Senin, 17 April 2017

Giveaway BBI HUT 6

Akhirnya tiba juga di puncak acara #BBIHUT6 dan saya pun menyusul teman-teman member BBI yang lain membuat Giveaway Hop. 



Maafkan saya yang baru posting sekarang karena bingung ngubek-ngubek timbunan kolpri yang masih ada. Maklum beberapa sudah saya taruh di kafe buku dan saya hibahkan ke perpus lokal, karena rumah saya yang hanya seukuran kamar kos ini sudah nggak sanggup menampung banyak buku. Wkwkwkwk~~

Jadi ini dia persembahan dari saya untuk Giveaway Hop kali ini. Satu paket buku kolpri yang terdiri atas:

• (Never) Looking Back - Elvira Natali
• A Cup of Tea Menggapai Mimpi - Herlina P. Dewi, dkk



Nah caranya gampang saja kok:

1. Peserta berdomisili di Indonesia.

2. Follow twitter saya @KendengPanali atau instagram saya @kendengpanali follow juga twitter @BBI_2011 & @EventBBI

3. Follow blog ini melalui GFC atau email.

4. Share info giveaway ini dengan hashtag #BBIHUT6 dan jangan lupa untuk mention akun saya.

5. Sila share review buku saya yang kalian suka ke medsos kamu. (Yaa bantu promo dikit gakpapa ya *dikeplak*) Buku yang telah saya review bisa dilihat di index review

6. Tulis nama, alamat email, akun twitter, link share review dan alasanmu kenapa menyukai review buku tersebut di kolom komentar postingan ini.

7. Giveaway akan berlangsung selama satu pekan dan akan saya tutup pada 23 April 2017 pukul 23.59 WIB.

8. Jangan segan sapa & colek saya di twitter jika ada pertanyaan atau cuma sekedar ngobrol. Hahaha...

9. Yang terakhir good luck yaa 😘

Sabtu, 15 April 2017

Tips Unyu || Ketika Penghasilan Tak Sebanding Lurus dengan Semangat Baca


Nggak bisa dipungkiri, menjalani hobi kadang bisa bikin bokek. Termasuk membaca buku yang harga bukunya sekarang naik gila-gilaan tanpa peduli keadaan kita, seolah kita-kita ini anak raja minyak yang tidurnya di atas tumpukan uang.
Bayangkan saja satu buku dengan tebal standart 300 - 400 halaman saja harganya sudah berkisar di 70 - 90 ribu rupiah. Nyesek nggak sih ketika kita hanya membutuhkan 2 - 5 hari untuk menuntaskan satu buku bacaan? Malah kadang ketika buku tersebut sebegitu menariknya satu hari saja sudah cukup untuk menyelesaikan bacaan kita.

Tapi apakah hal tersebut menyurutkan semangat kita? Seharusnya sih enggak. Percayalah, akan selalu ada jalan bagi orang-orang yang berusaha. #tsaaah *udah cocok jadi motivator belum?* :P

Sekedar cerita sedikit, saya sendiri bukanlah keluarga berduit. Gaji suami hanya cukup untuk biaya makan dan hidup pas-pasan. Honor ngajar privat saya masih digunakan untuk menambal lubang-lubang pengeluaran. Apalagi saya menerima bayaran ala kadarnya karena saya hanya menerima murid dari keluarga menengah ke bawah. Jadi modal saya untuk menyenangkan diri sendiri dari menyisihkan sisa uang belanja dan pendapatan hanya sebesar 50 ribu rupiah per bulan. Cukup? Saya sih jelas cukuplah. Mau tahu gimana caranya? Bagi yang demen ngubek-ngubek blog ini pasti sudah mengenal sedikit tips saya karena pernah saya sampaikan di artikel yang saya ikutkan untuk lomba Reading is Sexy yang diadakan sebuah penerbit. Tapi, kali ini saya mau ngasih versi komplit buka-bukaan rahasia saya. Jadi sini deh deketan, saya jitak... eh saya kasih tahu :))


1. Sidak ke toko buku bekas

Beruntung bagi saya karena tinggal di pusat peradaban perbukuan. Warga Jogja mana yang nggak kenal Shooping Centre, pusatnya penjualan buku-buku bekas maupun buku-buku terbitan lama yang telah disortir dan tersingkir dari toko buku besar. Jadi ke sinilah saya membawa uang kuota saya untuk beli buku.
Tapi...tapi...bukunya bukan buku up to date dong?
Yaa... saya sih yang penting tetap bisa membaca dibanding ngikutin tren buku apa yang lagi hits. Memang terkadang jadi telat ya, tapi percayalah, buku yang bagus akan selalu dibicarakan sepanjang masa. Jadi nggak masalah kita telat baca 2 sampai 10 tahun karena buku nggak akan basi.
Oh iya, jika di kota kalian ada toko buku bekas semacam di kota saya, cobalah mengakrabkan diri denga pemilik kiosnya. Memang perlu proses, kadang ada pemilik kios yang baru akrab setelah saya datang 3 kali, bahkan setelah 10 kali, tapi hasilnya kadang dengan uang 50 ribu saya bisa bawa pulang 5 buku. Hahaha..
Tapi hati-hati ya, cek juga keaslian bukunya. Jangan sampai beli yang bajakan. 😉


2. Berburu diskonan

Selalu buka mata dan buka telinga untuk obralan buku, jangan cuma buka hati aja buat gebetan. Sekarang bukan hanya toko buku besar semacam Gramedia saja yang sering menggelar gebyar diskon gila-gilaan, beberapa toko buku lain pun juga kerap menjaring pembeli dengan promo diskon dan obralan. Bahkan lapak-lapak buku online dan buku indie juga sering menawarkan diskon yang lumayan besar. Tapi jangan sampai kalap juga, utamakan skala prioritas. Gunakan insting, buku yang kemungkinan besar masih akan tetap muncul di diskonan berikutnya, lebih baik dipending dulu. Berat? Iya. Tapi kira harus kuat :')


3. Perluas pertemanan

Sahabat adalah penyelamat dan teman adalah uluran tangan. Memiliki teman yang sehobi itu banyak manfaatnya. Kalian bisa saling pinjam buku, tukar buku atau mungkin ngasih info-info penting seputar perbukuan. Apalagi jika kamu tinggal di kota terpencil kamu bisa minta bantuan titip buku diskon atau obralan yang sedang berlangsung di kota sang teman.
Tapi ingat untuk mengembalikan buku yang kita pinjam dan menjaganya seperti induk beruang menjaga anak macan. #eh Karena kadang pencinta buku bisa sangat posesif dengan buku mereka seperti mamak kangguru.
Untunglah saya punya teman-teman anggota BBI yang baik-baik, yang mau minjemin buku, yang mau dititipin buku, mau tuker-tukeran buku bahkan menghadiahi saya buku *nangis terharu*


4. Menulislah

Mulailah menulis review buku yang sudah kamu baca di media blog. Ada penerbit yang sering mengadakan lomba review dengan reward yang menarik, entah buku entah voucher belanja buku. Bahkan jika tulisanmu layak dimuat di surat kabar, kamu bisa mengirimkannya dan jika dimuat tentunya kamu akan mendapat imbalan yang sepadan.
Saya sendiri belum pernah mencoba mengirim ke koran karena review saya seringnya review suka-suka, review sesuai suasana dan kata hati.
Review adalah bentuk apresiasi kita terhadap sebuah buku, menuliskannya sama mengasyikkannya seperti membaca. Dulu saya melakukannya sebagai terapi karena tekanan yang pernah saya alami, itu sebabnya saya nggak membatasi diri dalam mengekspresikan kesan saya. Saya nggak mau dikungkung dan ingin menulis dengan gaya saya sendiri. Jadi saya cukup berbahagia kala sekali-sekali bisa menang lomba review.
Jangan ragu untuk memulai, bahkan dalam keterbatasan. Saya sendiri ngeblog hanya bermodal smartphone, tapi selama kita punya semangat, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, kan?


5. Kunjungi perpustakaan

Bagi saya, kota yang indah nggak akan sempurna tanpa berdirinya sebuah perpustakaan. Saya sering iri jika teman-teman saya yang ada di luar negeri mengirimkan foto mereka atau anak mereka di dalam perpustakaan kota. Bahkan di sebuah desa pun perpustakaannya cantik, terang dan lengkap.
Perpustakaan di Indonesia entah kenapa selalu dilabeli kuno, suram dan membosankan. Tapi tenang saja, jika di kotamu perpustakaannya sama sekali nggak menarik dan nggak lengkap, saat ini ada perpustakaan digital semacam ijakarta, ipusnas, ijogja, ipekanbaru, dan i lainnya yang bisa diunduh di ponsel pintar kamu.
Atau mungkin di kotamu ada kedai buku atau pustaka keliling? Nah manfaatkanlah sebaik-baiknya akses tersebut.


6. Setor sampah ke bank sampah

Bank sampah ini penyelamat saya. Sampah rumah tangga bisa dipilah antara sampah plastik, sampah kertas dan sampah logam. Kalau sudah terkumpul, bisa disetor ke bank sampah dan rekening kita terisi saldo hasil penjualan sampah-sampah tersebut. Hasilnya lumayan bisa untuk tambah-tambah modal beli buku, daripada cuma dibuang dan menjadi gunungan di TPA. Malah terkadang saat jalan-jalan pagi,  dan menemukan sampah di jalan, saya spontan memungutnya. Ya kayak pemulung gitu. Hahaha...
Di bank sampah ini nggak jarang saya menemukan buku dan majalah bekas yang dijual oleh pemiliknya, padahal kondisinya masih bagus-bagus. Hiks. Itu sebabnya saya wanti-wanti ke petugasnya kalau ada buku bekas yang disetor ke bank sampah, tolong ditahan dulu, siapa tahu saya mau. Bahkan kemarin saya mendapat satu kardus buku Pearl S. Buck di sana! Waw banget, kan.


Hmm... berhubung ini adalah artikel dalam rangka Marathon post BBIHUT6 jadi saya kasih 6 tips ini dulu, ya. Nggak usah banyak-banyak nanti mblenger bacanya. Hihihi...
Yang pasti jangan sedih jangan berkecil hati dengan harga buku yang membumbung, hobi ada bukan untuk mencekikmu, tapi untuk membuatmu santai dan lebih bahagia. Jadi... maukah kamu membaca dan menulis bersama saya? ;)

Kamis, 13 April 2017

Panjang Umur Serta Mulia, BBI

Happy Birthday, BBI! Mumumuuu....
Sudah 6 tahun aja usia komunitas unyu kesayangan saya ini. :')



Saya terdaftar sebagai anggota Blogger Buku Indonesia ketika Bebi tersayang ini berusia 4 tahun. Yaap, lamaran saya diterima dan saya sah jadi istri anggota Bebi di akhir tahun 2015. Sebelumnya bagi saya BBI itu impian, komunitas yang ingin saya dekati tapi saya belum kuasa memisah isi blog saya yang campur aduk. Memisah blog artinya akan ada blog yang terbengkalai, karena yah... saya nggak semultitasking dan sekonsisten itu. :')

Tapi toh akhirnya saya memantapkan diri juga "melamar" Bebi. Alasannya saya ingin bisa satu wadah dengan orang-orang yang sehobi dengan saya: membaca dan menulis. Saya orangnya nggak suka sendirian. Biar bisa banyak temen nggosipnya gitu *plak* :p
Dulu awalnya sih saya masih malu-malu, begitu diterima juga belum berani colek-colek member lain. Jiper iya, rasa segan juga ada. Siapalah saya dibanding mereka. Sampai Vina ngajakin saya masuk ke grup WA BBI Joglosemar, grupnya member BBI wilayah Jogja, Solo, Semarang dan sekitarnya. Rasanya seperti benar-benar diajak masuk rumah setelah sebelumnya baru duduk-duduk di teras. Mereka bener-bener keluarga yang angeeeet dan ramah betul. Obrolannya seru, gayeng dan gokil, malah grup ini termasuk grup top five yang chatnya bisa mencapai ratusan hanya dalam sehari saja. 😂😂 Dulu saya malu-malu sekarang mungkin saya yang paling malu-maluin di sana >.<

Jadi karena BBI lah saya mendapatkan sebuah keluarga baru. Saya yang tadinya ngeblog dan nulis review demi terapi mental saya, karena saya jadi puas bisa mengeluarkan opini dan membagi pemikiran saya, entah dibaca orang atau enggak *kok melas ya XD*, sekarang dengan menjadi bagian BBI saya punya teman-teman yang bisa saling menyemangati, saling tukar pikiran, saling tukar info buku, pinjem-pinjeman buku atau malah sekadar ngumpul bareng berburu diskonan buku. Hihihi...

Usia kebersamaan saya dengan BBI mungkin memang baru seumur jagung. Saya bukan saksi yang melihatnya lahir dan berusaha berdiri atau merangkak. Kesertaan saya pun belum maksimal dalam mengiringi langkah BBI tumbuh dewasa. Tapi doa saya selalu untukmu bebikuuuh... Selamat ulang tahun yang ke-6 BBI. Semoga BBI makin solid dan bersinar (emang bintang), mari kita menua bersama-sama sambil menyebarkan semangat membaca, ya Beb :*
Cheers.

Rabu, 12 April 2017

Ngobrol Unyu Bareng Blogger Buku Baru dari Aceh

Yuhuuu jumpa lagi di #BBIHUT6 Marathon Post...umm.. setelah kemarin bolong nggak bikin postingan. Biasa lah emak-emak kader kalau awal bulan suka ribet dengan urusan kampung. Kampung asli yaa bukan kampung Maifam di Telegram. Wkwkwk~~



Well, di hari ini saya bakal mengambil tema berkenalan dengan member BBI angkatan 16-17. Saya yang kudet karena jarang muncul di medsos ini sepertinya memang harus menjelajah twitter dan facebook demi menemukan member baru. Ada sih beberapa member baru yang sudah saya kenal dan pernah kerja sama jadi bloghost bareng. Ada juga yang saya kenal karena main game werewolf bareng di Telegram. Namun saya mencari seseorang yang sama sekali belum saya kenal biar bisa nambah temen juga. *karena nggak mungkin kan saya nyari gebetan* XP

Akhirnya saya berhasil juga melobi seorang gadis manis asal Aceh untuk saya seret dan sidang ke blog saya. Hahaha... Sebenarnya namanya nggak asing bagi saya karena gadis ini cukup rajin juga ikut giveaway blogtour di blog saya sepanjang tahun kemarin. Tapi akhirnya kami bisa ngobrol akrab setelah saya kepoin. Hahaha...

Jadi tanpa panjang lebar yuk simak obrolan saya dengan Pida Alandrian pemilik blog buku collection-of-book.blogspot.co.id berikut ini ;)



Hai, Pida, silakan perkenalkan diri kamu lebih dulu (seperti nama, asal, domisili, status kamu) ke pembaca Nurina Mengeja Kata dong 😉

Hai juga Kak Ina... Terima kasih lohh sebelumnya, karena sudah berkenan mengajak aku untuk kencan di Nurina Mengeja Kata.
Perkenalkan original namaku adalah Shafrida (harap dimaklumi dari mana asal muasal nama email aku berasal *info nggak penting). Kalau di dunia sosmed sih aku lebih dikenal dengan nama Pida Alandrian (udah pada kenal kan yaa, yang belum kenal yukk kita kenalan).

Aku kebetulan lahir dan besar di Aceh, hingga sekarang belum pernah keluar sangkar masih di Aceh aja dari dulu, tepatnya di Aceh Timur. *ih lha kok sama si empunya blog ini juga 32 tahun ngendon di Jogja terus 😂*
Sekarang ini selain 'sok sibuk' dan menyibukkan diri di dunia blogger, aku juga  seorang dosen di salah satu Akedemi swasta di Aceh Timur.

Oiyaa, ini status yg dimaksud status apa ya kak? 
Kalau status hubungan -> masih single *eheeemm* (dalam arti masih melakukan pencarian pasangan hidup semati sampai sekarang *karena belum ketemu) 😂
*tadinya mau tanya kriteria cowok idaman Pida seperti apa tapi takutnya melenceng dari tema. Jadi lain kali saja saya tanyakan. Atau kamu mau tanya sendiri sekalian pedekate? Silakan saja :) *


Bisa ceritain nggak gimana sih awalnya sampai kamu bisa kecemplung di komunitas BBI?

hmmm, awalnya yaa. Berawal dari tahun 2016 di bulan Februari kalau nggak salah aku. Nah wktu itu aku lag aktif-aktifnya ngikutin GA berhadiah buku di blog-blog, di sosmed juga, pokoknya yang ngadain GA buku lah. Dari pas ngikutin GA itu, aku kan liat-liat tuh suasana blognya, ada yang rame ada yang sepi (sepi di sini maksudnya, nggak banyak banner/logo yang dipasang di blognya). Pas ngeliat logo BBI (ntah di blognya siapa aku lupa) ada yg menarik aja gitu. Penasaran aku cek deh satu-satu blogger yang ngadain GA yang ternyata sama-sama punya logo BBI ini rata-rata. Aku searching juga di paman google ini BBI siapa sih? Kok bisa seheboh ini sihh orang-orangnya. Aku heran juga awalnya, pas aku tau apa itu BBI, ada rasa kagum yang luar biasa. Ternyata di kota besar ada yang hobi baca buku dan punya komunitasnya, beda banget sama di daerah aku 😂 yang sepi nggak ada komunitas apa-apa. Dan ini bagi  aku yang pada awalnya masih awam banget jadi tertarik dan pengin gabung. Keren aja gitu bisa masuk komunitas ini dan ada rasa bangga tersendiri pasti. Pas lagi dibuka pendaftaran di tahun 2016, aku ikut daftar dan ternyata nggak lewat seleksi, heheh. Udah nyadar nggak lewat sih, karena umur blog aku waktu itu masih sebutir nasi bangett. 
Dari situ aku mulai aktif review-review buku di blog, dan Alhamdulillah pas di buka pendaftaran lg di 2017 aku lolos seleksi (yeyyyy,,, hati aku berdebar2, rasanya seperti sedang nembak cowok langsung di terima, heheh) *sama saya dulu juga merasa gitu. Love you BBI 😘*
Dari situlah awal mula aku bisa berkecimpung di BBI. Jadi curhat panjang gini yaa 😂😂😂

Header blog buku Pida... Cakepnyaaaa


Di Aceh sendiri geliat literasi di sana seperti apa sih? Ada toko buku atau perpustakaan yang bisa dijangkau para pencinta buku nggak?

Kalau aku bilang nggak ada (takutnya ntar ada di suatu daerah yang ternyata akunya aja yg nggak tau apa-apa).
Sewaktu aku masih tinggal di Banda Aceh dulu, kegiatan untuk khusus literasinya aku nggak tau. Karna zaman-zaman kuliah aku dulu sesama teman kampus yg aku kenal; yg penting ada hobi baca, suka baca novel, ada buku yg disuka yaa beli di tobuk. Udah gitu-gitu aja. saling pinjam-meminjam aja. Yang hobi banget baca pun cuma aku sama temen aku berdua. 
Dulu punya hobi baca yaa sekadar itu aja. Ada paman google pun cuma dimanfaatin untuk cari info seputaran oppa-oppa cantik (maklum korban dari efek baperan korea).

 Makanya pas tau ada BBI (stlah aku selesai kuliah) aku takjub bangett sampe ada perkumpulan-perkumpulan gitu.  Pas di tahun 2016 baru deh fokus dan cari-cari tahu lagi tentang komunitas-komunitas buku.

Kalau di daerah aku tepatnya di Aceh Timur, Toko bukunya nihil 😭😭😭 (ini aku harus sedih atau merana karena nasib tinggal jauh dari tobuk?)
Kalau lagi berkunjung ke Banda Aceh aku palingan cuma sekadar cuci mata aja di tobuknya, krn di Banda Aceh buku-buku terbaru nggak selalu terupdate tepat waktu. Lambat banget.
Jadi jangan heran, sekali aku berkunjug ke Medan, aku sering kalap belanjanya, nggak heran orang rumah ikutan meledak juga. heheheh..
Untuk perpus aku lebih menikmati perpus yg ada di BandaAceh. Di kampung aku; Aceh Timur nggak ada juga.. hehehe
Makanya sampai sekarang aku lebih suka suasana tempat aku tinggal kuliah dulu, di Banda Aceh. (Nggak bermaksud untuk menjelek-jelekkan tempat tinggal aku yang sekarang loh yaa, tapi memang seperti itu adanya). *hiiiks saya jadi sediiiih*

Makanya kak, resiko punya hobi baca dan tinggal di daerah barat Sumatra.. Tapi akunya happy-happy aja kok, jangan ikutan sedih gitu dong kak, heheheh (aku jadi ngerasa bersalah nihh ceritanya).
Solusi kami di sini yaa, harus beli buku di tobuk online, dgn resiko ongkirnya yg udah setengah dari harga buku. *ini juga makin sedih bacanya, saya jadi keinget yang pernah diomongin Mbak W tentang bagaimana dia dan para traveler lain membantu mendistribusikan buku ke pelosok-pelosok. Karena nggak mungkin juga nunggu tindakan pemerintah. Oke ini mulai ngelantur. Back to topic*


Kalau soal buku nih, genre apa yang jadi favoritmu & kenapa? ^^

Ini jawaban yang nggak perlu bikin aku harus putar ulang memori. hehehe. Genre fav aku ROMANCE. *wahah tooosss*
Tapi Romance-nya jangan yang alay-alay juga aku jadi bosan bacanya. Aku suka romance yang marriage life. Suka aja dengan kisah-kisah manis dan pahit ala pernikahan. Mungkin karena efek aku belum nikah juga, jadi sering ikutan baper dengan kisah-kisah romance-marriage life ini. Dan bisa jadi pembelajaran untuk aku pribadi juga sih. Mana tau kisah romance yg pernah aku baca, bisa aku terapkan di kehidupan nyata aku, heheheh (korban pembaca novel yg gampang banget kena baperr). *tapi...tapi... kehidupan rumah tangga nggak sedrama kisah novel, kok. Lebig drama kalau ngurus anak, malah 😢*


Kalau selain romance, genre apa yg masih nyaman kamu baca? Dan ada anti genre tertentu nggak?

Selain Romance (udah fix paling suka). Aku sebenarnya penikmat semua genre sih, tapi balik lagi ke isi dan alur ceritanya yg seperti apa. Terkadang kan genre yang kita sukai ada yg nggak sesuai dengan apa yg selalu diharapkan pembaca. Pernah aku baca romance, tapi ceritanya sangat mengecewakan. walaupun mengecewakan tetap saja romance kesukaanku 😊
dan sampai sekarang belum ada deh yang membuat aku anti sama genre tertentu.


Nah soal romance... penulis favoritnya siapa nih?

Ada beberapa sih, tapi yang paling aku suka romancenya  punya Kak Indah Hanaco, heheh... *aih samaan lagi. Penulis yang ini emang kesayangan banget 😄*
Aku juga suka Andrea Hinata dan J.K Rowling. Untuk yg lainnya, aku lebih ke novelnya dulu seperti apa. Kalau novelnya aku suka yaa, berarti penulisnya aku suka juga 😄 


Bisa dong kasih rekomendasi untuk saya dan teman-teman lain, tiga buku romance favorit kamu 😉

Dessert - Elsa Puspita
Insya Allah, Sah! - Achi TM
Life - Raatomo
*wah iya, Dessert ini bagus, saya juga suka banget.*


Nah lalu setelah jadi bagian dari blogger buku Indonesia, apa sih keuntungan yg sudah kamu rasakan? Seperti apa suka dukanya?

Keuntungannya, banyak kenalan baru dari luar Aceh yg tentunya punya hobi yang sama, bisa saling share tentang buku-buku yang WAJIB dibaca, bisa tanya-tanya seputar membuat review yang bagus, bisa kenalan sama penulisnya langsung, dan yang terakhir bisa bergabung dengan salah satu komunitas buku BBI .. oiya, yg paling penting bisa kenalan juga sama Kak Ina, kalau nggak kenal nggak mungkin juga kak Ina kepoin aku 😊😊
*wahahaha tanpa BBI dan event ini, mungkin kita hanya dua orang yang saling memfollow di medsos tanpa bersinggungan dan mengobrol yak? Hihihi*

Untuk sukanya sama aja sih dengan keuntungan selama aku jadi Blogger Buku. sedangkan utk dukanya, di awal-awal jadi blogger buku, mungkin keterbatasan dan sulitnya punya dan membeli buku2 baru utk dibaca dan direview. *semogaaa buku-buku semakin mudah diakses seluruh penjuru Nusantara, ya. Sedih kalau dengar ada teman yang terkendala mengakses buku fisik :(*

Intinya sih, jadi bagian Blogger Buku Indonesia itu senang. Doa kami selalu untukmu Bebikuuuhh 😘😘 Dan terima kasih Pida sudah berkenan diseret dan dikepoin di blog Nurina Mengeja Kata. Jangan kapok yaaa~~

***********

Begitulah wawancara saya dengan Pida sang member baru BBI di antara kesibukan kami berdua. Terima kasih BBI, terima kasih divisi event... bisa bikin saya yang kurang gaul ini berkenalan dan ngobrol seru dengan teman sesama member BBI.
Bagi kalian yang ingin berkenalan lebih lanjut dengan Pida Alandrian, kalian bisa follow dan sapa dia di:

Twitter : @PidaAlandrian92
Facebook : PidaAlandrian
Instagram : @pidaalandrian dan @pida_alandrian
Goodreads : Pida Alandrian

Senin, 10 April 2017

6 Pengalaman Pertama Mencecap Buku Mereka

Holaaa... bertemu lagi dengan saya yang mulai malas ngisi blog ini. *sembunyi di balik taplak meja* Saat ini saya terpaksa nongol demi ikut seru-seruan mengisi acara yang digagas divisi event BBI. Biar kelihatan rajin gitu. Wkwkwk~

Setahun ini (April 2016 - Maret 2017) beberapa kali saya membaca buku karya penulis yang baru bagi saya. Baru dalam artian sebelumnya saya belum pernah membaca karyanya. Jadi semacam pengalaman icip-icip pertama. Ada yang berkesan dan bikin saya langsung suka, ada juga yang bikin saya mengerenyit dan merasa hilang selera.
Saya memang nggak keberatan bereksperimen mencicip karya penulis baru, apalagi jika penulis atau karyanya berseliweran di obrolan-obrolan sesama pencinta buku ataupun jelas-jelas bukunya direkomendasikan seorang teman.

Berkaitan dengan perayaan ulang tahun Blogger Buku Indonesia yang ke-6, maka saya ingin menuliskan tentang pengalaman pertama saya mencicipi karya 6 orang penulis yang saya anggap berkesan bagi saya. Pilih angka enam karena ini kan ultah ke-6, biar matching lah. ^^
Nah siapa saja mereka dan buku yang mana yang jadi pengalaman pertama saya? Inilah mereka:



1. Penelope Ward & Vi Keeland

Saya mencicip hasil duet kedua penulis ini pertama kali melalui novel mereka, Cocky Bastard. Ini pengalaman pertama saya yang langsung bikin saya readgasm saking nikmatnya membaca tiap halamannya. Saya pernah mengulas Cocky Bastard di sini.
Reaksi saya seusai membaca karya mereka adalah... menimbun. Hahahaha... Ternyata walau saya kesengsem berat dengan gaya bercerita mereka, saya masih belum bisa move on dari Chance si mulut kurang ajar.
Saya memang mendapat kesan pertama yang luar biasa terhadap karya Penelope Ward & Vi Keeland, sayangnya ini juga merupakan satu-satunya karya mereka yang saya baca setahun ini. Semoga saya punya timing yang pas untuk membaca karya mereka lagi. Soon. :)


2. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Di Tanah Lada merupakan perkenalan pertama saya dengan karya penulis luar biasa ini. Saya langsung dibuat tercengang dan penasaran dengan karya-karyanya yang lain. Petualangan saya menelusuri karya Ziggy berlanjut ke San Francisco dan Seaside. Ketiga buku tersebut pernah saya ulas di sini.
Tiga kali membaca karya penulis ini, tiga kali pula saya mendapati feel yang berbeda-beda. Yang paling bikin saya merinding tentunya saat membaca Seaside. Ini yang membuat saya mengagumi Ziggy dan menjadikannya penulis yang karyanya selalu ingin saya baca.
Oh ya saya saat ini masih berusaha menyelesaikan membaca Semua Ikan di Langit yang... eung... membuat saya syok bahkan sejak lembar pertama. XD


3. Annisa Ihsani

Jujur saya baru berkenalan dengan karya Annisa Ihsani di tahun ini melalui Teka Teki Terakhir. Saya sudah jarang melirik teenlit lagi, apalagi penulis baru. Seringnya saya hanya membaca lini atau genre ini jika penulisnya sudah saya suka gaya bertuturnya. Tapi mencoba membaca karya Annisa Ihsani yang satu ini ternyata nggak bikin nyesel. Seru, asyik dan nggak melulu tentang cinta-cintaan. Gaya bertuturnya yang enak langsung bikin saya betah, kesederhanaan tokohnya bikin saya nyambung. Itu sebabnya saya masih ngidam buku Annisa Ihsani yang lain yang belum juga bisa saya temukan. Semoga kami bisa segera berjodoh. Review Teka Teki Terakhir pernah saya tulis di sini.


4. Skye Warren

Penulis erotica romance yang satu ini baru saya cicipi akhir tahun lalu. Pertemuan saya dengan karyanya karena penulis ini menulis retelling dongeng Beauty and The Beast versi erotica-nya. Saya yang penyuka kisah klasik gadis cerdas cantik bertemu pria buruk rupa & galak tentunya menyambar kesempatan ini. Nggak disangka saya suka dengan gaya bercerita Skye Warren dan menikmati membaca keseluruhan seri Beauty yang saya ulas di sini.
Sayangnya ketika saya mencoba membaca buku lain karya Skye Warren yang bergere dark romance, saya nggak sanggup. Hahaha.


5. Yusi Avianto Pareanom

Meledaknya kepopuleran Raden Mandasia membuat saya jadi tertarik juga untuk membaca kisah yang diganjar Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini dan menuliskan reviewnya di sini. Saya bersama beberapa teman pun janjian untuk baca bareng buku yang lumayan tebal ini. Seru tentu saja. Dan saya sayang sekali untuk menamatkannya. Bukan karena kisahnya yang kaya akan dongeng dan legenda, tapi juga betapa piawainya Yusi Pareanom membawa saya terdampar dari satu peristiwa ke peristiwa yang dialami Sungu Lembu. Anjing benar.
Tentunya pengalaman ini membuat saya jadi penasaran terhadap penulis satu ini dan memburu karya-karya lainnya yang juga diterbitkan secara indie, sehingga harus ekstra keras mencarinya.


6. Brahmanto Anindito

Saya menyukai sejarah, terutama sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang pernah bergejolak di negeri ini selalu menarik rasa ingin tahu saya. Maka ketika Brahmanto Anindito melahirkan sebuah novel thriller militer yang berlatarkan situasi pemberontakan di Papua, saya jelas tertarik. Membaca Tiga Sandera Terakhir—yang pernah saya ulas di sini—sungguh menjadi pengalaman pertama saya mencicipi karya Brahmanto Anindito yang mengasyikkan. Saya menikmati cara berceritanya dan bagaimana ia membuat saya berdebar di tiap adegannya. Rasanya sayang sekali harus cepat-cepat mengakhiri novel ini. Yang jelas saya ingin membaca karya-karyanya lagi.


Demikianlah enam penulis yang membuat pengalaman pertama saat berkenalan dengan karya mereka terasa berkesan bagi saya. Ibaratnya mereka membuat saya jatuh cinta di pertemuan pertama. #eaaaaakk
Nah, bagaimana dengan kamu? Siapa penulis yang bikin kamu jatuh cinta di pengalaman pertama? :))


Sabtu, 08 April 2017

[Resensi] Three Women Looking For Love - Netty Virgiantini

Judul buku: Three Women Looking For Love
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Innerchild Studio
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2012
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-979-22-8913-8



BLURB

Kami bertiga dipersatukan takdir sebagai lajang terakhir di angkatan SMA. Berusia kepala tiga, kami senasib sepenanggungan. Kami saling berbagi, saling menguatkan, juga saling bersaing diam-diam.
Hanya karena "status" hidup kami jadi sorotan banyak orang, kami dipandang sebelah mata. Tapi bagi kami itu biasa. Digunjingkan, itu tak terlalu memusingkan. Masih juga ditambah harus melakukan banyak ritual yang tak masuk akal. Mulai dari mencuri kembang melati di keris pengantin pria sampai mandi kembang tengah malam. Kami rela melakukan apa saja, asal tidak harus makan beling seperti kuda lumping!

Jodoh itu punya waktu dan caranya sendiri ketika menghampiri. So, don't worry be happy! Huhuuy!
(Jani, Rena, Mona)


RESENSI

Lajang terakhir. Betapa berat status tersebut bila disandang seorang wanita. Sebahagia apa pun sang wanita dengan hidupnya, selalu ada orang-orang yang akan riwil tentang status lajangnya dan memberi tekanan sosial.  Itulah yang dihadapi oleh ketiga tokoh wanita dalam novel Three Women Looking For Love ini. Situasi yang sebenarnya sudah akrab banget dengan kita karena sering kita jumpai entah di media sosial atau di lingkungan terdekat kita.

Netty Virgiantini mengungkapkan kegelisahan ketiga the last lajangers ini dengan gaya bertuturnya yang khas. Selengekan dan kocak. Para cewek-cewek di novel ini merupakan cewek-cewek kuat dan mandiri, yang cuek di luar tapi juga ketar-ketir di dalam. Bukannya mereka menutup mata dan hati dari cowok yang mendekat—ini terlihat dari jungkir-koprol-jempaliknya usaha mereka—tapi bukankah memilih calon pendamping juga nggak bisa asal comot hanya demi membungkam omongan orang? Saya suka bagaimana mereka dibuat galau, sempat terombang-ambing di antara prinsip dan tuntutan lingkungan. Banyak cobaan yang mereka hadapi, seperti... kenapa ketika sedang menginginkan jodoh, yang menghampiri kok ya yang aneh-aneh. Seperti itulah kurang lebihnya. :)))

Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu sudut pandang Jani, novel ini tetap bisa memotret keresahan ketiga wanita yang bersahabat dekat ini dengan lengkap. Chemistry yang akrab dan dialog yang ger-geran membuat kisahnya enak dibaca. Alur cerita dalam novel ini memang cenderung melompat. Seperti ketika Jani ada di resepsi pernikahan sementara sosok Irawan masih terselubung misteri. Irawan sempat ingin mengungkapkan identitasnya tapi selalu saja ada gangguan (dalam hal tarik ulur informasi ini, Netty Virgiantini memang paling jago bikin geregetan), tapi adegan hanya terputus sampai di kegagalan Irawan saja, tanpa ada kelanjutan lagi bagaimana situasi mereka kemudian hingga resepsi berakhir.
Tapi toh memang seperti yang saya bilang sebelumnya geregetan penasarannya bisa sampai di ubun-ubun karena Irawan ini misterius banget. Lagi-lagi sih, tipe karakter hero yang khas seperti novel-novel Netty Virgiantini yang lain: kalem, sederhana tapi membius. Jyaahhh XD

Sebenarnya walau sama-sama berstatus lajang, situasi Jani, Rena dan Mona lumayan berbeda. Selain karakter, latar keluarga mereka pun berlainan, ini yang menyebabkan perbedaan tekanan tentang jodoh yang mereka rasakan berbeda-beda levelnya. Jani memang lebih santai karena posisinya sebagai anak bungsu dan kakak-kakaknya telah menikah, berbeda dengan Rena yang anak tunggal dan Mona yang merupakan anak pertama dan telah dilangkahi adiknya dalam hal menikah. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mereka diam-diam bersaing sengit, tapi dibungkus dengan kepolosan dan kekocakan.
Hal yang akrab bagi saya adalah budaya mencuri bunga melati di keris pengantin pria. Aduh, ini saya pernah lakukan. Hahaha. Saya paham betapa gusarnya Jani harus mencuri bunga dari keris yang terselip di punggung pengantin pria hanya agar ketularan dapat jodoh. Ada juga adegan ge-er ge-er salting kala tukang video acara pernikahan malah terus-terusan mengambil gambar Jani. Ini juga bikin saya bernostalgia jadinya. XD

Penokohannya terasa kuat dan konsisten. Jani, Rena dan Mona punya sifat, gaya dan pemikiran yang berbeda. Mereka tampil dengan karakter masing-masing dengan sama menonjolnya. Tapi tetap saja Jani yang paling nggemesin.

Saya selalu suka kejutan manis yang disiapkan Netty Virgiantini di bagian ending ceritanya. Selama membaca karya-karyanya, saya selalu mak nyes dan klepek-klepek di lembar-lembar terakhir. Meski saya juga sempat merasa takut akan ending tak terduga seperti yang pernah terjadi di novel Telaga Rindu. Namun yang pasti, sedih atau bahagia, selalu ada sentuhan manis yang membuat saya merasa jatuh cinta setiap selesai membaca. Saya memang lebih menyukai kisah yang manis dan sederhana, tanpa menonjolkan kemewahan, tanpa penampilan yang rupawan bak dewa, tanpa keromantisan berlebihan. Itu sebabnya saya selalu klik dengan novel Netty Virgiantini dan merasa puas usai membaca novel Three Women Looking For Love ini. Nyes banget rasanya :)

Kamis, 16 Maret 2017

[Resensi] Lelaki dalam Ingatan - Penny Jordan

Judul: Lelaki dalam Ingatan
Judul asli: Un Unforgettable Man
Penulis: Penny Jordan
Alih bahasa: Rina Buntaran
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2012 (cetakan keempat)
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-979-22-8519-2



BLURB

Bagaimana cara lelaki itu menuntut balas?

Pada usia enam belas tahun, Courage Bingham yang lugu dan tak berpengalaman merasakan sensasi menghanyutkan bersama seorang pemuda di rumah musim panas keluarganya. Namun sejak itu perasaan malu dan bersalah menyiksanya, bercampur kerinduan yang sama besarnya kepada orang asing yang tak dikenal dan tak dilihatnya itu.

Kini, Courage cemas indranya mempermainkannya. Gideon Reynolds, bos barunya yang tak kenal ampun dan beroman keras, dapat membangkitkan sesuatu dalam diri Courage seperti seseorang dalam ingatannya. Mungkinkah mereka orang yang sama? Dan, jika benar begitu, bagaimana cara Gideon menuntut balas atas “penipuan” Courage pada masa lalu?

RESENSI

Courage Bingham harus meninggalkan pekerjaannya yang menjanjikan demi menemani neneknya yang sakit. Hanya neneknyalah satu-satunya keluarga yang Courage miliki, karena ia tak mau lagi tinggal bersama ayah tiri dan saudari tirinya yang culas. Kini, Courage harus menemukan pekerjaan baru di kota kecil Dorset untuk membiayai operasi neneknya.
Siapa sangka pekerjaan yang didapatnya berkaitan dengan Gideon Reynolds, seorang chairman dan pemegang saham terbesar sebuah jaringan perusahaan berlaba tinggi. Pria yang keras, dingin dan tak kenal ampun. Pria yang membuat Courage teringat akan kenangan pada sebuah malam ketika ia masih belia dan naif.
Apakah Gideon adalah orang yang sama dengan lelaki yang ada dalam ingatan Courage? Apakah Gideon mengingat Courage? Dan apakah kenangan itu akan berakhir manis atau justru kembali menjadi mimpi buruk bagi Courage?

-------------------------

Seingat saya, saya pertama kali membaca Lelaki dalam Ingatan karya Penny Jordan ini ketika masih SMA. Well, jangan buru-buru menuding saya saat itu belum cukup umur untuk membaca novel dewasa. Bagi saya dewasa nggak harus berjalan lurus dengan bertambahnya umur. Toh, novel dewasa bukanlah buku atau video porno. Novel dewasa bukan hanya membeberkan cerita romance "kipas-kipas" semata, tapi justru mengajarkan kita akan akibat dan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan tokohnya. Aahh... saya kok mulai melantur.

Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya adalah penggemar karya-karya Penny Jordan. Meski beberapa karyanya ada juga yang kurang sreg di hati saya dan saya rating di bawah tiga bintang. Namun untuk novel yang satu ini, saya dulu memberinya lima bintang. Maka tentu saja saat novel Lelaki dalam Ingatan ini dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, saya pun ingin bernostalgia dengan novel yang saya nobatkan sebagai salah satu novel Penny Jordan terbaik versi saya.

Membaca lagi kisah ini dengan sudut pandang saya yang semakin matang dari belasan tahun lalu, rasanya saya masih tetap jatuh cinta pada Courage dan Gideon. Yah, bagaimana pun saya tetap penggemar kisah CLBK alias cinta buta yang bertahan bertahun-tahun yang menjadi pondasi novel Lelaki dalam Ingatan ini.
Penny Jordan memang penulis yang memiliki ciri khasnya sendiri. Tokoh heroinenya kebanyakan merupakan wanita tangguh, mandiri (terkadang hanya tinggal memiliki satu anggota keluarga yang mulai menua), kompeten dalam pekerjaannya, tapi lugu. Hingga kemudian tanpa sengaja bertemu dengan hero yang dingin, menjaga jarak dan lumayan jaim. ^^
Seperti itulah Courage dan Gideon.

Sayangnya nggak seperti karya-karya Penny Jordan yang lainnya, Lelaki dalam Ingatan nggak menuliskan seluk perasaan sang tokoh pria. Padahal, yang paling saya suka adalah ketika sudut pandang beralih pada sang hero sehingga saya bisa mengintip rasa frustasinya. Haha... Namun mungkin itulah yang membuat antiklimaks novel ini bikin saya mewek (lagi). Membaca novel kemudian nangis memang sudah biasa bagi saya, tapi membaca ulang dan masih tetap nangis itu luar biasa, kan? Saya cengeng, tapi juga nggak cengeng-cengeng amat kok. :p
Ketika Gideon akhirnya mendapat wangsit alias pencerahan alias fakta tentang masa lalu Corage dan betapa salahnya ia selama ini. Hueee... adegan di mana Gideon akhirnya mengakui semua perasaannya itu memang favorit saya sepanjang masa. Malah sepertinya saya mulai hapal dialognya di luar kepala. Oh.. Oh... :')

Dan seperti belasan tahun lalu saya kembali tenggelam dalam alur kisah hubungan Courage dan Gideon. Hanya saja kali ini saya merasa Courage terlalu baik dan mudah memaafkan. Dulu mungkin saya menganggap apa yang dilakukan Courage adalah cinta sejati, kini saya menganggap itu sebagai kepercayaan buta. Haha... Well, setelah disakiti begitu rupa, saya sih merasa keputusan yang diambil Courage itu terlalu cepat. Gideon juga jadi terlihat lebih egois dan mudah dituruti keinginannya.

Cover lama yang serupa cover aslinya 🙈🙈


Tapi tetap saja saya masih mencintai karya Penny Jordan yang satu ini. Dan omong-omong, covernya lebih cakep yang sekarang. Nggak memalukan kalau dibawa atau dibaca di depan umum, nggak seperti yang sebelumnya yang waktu bawa ke meja kasir saja malunya minta ampun. Hehe...

Minggu, 12 Maret 2017

[Resensi] Imaji Terindah - Sitta Karina

Judul buku: Imaji Terindah
Seri: Keluarga Hanafiah #2
Penulis: Sitta Karina
Editor: Siti Nur Andini
Penata letak: Rizal Rabas
Desainer sampul: Sitta Karina
Foto sampul muka: Andra Alodita
Penerbit: Literati (imprint Lentera Hati)
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 290 halaman
ISBN: 978-602-8740-60-9



BLURB

"Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati."

Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.

Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.

Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.


RESENSI

Dalam sebuah pertemuan yang diadakan keluarga Hanafiah dan Kaminari, Chris Hanafiah bertemu dengan Kei Kaminari. Sejak awal Chris menganggap Kei aneh dan merasa terusik, apalagi Kei seolah memprovokasinya. Terlebih tiba-tiba saja Kei ada di dalam mimpi Chris dan membuat hati Chris panas!
Di sekolah Chris sendiri kedatangan seorang siswi baru yang langsung mencuri perhatian seisi sekolah karena keceriaannya. Chris yang merasa tertantang oleh pernyataan Kei, akhirnya mendekati sang siswi baru, Kianti Srihadi—Aki. Ajakan pacaran dari Chris ditanggapi santai oleh Aki. Gadis itu justru menawarkan hubungan persahabatan.
Chris mau tak mau mengikuti permintaan Aki dan mulai berteman dengan gadis itu. Tapi semakin lama dekat dengan Aki, Chris semakin tahu rahasia-rahasia Aki yang kemungkinan besar bisa melukainya. Ditambah lagi hubungan Chris dengan kedua sahabatnya: Alde dan Rimbi pun menjadi renggang.
Akankah Aki akhirnya menerima perasaan Chris? Dan akankah perasaan Chris berubah? Bagaimana pula hubungan persahabatan mereka nantinya?

--------------------

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama saya membaca seri keluarga Hanafiah yang fenomenal itu. Saya anggap fenomenal karena beberapa teman dan sepupu pernah merekomendasikan seri ini, bahkan mbak-mbak penjaga rental buku yang dulu sering saya kunjungi pun pernah merekomendasikannya. Hanya saja saking mudahnya saya terdistraksi (saya biasa berniat baca buku A tapi akhirnya berakhir baca buku B 🙈), rekomendasi itu pun hanya tercatat dan belum sempat juga direalisasikan.

Maka momen perkenalan pertama saya dengan anggota keluarga Hanafiah akhirnya datang juga. Melalui Imaji Terindah, saya berkenalan dengan salah satu anggota klan Hanafiah, yaitu Chris Hanafiah. Semula saya kira novel ini merupakan novel new adult atau dewasa, tapi ternyata Imaji Terindah adalah novel teenlit karena tokohnya masih remaja. Mungkin bagi pembaca yang telah ngeh tentang seri Hanafiah sudah nggak mempermasalahkan hal ini, tapi bagi saya yang memang awam dan hanya berpegang pada blurb di cover belakang, tentu saja terkejut. Saya sampai membolak-balik cover dari depan ke belakang karena siapa tahu saya melewatkan label remaja novel ini.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, Imaji Terindah membawa saya masuk ke dalam kisah remaja-remaja metropolitan yang harus menghadapi konflik cinta dan persahabatan. Ya, bukan hanya kisah cinta-cintaan saja yang ada di dalam novel ini, tapi juga persahabatan yang jadi goyah karenanya. Saya, yang memang menyukai cerita persahabatan, dibuat terharu dengan naik turunnya hubungan antara Chris, Rimbi dan Alde. Plotnya cukup rapi meski ada beberapa lubang yang terasa "hmm moment" bagi saya. Contohnya saat Chris berada di rumah Aki, kemudian Aki menghidangkan semangkuk ramen untuk Chris, tapi akhirnya nasib si ramen nggak ketahuan dimakan atau enggak karena Chris kemudian pergi setelah bertemu ayah Aki. (Oke, maaf, fokus saya nggak penting ya? 😅)
Saya juga penasaran ketika Chris datang ke rumah sakit menjenguk Aki seusai berantem dengan Reno. Aki bertanya tentang keadaan Chris yang berantakan, dan Chris menyebut tentang matanya yang memar. Saya membalik lagi halaman sebelumnya dan hanya mendapati kalau Reno menghantam uluhati Chris. Dan seandainya Reno memukul bagian wajah atau sekitar mata, bukannya kacamata Chris akan jatuh atau minimal terlepas? Saya yang pernah ditampar saja, kacamata langsung terpelanting ke lantai :(

Bicara tokoh dalam novel Imaji Terindah ini, saya suka banget dengan karakter Kianti Srihadi atau yang akrab disapa dengan nama Aki. Banyak hal positif yang ada dalam diri gadis ini. Meski fisiknya rentan tapi semangatnya luar biasa. Aki tetap ceria dan berpikir positif terhadap orang-orang di sekitarnya, bahkan terhadap teman yang jelas-jelas berniat jahat padanya. Aki juga punya pengaruh untuk mengubah Chris. Perubahan yang kemudian memicu pertengkaran demi pertengkaran antara Chris dengan orang terdekatnya.
Chris sendiri sebagai pangeran yang populer di sekolah cukup bikin pengin nonjok di awal cerita. Nembak seorang cewek seketika tanpa berusaha mengenal dan mendekati, rasanya arogan banget. :')
Dialog antar tokohnya begitu cair, dan terasa chemistrynya. Beberapa dialog antara Chris dan Aki juga sweet karena mereka saling menyebut nama dalam percakapan, bukan berloe-gue atau bersaya-kamu. Aiiihhh maniiiss. ^^

Best moment bagi saya adalah saat Chris akhirnya datang untuk Rimbi. Persahabatan mereka sudah mencuri perhatian saya, dan saya ingin mereka tetap bisa bersama. Maka ketika akhirnya Chris dan Alde bersatu membantu Rimbi itu rasanya nyess di hati saya. Sayang, persahabatan Aki dengan sahabat-sahabatnya di Jepang nggak muncul sesering Chris dan sahabat-sahabatnya.

Yap, demikianlah perkenalan saya dengan klan Hanafiah. Overall... saya menikmatinya. Pengalaman yang menyenangkan karena sedikit banyak saya tertular oleh semangat dan keceriaan Aki. Bagaimanapun jalan hidup kita, kita bisa memilih menganggapnya sebagai penderitaan atau tantangan, tapi kita tetap harus menghadapinya dengan rasa positif. Seperti Aki :')
Aaah... saya jadi terenyuh tapi juga bahagia. untuk Aki. Karena Aki telah menemukan kebahagiaannya. Karena Aki yang masuk ke kehidupan Chris telah membuat Chris menjadi lebih kuat lagi. Bukankah cinta seperti itu?

Senin, 06 Maret 2017

[Resensi] Kupu-Kupu Bersayap Gelap - Puthut EA

Judul buku: Kupu-Kupu Bersayap Gelap
Penulis: Puthut EA
Penyunting: Nody Arizona
Pemeriksa aksara: Prima S. Wardhani
Ilustrasi sampul & isi: Saipul Bachri
Penata isi: Azka Maula
Penata sampul: Narto Anjala
Penerbit: Buku Mojok
Tahun terbit: Februari 2016 (cetakan kedua)
Tebal buku: 167 halaman
ISBN: 978-602-1318-25-6



BLURB

"... Puthut adalah pencerita yang piawai. Kata-katanya sederhana. Kalimat-kalimatnya ringkas. Tidak neko-neko. Tidak ingin dianggap pintar meliuk-liukkan kata, tapi ceritanya tetap memukau.

Dia bukan hanya tahu teknik menulis yang baik, tapi saya kira, cerpen-cerpennya tak hanya ditulis dengan teknik menulis dan bercerita yang baik itu, melainkan ditulis dengan melibatkan perasaannya. Dan itulah yang penting, karena tulisan yang ditulis dengan sepenuh perasaan akan sampai pula pada perasaan pembacanya. Tak banyak penulis yang sanggup melakukannya. Mungkin saya berlebihan, tapi perasaan tidak bisa dibohongi. Beberapa kali dada saya terasa sesak karena larut membaca cerpen-cerpen Puthut. Seolah saya ada di sana, di dalam cerpen-cerpennya. Menjadi saksi. Menjadi pelaku."

—Rusdi Mathari, wartawan dan penulis


RESENSI

Saya adalah salah satu penikmat karya-karya Puthut EA, lalu merasa gemas sendiri karena nggak pernah bisa menuliskan satu review-pun setelah menuntaskan membaca karya-karyanya. Mungkin saya nggak percaya diri, mungkin juga karena saya nggak sanggup berkata-kata lagi seusai membaca. Ah... penikmat abal-abal macam apa saya ini?

Di bulan kelahiran saya, beberapa bulan lalu, saya mendapatkan arisan kado buku dari sahabat-sahabat grup BBI Joglosemar. Sebenarnya wishlist saya adalah karya Puthut EA yang lain, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, tapi karena stok sedang kosong, saya akhirnya dipilihkan Kupu-Kupu Bersayap Gelap ini. Jelas saya nggak keberatan karena saya memang belum pernah membaca buku ini. Lagipula, saya memang lebih suka kumpulan cerpen karena berarti saya bisa lebih banyak bertemu karakter-karakter dalam dunia yang dibangun oleh Puthut EA.

Buku Kupu-Kupu Bersayap Gelap ini berisi 13 cerita pendek, yang kisah-kisahnya begitu lekat dan dekat dengan kehidupan kita. Rasanya mudah saja menengok ke lingkungan sekitar dan menemukan cerita yang hampir sama seperti yang dialami para tokoh dalam kumpulan cerpen ini. Atau kalau mau lebih jujur lagi, betapa dekatnya lakon yang kita jalani dengan kisah-kisah yang ada dalam buku ini.
Saya menyukai semua cerpen di dalamnya, tak terkecuali. Semua begitu tampak sederhana dan membumi tapi juga menohok dengan kuat di tempat-tempat yang tepat. Ada ironi hidup dalam kisah-kisahnya, pun ada nilai-nilai moral yang mengisi jalinan kisahnya.   Semua ditulis dengan bahasa yang lugas namun indah.

"Itu bukan masalah uang yang kamu miliki. Tapi masalah yang lebih penting lagi, yaitu hal yang pantas dan yang tidak pantas." (hlm. 107)

Bagi saya, cerita pendek Rasa Simalakama yang menceritakan tentang sepasang kekasih yang tak nggak sanggup menyakiti orang-orang yang mereka cintai demi kebahagiaan mereka sendiri, memanglah yang paling membekas karena begitu dekatnya dengan kisah saya sendiri. Sedangkan Benalu di Tubuh Mirah membuat saya merasa terhubung karena diceritakan dari sisi seorang ibu, yang harus menghadapai orang-orang serupa benalu dalam hidup ini. Dan sungguh, benalu itu memang banyak. Bahkan mungkin secara sadar dan nggak sadar, saya pun bisa saja merupakan benalu bagi orang lain.

Potret sosial dalam ketigabelas cerpen ini memang nyata adanya di sekitar kita. Puthut sendiri menjabarkan settingnya bukan secara fisik tapi secara sosial. Tempat dan ruang tak bernama tapi tetap saja terasa akrab karena menggambarkan situasi sosial lingkungan kita. Betapa mudahnya saya membayangkan kampung dan surau di cerpen Dalam Pusaran Kampung Kenangan, atau gardu ronda sebelah tenggara dan sebelah barat laut dalam cerpen Gayung Plastik, atau juga "kota besar" yang menjadi latar cerpen Doa Berkabut.
Keberagaman juga merupakan bagian penting dalam kumpulan cerpen ini melalui karakter-karakternya yang berbeda agama, latar dan keyakinan. Dan melalui karakter-karakter itulah, nilai-nilai moral dan ironinya terasa menohok begitu dalam tanpa terasa menggurui. Karena rasanya begitu mudah menempatkan diri sebagai si tokoh karakter atau orang terdekat si tokoh.

Kupu-Kupu Bersayap Gelap menjadi buku kumpulan cerpen favorit saya. Dan di antara ketigabelas cerpen di dalamnya, Bunga dari Ibu dan Dalam Pusaran Kampung Kenangan yang paling saya sukai. Buku ini melalui cerpen-cerpenya telah membawa saya menjelajah, dari satu kenangan ke kenangan lainnya.

Jumat, 24 Februari 2017

[Resensi] A Kiss for Midwinter - Courtney Milan

Judul buku: Ciuman Musim Dingin
Judul asli: A Kiss for Midwinter
Series: The Brother Sinister
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Martha Widjaja
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-3322-9



BLURB

Miss Lydia Charingford selalu tampak ceria. Namun sekuat apa pun ia berusaha tersenyum, ia tak dapat melupakan aib masa remaja yang dapat menghancurkan reputasinya. Ketakutan itu kembali muncul setelah ia bertemu lagi dengan Jonas Grantham, salah satu dokter yang mengetahui rahasianya. Ia tak ingin berurusan dengan Jonas, tetapi pertemuan mereka malah berakhir dengan taruhan konyol yang melibatkan sebuah ciuman. Seperti Lydia, Jonas pun menyimpan rahasia. Ia menanggung rasa bersalah terhadap wanita itu, dan kini setelah mengetahui Lydia berhasil melanjutkan hidup, ia malah jatuh cinta padanya. Meski Lydia terang-terangan menolak Jonas, dengan memanfaatkan taruhan mereka, ia bertekad akan memenangkan hati wanita itu. 


RESENSI

Sebelum memulai kuliah kedokterannya di King's College di London, Jonas Grantham diizinkan menghabiskan waktu bersama Dokter Parwine. Ia sepakat mengambil alih praktik pria itu usai menyelesaikan pendidikan. Saat itulah pertama kalinya Jonas bertemu dengan Lydia Charingford, gadis berusia limabelas tahun, yang tengah hamil dan divonis menderita miasma. Hal yang menurut Jonas mustahil tapi ia tak mampu bersuara.
Lima tahun berselang, Jonas telah mengambil alih praktik Dokter Parwine dan menjadi seorang dokter di Leicester. Ia pun berniat mencari istri. Ia kembali bertemu Lydia yang menurutnya menempati peringkat sebelas dalam daftar wanita tercantik di Leicester. Namun Lydia yang masih mengingat jelas siapa Jonas merasa Jonas hanya ingin merendahkannya. Gadis itu membenci Jonas dan curiga Jonas hanya ingin mengoloknya.
Jonas yang telah bertekad menjadikan Lydia sebagai miliknya tak kurang akal. Ia menantang Lydia dalam sebuah pertaruhan. Jika ia menang, ia menginginkan ciuman Lydia, tapi jika ia kalah, ia akan menyanggupi permintaan Lydia untuk tak berbicara dengannya. Bersamaan dengan bunyi lonceng natal di pertengahan musim dingin, siapakah yang akan menang?

-----------------------

"Kau hanya wanita tercantik kesebelas di seluruh Leicester sampai kau membuka mulut. Begitu kau berbicara, tidak ada yang dapat menandingimu." (hlm. 82)

Sejak membaca seri Turner, saya dibuat jatuh cinta dengan karya Courtney Milan. Apalagi saat saya mengetahui riset apa saja yang sudah ia lakukan untuk karya-karyanya. Namun seorang teman pernah berkata kalau karya Courtney Milan yang berjudul Ciuman Musim Dingin, yang diterjemahkan dari A Kiss for Midwinter, lumayan membosankan dan kurang bagus. Maka, saya pun mengawali membaca novela ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Saya tetap ingin membacanya karena bagi saya, sekali saya jatuh cinta pada karya seorang penulis, saya akan terus membaca karya-karyanya yang lain, entah karya tersebut bagus atau tidak. Maka, berikut adalah kesan saya seusai membaca novela ini.

A Kiss for Midwinter dibuka dengan adegan pembuka saat pertama kalinya Jonas Grantham bertemu dengan Lydia Charingford di Leicester pada September 1857. Pertemuan yang cukup suram dan mengguncang, tapi membekas begitu dalam di benak keduanya. Hingga lima tahun kemudian mereka bertemu kembali dan memulai perseteruan.
Untuk setting tempat memang kurang digali dan kurang dipaparkan dengan detail. Namun untuk setting waktu, terasa menarik terutama dilihat dari sisi dunia medis. Digambarkan betapa Jonas Grantham berusaha mengubah persepsi orang-orang tentang hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Yang sayangnya, bahkan di era modern ini, masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat di beberapa wilayah tertentu.

"Aku bukan perjaka. Kau juga bukan perawan. Bahkan jika kau masih perawan, kita berdua tidak perlu bersikap malu-malu mengenai persoalan ini. Jika wanita cukup umur untuk mengeluarkan anak seberat empat setengah kilogram dari saluram kelahiran, dia boleh mendengar kata seperti 'alat kelamin pria' dan 'rahim'. Ini istilah medis, Miss Charingford, bukan kata-kata kotor." (hlm. 74)

Bukan hanya blak-blakan dan ketus, Jonas Grantham dilukiskan sebagai dokter muda yang cerdas dan terbuka dalam menerima perubahan dalam dunia medis. Ia menentang cara-cara medis lama dan melakukan hal-hal baru seperti mencuci tangan saat memeriksa pasien. Sifatnya yang terlalu terus terang dan bicara apa adanya, memang membuatnya sering bertengkar dengan Lydia dan membuatnya bermasalah dalam menghadapi sang ayah.

Lydia sendiri adalah heroine yang tangguh. Setelah mengalami peristiwa nggak menyenangkan di usianya yang baru limabelas tahun, Lydia belajar banyak. Saya menangkap kesan betapa ia tetap bersikap optimis dan ceria, walau hati terdalamnya menangis. Satu-satunya orang yang ia pandang dengan pesimis, skeptis dan curiga hanyalah Jonas.
Sungguh menyenangkan membaca interaksi keduanya; Lydia yang benci dan ingin menyingkirkan Jonas sejauh-jauhnya dengan Jonas yang tenang dan blak-blakan, merayu dengan caranya sendiri yang sungguh terasa manis.

Bagi saya novel dengan premis hubungan love-hate memang selalu saya sukai. Apalagi kalau dibumbui beberapa hal menarik dan diramu dengan apik, sedemikian halnya dengan A Kiss for Midwinter. Latar dunia medisnya yang bergerak dari cara lama ke cara baru membuat saya tergelitik, dan Courtney Milan menuliskannya dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Penerjemahannya sendiri rapi dan memuaskan, pilihan diksinya pun sangat baik.

Seolah hubungan intim dan hasrat sensual hanya... suatu hal. Hal biasa, fungsi tubuh, dan bukan topik memalukan. Seolah gairah, seperti kebenaran, dapat menjadi anugerah dan bukan hanya sumber rasa malu dan takut.  (hlm. 159)

Selain naik turunnya hubungan Jonas dan Lydia, novela ini juga dibumbui dengan keresahan Jonas menghadapi ayahnya. Rasa cintanya pada sang ayah yang sakit dan keras kepala. Rasa frustasinya berusaha membujuk sang ayah begitu kental. Bahkan saya sempat menangis juga saat konflik mereka mencapai klimaks. Courtney Milan selalu bisa memberi nuansa kekeluargaan yang lumayan muram tapi sangat kental dalam novel-novelnya, dan kali ini tertuang melalui hubungan ayah dan anak Grantham.

Secara keseluruhan, saya puas membaca novela ini. Dengan jalan cerita yang menarik dan isu kesehatan di tahun 1800-an, kisah dalam novela ini memikat dan menyentil dalam waktu bersamaan. Saya rekomendasikan novela ringan ini buat kalian pencinta historical romance terutama kisah tentang love-hate relationship.

Rabu, 22 Februari 2017

[Resensi] Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca - Dono Indarto

Judul buku: Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca
Penulis: Dono Indarto
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 192 halaman
ISBN: 9786023756391



BLURB

Merindumu dengan sembunyi 
Ssstttt. . . menyelinap sunyi
Tolong kembalikan hati yang kau curi 
dari jubah kesetiaan 
yang selama ini mengintip penasaran


Cerita-cerita dalam buku ini adalah cerita soal kerinduan yang muncul setelah kehilangan.
Kerinduan seorang wanita gila bersama wanita gila pada pelukan.
Kerinduan seorang penulis atas masa kecil bersama ayahnya yang sekarat.
Kerinduan seorang pelukis pada wanita di dalam lukisannya.
Kerinduan seorang anak yang mencari ibunya di tengah lautan.
Dan sederet kerinduan lain yang terungkap dalam cerita pendek.
Juga ada kerinduan yang mempertemukan kamu dengan aku dalam sebuah puisi 


RESENSI

Semula saya mengira buku Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca adalah buku kumpulan puisi. Judulnya jelas menggoda walau saya anggap covernya sebenarnya nggak comotable. Namun melihat judulnya saja, membuat rasa penasaran saya tergugah dan ingin mencari tahu benarkah ini puisi, atau hanya bait-bait nggak penting yang saya baca?
Well, rupanya saya salah. Buku ini bukanlah buku kumpulan puisi biasa, tapi merupakan perpaduan antara kumpulan puisi dan kumpulan cerita pendek. Menariknya, antara kedua bentuk karya tersebut memiliki saling keterkaitan satu sama lain. Saat membacanya, saya merasa puisi-puisi dalam buku ini menjadi pembuka bagi cerita pendek yang muncul setelahnya.

Jangan abaikan juga tanda 18+ yang ada di sampul buku. Karena isi beberapa cerita pendek dalam buku ini nggak jauh dari isu seputar selangkangan. Nggak eksplisit dan nggak vulgar sih, saya justru lebih menggaris bawahi ironi dan sindiran yang diramu dengan apik dalam buku ini yang  memang sebaiknya dibaca oleh orang-orang yang telah dewasa. Meski sebenarnya, lagi-lagi menurut saya, usia bukanlah patokan seseorang telah dewasa atau belum.

Saya akui, saya adalah pencinta puisi yang terlalu pemilih. Saya bukanlah penikmat puisi rumit yang mesti ditelaah beberapa kali untuk memahaminya. Saya lebih menyukai puisi yang sederhana namun mengena, juga kuat dalam pemilihan diksi dan rimanya.
Puisi-puisi dalam buku ini sendiri memang terkesan simple tapi kaya makna. Yang paling mengena di benak saya adalah puisi yang berjudul Tanda Baca:

tanda seru memaki
tanda tanya mengapa
titik bilang usai
koma belum sampai

lalu yang lain berderet
minta dipakai
agar bisa dipahami
dalam lembar yang semula gersang
dan kerontang

bahkan kita butuh dia
bidang kosong itu

spasi

bayangkanjikadiatakada
apakahkaumengerti

deret huruf itu
yang selalu terburu-buru

sesungguhnya kita berarti
jika tidak sendiri

sesungguhnya kita dimengerti
jika ada 'antara'
(hlm. 132)

Sementara untuk cerita pendek dalam buku ini, ajaibnya saya suka semuanya. Kisah-kisahnya yang nyaris kelam dan berisi kehilangan yang melahirkan rasa rindu, terasa menyentil dengan telak. Itu sebabnya saya tak sanggup berhenti membaca satu persatu kisah pendek yang disajikan. Ada kisah yang serupa fantasi, ada yang melibatkan tragedi, dan ada juga yang terasa ironis. Namun kesemuanya ditulis dengan alur yang menarik, memancing rasa penasaran dan terkadang berujung pada plot twist yang mengejutkan.

"Kamu tahu, apa hadiah paling sempurna bagi seorang wanita?"
Wanita itu menggeleng.
"Dikenang. Mereka ingin dikenang. Menjadi abadi. Mereka berharap bisa tersesat dan menjadi puisi." (hlm. 166)

Dengan gaya bahasa yang lugas, cerita-cerita pendek dalam Mungkin Ini Puisi Atau Bait Tak Penting yang Telanjur Kau Baca begitu mudah dinikmati tanpa perlu mengerenyitkan kening. Terasa menghibur di satu sisi tapi juga menyindir di saat yang sama. Potret-potret kehidupan yang dibungkus dalam sebuah ironi, kehilangan yang mungkin pantas untuk direnungkan atau malah ditertawakan.
Ah, bagaimanapun saya puas dan menutup buku ini dengan rasa syukur sambil mengenang dia, seseorang yang pernah singgah, pernah menetap, pernah pergi dan akhirnya saya rindui.


Senin, 13 Februari 2017

[Resensi] Love and Other Scandal - Caroline Linden

Judul buku: Antara Cinta dan Skandal
Judul asli: Love and Other Scandal
Seri: Scandalous #1
Penulis: Caroline Linden
Alih bahasa: Yunita Candra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 448 halaman
ISBN: 978-602-02-9915-0



BLURB

Joan Bennett tergolong perawan tua. Dia telah menjalani empat season tanpa pelamar. Setelah membaca buku penuh sensasi yang mengejutkan, Lima Puluh Cara Berbuat Dosa, Joan memutuskan mungkin sudah waktunya untuk berhenti menjadi gadis yang sopan dan mulai menjadi pendosa, selagi dia masih cukup muda untuk menikmatinya. Dan pasangan mana yang lebih baik daripada teman minum kakaknya, Viscount Burke? Sepertinya pria macam itulah yang tahu caranya memberikan petualangan mendebarkan kepada seorang wanita.

Pernikaha sama sekali tidak ada dalam kamus sang viscount. Dengan hati-hati pria itu menghindarkan diri dari hubungan yang bisa menjerumuskannya pada pertunangan.

Namun skandal satu malam itu telah mengubah semuanya...


RESENSI

Joan Bennet telah mengenal Tristan Burke saat usianya masih 8 tahun. Di suatu musim liburan, Tristan yang ikut menginap di rumah keluarga Bennet atas undangan Douglas Bennet, mengendap-endap masuk ke kamar Joan dan bersembunyi di sana. Sejak itu, Joan hanya bertemu beberapa kali dengan Tristan.
Menjelang usianya yang sudah melampaui batas usia menikah, dan setelah menjalani empat season tanpa hasil, kini perhatian ibu Joan beralih pada mencari pasangan yang tepat untuk Douglas. Ibu Joan mengutus Joan untuk menemui sang kakak dan 'memaksanya' agar mau menghadiri pesta dansa. Tak disangka, Joan bertemu kembali dengan Tristan Burke yang tengah menginap di rumah Douglas.
Pertemuan kembali itu rupanya menyeret Tristan pada urusan kakak-beradik Bennet. Apalagi ketika ibu Joan jatuh sakit dan harus dirawat di pedesaan, Douglas mempercayakan Joan ke dalam pengawasan Tristan. Akankah pertemuan-pertemuan mereka semakin membuat dekat? Ataukah Tristan akan meledak dalam rasa kesal dan marah karena kata-kata Joan? Atau justru mereka akan menciptakan skandal?

-----------------

Biasanya tema cinta yang bermula dari masa kecil dan tema naksir sahabat kakak selalu jadi favorit saya. Jadi, saya memang menikmati banget membaca novel ini di awal-awal. Apalagi si sahabat kakak ini akhirnya jadi bajingan paling berbahaya tapi juga sekaligus paling diminati di kalangan ton. Aiiih... makin gemes kan ya jadinya, pengin sang hero ini akhinya klepek klepek dimabuk cinta. Emm... baiklah saya akui, itu memang klise. Tapi toh saya tetap selalu suka membaca kisah-kisah klise begini.. >.<

Love and Other Scandal bersetting di London pada tahun 1822. Meski nggak terlalu mendetail, tapi suasana London yang pikuk dan situasi sosialnya tertangkap dengan jelas. Dua hal yang menarik adalah toko buku yang menyediakan bacaan-bacaan nakal yang didatangi Joan secara sembunyi-sembunyi, dan balon udara yang dinaiki Joan bersama Tristan. Saya yang phobia ketinggian ini mungkin bisa mempertimbangkan naik balon udara asal merasakan pengalaman yang sama dengan Joan: dipeluk Tristan. Hahaha...

Karakter novel ini juga unik karena menghadirkan sosok heroine yang nggak sempurna. Joan Bennet punya tubuh yang terlalu sintal dan terlalu tinggi sehingga nggak cocok mengenakan pakaian-pakaian mode terbaru. Itu sebabnya meski Joan telah menjalani empat kali season, belum ada satu pun lamaran yang diterimanya. Namun, Joan punya semangat dan tekad besar juga kecerdikan yang bisa membuat Tristan Burke mati kutu.
Keluarga Bennet merupakan keluarga bangsawan yang nggak kaku, terutama sosok sang ayah yang lebih santai dan hangat dibanding para pria bangsawan pada umumnya. Lagipula, keluarga Bennet rupanya lebih mengutamakan cinta demi kebahagiaan putrinya daripada berusaha menjodohkan Joan dengan bangsawan yang memiliki gelar lebih tinggi.

Sejak membaca What A Gentleman Wants yang merupakan seri pertama dari trilogi Reece Family, saya sudah jatuh cinta dengan cara bertutur Caroline Linden. Apalagi konfliknya pun bukan hanya berkutat pada kisah cinta sang hero dan heroinenya saja. Ada ketegangan konflik yang besar dan mengancam para karaktenya. Sayangnya hal tersebut nggak saya temui di Love and Other Scandal ini. Cerita ini murni naik turunnya hubungan Joan dan Tristan. Bagaimana sang bajingan bertekuk lutut dan berusaha merayu adik sahabatnya. Puncak konfliknya pun hanya berupa skandal yang terjadi ketika Joan dan Tristan tiba-tiba menghilang setelah terlihat berdansa di tengah pesta dansa.
Saya kira penyelesaiannya akan lebih rumit, tapi toh menilik dari betapa bijaknya sang baronet, rasanya mustahil. Saya juga berharap akan ada pembicaraan panjang antar pria antara Douglas dengan Tristan, tapi rupanya nggak terjadi. Padahal di awal saya sudah terpesona dengan bromance mereka yang tampak solid.

Secara keseluruhan, Love and Other Scandal memang nggak menyajikan skandal menggemparkan, tapi cukup manis untuk dibaca. Kadar hotnya lumayanlah, nggak terlalu bikin kipas-kipas dan hanya satu adegan (agak kecewa sih sebenarnya 😛). Semoga saja buku keduanya lebih seru dari buku pertama serial Scandalous ini.

Minggu, 29 Januari 2017

[Resensi] Rule of Thirds - Suarcani

Judul buku: Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Perancang sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 9786020334752



BLURB

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?


Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.


RESENSI

Setelah tiga belas tahun mengikuti papa "bersembunyi" di Seoul, Ladys akhirnya kembali ke Bali. Tujuannya hanyalah berada dekat dengan Esa dan mungkin meningkatkan hubungan mereka ke jenjang status pernikahan. Sayang kenyataan tak seindah harapan. Di hari pertamanya bekerja sebagai fotografer, Ladys bertemu dengan Dias, pemuda aneh yang lebih memilih membisu di dekatnya. Pemuda sok tahu yang membuat Ladys geram dan uring-uringan.
Namun yang lebih menyakitkan, Ladys harus menelan kenyataan pahit akibat pengkhianatan Esa.
Namun Ladys masih belum mampu meninggalkan Bali. Apalagi pertemuannya dengan Dias ternyata bagai takdir agar mereka berdamai dengan masa lalu masing-masing. Bersama, kedua fotografer ini berusaha mencari arti cinta dan memaafkan.

----------------------

"Cinta akan selalu memaafkan." (hlm.132)

Rule of Thirds adalah kesempatan kedua saya membaca karya Suarcani, setelah dulu sempat membaca Stardust Catcher dan memandu blogtournya. Bagi saya, Stardust Catcher adalah novel Young Adult yang membekas di benak saya, maka saya pun jadi ingin menjajal mencicipi karya baru Suarcani yang muncul di lini Metropop.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian dari sisi Ladys dan Dias. Nggak perlu takut bingung karena ada perbedaan yang jelas di antara keduanya. Ladys menggunakan kata ganti "saya" dan cenderung keras kepala, sementara Dias menggunakan kata ganti "aku" dan terkesan cuek. Mereka konsisten dengan kepribadian masing-masing dan muncul saling mengisi satu sama lain.
Ada dua hal dalam novel ini yang menonjol dan melekat kuat di benak saya. Yang pertama adalah setting Bali yang lagi-lagi digunakan oleh Suarcani. Settingnya terdeskripsi dengan apik dan rapi, cukup jelas bagi saya yang buta akan lokasi-lokasi di Bali. Suasana dan alam Bali terpotret dengan baik.
Yang kedua adalah dunia fotografi yang digeluti oleh Dias dan Ladys, segala istilah dan filosofi tentang potret memotret dituangkan dalam buku ini. Menarik karena Suarcani mampu menarik garis antara istilah fotografi dengan filosofi dalam hubungan antar manusia. Saya jadi merasa nyambung-nyambung saja dan nggak terbingungkan dengan istilah-istilah tersebut.

Yang saya rasa cukup drama hanyalah Ladys. Hahaha... pertama saya jengkel karena Ladys merasa nggak terima karena Dias 'sok pintar'. Haduuuh saya sempat benci karena dia menganggap Dias bego dan nggak ngerti apa-apa. Saya nggak suka ada orang yang meng-underestimate seseorang apa pun profesinya dan seperti apa penampilannya. Bahkan saat Ladys akhirnya 'tertonjok' fakta tentang Dias, saya masih belum puas.
Kemudian plin-plan dan ragu-ragunya Ladys menyikapi hubungannya dengan Esa itu bikin gemas-gemas jengkel. Pantaslah kalau Dias jadi murka, untuk alasan yang tepat.
Sementara Dias saya anggap karakter yang pas sebagai penyeimbang. Saya suka dengan sosoknya yang biasa aja. Nggak menonjol, tenang—nggak mudah terpancing dan yaah.. bego dalam urusan asmara. Khas cowok. *lalu saya dirajam para cowok* wkwkwk~
Esa sendiri pria yang gigih meski ngawur. Haha... Alasannya untuk tetap di samping Ladys itu egois sih. Nggak ada dewasa-dewasanya, tapi yaah saya akui dia pintar ngegombal sehingga bikin Ladys hilang logika.

Konflik dalam Rule of Thirds memang cukup menarik. Betapa kita bisa memiliki nasib yang sama dengan beberapa orang namun menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda. Berduka dan berdamai karena kehilangan dan pengkhianatan dengan cara masing-masing. Betapa nasib kadang menyeret kita pada pola yang sama dengan yang dialami orangtua kita, entah kita sadar atau tidak.

Rule of Thirds bukan hanya menyoroti kisah cinta rumit antara dua-tiga orang saja, namun juga tentang drama keluarga. Yah, saya dibikin nangis juga oleh buku ini. Bukan hanya karena adegannya, tapi juga diksi yang digunakan Suarcani membuat momennya makin dalam. Memang, membaca novel ini bikin geregetan, bukan hanya karena tensi hubungan para tokohnya naik turun, tapi juga ditarik dan diulur. Lihat saja di bagian akhirnya, huh jantung saya rasanya mau copot karena saya kira endingnya bakal bikin saya sedih. Tapi ternyata aww... endingnya supeeerr manis. Sukak 😍
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon