Tampilkan postingan dengan label Rosi L. Simamora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rosi L. Simamora. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2016

[Resensi] A Thousand Miles in Broken Slippers - Rosi L. Simamora

Judul buku: A Thousand Miles in Broken Slippers (Leo Consul's Life Story)
Penulis: Rosi L. Simamora
Editor: Mirna Yulistianti
Proofreader: Sasa
Desain sampul & ilustrasi isi: Itjuk Rahayu
Setter: Fitri Yuniar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2016
ISBN: 9786020319780



BLURB

Aku dilahirkan di Bolinao, Filipina, di tengah keluarga miskin. Ayah hanya pekerja serabutan, sedangkan Ibu tukang cuci dan pedagang asongan. Sementara sejak berumur delapan tahun, aku sudah jadi pemulung dan tukang bersih bus antarkota.

Masa kecilku getir dan sulit. Bukan hanya disebabkan kemiskinan yang melilit, namun karena kebencian dan penolakan yang dilontarkan dunia padaku. Termasuk oleh kakak-kakakku, yang membenciku karena ayah mereka sangat menyayangiku. Ya, "ayah mereka", kataku, karena aku ini anak dari hubungan di luar pernikahan.

Tapi justru ayah tiriku itulah yang menjadi penyelamatku. Ia obat bagi setiap lukaku. Ia membentukku dengan nasihatnya, mencintaiku sepenuh jiwanya. Dialah yang membuatku terus berjuang menjadi murid terpandai di sekolah, merebut medali demi medali, meski ke mana pun aku pergi, kakiku hanya beralas sandal jepit yang menipis digerus langkah.

Tapi seperti kata Ayah, "Jangan biarkan sandal jepitmu menjadi jati dirimu."

Maka aku percaya, tak ada satu pun yang tak dapat kucapai, meski kakiku hanya beralaskan sandal jepit usang.


RESENSI

Leo Consul atau yang biasa dipanggil Dong terlahir dari keluarga miskin di Bolinao, Filipina. Hidupnya sangat sulit dan penuh penolakan, karena ia adalah anak haram. Tapi Dong tak pernah kehilangan harapan dan mimpi. Ia bekerja keras. Dengan sandal jepit lusuh, baju seragam bekas, Dong selalu menjadi siswa berprestasi. Ia selalu berusaha tampil di beragam perlombaan hanya agar lemenangannya bisa membuat ibunya tersenyum. Tapi, sebanyak apa pun medali yang diperolehnya, setinggi apa pun prestasinya, Dong tetap tak bisa mendapat cinta ibunya. Hanya ayah tirinya, yang mendukung dan mencintainya sepenuh hati.
Begitu lulus kuliah, Dong kesulitan mendapatkan pekerjaan. Saat itulah seorang kenalan menawarinya untuk ikut bekerja ke Jakarta, Indonesia. Dong mengambil kesempatan itu. Siapa sangka, hidup di Jakarta sungguh keras dan Dong terseok-seok menggapai impiannya.

-----------------------

Bagi pengamat layar kaca pertelevisian Indonesia pasti sudah sangat hafal siapa Leo Consul. Sayangnya saya bukan penikmat acara televisi, dan saya baru tahu tentang Leo Consul juga dari buku inspiratif ini. Yah, maklum saja televisi saya hanya menyala jam 5 - 7 sore, itu pun buat nonton Adit & Sopo Jarwo. Mana saya tahu kalau ia adalah salah satu host acara musik Dahsyat. *kunyah tivi* Wkwkwk~

A Thousand Miles in Broken Slippers adalah riwayat hidup penuh liku Leo Consul yang ditulis oleh Rosi L. Simamora. Kalimat yang digunakan sangat indah dan disusun dengan cantik. Sangat menyentuh. Terutama di bagian masa kecil Dong yang amat sangat menginginkan perhatian ibunya.
Ceritanya sangat miris dan nampak sekali bahwa bagi Dong hidup adalah perjuangan tanpa henti. Kepedihan menghampirinya dengan bertubi-tubi tapi ia justru makin kuat. Yang menyakitkan bagi saya adalah membaca sikap perlakuan kakak-kakak Dong yang kejam yang dipicu oleh tindakan sang ayah.
Di bagian ini saya sama sekali gak mengerti apa alasan ayah. Kenapa dia begitu penuh kasih pada Dong yang bukan anak kandungnya, tapi bersikap keras dan main pukul pada anak kandungnya. Apa alasannya? Apa karena Dong penurut? Apa karena Dong berprestasi? Atau ada alasan lain?
Yang membuat saya sedih, kenapa ayah harus bersikap begitu. Sebagai ayah bahkan sebagai orangtua mestinya seseorang bisa bersikap adil pada anak-anaknya. Anak yang tumbuh dengan rasa dihargai pasti akan menjadi tangguh. Sama seperti Dong. Rasa dihargai walau hanya berasal dari sosok ayah dan guru-guru, tapi bisa membangkitkan semangat dan harapan Dong.

Ini adalah kisah tentang harapan dan mimpi yang bisa diraih bukan karena status kelahiran. Tapi masa depan yang diraih dengan tekad kuat dan kerja keras. Kalau orang jawa bilang "ngrekosone kuat". Siapa yang bisa bertahan dalam penderitaan dialah yang akan mendapat kebahagiaan nantinya.

Buku ini benar-benar sangat inspiratif. Penulisannya yang rapi dan timeline alur cerita yang jelas membuatnya enak untuk dinikmati. Saya sendiri membaca buku ini saat sedang liburan dan rasanya saya jadi punya semangat untuk melalui hari-hari penuh kerja keras seusai liburan ke depan.


TEBAR-TEBAR QUOTE


Jika.
Ya, bahkan sampai sekarang pun hidupku masih teramat mengandalkan kata yang satu itu. Tapi toh, bagiku itu cukup. Karena "jika" berarti harapan, setipis apa pun itu. Karena "jika" berarti aku masih berjuang untuk maju, sesulit apa pun itu. Karena "jika" berarti cahaya, seredup apa pun itu. (hlm. ix)

"Tidak ada yang namanya pilihan salah ataupun benar. Setiap pilihan membawa kita ke sesuatu yang akan menggugah atau mematahkan kita. Yang terpenting adalah, kita tahu cara untuk bangkit kembali setiap kali kita terjatuh." - Leo Consul (hlm. 53)

"Jangan biarkan sandalmu menentukan jati dirimu, Dong. Jangan pernah merasa malu ke sekolah hanya mengenakan sandal dan seragam lungsuran yang sudah pudar putihnya. Hanya ada satu cara untuk memperbaiki takdirmu—sekolah. Timbalah ilmu setinggi mungkin, Nak. Jangan seperti ayahmu ini. Biarpun kau tidak menggunakan sepatu bermerek yang mahal, kalau kau terus berjuang dan giat belajar, sandalmu yang hanya seharga lima belas peso ini akan membawamu hingga ribuan mil perjalanan. Mengantarmu ke tempat-tempat jauh, yang tak pernah kaubayangkan pernah ada. Membawamu memetik bunga-bunga impian. Dan aku akan bahagia sekali, Nak. Bahagia untukmu." (hlm. 187)

Rabu, 27 Januari 2016

[Resensi: Negeri Para Roh - Rosi L. Simamora] Menjejak Negeri Tempat Roh Bersemayam


Judul buku: Negeri Para Roh
Penulis: Rosi L. Simamora (berdasarkan kisah nyata Dody Johanjaya)
Ilustrasi sampul dan isi: Rosi L. Simamora
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 978-602-03-2113-4



BLURB

Pada tanggal 6 Juni 2006, longboat berpenumpang lima kru sebuah stasiun televisi berangkat dari Agats menuju Timika. Mereka adalah Senna, Totopras, Sambudi, Bagus, dan Hara.

Belum lagi tengah hari, laut sekonyong mengganas dan longboat terbalik. Berbekal dry box berukuran lima puluh sentimeter persegi, empat dari mereka harus bertahan di tengah amukan Laut Arafuru. Yang seorang lagi terpisah bersama tiga awak perahu, terseret arus ke arah berlawanan.

Negeri Para Roh adalah kisah tentang kelima kru itu. Di negeri itu mereka belajar mengenal manusia Asmat dan relung-relung ritualnya yang purba. Mereka juga menyaksikan bagaimana roh-roh leluhur dihormati dan sekaligus ditakuti, terus diingat dalam patung-patung ukiran, namun juga dibujuk pergi dan diantar ke dunia abadi di balik tempat matahari terbenam.

Bukan itu saja. Di Negeri Para Roh itu pula Senna akhirnya belajar melepaskan, Totopras mengalami Tuhan, Sambudi mencoba merekatkan kembali dirinya yang retak, dan Bagus mendapat keberanian untuk menyatakan cintanya. Dan Hara? Ia menemukan dirinya sendiri.

Namun. Selamatkah mereka?


RESENSI

Sebagai "sang otak" di balik program Petualang yang memiliki rating tinggi di dunia pertelevisian, Senna Johanjaya tiba lebih dulu di Desa Senggo. Sementara keempat kru yang lain; Bagus Dwi, Sahara, Totopras, dan Sambudi akan tiba sehari kemudian untuk melakukan syuting di Agats, Kabupaten Asmat.
Ini petualangan yang kesekian kali bagi Senna meski mendapat tentangan keras dari Sambudi. Pria itu sejak awal menolak keras menyertakan Sahara ke dalam tim mereka. Bahkan di sepanjang perjalanan dan selama pengambilan gambar Sambudi bersikap kasar dan dingin pada Sahara. Apalagi setiap Hara berdekatan dan bersenda-gurau dengan Bagus, Sambudi makin angker.
Bagi Hara yang memulai perjalanan ini dengan setengah hati, petualangan ini sempat membuatnya ragu. Ia bukan hanya meragukan dirinya sendiri tapi juga meragukan tujuannya. Namun Bagus yang terus bercerita dan membagi kisahnya tentang Manusia Asmat membuka mata Hara. Ia tetap bertahan walau Sambudi seolah membencinya.
Lima orang dari tanah seberang, menjejakkan kaki di pulau lumpur yang bukan hanya dihuni para manusia tapi juga para roh. Roh yang beberapa di antaranya menyimpan dendam.
Ketika tiba waktunya untuk pulang, akankah mereka lebih percaya pada takhayul atau logika? Saat perjalanan mereka dihadang arus, angin dan ombak yang marah, bisakah mereka bertahan? Bisakah mereka pulang?

-----------

Sebagai pencinta acara Jejak Petualang dan mengikuti berita hilangnya kru Jejak Petualang pada tahun 2006, saya menyambut gembira novel ini. Meski bukan memoar sepenuhnya dan beberapa hal dimodifikasi agar menjadi cerita pop, saya cukup menantikannya.

Dari covernya saja sudah banyak berbicara pada saya. Bukan hanya menunjukkan apa yang harus dihadapi kelima kru televisi dan ketiga kru kapal yang menyertai mereka, tapi juga menampilkan pesona yang etnik dan unik.

Negeri Para Roh menggunakan POV orang pertama dari sisi Senna dalam setting tahun 2015, saat Senna memutuskan kembali ke Agats setelah sembilan tahun berlalu. Sisanya POV menggunakan sudut pandang orang ketiga pada setting tahun 2006.
Alur novel ini menggunakan alur campuran. Setting waktunya melompat-lompat dengan lincah; mundur kemudian mundur lebih jauh lalu maju lagi. Hal ini membuat rasa penasaran saya menjadi-jadi karena kisah dipotong di saatbyang tepat dengan begitu rapi.
Diksinya indah dan penuh majas personifikasi. Seakan alam benar-benar hidup dan punya kuasa atas manusia.

Sebagai novel yang berdasarkan kisah nyata, mau nggak mau saya bertanya-tanya juga mana yang mendapat sentuhan si penulis. Pada akhirnya setelah selesai membaca, saya sempat mencari artikel-artikel berita terkait kejadian ini. Dari artikel-artikel tersebut saya merasa penulis berhasil memoles beberapa hal untuk menjadi jalinan cerita yang menarik.

Saya menikmati legenda-legenda dan kisah-kisah tua suku Asmat yang disajikan di dalamnya. Pastinya penulis telah melakukan riset yang mendalam karena novel ini sanggup menyuarakan filosofi dan kearifan lokal Manusia Asmat. Di balik budaya mereka yang dituduh kanibal ada rasa hormat yang mereka tujukan pada roh alam dan roh leluhur.

Tokoh-tokoh yang tampil dalam novel ini saya anggap perwakilan dari lima kru Jejak Petualang di dunia nyata. Nama keempat orang yang hilang tetap menggunakan nama asli; Bagus Dwi, Luky, Agus, dan Yunus. Sementara keempat kru televisi yang lain menggunakan nama yang berbeda.
Meski sejak awal karakter mereka sudah terasa bulat dan kuat, sangat menarik melihat perubahan yang kemudian terjadi. Bahwa perjalanan nan berat ini nantinya membentuk karakter akhir yang lebih baik. Dan yang lebih penting membuat saya yang terhanyut pada ketegaran dan kepasrahan tokoh-tokoh ini tahu bahwa kita nggak boleh kehilangan harapan. Semua telah dicukupkan oleh Tuhan.

Overall, buku ini bukan hanya memberikan kisah para penyintas yang luar biasa tapi juga memberi sudut pandang yang jelas tentang Manusia Asmat dan kepercayaan mereka yang sangat menarik. Bagaimana saya diajak memahami suku Asmat. Memahami kebudayaannya, ideologinya, jati dirinya dan jeritan-jeritan hatinya karena dipaksa menjadi manusia modern yang 'artistik'. Recomended banget, pokoknya.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Berapa lama kita terus memelihara kenangan? Berapa lama usia kenangan sebelum akhirnya luruh dimakan waktu? (hlm. 75)

"Ingat, Sahara. Hidup ini terlalu berharga untuk dijalani dengan mata tertutup. Buka mata. Telingamu. Hatimu. Segenap jiwamu... Cari tahu apa yang kamu inginkan. Dan jangan berhenti sampai kamu menemukannya." (hlm. 102)

"Uang selalu berbeda nilainya untuk setiap orang, kurasa. Tergantung digunakan untuk apa dan membahagiakan siapa." (hlm. 110)

Kita adalah semua peristiwa yang terjadi pada kita. Kita adalah keberhasilan dan kegagalan kita, keberanian dan ketakutan kita, suka dan duka kita. Kita adalah bagaimana kita mengolah semua itu. (hlm. 163)

Rabu, 17 Juni 2015

[Resensi: A Beautiful Mess by Rosi L. Simamora] Kekacauan Berwujud Perempuan Cantik


Judul buku : A Beautiful Mess
Penulis : Rosi L. Simamora
Editor : Harriska Adiati
Desain sampul : Sylvia Ko
Ilustrasi isi : Oky Andrianto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 336 halaman
Tahun terbit : Februari 2015
ISBN : 978-602-03-1387-0




BLURB

Sebuah rahasia kelam memaksa Freya, gadis manja dan "high maintenance", meminta bantuan ayahnya, lalu dengan terpaksa menerima nasib menyingkir ke pulau terpencil.
Di sana ia harus bekerja, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Freya seumur hidupnya. Dan siapa lagi yang mengawasi Freya kalau bukan Lian, pria tampan yang sepertinya membenci Freya sejak awal?
Namun Lian juga menyimpan rahasia. Dan diam-diam, ia menyadari sesuatu telah tumbuh. Cintakah? Tidak. Tidak. Jangan cinta!
Dan benarkah Freya telah berhasil meninggalkan masa lalunya? Ataukah… hantu masa lalu yang kelam namun teramat memikat itu akhirnya mengejar Freya hingga ke ujung dunia, dan ia selamanya takkan pernah lepas darinya? Takluk kembali pada satu-satunya laki-laki yang membuatnya begitu hidup, dan sekaligus mati?

Kisah ini bercerita tentang cinta. Dan nafsu. Tentang jatuh. Dan bangkit. Tentang luka dan rasa takut. Dan bagaimana menaklukkannya.


RESENSI

Freyanka Alyra terperangkap di pulau terpencil di bagian paling timur Indonesia. Ia dikirim ke pulau itu oleh ayahnya untuk bekerja keras mengganti tiap peser uang yang dikeluarkan ayahnya untuk melunasi 'utang' Freya.
Freya ternyata sebelumnya terlibat cinta terlarang dengan Mahara Andhyka, seorang pengusaha berlian yang telah memiliki istri. Freya tidak puas hanya dijadikan wanita bayang-bayang yang bebas ditindihi tapi tidak bebas dicintai. Maka ia kabur membawa seluruh uang rekening Mahar. Kali ini merasa takut kembali ditemukan Mahar, Freya minta ayahnya menyembunyikannya.
Maka berakhirlah Freya di pulau terpencil itu bersama dewa seks ganteng bernama Pablo Neruda Parulian Purba. Sayangnya sex appeal Freya tidak mempan digunakan untuk merayu sang dewa seks. Justru malah Patar, sepupunya yang lain, yang memburu dan mengejar-ngejar Freya. Lian mungkin satu-satunya pria yang dingin terhadap Freya.
Tapi kadang apa yang tampak di permukaan tidak sama dengan apa yang terpendam di dalam. Lian punya rahasia. Rahasia yang berkaitan dengan Freya. Rahasia tentang cinta dan kebencian yang terpendam.
Mampukah Freya memenuhi tuntutan ayahnya untuk mengurusi bisnis patung, yang ternyata bukan bisnis remeh? Apakah sang putri manja bisa berubah? Dan sanggupkah Freya lepas dari Mahar?

-----

Saat membuka halaman-halaman awal novel A Beautiful Mess, saya merasa jatuh cinta pada ceritanya. Tema gadis high maintenance yang seumur hidupnya cuma kenal foya-foya harus bekerja keras di bawah pengawasan pria ganteng yang super dingin.
Yang saya suka adalah pilihan setting-nya, biasanya untuk kabur dari luka cinta, setting yang dipilih adalah kota di luar negeri. Tapi dalam novel ini justru dipilih kota pelosok di dalam negeri sendiri. Sayangnya, setting tersebut masih kurang tereksplor dan terdeskripsi.

Alurnya maju mundur dan POV menggunakan orang ketiga serba tahu. Pembaca bisa tahu persis perasaan dan pemikiran tiap tokoh dengan jelas. Bahkan khusus untuk Freya, ia memiliki suara-suara di kepalanya, yaitu suara libido dan suara ego. Beberapa kali suara-suara itu terasa lucu, tapi porsinya yang semakin banyak jadi terasa berlebihan dan mengganggu.

Biasanya saya sebal sama karakter tokoh yang shallow, tapi sulit rasanya membenci Freya. Meskipun ia nggak pernah kerja keras, serampangan, blakblakan, manja dan egois tapi latar pembentuk karakternya membuat saya mengelus dada. Poor girl.
Sebenarnya karakter Lian berpotensi jadi favorit saya di awal. Pria dingin-judes-sinis tapi cakep selangit itu berpotensi bikin saya klepek-klepek. Tapi karena chemistry-nya dengan Freya kurang maksimal akhirnya saya malah sebal.
Romance di antara mereka dikit banget, dialog mereka berdua pun terasa kaku. Hiks.
Justru malah kesan cinta Freya kepada Mahar lebih kuat. Adegan ranjangnya pun adegan ranjang Freya dan Mahar. Walau Lian digambarkan pria lurus suci tapi saya kan ingin lihat satu dua sentuhan fisik antara Freya dan Lian, apalagi setelah penggambaran seks menggebu antara Freya dan Mahar.

Ada cukup banyak informasi tentang budaya kekerabatan Batak dalam novel ini. Gaya bicara ayah Freya pun kental logat Batak-nya. Memberi warna segar dengan latar budaya dan setting-nya yang nun jauh di pulau ujung timur Indonesia sana.
Saya juga menyukai pilihan diksi penulis dalam A Beautiful Mess, ada pengulangan kata untuk mempertegas tapi terkesan indah.

Desain sampulnya sederhana dan warnanya kalem, terfokus pada jepit kupu-kupu yang menjadi kunci dari cinta Lian.

Saya hanya menemukan sedikit typo dalam novel ini:

mata --> mana (hal. 33)
tirai putih tipis jendela --> tirai jendela putih tipis (hal. 71)
komporomi --> kompromi (hal. 127)
alas --> alias (hal. 233)

Saya merekomendasikan novel A Beautiful Mess untuk pembaca dewasa yang nggak keberatan terhadap kedangkalan tokoh wanitanya. Tapi secara keseluruhan ini novel roman yang menghanyutkan, kok. Saya beri 3 bintang untuk A Beautiful Mess.


TEBAR-TEBAR QUOTE

Dan kekecewaan, seperti hal-hal kelam dan gelap lainnya, selalu dapat menemukan celah dari mana ia bisa menyelinap keluar dan menunjukkan jati dirinya. Untuk kemudian menggerogoti. Merusak. Menghancurkan. Jika kita tidak berhati-hati dan segera membasminya, atau menyianginya dengan cinta yang sabar dan kuat. (hal. 127-128)

"I like my coffee how I like myself: dark, bitter, and too hot for you." (hal. 141)

"Your naked body should belong only to those who fall in love with your naked soul." (hal. 165)

Sebab tak ada pencoba yang lebih lihai daripada keinginan yang terbit dalam hati kita. (hal. 190)

"Jangan takut. Kebanyakan rasa takut dan khawatir itu cuma besar mulut. Begitu kita hadapi dan songsong, langsung mereka lari tunggang-langgang." (hal. 230)

"Emosi itu ibarat ombak, Nona Freya. Datang dan pergi. Tinggal kita yang bijak-bijak memilih, mau menunggangi yang mana." (hal. 277)

"Tidak ada pengkhianatan yang lebih buruk daripada pengkhianatan terhadap diri sendiri…" (hal. 319-320)

"Aku tidak ingin jadi api yang menjadikanmu abu, dan aku tidak ingin apimu menjadikanku abu." (hal. 320)

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon