berarti bagi Saki.
Pasien-pasien yang berkunjung ke klinik tersebut ternyata memiliki rahasia-rahasia unik. Belum lagi, seorang pemuda di klinik tersebut mulai menarik perhatian Saki.

Dapatkah Saki menghadapi phobia-nya, pasien-pasien, dan cinta yang datang bersamaan dalam satu musim panas?

REVIEW

Saki benci dokter gigi. Pengalamannya di masa kecil yang harus berurusan dengan dokter gigi yang tidak ramah sehingga ia kesakitan saat diperiksa membuatnya trauma. Itu sebabnya ia tak mau berurusan dengan klinik dan dokter gigi.
Hingga tiba waktunya libur musim panas dan Saki harus bekerja paruh waktu untuk mengisi liburan. Ibu Saki menyarankan Saki untuk menjadi resepsionis di tempat seorang kenalan. Saki setuju. Tapi betapa kagetnya Saki saat tempat kerja paruh waktunya adalah Shinagawa Dental Clinic, tempat pamannya yang dokter gigi bekerja. Tak bisa kabur, Saki pun pasrah bekerja sebagai resepsionis di tempat itu.
Di sana Saki bukan hanya bekerja bersama dokter gigi tapi juga perawat gigi, tekniker gigi dan seorang pegawai administrasi klinik. Bersama mereka, Saki berusaha memenuhi kepuasan pelanggan yang datang untuk merawat gigi.
Bermacam tipe pelanggan dijumpai Saki. Bukan hanya tipe yang kelewat ramah tapi juga tipe pemarah, tipe arogan dan tipe suka terlambat. Selain mendapat tugas untuk mewawancarai gaya hidup para pelanggan , Saki juga mendapat tantangan dari Yotsuya, si ahli tekniker gigi, untuk menganalisis setiap pelanggan yang datang.
Akankah trauma Saki sembuh? Dan bagaimana dengan cinta yang sering datang di musim panas? Bisakah Saki menghadapi para pelanggan dengan baik sambil merasakan debar-debar cinta?

-----------

Saat membaca judulnya pertama kali, saya merasa heran. Cinderella Teeth ini apa maksudnya ada gigi Saki yang tanggal lalu ditemu seorang pangeran dan sang pangeran mencari gigi siapa yang cocok dengan gigi temuannya? Ahahahaaa nggak mungkiiiiiin ya, kan?

Membaca novel ini momennya pas sekali. Pas karena saya pun sedang sakit gigi. Dan seperti Saki, saya benci dokter gigi. Dokter gigi yang saya temui saat kecil sinisnya minta ampun dan menceramahi saya dengan galak. Huhuuu~
Itu sebabnya saya merasa nyambung dengan cerita Cinderella Teeth ini.

Novel ini terasa menarik karena sangat 'berisi'. Banyak pengetahuan tentang gigi yang bisa kita dapatkan. Dan yang lebih seru adalah pertunjukan analisis *tsaah macem Detektif Conan aja* yang ditunjukkan Yotsuya. Ternyata masalah dengan gigi pun bisa menjadi penyebab orang memiliki sifat tertentu.

Diceritakan dari sudut pandang Saki sebagai orang pertama, cerita mengalir maju dan enak dinikmati. Penulis banyak memberi detail yang rapi di dalam novel ini.

Saya suka dengan karakter Saki yang agak-agak telmi. Tapi bisa dibilang Saki ini cewek yang pantang menyerah dan semangat juangnya tinggi. Khas karakter orang Jepang gitu. Dan senang rasanya melihat perkembangan karakter Saki dari yang tadinya pasif jadi lebih berani lagi.
Yotsuya merupakan cowok kalem dan susah bersosialisasi, tapi menjadi pengamat yang teliti. Takjub banget ketika Yotsuya tiba-tiba memberi petunjuk untuk membentuk analisis.
Karakter tokoh dalam novel ini memang banyak, tapi semua berbeda dan unik-unik. Pastinya asyik kalau ada klinik gigi yang berisi karyawan seperti karyawan di Shinagawa Dental Clinic ini.

Kavernya lucu banget. Saya memang selalu suka dengan kaver dari Bambi karena pasti unyu dan menarik.
Terjemahan novel ini juga bagus, nggak terlalu kaku tapi tetap mencerminkan kesopanan orang-orang Jepang dalam berbicara.

Saya rekomendasikan novel J-lit ini karena bukan hanya romansa saja yang akan pembaca dapatkan, tapi juga bagaimana cara menghadapi trauma terbesar kita dan bagaimana kita tetap sabar dan tabah pada perilaku orang lain.

***********GIVEAWAY TIME***************



Dalam blogtour Cinderella Teeth di blog ini saya punya dua eksemplar novel Cinderella Teeth dari Penerbit Haru untuk dibagikan kepada dua orang yang beruntung.

Syaratnya mudah saja:

1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @KendengPanali dan @PenerbitHaru
3. Share giveaway ini dengan hashtag #CinderellaTeeth dan jangan lupa memention kedua akun di atas.
4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via GFC ataupun email (nggak wajib tapi saya bakal seneng banget. Hehe~)
5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyertakan Nama, Akun twitter dan alamat email.
Pertanyaannya:

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi. Cerita yang unik dan menarik akan berkesempatan mendapatkan novel ini.

6. Giveaway dibuka mulai hari ini dan berakhir tanggal 31 Desember 2015 pukul 23.59 WIB.
7. Yang terakhir good luck, ya :)

Kamis, 17 Desember 2015

[Resensi: The Secrets of Sir Richard Kenworthy - Julia Quinn] Pernikahan Berselimut Rahasia


Judul buku: The Secrets of Sir Richard Kenworthy
Sub judul: Rahasia Sir Richard Kenworthy
Penulis: Julia Quinn
Penerjemah: Dharmawati
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Agustus 2015
Tebal buku: 472 halaman
ISBN: 978-602-03-1889-9
Available at: bukupedia.com




BLURB

Sir Richard Kenworthy hanya punya kurang dari sebulan untuk menemukan istri. Ia tak bisa terlalu pemilih. Tapi ketika melihat Iris Smythe-Smith bersembunyi di balik cello pada pertunjukan musik keluarga Smythe-Smith, Richard tahu ia menemukan gadis yang dicarinya.

Iris Smythe-Smith terbiasa diremehkan karena dirinya bukanlah gadis menonjol. Jadi ketika Richard Kenworthy meminta diperkenalkan, ia langsung curiga. Pria itu merayu, menggoda, dan menunjukkan tanda-tanda pria yang jatuh cinta, tapi Iris tak bisa memercayai kebenarannya. Ketika lamaran pernikahan Richard berujung pada keadaan yang memaksa Iris menerima pria itu, ia akhirnya berpikir Richard menyembunyikan sesuatu…

REVIEW

Richard Kenworthy harus menemukan calon istri. Segera. Itu sebabnya ia jauh-jauh datang ke London meninggalkan estat Maycliffe Park yang terletak di Yorkshire. Dan itu sebabnya ia mendatangi konser kuartet Smythe-Smith. Konser musik yang menampilkan empat gadis lajang dari keluarga Smythe-Smith, yang musiknya bisa dibilang mengerikan itu. Di sanalah di antara ingar-bingar suara alat musik yang menyakiti telinga, Richard melihat Iris, sang pemain cello.
Merasa tertarik pada gadis itu, Richard meminta tolong pada Winston Bevelstoke untuk memperkenalkan mereka. Dengan pendekatan yang intens, Richard makin yakin Iris lah gadis yang cocok untuk peran istri yang dicarinya. Iris cerdas, pengamat yang baik dan sangat mengutamakan keluarga. Itu yang terpenting.
Richard pun menyiapkan misi untuk mendapatkan Iris. Saat ia melamar gadis itu dan Iris memintanya untuk memberi waktu, Richard mengambil tindakan nekat. Ia mencium Iris di depan bibi Iris dan membuat Iris jadi tercemar. Mau tak mau pernikahan harus segera dilaksanakan.
Iris sesungguhnya merasa menyukai Richard. Namun ia juga menaruh curiga pada tindakan buru-buru pria itu. Mengapa Richard ingin sekali segera menikahinya? Apa yang Richard sembunyikan dari Iris? Dan apa sebenarnya yang diinginkan Richard dari Iris dalam peranannya sebagai istri?

---------------

Kembali ke selera asal! Huaaa... sepertinya sudah lamaaa sekali saya nggak membaca Historical Romance #lebay

The Secrets of Sir Richard Kenworthy merupakan novel keempat dari seri Smythe-Smith Quartet karya Julia Quinn. Sebelumnya saya sudah membaca The Sum of All Kisses dari seri yang sama.

Mengambil setting waktu pada tahun 1825, alur novel ini mengalir dengan lincah. Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga terutama sudut pandang Iris dan Richard.

Iris merupakan karakter yang menarik. Secara fisik ia begitu pucat dan begitu biasa, ia juga gadis yang kalem dan sabar. Namun Iris gadis yang cerdas dan pengamat yang luar biasa. Saya suka jalan pikiran Iris yang rasional dan jarang bersikap tak masuk akal.
Justru yang membuat frustasi adalah Fleur, adik Richard. Saya sampai berpikir, 'apa sih maunya anak ini? Rumit banget!' XD
Saya suka penggambaran tokoh Richard dalam novel ini. Sebagai hero, karakternya dideskripsikan dengan kadar yang pas. Tampan, tapi nggak berlebihan.
Saya suka dengan interaksi yang terjalin antara Richard dan Iris. Lebih menarik daripada interaksi Sarah dan Hugh dalam novel sebelumnya. Lebih logis dan rasional.

Paling suka di bagian konflik batin Richard yang terbelah antara mencintai Iris atau tetap menjalankan rencananya. Aih, inilah alasan mengapa saya nggak bisa berpaling dari hisrom. Penggambaran konflik batin heronya bikin hati teriris-iris. *jiaaah*

Sepanjang cerita saya dibuat penasaran apa sih yang disembunyikan Sir Richard. Rahasia apa yang melingkupi pria ini, dan apa yang akan terjadi pada Iris nantinya. Saya berharap rahasianya cukup sepadan dengan penantian saya. Tapi... saat terungkap, ternyata masalahnya nggak sesuai ekspektasi. Meski mungkin di masa itu, masalah yang dihadapi Richard dan Fleur ini bisa dibilang masalah berat dan mengakibatkan aib.

Kavernya cantik. Saya memang lemah dengan novel hisrom yang kavernya menampilkan gaun-gaun memikat. Haha~ tapi sepadan kok dengan cerita di dalamnya.

Well, overall saya suka banget dengan novel ini. Enak untuk diikuti dan karakternya loveable. Sangat reccomended, deh :)

Selasa, 15 Desember 2015

[Resensi: Friends Don't Kiss - Syafrina Siregar] Ketika Cinta Berhadapan dengan Idealisme


Judul buku: Friends Don't Kiss
Penulis: Syafrina Siregar
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2014
Tebal buku: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1078-7
Available at: bukupedia.com




BLURB

Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata "menyusui", yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.

Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers—organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi—justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.

Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.

Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?

REVIEW

Meskipun masih lajang, Mia Ramsy telah terjun ke dunia breastfeeding dengan menjadi konselor ASI. Tugasnya adalah mendampingi para ibu baru agar bisa memberikan ASI eksklusif bagi bayi baru lahir mereka.
Sayangnya Mia justru telat datang saat Lia, adiknya sendiri, melahirkan. Sehingga Lia gagal melakukan Inisiasi Menyusui Dini dan membuatnya jadi uring-uringan. Alasan Mia telat datang ke persalinan adiknya adalah karena ia menabrakkan mobilnya (lagi) di parkiran rumah sakit.
Namun rupanya kecelakaan itu menjadi pintu pembuka bagi Ryan, sang pemilik mobil yang ditabrak Mia, untuk masuk ke kehidupan Mia. Ryan yang tertarik pada Mia pun dengan intens dan gencar melakukan pendekatan pada Mia.
Ryan tertarik pada semangat Mia yang penuh idealisme, sehingga ia menyembunyikan jati dirinya. Ryan takut jika Mia tahu dirinya adalah pemilik pabrik susu formula, maka Mia akan menjauhinya.
Namun sebaik-baik kita menyembunyikan kebohongan pasti akan terbongkar juga bukan? Mana yang akan Mia pilih: cinta atau idealismenya?

-----------

Friends Don't Kiss mengagetkan saya karena menjadi buku fiksi yang penuh idealisme. Saya acungi jempol untuk komitmen Syafrina Siregar dalam menyebarkan racun breastfeeding melalui novel seperti ini.

Saya suka ide ceritanya yang membuat dua tokoh utama berada di sisi berlawanan. Meski saya merasa akan lebih seru jika Ryan lebih berambisi lagi dalam meningkatkan target penjualannya, sehingga konflik kepentingannya bisa semakin gereget.

Karena saya seorang ibu dan telah menyusui dua kali, terus terang saya hanya menscreening segala informasi tentang ASI dalam novel ini. Tapi saya mencatat Syafrina cukup mulus memasukkan informasi ke dalam tiap adegan. Momennya pas bagi Mia untuk mengungkapkan pentingnya ASI dan informasi-informasi penting lainnya.

Karakter Mia yang idealis memang kadang terkesan annoying. Saya merasa dia terlalu memaksa adiknya untuk menyusui, dan berkesan menghakimi saat mendengar tentang susu formula. Hal itu sebenarnya justru malah semakin membuat stres ibu menyusui.

Saya paham benar semangat Mia karena saya pun di kampung juga menjadi orang yang annoying dalam masalah breastfeeding. Hahaha. Mia masih mending seandainya gagal pun tak masalah, tapi kader-kader semacam saya ini kalau ada warga yang gagal memberi ASI eksklusif jelas dicecar dan dimarahi pihak puskesmas. *malah curhat* XD

Sementara karakter Ryan dalam novel ini saya rasa cukup 'mengerikan'. Arogan dan semacam stalker yang seolah bisa muncul di manapun Mia berada. Saya malah curiga Ryan punya kecenderungan psikopat. Muncul di mana-mana gitu.
Interaksi dan chemistry-nya asyik. Nyaman banget dibaca. Walau saya sebal tiap kali Ryan berbisik di telinga Mia. Tanpa dibisikkan di telinga pun kesan seduktifnya sudah dapat kok.

Bagi kalian yang menginginkan informasi tentang menyusui yang dibalut roman yang sweet, boleh banget baca novel ini. Sambil baca roman sambil belajar jadi ibu. Fufuufuu~

Selasa, 08 Desember 2015

[Resensi: Runaway - Kezia Evi Wiadji] Pelarian Amy dalam Mencari Kedamaian


Judul buku: Runaway
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Desainer: Chyntia Yanetha
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Desember 2014
Tebal buku: 153 halaman
ISBN: 9786022517764



BLURB

Amy dan adiknya, hidup bersama orang tua yang tidak lagi saling mencintai. Keberadaan sang ayah telah digantikan oleh materi, sementara sang ibu selalu menyakiti dirinya sendiri. Bertahun-tahun Amy merasa tidak bahagia. Gedung gereja dan kesibukannya sebagai panitia Natal selalu menjadi pelariannya.

Suatu hari, sepulang sekolah, Amy menemukan rumah dalam keadaan kosong. Hanya terdapat jejak darah di lantai dan di kamar ibunya. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi dengan ibunya!

Karena tak mampu lagi bertahan, Amy melarikan diri. Lari dari keluarga yang tak lagi memberinya rasa aman, kebahagiaan, juga kasih sayang.

Tetapi...

Seorang cowok menyebalkan, memergoki pelariannya itu.

REVIEW

Lagi-lagi Amy mendapati orangtuanya bertengkar, dan kali ini ia mendengar berita yang menyakiti hatinya. Papa punya anak lagi dari perempuan lain. Sudah tiga tahun hubungan orangtuanya merenggang, setelah papa menjalin hubungan dengan ibu salah satu teman sekolah Amy. Papa tak pernah lagi ada di rumah. Perhatian yang diberikan pada Amy dan Tasya hanya berbentuk limpahan materi.
Hanya dua hal penghiburan Amy, rujak ekstra pedas dan menyendiri di dalam gereja.
Tapi siang itu, saat Amy tengah merenung di dalam gereja hingga tertidur, ia bertemu cowok menyebalkan yang sok keren dan kepo. Cowok yang selalu cengengesan dan blak-blakan bernama Reno.
Untuk menghindari berada di rumah, Amy pun mendaftarkan diri menjadi panitia persiapan Natal di persekutuan remaja gerejanya. Tak disangka, ia berada dalam seksi yang sama dengan Reno, seksi dekorasi.
Secara temporer, Amy mendapatkan kedamaian di tengah kesibukannya menjadi panitia natal. Tapi suatu hari kedamaian itu rusak saat pertengkaran orangtuanya memuncak dan Amy mendapati kamar mama penuh jejak darah.
Bisakah Amy mengembalikan kebersamaan keluarga mereka? Rahasia apa yang disembunyikan mama dan papa? Akankah Amy berhenti lari dan merangkul kemarahannya sendiri?

----------

Mumpung bulan Desember, asyik rasanya membaca novel bertema natal dan keluarga. Novel Runaway ini salah satunya. Memang, natal dan keluarga adalah kesatuan yang nggak bisa dipisahkan, ya? :)

Runaway dikisahkan dari sisi Amy yang gelisah, malu dan marah akan problema keluarganya. Ceritanya mengalir dan terasa emosional. Saya menangis ketika tiba di pertengkaran papa dan Amy. Astaga! Sedih banget rasanya seolah saya sendiri yang ditampar :(

Saya pada mulanya nggak begitu suka sama Amy yang cenderung menutup diri dari teman-teman dan gurunya. Tingkahnya juga cukup sembrono dalam hal pelajaran, selain itu ia juga memanfaatkan teman sebangku pula. Cck...cck... PHP banget deh.
Sedangkan Reno juga semula saya anggap annoying banget karena sikap ceria dan tengilnya. Tapi ketika tahu kenyataan hidup yang dijalaninya, saya jadi salut. Keren juga cowok satu ini. Tabah dan serbabisa.
Saya juga cukup kesal sama mama. Terlalu egois dan memikirkan diri sendiri. Cari perhatian dengan menyakiti diri dan sibuk mengasihani diri sendiri. Kan kasihan anak-anaknya.
Lho? Kok semua tokoh bikin kesal? Ahahaa... memang sifat tokoh-tokohnya inilah yang nantinya akan memicu konflik.
Saya suka hubungan Amy dan Reno yang terkesan alami. Chemistry-nya dapet deh. Reno yang ketengilan dan Amy yang jutek. Suka banget pas bagian Reno nggodain Amy yang marah. Sweet.

Cukup kaget dengan twist yang diberikan. Wah, memang hancurnya suatu hubungan nggak bisa hanya dibebankan ke salah satu pihak. Pastilah dua belah pihak punya andil yang sama.
Saya merasakan penyelesaiannya terlalu terburu-buru. Perubahan papa dan mama terlalu tiba-tiba. Penginnya sih ada pendekatan lebih lama dan lebih mendalam antara papa dan Amy. Udah nelantarin selama beberapa tahun lho.
Saya jadi teringat film-film keluarga bertema natal yang berakhir bahagia setelah beragam konflik. Jadi ketika penonton keluar dari bioskop mereka akan berseri-seri dan diliputi rasa sayang terhadap keluarga mereka. Seperti itulah rasanya mengakhiri membaca novel ini. Hangat, penuh kasih dan lebih menghargai kehadiran keluarga.

Bagi yang suka novel ringan dan hangat hayuk baca Runaway. Mumpung masih dekat-dekat suasana Natal. Pas banget nih timingnya :)

Minggu, 06 Desember 2015

[Resensi] Maneken - SJ. Munkian


Judul buku: Maneken
Penulis: SJ. Munkian
Editor: Triana Rahmawati
Desain cover: Chandra Kartika Gunawan
Penerbit: Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Tahun terbit: September 2015
Tebal buku: x + 181 halaman
ISBN: 9786029474060



BLURB

Dalam sejarah kehidupan di dunia, benda mati hampir selalu tidak dihiraukan. Tidak ada yang mau repot-repot memikirkan perasaan benda mati, apalagi memerhatikan kebutuhannya. Kau bahkan tak pernah tahu kan, bahwa maneken bernama Claudy—yang bekerja keras di etalase terdepan toko busana Medilon Shakespeare—mempunyai perasaan. Mimpi-mimpinya dilambungkan untuk kemudian dihempaskan lagi hingga hanya bisa bergantung pada nasib dan keajaiban. Ya, keajaiban.

Novel ini akan membuka mata hatimu dengan menempatkanmu pada posisi benda mati yang tak dihiraukan, meski sedang berjuang mati-matian untuk mencapai mimpi-mimpi. Kau akan melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan semoga itu akan membuatmu semakin mengerti, betapa kami, aku dan Claudy, iri kepada kalian.

REVIEW

Sebelum Medilon Shakespeare dibuka, sebuah maneken perempuan telah diletakkan di etalase utama. Maneken paling cantik dan paling unggul di antara maneken-maneken lainnya, dialah Claudia.
Yang tak diduga Claudia, ternyata bukan hanya dirinya saja yang diletakkan di etalase utama yang menghadap ke Capulatte Cafe itu. Ada sebuah maneken pria yang akan disandingkan bersamanya di etalase utama. Nama maneken itu Fereli. Maneken pria yang mengaku berasal dari Perancis dan fasih berbahasa Perancis, yang tentunya membuat Claudia kesal setengah mati karena harus membagi etalase utama bersama pria itu.
Namun lama-lama, seiring dibukanya toko busana, dan tema busana yang silih berganti mereka bawakan, mereka berdua menja dekat. Obrolan dan sentuhan tak pelak membawa desir rasa di antara mereka.
Tepat ketika mereka merasakan puncak bahagia seperti Sophie si pemilik toko yang tengah dimabuk asmara, bencana terjadi. Sophie menemui kegagalan. Fereli dan Claudia menjadi sasaran amuk Sophie dan menjadi target pemusnahan. Inikah akhir nasib mereka? Apakah maneken hanya bisa diam ketika manusia berbuat tidak adil pada mereka? Apakah benda mati selamanya tak punya kuasa melawan benda hidup? Atau akankah ada keajaiban bagi mereka?

--------------
Akhirnya setelah cukup lama melahap novel romance, saya bertemu kesempatan membaca genre fantasi lagi melalui novel Maneken ini. Dan yang luar biasa novel ini adalah novel fantasi karya anak bangsa sendiri.

Yang menarik perhatian saya pertama kali saat membuka novel ini adalah susunan daftar isi. Dalam daftar itu terdapat judul-judul bab yang semuanya merupakan kata pasif semacam; Dinamai, Diletakkan, Diperlihatkan, dan ada juga Dipertemukan. Semula saya masih nggak mengerti mengapa kata pasif yang digunakan sebagai judul, tapi karena tokoh utama novel ini adalah benda mati, atau sebuah obyek, barulah saya merasa betapa tepatnya judul bab yang digunakan.

Maneken diceritakan dari sudut pandang Claudia sebagai "aku" pada awalnya, hingga di pertengahan sudut pandang mulai berganti-ganti antara Claudia dan Fereli. Menarik sekali menyaksikan apa yang dirasakan kedua maneken ini terhadap para manusia baik yang ada di dalam toko maupun di luar toko.

Jalinan kisahnya lumayan runut. Beberapa kemustahilan dijelaskan dengan argumen sehingga menjadi lebih masuk akal. Karena toh bagi saya, genre fantasy tetap saja mesti punya jalan logika yang bisa tetap digenggam :))
Analogi dan filosofi yang dipaparkan sangat menarik. Beberapa hal dipotret dari sudut pandang Claudy dan Fere sebagai benda mati.

Penggambaran tokoh Claudia dan Fereli cukup bertolak belakang. Claudia adalah maneken perempuan yang sedikit egois dan "kosong", saya nggak menemukan "isi" yang bulat dalam karakter Claudia. Selain bahwa dia penuh mimpi dan romantis. Sementara Fereli adalah maneken pria yang sabar dan tabah. Sabar bangetlah dijutekin Claudia. Paling suka kalau Fere mulai ngomong pakai bahasa Perancis dan Claudia bengong. Ternyata walau tenang, Fere lumayan usil juga :))
Membaca novel ini membuat kosa kata bahasa Perancis saya jadi bertambah karena Fereli.

Tokoh manusia yang karakternya cukup menonjol di sini adalah Sophie, si pemilik toko. Sophie karakter yang keras dan disiplin. Dia juga nggak segan menegur orang-orang yang tindakannya nggak sesuai dengan kemauannya. Tipe perempuan yang jika di dunia nyata bakal saya jauhi dan nggak mau berurusan dengannya.
Di antara semua tokoh dalam Maneken, justru Sophie-lah yang pengkarakterannya lebih kuat dan lumayan bulat.
Sedangkan dialog antar tokoh dalam novel ini masih terasa kaku, masih banyak dialog basa-basi dan emosinya masih encer. Kurang pekat dan kurang chemistry.

Ada beberapa typo terutama pada penggunaan partikel -pun yang seharusnya dipisah seperti "apa pun" dan "siapa pun" ditulis menyambung. Juga ada beberapa kesalahan tata kalimat. Tapi tetap enak dibaca dan nggak terlalu mengganggu.

Saya cukup menikmati novel ini dan merekomendasikan Maneken bagi penggemar novel genre fantasy yang menginginkan membaca cerita yang unik. Setidaknya novel ini mengajarkan untuk lebih menghargai benda mati dan nggak melampiaskan kesalahan dan kekesalan pada benda mati.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Pahami orang lain, maka kau pun akan dipahami. (hlm. 69)

Dalam realitas pribadi—mimpi, imajinasi—jika kita berkeinginan dengan teramat kuat dan bersungguh-sungguh maka hal itu akan jadi realitas semesta—menjadi nyata. (hlm. 88)

"Usaha dari dia yang memperjuangkan cinta tak akan sia-sia." (hlm. 155)
Bagi yang masih penasaran, silakan tonton trailernya :))



 *****GIVEAWAY TIME (CLOSED)*****



Sekarang waktunya bagi saya untuk menjamu teman-teman yang telah berkunjung dan mengikuti blog tour Maneken ini.

Akan ada dua hadiah yang disediakan Kak Sangaji dan Penerbit Republika untuk dua orang yang beruntung:

Hadiah pertama --> novel Maneken & goodie bag
Hadia kedua --> paket buku Republika

 Wohooo... siapa yang nolaaak??!
Hihihii.. syarat untuk mendapatkannya mudah saja.
1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @sjmunkian @bukurepublika dan @KendengPanali
3. Share tentang giveaway ini di twitter dengan memention ketiga akun di atas dengan hashtag #Maneken dan sertakan pula kaver novel ini di share kalian.
4. Baca postingan wawancara saya bersama SJ. Munkian di sini
5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menyebutkan nama, akun twitter dan alamat email.

Dalam imajinasi kalian, benda apa yang kalian bayangkan bisa berbicara dan berpikir seperti manusia? Deskripsikan juga kemampuan apa yang mereka miliki.

Giveaway ini akan berlangsung dari tanggal 6 Desember 2015 dan ditutup tanggal 9 Desember 2015 pukul 23.59 WIB. Pemenang akan saya umumkan tanggal 10 Desember 2015.
6. Yang terakhir good luck, ya ;)


Review ini diikutkan dalam Lomba Resensi Maneken



Rabu, 02 Desember 2015

[Resensi: Pulang - Tere Liye] Memaknai Kepulangan Sang Jagal Jenius


Judul buku: Pulang
Penulis: Tere Liye
Editor: Triana Rahmawati
Cover: Resoluzy
Penerbit: Republika
Tahun terbit: November 2015 (cetakan VI)
Tebal buku: iv + 400 halaman
ISBN: 978-602-08-2212-9



BLURB

"Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak dibanding di matanya."

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

RESENSI

Di usia lima belas tahun, untuk pertama kalinya Bujang bertemu dengan Tauke Besar. Lelaki itu datang ke kampungnya di lereng bukit barisan untuk memburu babi hutan yang telah merusak sawah milik warga. Tanpa Bujang sadari, itulah ujian pertamanya.
Hari itu ketika ia ikut berburu babi hutan dan berhadapan dengan babi hutan terbesar yang pernah dihadapinya, Bujang telah membuka pintu lebar-lebar untuk takdir masa depannya. Takdir sebagai putra tunggal jagal paling ditakuti di ibukota propinsi. Takdir yang membawanya pergi dari rimbunnya hutan bukit barisan, dan meniti jalannya di tengah Keluarga Besar Tong, penguasa bisnis ilegal di ibukota Propinsi. Hanya satu pesan mamaknya, Bujang harus menjaga perutnya dari makanan dan minuman haram.
Semula, Bujang berpikir ia akan dijadikan tukang pukul seperti sebagian besar orang yang direkrut Tauke Besar, tapi ternyata ada rencana lebih besar yang disiapkan Tauke Besar. Rencana yang membuat Bujang dua puluh tahun kemudian menjelma menjadi Si Babi Hutan, penyelesai konflik tingkat tinggi Keluarga Tong dalam dunia shadow economy.
Bisikkan nama Si Babi Hutan maka orang-orang akan terkencing-kencing ketakutan, suruh Si Babi Hutan bicara maka presiden pun akan duduk terdiam mendengarkan.
Namun, sejauh-jauh elang terbang, ia pastinya harus pulang ke sarang, akankah Bujang juga pulang? Akankah ia menemukan kedamaiannya atau ia sudah terlalu berlumur darah untuk kembali pulang?

Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. (hlm. 315)
------------

Diceritakan dengan sudut pandang Bujang sebagai orang pertama, novel Pulang langsung memberi gebrakan melalui openingnya. Pembuka yang memberi debaran ketegangan dan rasa penasaran, yang kemudian disusul dengan adegan perpisahan yang menyesakkan. Dan memberi landasan yang kuat untuk konstruksi ceritanya.

Penokohannya kuat dan bulat. Masing-masing tokoh memiliki karakter yang mudah diingat dan menempel erat.
Yang mengesankan tentu saja karakter Bujang; jenius, kuat, nggak kenal takut dan jadi jagal nomor satu. Bujang sanggup menyelesaikan ujian apa pun. Bahkan misi yang mustahil bisa diselesaikannya meski dengan proses yang cukup lama. Tapi tetap saja rasanya superhero banget bagi saya. Susah dibayangkan bisa dilakukan oleh manusia biasa.
Saya suka penggunaan aksen Sumatra kental yang dipakai dalam gaya bicara tokoh Tauke Besar, Kopong dan Samad. Hal itu menjadi penguat setting yang cermat.

Mengangkat tema dunia shadow economy yang mengerikan, Tere Liye begitu cermat dan mendetail dalam deskripsinya. Banyak penjelasan diberikan, dan detail pertarungan yang jelas membuat suasana terbangun dengan mudah dalam pikiran saya.
Ceritanya mengalur dengan melompat-lompat antara masa kini dan masa lalu, namun saya tetap bisa mengikutinya karena cara bertutur Tere Liye yang mengasyikkan. Di satu waktu terasa tegang dalam situasi baku hantam dan ledakan-ledakan, di kala lain terasa mengharukan dengan eratnya ikatan keluarga dan loyalitas.
Saya begitu menikmati dan menunggu dengan berdebar-debar taktik apa yang akan digunakan Bujang. Bersiap menanti kejutan yang membuat terperangah.

Namun entah mengapa di bab delapan saat Bujang bertemu White, Tere Liye nggak langsung menyebutkannya sebagai putra Frans, padahal informasi itu sudah ada di bab sebelumnya ketika Frans bercerita tentang masa lalunya. Saya rasa kalimat-kalimat penutup bab delapan itu akan menjadi twist yang seru jika saja di bab sebelumnya, Frans nggak perlu menyebutkan nama putranya, cukup profesinya saja.

Saya mencatat dua kali Tere Liye melakukan pola yang sama dalam mengaduk emosi pembaca. Memutar balik suasana kegembiraan menjadi suasana sedih haru yang menyayat. Pada kesempatan pertama saya terlena dan menangis, di kesempatan kedua, mungkin karena saya sudah mengantisipasinya, saya nggak lagi merasakan twist-nya. Momennya sama, suasananya sama, waktu kejadiannya sama dan adzan subuh yang sama. Namun ternyata adzan inilah yang nantinya cukup berperan dalam penyelesaian.

Dan ketika tiba di konflik yang telah meninggi, di saat ketegangan memuncak dan saya siap menyaksikan gebrakan di bab berikutnya, saya dibawa kembali oleh penulis untuk menyusuri masa lalu, membuat ketegangan yang tadinya mendidih tertunda, diberi jeda. Membuat saya penasaran setengah mati akan kelanjutan situasi yang saya tinggalkan tadi. Cck! Bikin tambah tegang saja.

Sosok si pengkhianat sudah saya duga sejak awal. Dalam buku-buku seperti ini sudah bisa diduga orang paling dekatlah yang akan berkhianat. Sejak awal Tere Liye nggak berusaha menutup-nutupi atau berusaha mengalihkan kecurigaan pembaca pada tokoh lain, ini membuat saya senang karena bisa menikmati membaca buku ini tanpa harus curiga pada siapa pun, hanya pada satu-dua orang.
Yang nggak saya duga justru adalah penyelesai konflik batin Bujang. Itu benar-benar twist yang luput nggak terpikirkan sama sekali oleh saya.

Saya suka dengan kavernya. Warnanya pas dan nggak berlebihan. Saya menangkap filosofi matahari pagi yang diungkapkan Tuanku Imam dalam kaver Pulang.

Saya rekomendasikan novel ini karena Pulang menjadi novel yang bukan hanya enak dinikmati tapi juga sarat filosofi. Tentang keluarga dan kesetian. Dan yang terpenting tentang hakikat pulang. Bukan hanya dalam bentuk fisik ragawi tapi dalam arti yg lebih dalam, lebih sakral. Pulang pada makna awal hidup kita.

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh, besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada di dalam dirimu. Pulang...." (hlm. 24)

Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapa pun. Urus saja masa lalu masing-masing. (hlm. 101)

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain. (hlm. 188)

Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja. (hlm. 219)
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon