Senin, 29 Februari 2016

[Resensi: Caleb Wilde yang Angkuh - Sandra Marton] Pretty Woman dari Brooklyn dan Sang Pengacara Angkuh


Judul buku: Caleb Wilde yang Angkuh
Judul asli: The Ruthless Caleb Wilde
Penulis: Sandra Marton
Alih bahasa: Justine R. Tedjasukmana
Editor: Bayu Anangga
Desain sampul: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 240 halaman
ISBN: 978-602-03-1770-0



BLURB

Caleb Wilde, sang pengacara ternama, memiliki sifat tak kenal ampun dan berotak tajam bagai pisau. Tahun-tahun penuh kerja keras telah membekukan hati Caleb, hingga satu malam di kota New York mengubah segalanya.

Kini, ia dihantui kenangan akan seorang wanita spesial, Sage Dalton.

Wanita itu hanya bermaksud mempermainkan dia, namun tidak ada yang bisa memadamkan gairah Caleb. Maka saat ia tahu bahwa Sage memiliki harta berharga yang merupakan miliknya, Caleb tak akan berhenti berjuang untuk mendapatkannya.


RESENSI

Caleb Wilde merasa bosan saat harus menghadiri pesta ulang tahun kenalannya di sebuah kelab malam. Secara tak sengaja Caleb melihat seorang wanita, Sage, mendapat perlakuan tak senonoh oleh salah seorang tamu. Tanpa pikir panjang, Caleb memburu mereka dan menghajar pria itu habis-habisan.
Merasa iba dan ingin memastikan Sage pulang dengan selamat, Caleb pun mengantar Sage pulang. Namun betapa terkejutnya Caleb saat melihat kondisi tempat tinggal Sage yang kumuh dan berbahaya.
Rupanya Caleb menyadari keresahan dan ketakutan Sage atas apa yang hampir terjadi pada Sage dan memutuskan untuk menginap di flat Sage. Caleb berusaha menahan hasratnya pada Sage namun ternyata pertahanannya runtuh dan mereka pun bercinta.
Sayang kemudian Caleb mendapati seorang pria berada di flat itu dan mengaku tinggal bersama dengan Sage. Tanpa pikir panjang Caleb mengambil kesimpulan bahwa ia telah menjadi korban permainan Sage.
Tiga bulan kemudian, setelah menjalani kehidupan yang suram, Caleb mendapati klien yang kasusnya melibatkan Sage. Caleb harus membantu kliennya untuk mendapatkan bayi yang dikandung Sage.
Akankah Caleb menuntut pembalasan? Lalu siapa sebenarnya ayah bayi yang dikandung Sage? 

-------------

Sandra Marton selalu menjadi favorit saya karena karakter heronya yang khas. Arogan tapi lembut. Saya juga cukup cepat membaca novel ini karena paragrafnya yang singkat-singkat dan banyaknya dialog di beberapa bagian.

Caleb Wilde yang Angkuh bisa dibilang adalah kisah klise Pretty Woman. Lagi-lagi. Tapi kenapa saya tak pernah bosan membaca ide cerita seperti ini ya, terutama jika disajikan dengan gaya khas si penulis.
Caleb adalah pengacara hebat, pemilik peternakan yang luas bersama saudara-saudaranya juga mantan anggota CIA. Wow banget.
Meski judulnya Caleb Wilde yang Angkuh tapi Caleb juga nggak angkuh-angkuh amat kok. Awalnya sih begitu karena dia belum benar-benar mengenal Sage, tapi setelah dekat Caleb justru lembut dan perhatian banget. Dan Caleb juga lumayan lucu saat kebingungan dengan situasi yang dihadapinya.
Saya suka karakter Sage yang mandiri dan lumayan keras kepala. Kuat banget karakternya. Seimbang lah sama Caleb.

Saya paling suka dengan novel yang tokohnya punya segerembolan saudara. Peternakan dan segerombolan saudara itu menyenangkan. Kesannya selalu hangat bagi saya. Itu sebabnya saya lebih tertarik dengan hubungan Wilde bersaudara. Saya bakal nggak sabar untuk membaca kisah Travis.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan lebih banyak bercerita dari sisi Caleb. Settingnya berada di Brooklyn dan Manhattan. Dunia kumuh Sage di Brooklyn dan dunia mewah Caleb di Manhattan dan Dallas. Kontras dan asyik banget diikuti.

Konfliknya ternyata nggak melibatkan pihak luar. Sang klien yang merupakan ayah teman sekamar Sage rupanya hanya sarana agar Caleb bertemu lagi dengan Sage. Konflik utamanya hanyalah membuat dua orang yang berbeda dunia ini menyadari kalau saling cinta.

Overall, Caleb Wilde yang Angkuh menjadi bacaan yang ringan dan menghibur bagi saya. Sandra Marton selalu bisa memikat saya dengan interaksi tokohnya yang hangat dan manis.

Jumat, 26 Februari 2016

[Resensi: Cinta Tak Terduga - Kate Hardy] Ketika Sang Pengacara Jatuh Cinta pada Nona Bohemian


Judul buku: Cinta Tak Terduga
Judul asli: Mistress on Trial
Penulis: Kate Hardy
Alih bahasa: Regalia Sariputra
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2015
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-602-03-2437-1





BLURB

Leo Ballantyne tidak memercayai si wanita urakan, Rose Carter. Baginya, Rose salah satu orang yang menyesatkan adik perempuannya. Biasanya Leo takkan sudi berurusan apa pun dengan Rose. Tapi, karena keponakan tersayangnya dititipkan kepada wanita pembawa masalah itu, Leo pun harus sering menghabiskan waktu bersamanya.

Seiring waktu berjalan, Leo menyadari betapa cerdas dan menawannya Rose. Tapi, kepribadian mereka bertolak belakang. Dunia Rose pun begitu berbeda dari dunia Leo. Sanggupkah mereka menemukan jalan untuk menjalin kasih di tengah perbedaan yang begitu mencolok?


RESENSI

Leo Ballantyne tak pernah menyukai Rose Carter, sahabat adik bungsunya. Leo menganggap Rose membawa pengaruh buruk bagi Sara, adiknya. Rose mendukung Sara untuk berhenti kuliah ketika Sara hamil, dan Rose juga pernah didakwa gara-gara mencuri barang. Rose membuat Leo jengkel karena pakaian Rose yang bergaya bohemian, gaya hidup Rose yang kacau dan karena Rose selalu mampu membangkitkan hasrat Leo.
Maka ketika Sara berlibur dan menitipkan putrinya, Daisy, kepada Rose, Leo merasa perlu untuk bertindak. Ia datang untuk mengawasi selama Rose mengasuh keponakannya. Namun, semakin lama mereka bersama dan berdebat, Leo sadar bahwa ia salah. Rose wanita cerdas, mandiri dan teratur. Dan Rose luar biasa menggairahkan hingga Leo tak mampu lagi berpura-pura membenci Rose.
Sayangnya kehidupan mereka sangat bertolak belakang, apalagi Leo sedang berusaha memantapkan karier pengacaranya dan ingin menjadi QC termuda seperti kakeknya. Salah memilih pasangan, yang tak bisa diterima dunia pengacara dan koleganya, bisa-bisa membuatnya tersingkir dan lama mendapat promosi.
Bisakah Leo memilih antara tetap mencintai Rose dan menghentikan ambisinya menjadi QC atau ia akan meninggalkan Rose dan lebih memilih kariernya?

--------------

Baru sekali ini saya mencicipi karya Kate Hardy dan langsung suka. Saya sampai merasa kesal pada diri sendiri kenapa selama ini nggak pernah melirik penulis yang satu ini dan mencoba membaca salah satu karyanya. Tapi, sungguh, Mistress on Trial benar-benar cerita yang manis.

Novel ini berkisah tentang dua orang yang saling berlawanan sifat, Leo yang kaku dan penuh tanggung jawab dengan Rose yang berjiwa bebas. Namun ketertarikan di antara mereka begitu kuat. Sehingga ketika mereka akhirnya bersama mereka harus memutuskan untuk berkompromi atau melepaskan cinta sejati.
Hohooo saya paling suka cerita seperti ini. Memang klise dari segi premis, tapi cara bertutur Kate Hardy benar-benar mengaduk perasaan.
Terutama karena penulis nggak segan-segan menuliskan dengan detail perasaan tokoh pria. Betapa Leo tertekan setengah mati oleh rasa mendamba. Duh, benar-benar bikin meleleh.

Bersetting di London, novel ini menampakkan sisi lain dari kota megah itu. Karena Rose berjualan di pasar, seru rasanya mengikuti aktivitas Rose.
Sedangkan sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga, bergantian dari sisi Leo dan Rose. Yang saya sukai tentu saja karena sudut pandang Leo porsinya hampir sama besar dengan porsi Rose.

Saya suka penokohannya yang kontras dan mudah memicu konflik. Namun toh kekontrasan itu hanya dalam hal pekerjaan dan berbusana. Nyatanya Leo dan Rose punya prinsip yang sama dalam menangani Daisy dan punya pandangan ke depan yang kurang lebih mirip.
Leo kaku dan penuh tanggung jawab, tapi juga mudah mengucapkan kata-kata romantis. Leo selalu bisa meluluhkan saya dengan kata-katanya yang tepat dan manis.
Sementara Rose wanita yang keren. Menyukai hal-hal berbau vintage dan percaya dirinya tinggi. Saya paling suka ketika dia datang ke pesta amal para pengacara dengan busana yang antimainstream, yang berbeda dengan busana yang dipakai para pengacara. Haha~ keren!
Saya juga suka interaksi antar keduanya, bagaimana mereka saling memengaruhi dan membuat perubahan yang baik. Chemistry-nya oke banget.

Konfliknya cenderung datar dan mudah diselesaikan, namun dikemas dengan apik dan rapi. Sedari awal saya yakin Leo akan mengambil keputusan yang tepat dan nggak memperpanjang drama.
Sementara untuk adegan panasnya cukup sensual dan bikin panas dingin. Haha...

Penerjemahannya bagus, minim typo dan enak dibaca. Sayangnya saya nggak sreg dengan penerjemahan judul. Jadi menghilangkan esensi Mistress on Trial-nya. Tapi saya suka kavernya, saya memang nggak suka dengan kaver yang menampakkan wajah, tapi saya suka pakaian yang dikenakan wanita dalam kaver. Keren.

Overall saya suka novel ini. Ringan, menghibur dan maniiiis banget. Lika-liku kisah percintaan antara pengacara kaku dan pedagang pasar yang membuat mereka menyadari arti berkompromi. Recommended deh.

Senin, 22 Februari 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Eternal Flame - Dheean Reean, Kristina Yovita, Naya Corath, Nurisya Febrianti, dan Susi Lestari


Judul buku: Eternal Flame
Penulis: Dheean Reean, Kristina Yovita, Naya Corath, Nurisya Febrianti, Susi Lestari
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 290 halaman
ISBN: 978-602-02-7679-3




BLURB

Seorang Edo terluka karena cinta.
Seorang Dimas diombang-ambingkan cinta.
Seorang Satria tertampar oleh cinta.
Tiga pria dewasa dengan karakter yang tak sama,
mengungkapkan sisi yang berbeda.
Cinta.
Sekuat apa pun seseorang menghindarinya, dia akan tetap hadir. Entah memberikan rasa nyaman atau luka hati yang menganga.
Karena cinta itu abadi.


RESENSI

Sejak kematian kekasihnya setahun lalu, Arrendo atau Edo banyak berubah. Edo tak bisa lepas dari bayang-bayang rasa bersalah dan memilih memainkan biola sepanjang hari di sudut Stasiun Bekasi. Edo tak memedulikan apa pun kecuali terus menggesek biolanya di sana, untuk menunggu Sophia, kekasih yang tak akan pernah kembali.
Padahal Rena, adik kandung Sophia, yang kini sebatang kara dan diangkat anak oleh orangtua Edo, bisa pulih dari kesedihan. Rena pun berusaha membalas kebaikan hati orangtua angkatnya dengan bekerja seusai kuliah. Sayang, karena kelelahan, Rena pingsan dan ditolong Satria, seorang Walka yang bertugas di KRL yang biasa Rena tumpangi. Satria telah dua tahun mengamati Rena dari jauh. Diam-diam mencintai gadis itu. Tanpa Satria menyadari bahwa teman dan rekan sekerjanya, Anisa, ternyata juga diam-diam mencintainya.

Di sisi lain ada Dimas, teman masa kecil dan sahabat Edo, yang hubungannya dengan Clara, kekasihnya, terbentur penghalang. Ibu Dimas menolak memberikan restu pada mereka kecuali jika Clara berhenti dari pekerjaannya sebagai fotografer dan bersedia menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Bagi ibu Dimas, kodrat wanita adalah di rumah melayani suami dan anak-anaknya. Sementara Clara tak mungkin menghentikan impian dan cita-citanya. Hubungan Dimas dan Clara pun merenggang meski hati mereka berdua masih tetap saling mencinta. Hingga di tengah mereka muncullah Nurmalita, gadis kalem ayu yang akan dijodohkan dengan Dimas.

Lalu, cinta manakah yang akan tumbuh dan bersemi? Cinta manakah yang harus patah? Akankah mereka berani dan siap baik untuk jatuh maupun patah?

------------
Ada seseorang yang diam-diam menyukai.

Beberapa lainnya, terang-terangan menyatakan.

Segelintir berkoar-koar.

Sebagian mematahkan sendiri cintanya, hatinya. (hlm. 41)

Novel Eternal Flame adalah novel karya lima perempuan keren hasil dari acara Workshop Elexmedia dan Penulis Novel Roman yang menjadi Outline Naskah Terbaik.
Sebagai novel hasil 'keroyokan', gaya bercerita Eternal Flame sangat mengalir dan nggak berasa gapnya. Kisah cinta dari tujuh orang di dalamnya menyatu jadi cerita yang utuh dan saling mengisi.

Dengan tiga kisah utama, novel ini diceritakan menggunakan POV orang ketiga. Meski porsinya cukup berimbang antara kisah Edo, Satria dan Dimas, namun bisa dibilang Edo lah pusat dari segala kisah ini. Edo dan Stasiun Bekasi. 

Karakter Edo digambarkan sebagai pemuda yang murung dan menutup diri setelah kecelakaan yang menimpa Sophia. Nggak ada gambaran seperti apa sifat Edo sebelum kecelakaan terjadi. Tapi menilik sikapnya yang bijak terhadap Dimas, Clara, Rena dan Nurma, saya rasa Edo ini dewasa dan kalem. Juga jahil. Saya menemukan metamorfosa Edo yang menarik dari tengah cerita hingga ending. Jadi jangan salahkan saya kalau saya berulang kali salah membaca Nurma jadi Nurina. Buahahahah.
Sementara Dimas dan Clara cukup bikin jengkel. Setiap ketemu cuma berantem. Janji ketemu buat diskusi malah jadi berantem. Tapi, pasangan ini justru mengajarkan pada saya pentingnya komunikasi yang jernih antar pasangan. Yaah... seperti kata Edo:

"Makanya, kalau berantem pake notulen. Biar tercatat jelas apa yang kalian ributin. Payah." (hlm. 203)

Hahaha... saya suka banget kalimat ini. :))
Sedangkan Satria dan Rena menjadi pasangan yang manis karena saling malu-malu. Satria ini pelindung tapi suka salting, unyuuuu banget. Adegan favorit saya adalah saat mereka berdua duduk dan berbagi earphone. Sweet banget sampe diabetes.
Saya suka interaksi antar tokoh dalam novel ini. Cair dan hangat. Dialognya luwes dan saling mengisi, nggak ada dialog basi yang melantur.

Eternal Flame adalah kisah tentang keberanian. Berani bangkit dari kehilangan, berani menyingkirkan rasa takut, berani menerima kekurangan dan berani menghadapi aral dengan kompromi. Jadi, bagi kalian yang sedang mencari keberanian entah untuk jatuh cinta atau untuk patah hati, novel ini bakal jadi bacaan yang pas banget.

Kalian bisa lihat behind the scene novel Eternal Flame di sini.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Nggak ada hubungan yang berjalan mulus. Pasti semua punya batu sandungannya masing-masing. Tapi di situlah lo diuji. Kalau lo kuat, mau berkompromi, saling toleransi, dan tetap berjuang bareng, gue yakin nggak ada yang terlalu mustahil buat dicapai." (hlm. 163)

"Kamu tahu seberapa besar cintaku buat kamu?"
"Seluas langit biru sedalam samudra?"
"Nggak."
"Lalu?"
"Cintaku sebesar biji apel, tapi bisa tumbuh dan mengakar selamanya."
(hlm. 169-170)

"Jatuh cinta itu cuma satu. Jatuh dengan bebas, tanpa prasangka ataupun penyesalan." (hlm. 190)

"Nggak pernah ada waktu yang tepat untuk patah hati dan nggak pernah ada waktu yang salah untuk jatuh cinta." (hlm. 218)

"Segala hal yang hilang, pasti akan ditemukan, bukan? Mungkin dalam bentuk yang berbeda, tapi akan selalu ada penggantinya. Kita harus kehilangan sebelum akhirnya menemukan." (hlm. 232)

++++++++GIVEAWAY TIME++++++++++



Naah sudah baca review Eternal Flame? Atau tadi di-skip dan langsung lompat ke giveaway ini? *asah golok*

Ini adalah perhentian terakhir dari rangkaian blogtour Eternal Flame, jadi ini kesempatan terakhir kamu buat ngedapetin satu eksemplar novel Eternal Flame. Siaap?

Caranya gampang seperti biasa:

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @KendengPanali @NayaCorath @dheean_rheean @nuifebrianti dan @elexmedia
3. Share giveaway ini ke medsos dengan hashtag #EternalFlame dan jangan lupa mention akun @KendengPanali @NayaCorath dan @elexmedia
4. Kalian boleh memfollow blog saya via email atau GFC (optional)
5. Jawab pertanyaan di bawah ini di kolom komentar dengan menuliskan Nama, akun twitter dan alamat email:

Di review saya di atas, saya mencatat quote yang saya kutip dari halaman 41 novel ini. Share yuk, tipe yang manakah kamu saat jatuh cinta? Dan apa alasannya?

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan akan saya tutup tanggal 28 Februari 2016 pukul 23.59 WIB.
7. Yang terakhir, good luck yaa :))

-------------UPDATE--------------

Hai semua, berhubung GA Eternal Flame di blog saya sudah berakhir, sekarang saatnya saya mengumumkan satu pemenang yang beruntung mendapatkan satu eksemplar novel ini.
Daaaaan pemenangnya adalah:

Neni Arwanda
@Neni Arwanda95

Selamaaat yaa, saya tunggu data diri dan alamat lengkap kamu yang bisa kamu kirim via email ke nurinawidiani84(at)gmail(dot)com dalam waktu 2 x 24 jam.

Bagi yang belum menang jangan sedih. Bulan depan masih ada blogtour buku lain di blog ini yang bisa kalian menangkan. So... tetap setia intip blog ini yaa. :)

Minggu, 21 Februari 2016

[Resensi: SeoulMate - Lia Indra Andriana] Kisah Cinta Antara Mate dan Soul


Judul buku: SeoulMate
Penulis: Lia Indra Adriana
Penyunting: O Lydia Panduwinata
Desain dan ilustrasi cover: Tom Kuu
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: September 2011 (cetakan ketiga)
Tebal buku: 300 halaman
ISBN: 978-602-98325-0-1



BLURB


Ketika kenyataan menentangmu untuk terus berharap

Sebuah harapan untuk bertemu kembali dengan seorang pria telah memaksa Kim Sun menggunakan kemampuannya berkomunikasi dengan hantu. Ia memutuskan menjadi mate dan bergabung dalam sebuah organisasi 'penyalur hantu' bernama SeoulMate yang menerima proposal permintaan bantuan dari manusia. Sebagai mate, ia bertugas menjaga serta membantu soul atau hantu yang bergabung dalam SeoulMate untuk melaksanakan proposal dari para klien SeoulMate.

Tak disangka, Sun ditugaskan menjaga soul yang amnesia! Hantu baru ini sama sekali tidak mengingat kehidupan manusianya dan terus mendesak Sun untuk membantu menemukan asal-usulnya. Sun tidak habis pikir bagaimana dia dan Jang—nama yang dia berikan untuk soul-nya—dapat menyelesaikan proposal klien jika mereka selalu bertengkar.

Namun, semuanya berjalan di luar dugaan. Tanpa disadari, sengatan-sengatan perasaan aneh yang disebut cinta itu mulai tumbuh antara Sun dan Jang.

Pada saat yang hampir bersamaan, sebuah kenyataan menghadapkan Jang kepada pilihan, antara tetap menjadi soul yang menjalin cinta abnormal dengan Sun atau menuju tempat yang wajar bagi para hantu dan menghilang dari kehidupan gadisnya....


RESENSI

Kim Sun adalah seorang gadis yang bergabung sebagai guide di Traveliyagi, sebuah organisasi yang meberikan jasa pemandu gratis kepada turis asing yang datang ke Seoul. Saat sedang memandu sebuah keluarga dari Indonesia berkeliling Insadong, lagi-lagi Sun merasakan sensasi unik itu. Pandangannya pun tertuju pada sebuah rumah teh bernama Flying Me Tea House, dan menemukan hantu cantik ber-hanbok yang balik menatap Sun. Bukan itu saja, Sun juga melihat pemuda itu lagi, Si Won, yang beberapa hari belakangan ini begitu gigih mengikuti Sun untuk merekrut Sun sebagai mate.
Si Won terus membujuk Sun agar mau bergabung dengan SeoulMate, sebuah kelompok yang mem-partner-kan manusia dan hantu untuk mrnjalankan misi tertentu. Semula Sun menolak, namun ketika Si Won menyebut nama Dong, pria yang terus Sun cari selama empat tahun ini, Sun akhirnya setuju.
Sun pun datang ke hanok yang dijadikan markas SeoulMate dan dipertemukan dengan hantu yang akan jadi partnernya. Hantu yang masih berupa hantu cair karena belum lama meninggal. Hantu itu lupa akan kehidupannya sebelumnya dan menuntut Sun untuk mencari tahu siapa dirinya. Hantu itu menamai dirinya sendiri Jang, sesuai dengan nama artis Korea yang dilihatnya di majalah.
Sun dan Jang pun menunaikan misi mereka satu demi satu. Mulai dari menakut-nakuti kambing agar mau melahirkan hingga mengusir hantu wanita ber-hanbok di rumah teh yang dulu dilihat Sun. Lama-lama benih perasaan di antara mereka mulai tumbuh. Tepat saat jati diri Jang terungkap. Tepat saat Dong muncul di hadapan Sun.
Akankah mereka mempertahankan cinta yang mustahil ini? Ataukah Sun malah akan merelakan Jang pergi?

-------------

Novel ini mengendap cukup lama di timbunan karena saya belum menemukan buku keduanya. Jujur saya malas digantung oleh buku pertama dan harus mencari jawabannya di buku kedua ataupun buku ketiganya. Tapi saat seorang teman memberi jaminan bahwa novel ini nggak akan menggantung, saya pun berniat membacanya.

SeoulMate menyajikan cerita yang menarik, tentang hantu tapi nggak menakutkan. Hantu yang justru berpartner dengan manusia untuk mengerjakan tugas sesuai proposal yang telah masuk. Hantu-hantunya cantik dan ganteng.
Konstruksi cerita fiktifnya menarik dan detail. Bagaimana cara kerja SeoulMate, kemampuan seperti apa yang dimiliki soul, bagaimana proposal bisa masuk dan ditangani, semuanya dibangun hingga terasa masuk akal. Hanya saja untuk latihan yang sering disebut dalam novel ini, latihan antara mate dan soul kurang dideskripsikan.

Menggunakan POV orang ketiga, plotnya begitu rapi. Alurnya maju dan mengalir membawa saya hanyut dengan kekonyolan misi Sun dan Jang. Porsi romantisnya memang sedikit tapi hubungan mereka masih terasa manis.

Karakter Sun cukup menjengkelkan bagi saya,  Sun gampang marah-marah dan egois. Bahkan terhadap orang yang baru ia temui, ia berani bicara sinis. Nyebelin.
Sementara Jang tadinya saya kira bakal jadi karakter yang cool tapi justru malah cerewet. Mirip perempuan. Tapi di endingnya Jang bisa bikin saya klepek-klepek sih.
Hubungan antar tokohnya terasa cair, walaupun Sun selalu marah-marah sama semua orang. Tapi asyik juga mengikuti perkembagan hubungan Jang dan Sun. Chemistry-nya lumayan asyik.

Ada banyak bahasa Korea yang umum digunakan sehari-hari dalam novel ini, lengkap dengan catatan kaki. Settingnya juga dideskripsikan dengan indah.

Secara keseluruhan, SeoulMate memberi saya kisah yang lucu dan manis, khas drama korea. Bagi kalian penyuka novel-novel bersetting Korea Selatan dan ingin membaca kisah yang unik, kalian bisa banget baca novel ini. Saya juga sudah nggak sabar pengin baca buku keduanya.

Jumat, 19 Februari 2016

[Resensi: Haute Heart - Regina Alexandra] Drama Percintaan sang Chef Berbakat


Judul buku: Haute Heart
Penulis: Regina Alexandra
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 256 halaman
ISBN: 978-602-03-1474-7




BLURB

Sukses sebagai sous chef di restoran Prancis ternama ternyata tidak menjadi jaminan sukses dalam hubungan asmara. Bosan diabaikan dan tidak mau lagi mendapat janji-janji palsu, Diandra memutuskan hubungan dengan Edgar. Walau Edgar berusaha memohon, Diandra berkeras tidak mau kembali padanya. Apalagi di saat seperti itu muncul pria tampan yang menjadi chef kepala di restoran tempat Diandra bekerja, Aloys.
Aloys yang ramah dan tampan berbeda 180 derajat dengan Edgar yang pendiam dan eksentrik. Kehadiran Aloys membuat Diandra yang tenang sehingga menjadi penuh warna dan... drama.
Jika Diandra memilih Aloys, ia akan mempertaruhkan kariernya. Jika ia memilih Edgar, ia harus mrmikirkan segala perbedaan di antara mereka berdua. Diandra berusaha berkonsentrasi pada karier, namun ternyata drama percintaannya memengaruhi kariernya, dan memaksa Diandra membuat keputusan.


RESENSI

Lagi-lagi Diandra dibuat kesal oleh kekasihnya, Edgar. Diandra sudah mengirimkan beratus-ratus pesan pada Edgar melalui BBM agar jangan lupa pada janji acara makan malam mereka, tapi sepertinya kali ini pun Edgar tetap terkubur dalam pekerjaannya. Merasa disepelekan Diandra pun memutuskan mengakhiri hubungan mereka.
Di lain pihak, restoran Parisian Chic, tempat Diandra bekerja sebagai sous chef, baru saja melakukan perpisahan dengan sang chief de cuisine, Mr. Damien. Diandra merasa bahagia karena Mr. Damien dan beberapa staf percaya jika Diandra lah yang akan ditunjuk sebagai pengganti Mr. Damien. Namun, ternyata pemilik restoran justru mendatangkan Aloys Guerard, chef dari Prancis untuk menggantikan Mr. Damien. Chef yang bukan hanya terampil dengan menu Prancis tapi juga suka flirting.
Aloys dengan terang-terangan menunjukkan  bahwa ia tertarik pada Diandra, dan tanpa malu-malu merayu Diandra. Sementara Edgar masih dengan setia memborbardir Diandra dengan permintaan maaf dan memohon kesempatan kedua.
Di tengah kebimbangan Diandra, ia semakin membenamkan diri di komunitas Cinta Memasak dan makin dekat dengan Sekar, salah satu anggota komunitas tersebut. Sekar lah yang memegang rahasia Aloys. Dari Sekar, Diandra tahu siapa Aloys yang sebenarnya.
Akankah Diandra luluh dalam hujan perhatian dan romantisme Aloys? Atau ia akan kembali pada Edgar yang walau selalu sibuk tapi sebenarnya itulah bukti cintanya pada Diandra? Bagaimana nasib Diandra di Parisian Chic saat hubungan asmaranya dengan Aloys justru membuat dapur jadi kacau dan menimbulkan masalah?

------------

Haute Heart adalah karya pertama Regina Alexandra yang saya baca. Secara garis besar novel ini berkisah tentang seorang wanita yang berada di antara dua pilihan, memberikan hatinya pada seorang chef bule yang nggak malu-malu menunjukkan keromantisan atau menyerahkannya kembali pada pria pekerja keras yang cuek dan menganggap romantisme hanyalah untuk remaja.
Kisah simple ini dibalut dengan dunia masak-memasak nan mewah ala masakan Prancis, membuat temanya yang sederhana jadi berkesan unik. Apalagi banyak istilah memasak bermunculan dalam novel ini.

Haute Heart menggunakan POV orang ketiga dan beralur maju. Plotnya lumayan rapi dan jalinan ceritanya mengalir dengan apik. Dialog antar tokoh terasa luwes, hidup, dan alami.

Tokoh dalam Haute Heart masing-masing memiliki karakteristik yang khas. Diandra yang periang tapi juga mudah terbawa emosi. Meskipun saya cukup heran juga, dengan hubungan putus-nyambung antara Diandra dan Edgar. Selama ini Diandra dikenal sebagai sous chef yang hebat dan kompeten, tentunya masalah seberat apapun yang ia hadapi dalam hubungan percintaannya nggak membuatnya jadi 'kacau' di dapur. Tapi dilabrak anak bos dan dituduh semena-mena bisa membuatnya mengacaukan menu masakan.
Edgar yang cuek cukup memberi gambaran bahwa terkadang laki-laki nggak memperhatikan detail romantis dalam kehidupan tapi lebih menunjukkan rasa cinta melalui bentuk nyata. Bekerja keras. Bodoh banget kalau pria seperti Edgar dilepaskan. Masih mending cuek karena fokus pada pekerjaan, daripada cuek karena sibuk menggoda wanita lain, kan?
Aloys tampil seperti pria Prancis kebanyakan. Pria Prancis terkenal pintar flirting dan ahli membuat wanita berbunga-bunga. Sama halnya dengan Aloys yang ganteng dan membuat Diandra goyah.
Saya rasa chemistry antar tokohnya sudah bagus. Yang paling saya suka adalah interaksi ayah Diandra dengan Diandra. Terasa benar rasa protektif dan kebijaksanaannya.

Yang menarik dari buku ini adalah istilah-istilah dalam dunia masak-memasak, pengetahuan tentang keju dan resep masakan Prancis yang sepertinya mudah dikerjakan. Hmm~ jadi tertarik buat mencoba salah satu resep.
Sayangnya masih cukup banyak typo dalam novel ini. Kebanyakan berupa dobel penulisan kata. Seperti kata: "yang yang", "tidak tidak", dll.

Overall, Haute Heart yang ringan cukup enak dinikmati dan bisa dipilih menjadi bacaan yang menyenangkan. Selamat terpikat dalam lezatnya menu-menu Prancis.

Rabu, 17 Februari 2016

[Resensi: Lamaran di Bawah Mistletoe - Lucy Gordon] Menyingkirkan Mimpi Buruk Masa Lalu


Judul buku: Lamaran di Bawah Mistletoe
Judul asli: A Mistletoe Proposal
Penulis: Lucy Gordon
Alih bahasa: Debbie Natalia
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2015
Tebal buku: 243 halaman
ISBN: 978-602-03-2407-4




BLURB

Pippa Jenson menawan dan cerdas, dengan karier yang sukses di firma hukum Farley & Son. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka. Setelah dikhianati tunangannya, ia tak berminat mencari cinta sejati seperti yang dulu ia yakini ada. Dengan pesonanya, kini ia kembali membuka diri, meski tak membiarkan siapa pun kembali mengisi hatinya.

Namun ada satu orang yang kebal terhadap pesona Pippa. Roscoe Havering tertarik padanya hanya karena satu hal: kemampuannya di ruang sidang. Demi melepaskan adiknya dari jerat hukum, Roscoe meminta bantuan Pippa menjadi pengacara sekaligus sosok mentor untuk sang adik. Dan demi memastikan semua berjalan lancar, ia selalu mengawasi perkembangan kerja wanita itu.

Akan tetapi seiring waktu berjalan, Roscoe pun menyadari ia tak sepenuhnya kebal terhadap pesona Pippa...


RESENSI

Philippa Jenson bertemu pertama kali dengan Roscoe di makam kakek dan neneknya. Tanpa sengaja pria itu memergoki Pippa tengah mengobrol dengan nisan sang nenek seolah nenek Pippa masih ada di sana. Ketika mobil Pippa rusak, Roscoe menawarkan diri untuk menderek mobil Pippa ke bengkel dan mengantarkan Pippa pulang.
Roscoe menyadari kecantikan Pippa dan profesi Pippa sebagai pengacara bisa membantu kasus adiknya. Maka ia pun mendekati dan membujuk Pippa agar mau membela adiknya di pengadilan.
Pippa yang tak pernah kesulitan menarik perhatian pria, kali ini diminta menarik perhatian Charlie, adik Roscoe, dan membimbingnya agar keluar dari jerat kejahatan seorang wanita. 
Namun benarkah Roscoe kebal terhadap pesona Pippa? Bisakah Pippa menghadapi natal kali ini dan mempercayai dirinya bisa mencintai lagi?

-------------

Secara garis besar novel ini bercerita tentang Pippa yang cantik selangit dan berprofesi sebagai pengacara. Bukan sembarang pengacara, tapi pengacara yang sangat andal. Pippa takut jatuh cinta lagi karena pernah ditinggal kabur tunangannya sesaat menjelang natal.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dari sudut pandang Pippa. Sementara pikiran dan sudut pandang Roscoe minim banget. Plotnya rapi dan gaya berceritanya mengalir lumayan apik.
Hanya saja penggambaran Pippa sebagai pengacara yang menakutkan di ruang sidang hanya berupa deskripsi. Saya sebenarnya ingin melihat sendiri bagaimana Pippa bertarung di persidangan, argumen apa yang ia lemparkan, bagaimana ia mengintimidasi. Sayangnya semua itu nggak diceritakan. Malah penyelesaian kasus Charlie pun remeh banget tanpa adu argumen.

Karakternya cukup menarik. Roscoe dan Charlie sangat kontras. Dan perbedaan itu memiliki latar belakang yang kuat. Demikian juga dengan pribadi Pippa. 
Roscoe berasa arogan, tukang kendali dan nggak kenal kompromi. Nyebelin banget ngelihat dia berusaha mengendalikan semuanya.

Konfliknya saya rasa masih kurang nendang. Gampang banget diselesaikan. Salah paham, marahan, lalu baikan. Penjelasan soal salah paham pun belum mendetail tapi tokohnya sudah baikan.

Well, sebagai bacaan yang ringan, novel ini bisa dicoba. Lucy Gordon biasa menyajikan cerita-cerita yang manis yang layak dibaca. Lucy juga termasuk penulis yang minim banget adegan panas. Bahkan nyaris nggak ada. So, silakan dicoba. :)


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Kesalahan terburuk kadang dilakukan oleh orang yang mati-matian mencoba menghindari kesalahan." (hlm. 50)

"Tak ada orang yang mendapatkan semua yang mereka inginkan." (hlm. 113)

"Memilih yang aman tidak selalu menuntun pada keamanan." (hlm. 204)

"Terkadang, pria yang bersenjata paling kuat adalah orang yang paling membutuhkan senjata itu... apa pun alasannya." (hlm. 213)

Minggu, 14 Februari 2016

[Resensi: Stay With Me Tonight - Sofi Meloni] Cinta yang Berawal dari Kesalahan


Judul buku: Stay With Me Tonight
Penulis: Sofi Meloni
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2015
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-02-6616-6




BLURB

Mereka bilang hubungan di atas tempat tidur dan cinta itu dua yang berbeda.
Katanya lagi hubungan intim bisa dilakukan dengan ataupun tanpa cinta.
Dengan cinta? Bullshits...!
Cinta itu hanya ada di cerita dongeng belaka, setidaknya itu yang kupercaya sampai aku bertemu dengannya...

Mungkin pertemuan kami diawali dengan cara yang salah
dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama.

Pada akhirnya kami harus mengakui kalau kami adalah dua orang yang salah untuk satu sama lain.

-Ayu-


RESENSI

Sekali lagi Ayu mendatangi kamar apartemen nomor 1109 dan menunaikan kewajibannya. Kewajiban yang harus ia penuhi sejak pria penghuni kamar itu membeli Ayu dari ayah angkat Ayu. Meski Ayu memiliki kunci apartemen tapi toh hubungan mereka hanya sebagai teman tidur. Mereka berdua sama-sama misterius bagi satu sama lain.
Ada banyak hal yang tak Ayu ungkapkan. Tentang siapa dirinya, asal-usulnya, keluarganya, mengapa ayah angkatnya menjualnya dan bagaimana ia harus menghadapi kelakuan menjijikkan ayah angkatnya sambil menyimpan geram pada ibunya yang begitu buta karena cinta.
Lalu tiba-tiba muncul Ditto, teman SMA dan teman seangkatan Ayu di kampus, setelah mereka berpisah dua tahun. Tampaknya Ditto bersikeras ingin mengulang sejarah dan mengejar Ayu. Walau Ayu telah berulang kali menepis, karena ia bukanlah gadis yang sama lagi.
Hingga suatu hari, ibu Ayu menjadi korban penganiayaan. Biaya rumah sakit yang tak mampu ditanggung Ayu memaksa Ayu mendatangi Benny, pria pemilik kamar apartemen 1109. Benny bersedia memberi uang namun dengan syarat. Syarat yang butuh komitmen besar. Syarat yang ternyata bukan hanya melibatkan antara Ayu dan Benny saja, tapi juga melibatkan Yuana, mantan tunangan Benny yang ternyata begitu mirip dengan Ayu. Oh, ataukah Ayu yang mirip Yuana?
Benarkah hubungan mereka hanya sebatas teman tidur? Tak bisakah cinta meriak di antara dua hati yang sama-sama terluka?

-----------------

Duh. Hati saya masih nyut-nyutan seusai membaca novel ini. Dan selagi saya masih dipenuhi rasa sesak, saya pengin buru-buru menuliskan review untuk Stay With Me Tonight. Karena novel ini my cup of tea banget.

Teman tidur yang berusaha meningkatkan status hubungan. Secara garis besar begitulah novel ini. Tipe novel yang biasa diterbitkan Harlequin. So... tentunya saya suka banget.
Namun karena sebelumnya novel ini berangkat dari wattpad, dan penulis wattpad kebanyakan menggunakan POV orang pertama, maka begitulah Stay With Me Tonight.
Ada dua bab besar dalam novel ini, bab pertama menggunakan POV orang pertama dari sisi Ayu yang mengisahkan hubungan Ayu dan Benny serta kemalangan-kemalangan Ayu.
Sementara pada bab dua, POV menggunakan POV orang pertama dari sisi Benny, tentang betapa desperate-nya Benny dan usahanya mencari Ayu. Ini menjadi bagian favorit saya.

Untuk pengkarakteran tokoh, saya merasa cukup puas. Memang detail fisiknya nggak terlalu dideskripsikan, tapi saya sudah bisa membentuknya dalam imajinasi. Sofi Meloni justru lebih detail dalam rutinitas sang tokoh yang menurut saya jadi mudah tertanam di kepala. Seperti telur dadar misalnya. Atau Ayu yang selalu datang ke kolam renang. Entah bagaimana pengulangan itu malah lebih mengena.

Saya suka dengan karakter Ayu. Biasanya saya sebel sama tokoh yang tertutup dan nggak mau ngomong apa-apa. Bikin jengkel. Tapi ketertutupan Ayu pada Benny dan Ditto justru saya rasakan membuat dirinya misterius dan mengundang rasa penasaran pria-pria itu. Ayu juga terasa nrimo dengan tegar.

Saya juga tadinya suka pada Benny. Sosoknya kalem (tapi di ranjang bergairah banget! Hohoo~) dan penuh perhatian. Dan nggak segan menampilkan kecemburuannya. Yaa~ walau nggak ngaku juga kalau cemburu sih.

"Kamu selalu berhasil membuatku terlihat seperti orang bodoh." - Benny (hlm. 151)

Ada dua hal yang bikin saya jatuh cinta. Sederhana saja. Membawakan payung untuk Ayu saat hujan lebat dan membelikan pembalut untuk Ayu. Well, mari kita hitung, berapa banyak cowok yang mau beliin pembalut buat ceweknya? Saya baru nemu dua: suami saya dan Benny. *terus jadi curhat*
Sayangnya, walau saya paling suka membaca bagian tokoh pria yang desperate dan menyesal karena udah bersikap bodoh. Di bab kedua saya anggap ke-desperate-an Benny agak berlebihan. Saya tetep nangis waktu dia akhirnya ketemu Ayu lagi tapi saya juga tetep merasa Benny merusak dirinya sendiri. Cool dan kalemnya jadi hilang dan berkesan kayak orang labil.

Tapiiii... twistnya bikin pingsan saking melegakannya. Saya juga sempat desperate ketika Benny di rumah sakit. Tapi ternyata.... aaaakk! Manis banget endingnya. Terutam kalimat yang diucapkan Ayu.

Nah, bagi kalian penyuka roman ala-ala novel terbitan Harlequin, saya rekomendasikan banget untuk baca novel ini. Meski hubungan badannya cukup sering dilakukan tapi nggak eksplisit banget kok. Pas bagi saya.

Jumat, 12 Februari 2016

[Resensi: I Can't Stop Loving You - Adeliany Azfar] Menerima Cinta Apa Adanya


Judul buku: I Can't Stop Loving You
Penulis: Adeliany Azfar
Penyunting: Bagas Prasetyadi
Desain sampul: Mahar Mega
Penerbit: Eazy Book
Tahun terbit: 2012
Tebal buku: 219 halaman
ISBN: 978-602-19746-4-3



BLURB

Setiap cinta pasti meninggalkan luka.

Cinta yang kuberikan dengan tulus, tanpa syarat, telah dikhianati.
Hidupku terombang-ambing, tak tentu arah…
Membuatku semakin jauh dari cinta…
Saat mimpi tak lagi mampu kuraih, saat hidup tak lagi terasa berarti…
Dia berdiri di hadapanku…menggenggam tanganku, mewarnai hidupku…
Membuatku merasakan kembali arti kehidupan… arti cinta.
Namun…benarkah ia adalah cinta yang selama ini kutunggu?

Cinta yang tak akan pernah menggoreskan luka?


RESENSI

Jeanne Verfaillie lagi-lagi diminta mengantarkan pesanan tamu tetap di Delicieux, Victor Belpaire. Selama dua tahun pria itu selalu datang tiap hari dan selalu minta agar Jeanne yang mengantar pesanan ke mejanya. Permintaan yang membuat Jeanne kesal.
Victor sendiri adalah seorang fotografer yang bekerja di harian lokal Brussels. Ia selalu datang ke Delicieux untuk melihat Jeanne, dan untuk memastikan gadis itu baik-baik saja setiap harinya. Padahal di kantor, ada seorang reporter yang juga menaruh hati pada Victor.
Hanya saja ada satu kehidupan Jeanne yang gadis itu sembunyikan. Jeanne menjalani kehidupan liar di klub-klub malam. Ia berubah dari Jeanne yang polos dan sederhana menjadi Jeanne yang glamor dan nakal.
Hingga suatu malam saat Victor sedang mencari berita di klub malam, ia bertemu seseorang yang sangat mirip dengan Jeanne. Wajah yang sama namun dengan penampilan dan tingkah yang berbeda. Gadis itu mengaku sebagai saudara kembar Jeanne.
Benarkah gadis itu saudara kembar Jeanne? Mengapa ia sampai terperosok dalam dunia hiburan malam? Dan akankah perasaan Victor berubah?

-------------

I Can't Stop Loving You menjadi karya kedua Adeliany Azfar yang saya baca setelah novel Sweet Home. Dan secara kematangan cerita dan pengolahan premis, jelas Sweet Home lebih juara dibanding novel ini.

Secara garis besar, I Can't Stop Loving You adalah kisah perjuangan seorang gadis yang dipaksa terjerumus dalam dunia yang nggak dia inginkan, dan masih memiliki impian untuk hidup normal. Dan tentunya akan ada pangeran yang akan datang menyelamatkannya dan menerimanya apa adanya. Klise?
Nggak juga. Justru sangat menarik dan cukup menjanjikan.

Saya sebenarnya suka dengan setting Brussels dalam novel ini. Terasa baru dan unik, hanya saja masih kurang tergali. Dan ada pertanyaan dalam benak saya saat disebutkan Jeanne memakai seragam SMA. Benarkah di Brussels siswa SMA-nya juga memakai seragam dan bukannya pakaian bebas?

Menggunakan POV orang ketiga, novel ini beralur maju mundur. Sayangnya gaya berceritanya masih kaku dan kurang luwes. Saya tersendat-sendat dan hampir bosan dengan sikap Jeanne yang bukannya membuat iba tapi seolah minta dikasihani.

Pengkarakteran para tokohnya masih mengambang dan kurang mendalam. Terlalu banyak campur tangan penulis dalam gerak para tokohnya sehingga nggak alami.
Yang membuat saya entah geli entah bagaimana adalah saat Jeanne terjatuh di zebra cross dan nggak ada yang mau menolong padahal lampu hampir berubah hijau. Lalu Victor muncul dan menyelamatkannya. Di situ dibilang seandainya Victor nggak menolongnya, mungkin Jeanne akan tertabrak mobil. Yaah... apa iya, mobil yang berhenti di traffic light begitu lampu berubah hijau tetap akan jalan meski ada cewek jatuh di zebra cross? Paling banter nglakson aja kan? Atau manusia udah sesadis itu?
Maaf kalau saya terpaksa memutar bola mata membaca hal ini.

Jeanne benar-benar tokoh yang membuat geregetan. Masa iya sih gadis 18 tahun sebegitu polosnya sampai nggak tahu pekerjaan apa yang menantinya di klub malam. Nggak curiga waktu dibilang bakal melayani tamu? Jeanne ini tinggal di planet sebelah mana? Nggak punya teman cewek buat nggosip? Nggak baca surat kabar atau majalah? Duh. Polosnya nggak masuk akal.
Dan sumpah, Jeanne ini hobi menggali kubur sendiri. Sudah terjerumus, masih juga pacaran sama junkies, dan gampang kena masalah karena sembrono. Lalu membenci dirinya sendiri. Memaki-maki dirinya sendiri. Bikin capek.

Sementara untuk dialog juga masih nanggung. Teman-teman yang mengikuti review saya pasti tahu bahwa saya sangat mendewakan dialog. Mau dialog baku atau dialog 'lo-gue' atau dialog campur-campur, nggak masalah selama chemistry dalam dialog itu ada. Saya nggak suka jenis dialog basa-basi dan kaku. Saya pusing.
Dan dialog macam itulah yang ada dalam novel ini. Jujur, dialog dan chemistry dalam Sweet Home lebih klik daripada novel ini.

Sebagai novel bersetting luar, saya juga terganggu dengan penggunaan kata Tuan untuk menggantikan Mr.
Entah ini gaya selingkung penerbit atau memang dari penulisnya sendiri, tapi saya memang nggak nyaman membaca Jeanne memanggil Victor dengan Tuan. Mr. atau Sir mungkin lebih pas.

Dan yang terakhir, penyelesaiannya bagai sihir ibu peri dalam dongeng Cinderella. Entah bagaimana, setelah babak belur habis-habisan diterpa konflik dan bencana, Jeanne menghilang. Lalu tiba-tiba... bum! Berubah jadi Cinderella.
Dan berbahagia selama-lamanya. :)


Rabu, 10 Februari 2016

[Resensi: What A Gentleman Wants - Caroline Linden] Terjebak dalam Pernikahan


Judul buku: What A Gentleman Wants
Penulis: Caroline Linden
Alihbahasa: Meggy Soedjatmiko
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Februari 2015
Tebal buku: 477 halaman
ISBN: 978-602-02-5848-5




BLURB

Marcus Reece, duke of Exeter, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menyelamatkan saudara kembarnya dari masalah. Jangankan ucapan terima kasih, ia malah dihadiahi istri yang tidak diinginkan.

Hannah tak berdaya dan mengutuki kebodohannya. Kesulitan hidup membawanya ke altar bersama seorang pria yang hampir-hampir tidak dikenalnya. Merasa dipermainkan, dia malu, marah, dan yang lebih buruk lagi, menikahi orang asing yang dingin tak berperasaan.

Demi menghindarkan aib bagi keluarga Exeter, keduanya setuju untuk memainkan sandiwara sebagai suami-istri. Tetapi, hukum alam bekerja … percikan-percikan yang timbul telah membuat api berkobar. Akankah kepura-puraan itu hangus oleh kobarannya?


RESENSI

Sekali lagi Marcus berhasil menyelamatkan adik kembarnya, David, dari bencana skandal. Perselingkuhan David dengan Lady Barlow nyaris saja mengancam nyawa David. Maka selagi bisa Marcus menyuruh David untuk pergi ke luar London, hingga gosip mereda.
Di perjalanannya, David mengalami kecelakaan dan jatuh di dekat pondok Hannah, janda seorang pendeta. Hannah membawa David ke pondoknya dan merawatnya. Berdiam di pondok wisma pendeta di Middleborough yang sepi, David mendapati dirinya jatuh iba pada Hannah. Perempuan itu harus kembali ke rumah ayahnya bersama putri kecilnya untuk menjadi beban. Maka David menawari Hannah sebuah pernikahan.
Sayangnya ketika Hannah telah menjawab bersedia, David merasa gamang. Ia belum siap. Ia masih ingin bersenang-senang. Saat itulah sebuah ide melintas dalam benaknya.
Begitu pernikahan mereka terlaksana, David membawa Hannah dan Molly, putrinya, ke London. David menempatkan mereka berdua di rumah kakaknya, kemudian pamit untuk menyelesaikan urusan selama beberapa hari.
Hingga kemudian, setelah David pergi, Hannah menemukan seseorang di rumahnya, sama tampannya dengan David, namun lebih dingin dan angkuh. Pria itu, Marcus Edward Fitzwilliam Reece, Duke of Exeter. Dan pria itu membawa buku catatan dari gereja paroki, yang bukannya bertuliskan nama David sebagai suami Hannah, melainkan nama Marcus.
Akankah Marcus kembali membereskan masalah yang dibuat David? Siapkah Hannah sang janda desa melakoni perannya sebagai Duchess? Dan apakah mungkin mereka akan saling jatuh cinta?

----------------

Saya mendapatkan novel ini dari penulisnya, Caroline Linden, saat beliau mengadakan giveaway di facebook. Dan lumayan lama sampainya. Dua bulan saya baru bisa bersua dengan novel ini.
Jadi tadinya saya yang sudah pasrah jadi bersemangat untuk membacanya.

Sayangnya, saya nggak menyukai cover novel ini. Saya lebih suka cover aslinya. Perempuan dalam cover ini seolah bukan berasal dari abad yang sama dengan perempuan yang ada dalam cerita.

Cover asli What A Gentleman Wants :)


Prolognya cukup mengejutkan. Saya langsung saja dibuat tercengang dengan tindakan ugal-ugalan David, dan langsung terpukau dengan ketangkasan Marcus dalam menyelesaikan masalah.
Plotnya rapi dan gaya berceritanya benar-benar enak diikuti.

Saya biasanya suka dengan historical romance yang kekeluargaannya kental dan saling mendukung. Jadi saya suka banget dengan novel ini. Bukan hanya dari hubungan Marcus dan David yang solid, tapi juga hubungan Marcus dengan ibu dan adik tirinya yang hangat.
Memang, semua tokoh dalam novel ini so loveable. Marcus benar-benar tipe duke kesukaan saya, bertanggung jawab, kejam dan nggak kenal kompromi, tapi begitu jatuh cinta duhhh... berubah jadi pria romantis. Romantis dalam caranya sendiri.
Saya juga suka dengan Hannah yang praktis dan efisien. Nggak pakai drama dan nggak kebanyakan galau.
Saya bahkan dibuat jatuh sayang dengan Rosalind, ibu tiri yang terlihat menghormati dan menyayangi Marcus.
Chemistry-nya jangan ditanya lagi. Saya suka banget dengan cara Caroline Linden menunjukkan interaksi antar tokohnya. Terasa natural dan membekas di hati.

Saya juga menyadari bahwa penulis mulai mengubah David di novel ini. Di penyelesaian konflik, David mulai berubah. Dari yang tadinya adalah bajingan liar memesona menjadi saudara yang luar biasa. Dan saya pun jadi penasaran, akan seperti apa David di buku keduanya. Huhuuu~ nggak sabar banget buat baca.

Sementara untuk adegan kipasnya mengena banget. Meski awalnya sudah dibuat syok dengan kelakuan David, tapi sepanjang cerita sang hero dan heroine cukup dibuat frustasi menahan diri.

Overall, saya suka novel ini dan menikmati setiap kalimatnya. Dan sepertinya mulai jatuh cinta pada tulisan Caroline Linden. Recommended banget. :)

Senin, 08 Februari 2016

[Resensi: Let Me Be With You - Ria N Badaria] Mengizinkan Cinta untuk Mendampingimu


Judul buku: Let Me Be With You
Penulis: Ria N Badaria
Editor: Nuriyah Amalia
Desain cover: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2015
Tebal buku: 352 halaman
ISBN: 978-602-03-1326-9



BLURB

Tidak tahan karena terus didesak menikah oleh keluarganya, Kinanti akhirnya menerima ide gila Rivan Arya, sahabat kakaknya yang telah ia kenal sejak SMA. Mereka akan menerima perjodohan yang diatur tersebut, menikah, dan tinggal bersama demi menyenangkan keluarga sambil menjalani aktivitas masing-masing. Tetapi, bila suatu saat salah satu pihak terganggu dan merasa tidak cocok bersama, mereka akan bercerai baik-baik. Tak disangka, perjodohan bisa juga menyenangkan. Kebersamaan yang mulanya kaku dan canggung, perlahan mulai menumbuhkan perasaan nyaman, sayang, dan saling membutuhkan kehadiran masing-masing. Namun sayangnya, bayang kelam masa lalu terus mengendapendap mengikuti. Satu demi satu rahasia yang disembunyikan Rivan terancam menghancurkan keeping-keping perasaan cinta yang pelan-pelan Kinanti serahkan untuk pria itu. Akankan mereka terus bersama, atau berakhir seperti kisah-kisah yang ditulis Rivan Arya, sang penulis novel best seller itu? Terpaksa mengakui bahwa cinta adalah rasa yang selalu mengguratkan luka dan menyisakan air mata.


RESENSI

Kinanti merasa lelah mendapat pertanyaan yang sama dari waktu ke waktu, apalagi kalau bukan pertanyaan kapan menikah. Terutama ketika kakaknya mulai bertunangan, keluarga besarnya pun mulai gencar menanyakan pertanyaan yang sama. Dan siapa sangka kalau kakak laki-lakinya, Harlan, berniat menjodohkan Kinanti dengan teman SMA-nya, Rivan.
Rivan yang telah kembali dari Kanada dan menjadi penulis bestseller nasional merasa senang dengan sambutan keluarga besar Kinanti. Ia yang berasal dari panti asuhan dan diangkat anak oleh keluarga yang akhirnya bercerai, tentunya sangat merindukan suasana kekeluargaan yang melingkupi keluarga Kinanti. Hal itu ditambah fakta bahwa dulu ia pernah suka pada Kinanti, membuat Rivan setuju untuk menikah dengan Kinanti.
Kinanti sendiri belum bisa melupakan perasaannya pada Dimas. Tunangannya yang meninggal karena kecelakaan. Tapi kelembutan dan kesabaran Rivan membuat Kinanti luluh dan akhirnya ikut setuju.
Mampukah mereka menjalani bahtera rumah tangga dengan pondasi yang rapuh? Akankah mereka saling mencinta? Ataukah diam-diam ada badai besar yang mengancam rumah tangga mereka?

----------------

Bisakah kamu menjalani pernikahan tanpa memiliki perasaan yang kuat dengan pasanganmu? Seperti Kinanti dan Rivan dalam novel ini?
Kalau saya sih enggak. Haha~
Itu sebabnya saya penasaran dengan hubungan Kinanti dan Rivan.

Sayangnya di awal saya sudah dibuat nggak relate dengan si tokoh wanita. Sebagai pembaca buku dan menemukan tokoh wanita di dalam buku yang nggak suka membaca itu... bikin kesel. Saya jadi nggak terkoneksi dengan si tokoh wanita.
Bila Kinanti memang diharuskan nggak pernah membaca novel karya Rivan sebelumnya,  kan bisa dibuat Kinanti ini suka membaca tapi bukan genre roman, misal pembaca fiksi atau apalah. Karena tokoh yang nggak suka membaca itu langsung bikin saya nggak bisa 'masuk' ke karakternya. Nggak memahaminya. Dan nggak bisa memposisikan diri sebagai si tokoh.

Gaya bercerita Ria cukup bagus di awal. Saya menikmatinya, namun tiba di bagian konflik, yang nggak cuma satu, tapi empat konflik sekaligus—orang ketiga di pihak Rivan, orang ketiga di pihak Kinanti, penyakit, saudara yg tiba-tiba muncul—bikin saya pusing. Fokus masalah jadi terpencar dan nggak total.

Saya suka dengan interaksi antara Kinanti dan sahabatnya, juga interaksi Harlan dan Rivan. Lepas dan asyik. Hanya saja begitu Kinanti bertemu dengan Rivan, interaksinya jadi kaku. Bahkan setelah menikah, saya mulai mempertanyakan usia Kinanti, kok kayaknya Kinanti ini masih berusia belasan ya dari gaya bicara dan pola pikirnya?

Saya juga mencatat adanya inkonsistensi penggunaan kata "saya" dan "aku" di bab-bab awal ketika Kinanti dan Rivan belum menikah.

"Aku nggak tersinggung sama sekali kok, Kak, kemarin Kak Rivan juga pasti bingung karena dugaan keluarga saya." (hlm. 74)

Inkonsistensi ini sering banget terjadi dan terasa sangat mengganggu.

Menggunakan POV orang ketiga, novel ini beralur cukup cepat. Adegan-adegannya cukup singkat untuk kemudian beralih ke adegan lainnya lagi. Cara bercerita Ria cukup enak diikuti seandainya saja tokohnya lebih logis dan masuk akal.
Karena memang bisa dibilang tokohnyalah yang bikin geregetan.
Terutama Rivan. Terlebih Rivan.
Entah memang sifat Rivan atau bagaimana, tapi dia terlalu tebar pesona. Hey, nggak masalah kalau hero punya sahabat wanita yang sangat dekat. Usap-usapan kepala, atau memeluk itu biasa. Tapi itu dilakukan dengan rasa sayang yang beda.
Sayangnya Ria menuliskan deskripsi gestur Rivan saat melakukannya pada Sherly sama dengan saat melakukannya dengan Kinanti. Sehingga terkesan Rivan melakukannya karena cinta.
Ini membuat saya mengerutkan kening, apa-apaan nih si Rivan?
Dan cukup lelah juga dengan kengototan Rivan untuk tetap bungkam tentang penyakitnya. Sebagai penulis roman bestseller ternyata pria tetap nggak peka perasaan wanita ya.

Di penghujung cerita, penyelesaiannya lagi-lagi membuat saya tercengang. Drama lagi?

Well, meski tokoh ceritanya cukup bikin naik darah dan lelah lahir batin, tapi saya nggak kapok dan pengen nyicip buku karya penulis ini lagi. Semoga saja di karya berikutnya saya bisa lebih menikmatinya.
Bagi kalian yang ingin membaca kisah cinta berliku dan penuh konflik, kalian bisa coba membaca novel ini. Asal kalian nggak keberatan dengan karakter tokohnya :)

Minggu, 07 Februari 2016

[Resensi: Stand by Me - Indah Hanaco] Ketika Cinta Terhalang Rentang Usia


Judul buku: Stand By Me
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juli 2014
Tebal buku: 340 halaman
ISBN: 978-602-02-4576-8





BLURB

Selama bertahun-tahun, Ralph menyaksikan bagaimana Mya tumbuh menjadi gadis kepala batu dan cenderung judes. Selama itu pula hubungan mereka tetap berada pada dua sisi yang berpunggungan. Hingga suatu malam Mya yang patah hati bersumpah akan menikahi teman kakaknya. Tentu saja yang dimaksudnya bukan Ralph, karena hati Mya sudah telanjur takluk pada pesona Chris. Tapi, cinta tetaplah salah satu misteri terbesar semesta. Hingga suatu ketika Mya menyadari bahwa hatinya kini menghendaki sosok lain untuk menjadi tempat penitipan hatinya. Ralph.
Namun, masa lalu Ralph dengan sederet panjang para mantan, tidak mudah untuk diabaikan. Belum lagi perbedaan usia yang terentang jauh di antara keduanya. Juga keraguan yang kerap menyudutkan Ralph dan Mya ke tempat asing.
Namun keduanya kian menyadari bahwa perasaan istimewa sudah membenamkan mereka terlalu jauh. Nyaris tidak ada kesempatan untuk membebaskan diri tanpa tersakiti. Pertanyaannya, cukupkah cinta mereka menjawab semua rintangan yang siap melukai?


RESENSI

Perayaan ulang tahun Mya Devri Aryanata yang ke-16 masih berupa ritual yang sama. Makan malam bersama ibu, abangnya, Nicholas, dan ketiga sahabat sang abang: Joe, Chris dan Ralph. Tapi malam itu Ralph terlambat datang dan menyebabkan Mya mengomel panjang.
Ralph cukup kaget karena Mya menunggunya, padahal selama ini hubungan mereka yang paling renggang jika dibandingkan hubungan Mya dengan Joe ataupun Chris. Mya lebih betah saling tukar ejekan dengan Joe atau bicara panjang dengan Chris daripada dekat-dekat Ralph yang irit kata dan playboy.
Tapi usia enambelas memang membawa perubahan pada Mya, bukan dalam kejudesan dan kekeraskepalaannya tentu saja, tapi pada perasaan hatinya yang mulai mengenal kata: cinta. Mya menganggap dirinya jatuh cinta pada Chris yang penyayang dan penuh perhatian. Maka ia pun membuat sumpah bahwa ia akan menikah dengan salah satu teman abangnya. Tapi rupanya sumpah itu didengar oleh Ralph!
Sayangnya Chris hanya menganggap bercanda pernyataan cinta Mya. Perbedaan usia sepuluh tahun membuat Chris selalu menganggap Mya masih bocah. Dan Chris justru malah memperkenalkan kekasihnya, Isabel pada Mya. Hanya Ralph yang tahu bahwa Mya sedang patah hati dan berusaha menghibur gadis itu.
Lama-lama kedekatan Mya dan Ralph membawa kenyamanan yang tak mereka duga. Kali ini akankah perasaan Mya berbalas? Ataukah lagi-lagi ini hanya sekadar fase dalam masa remaja Mya? Atau malah, setelah Chris dan Ralph apakah Mya juga akan jatuh cinta pada Joe juga?

-------------

Berapa jarak usiamu dengan pasanganmu? Atau berapa jarak usia ideal yang kauinginkan dengan pasanganmu? Lebih tua, sepantar, atau lebih muda?
Saya sendiri punya jarak usia 16 tahun dengan suami, jadi saya doyan banget sama novel yang perbedaan usianya jauh seperti dalam novel Stand by Me ini.
Meski sebenarnya ada juga yang membuat alergi di novel ini. Hmm~ empat cowok dan satu cewek dalam satu lingkaran itu sebenarnya sudah saya hindari saking sempat jamaknya.
Tapi membaca novel ini memberi sensasi yang berbeda, karena salah satu pria dari empat sekawan ini adalah abang dari si tokoh utama. Abang sungguhan. Duh, bikin ngiri aja, deh. Saya juga mau tiap kali bangun tidur sudah ada cowok ganteng nongol di rumah. Wkwkk~

Stand by Me diceritakan menggunakan dua jenis POV. Pada bab satu, POV menggunakan POV orang ketiga. Memasuki bab dua, POV menggunakan POV orang pertama dari sisi Mya. Lanjut ke bab tiga, POV menggunakan POV orang pertama dari sisi Ralph. Kemudian bab empat dan lima POV kembali menjadi POV orang ketiga.
Ceritanya mengalir dengan lincah, kocak dan menghibur. Terutama melihat (membaca) ceplas-ceplosnya Mya.

Setting Pematang Siantar dalam novel ini saya rasa cukup kental. Bukan hanya dari deskripsi ataupun lokasi-lokasi yang disebutkan tapi juga karena pengucapan panggilan 'bang' bagi para abang-abang dalam novel ini. Hanya saja yang bikin saya heran, kenapa sih Ralph dan yang lain menganggap panggilan 'Bang Domu' itu mengerikan? Ada alasan khusus ataukah karena terdengar nggak enak aja? Padahal kan itu unyu. *digaplok Ralph*

Semua karakter dalam novel ini benar-benar loveable. Saya kesulitan memutuskan pengen peluk yang mana. *lah emang siapa yang minta dipeluk?*
Saya suka dengan gaya ceplas-ceplos dan blak-blakannya Mya, karena Mya ini sedikit mirip dengan saya dalam hal ngomong ngasal nggak pakai dipikir. *GR* *kunyah udon kuah udang*
Sementara Ralph langsung mencuri perhatian saya dengan gigi berantakannya. Soal lesung pipit saya nggak terlalu tertarik, pria berlesung pipit di keluarga saya banyak. *sombong*. Tapi cowok dengan gigi berantakan itu lebih seksi. Menurut versi saya, sih. Haha~
Dan percayalah, cowok yang bisa masak itu seksi. Sumpah!
Saya suka banget dengan interaksi Mya dan Ralph yang alami dan kompak. Yang satu meledak-ledak yang satu sabar banget. Mereka pasangan favorit saya, deh.

Konfliknya sangat ringan dan mudah diselesaikan. Khas problema remaja. Kegamangan, kegalauan dan kecemburuan yang meledak-ledak. Ah... remaja, memang bikin iri.

Overall, saya lagi-lagi dibuat jatuh cinta dengan karya Indah Hanaco. Penulis ini memang mirip bunglon, karena mampu menulis beberapa genre dengan pas dan sama ciamiknya.
Bagi kalian yang suka dengan cinta beda usia ataupun kisah cinta remaja yang manis, it's so recommended!

Sabtu, 06 Februari 2016

[Resensi: First Love - Helga Rif] Pertemuan Kembali dengan Sang Cinta Pertama


Judul buku: First Love
Penulis: Helga Rif
Editor: Dewi Fita
Desain sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Rak Buku
Tahun terbit: Mei 2014
Tebal buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-168-401-6



BLURB

We Meet people and fall in love....

Seharusnya jatuh cinta itu mudah kan?
Seharusnya, putus cinta pun semudah itu, jika kita sudah tidak bisa berjalan bersama kenapa memaksakan hal yang tidak mungkin.

Begitu pun yang diyakini Alvira dan Guntur... dulu. Saat waktu mempertemukan mereka kembali, kenapa sulit sekali bagi keduanya untuk menganggap cerita lama hanya bagian dari sejarah. Rasa itu terlalu kuat untuk diabaikan. Hmmm... bagaimana jika memang mereka memang meant to be for each other?

Ah... jatuh cinta seharusnya tidak serumit ini kan?


RESENSI

Alvira merasa kelimpungan saat klien yang menggunakan jasa wedding organizernya menginginkan menu masakan india. Ia sudah menghubungi beberapa usaha katering yang biasa bekerja sama dengannya namun tak ada yang sanggup memenuhi permintaan menu masakan India. Hingga ia menemukan Delicious Catering, satu-satunya katering milik Dania yang bisa menyediakannya.
Saat mereka melakukan test food, Alvira dipertemukan dengan chef dari Delicious Catering, dan siapa sangka bahwa chef itu adalah Guntur, kekasih Alvira semasa SMA dulu. Hubungan mereka berakhir saat Guntur harus meneruskan kuliah di Swiss.
Pertemuan itu bagai membuka kotak kesedihan dan kegalauan Alvira. Terutama ketika Guntur mulai intens mendekatinya lagi. Alvira merasa gamang. Antara rasa rindu dan rasa takut tersakiti lagi.
Ketika satu malam penuh kerinduan dan cinta yang mereka bagi menghadirkan sebuah detak nyawa baru, akankah mereka bersama lagi? Demi cintakah? Atau hanya demi kewajiban?
Atau kali ini penghalang yang lebih besar akan kembali menghadang bersatunya hati mereka?

------------

First love. Cinta pertama.
Pertemuan kembali dengan cinta pertama. Aaaarghhh...
Dan saya pun jadi inget lagu kesukaan saya, Gereja Tua yang dinyanyikan oleh Panbers. *sudah setua itukah saya?* wkwkwk~
Sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun dan masih memiliki perasaan yang sama. Wow hebat!

Novel ini diceritakan dengan POV orang ketiga, dengan fokus utamanya adalah Alvira dan Guntur. Alurnya maju dengan sedikit flashback, saat Alvira mengenang kembali kebersamaannya dengan Guntur saat di SMA.
Membaca novel ini cukup menyenangkan pada awalnya hingga saya tiba pada keplin-planan dan kelabilan Alvira. Di titik itu saya jadi capek. Nggak tahu apa maunya Alvira sebenarnya.
Ada rasa frustasi saat konflik yang sebenarnya sederhana jadi berlarut-larut dan berputar-putar nggak jelas.
Padahal konfliknya sebenarnya punya potensi yang bagus bila menyerang sisi yang tepat.

Saya suka ide WO dan usaha katering ini, yang sebenarnya juga punya potensi konflik yang kuat. Dan yang menjadi catatan saya, alangkah lebih masuk akalnya jika menu makanan yang diminta klien atau dimasak Guntur ini jelas bernama. Karena penyebutan "sebuah menu india' dan 'masakan ini' masih terasa kurang nyata. Saya bertanya-tanya masakan apa itu? Alangkah sempurnanya jika penulis bisa meriset tentang makanan-makanan india dan memasukkannya ke dalam cerita ini.

Cara bertutur Helga Rif masih terasa bertele-tele dan berputar-putar. Tapi ada beberapa adegan yang mulus dan asyik terutama saat Alvira dan Guntur berinteraksi. Adalah beberapa moment yang chemistrynya bagus dan mengena.
Namun saat Alvira bertemu Dania, di situ terasa banget kaku dan basa-basinya. Ada dialog yang seolah dibuat untuk mencairkan suasana tapi kesan kakunya kerasa. Padahal Alvira diceritakan sudah berkecimpung di bisnis WO selama lima tahun, mestinya ia bisa luwes bernegosiasi tanpa basa-basi yang kaku. Seminder apa pun dia.

Ini memang pengalaman pertama saya membaca karya Helga Rif dan saya merasa belum kapok dan masih ingin membaca karyanya yang lain.

Yah, saya merasa novel ini lumayan untuk dinikmati di kala senggang, di kala sedang ingin mengenang cinta pertama. Atau saat sedang ingin baper gara-gara ingat setan eeh.... mantan. ;)

Jumat, 05 Februari 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Sesaat di Keabadian - Mezty Mez


Judul buku: Sesaat di Keabadian
Penulis: Mezty Mez
Editor: Ayuning dan Bayu Novri Lianto
Desainer sampul: Maspri
Penerbit: EnterMedia
Tahun terbit: Oktober 2015
Tebal buku: 130 halaman
ISBN: 979-780-835-1
Harga buku: Rp. 42.000,-




BLURB

Ini tentang seseorang yang istimewa di hatiku; seseorang yang tak bisa aku lupakan meski telah lama pergi.
Ini juga tentang seseorang yang mampu membahagiakanku; seseorang yang tak bisa aku tinggalkan di babak kehidupan selanjutnya. Mungkin ceritaku ini sedikit berlebihan,
tapi aku jujur menuliskannya. Bukankah tak ada yang lebih indah dari saling mencintai?

Aku bisa jadi salah seorang perempuan yang beruntung di bumi ini, mungkin saja. Tapi tanpa mereka?
Entahlah bagaimana aku jadinya.

Apakah kamu tahu takdir tentang cinta yang paling menyakitkan itu apa? Jawabannya adalah kamu tidak ingin orang-orang yang mencintaimu patah hati lalu terluka.

Kamu tak perlu setuju dengan jawabanku, karena cinta punya bahasanya sendiri. Percayalah, apa yang aku alami jauh lebih buruk dari sekadar patah hati.
Sampai di sini, maukah kamu mendengar ceritaku selanjutnya?


RESENSI

Sudah empat tahun Dante pergi. Penantian tiada akhir yang lama-lama mengikis harapan Rena secara perlahan. Padahal Dante berjanji akan pulang untuk melamarnya, tapi penantian Rena tak kunjung menemukan temu.
Alex yang selama ini ada di sisi Rena, menyaksikan penantian gadis itu merasa terenyuh. Bukan saja karena ia juga telah kehilangan sahabatnya, Dante, tapi juga karena di hati Alex telah tumbuh perasaan lain. Sekuat tenaga Alex berusaha menepisnya dengan cara menyakiti diri. Merusak diri.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Dante? Akankah Dante muncul dan menjawab segala penantian dan air mata Rena? Ataukah Rena akan berpaling pada cinta Alex yang selalu setia?

------------

Saya menghabiskan waktu membaca buku ini dengan waktu yang luar biasa cepat. Kurang dari seperempat hari! Bukan hanya karena bukunya yang tipis dan ukuran fontnya yang besar tapi juga karena bahasanya yang simpel dan mudah dicerna.

Sesaat di Keabadian diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga dengan fokus utamanya pada Rena dan Alex. Hanya saja menurut saya POV orang ketiga ini seolah masih membentengi saya sebagai pembaca dengan para tokoh utama. Perasaan mereka kurang sampai pada saya. Seandainya kegelisahan mereka juga diungkapkan melalui gestur dan gerak-gerik yang lebih spesifik, pastinya kegundahannya akan lebih sampai lagi.
Saya sedikit dibingungkan dengan timeline-nya, karena kecelakaan terjadi di tahun 2008 tapi di tahun 2013 mengapa Rena bilang kalau sudah menanti selama empat tahun?
Dan saya rasa adegan di bab awal itu mungkin akan lebih baik jika diletakkan di belakang, sebagai additional scene atau fragmen, agar nggak merusak twist yang ada di endingnya. Itu akan lebih twisting menurut saya.
Tapi karena ini adalah novel lanjutan dari Hai, Luka dan saya belum membaca novel tersebut, mungkin saja adegan awal itu sudah terjadi di novel selanjutnya.
Dan melihat ending Sesaat di Keabadian yang saya kira twist ending, sepertinya akan ada lanjutan lagi dari novel ini. :))

Pengkarakteran tokohnya kurang tereksplor, cenderung ditekankan melalui deskripsi dari penulis dan bukan ditunjukkan secara alami melalui gestur, dialog ataupun pola pikir sang tokoh.
Karakter Alex semestinya bakal bisa mencuri perhatian, karena ia digambarkan sebagai pria tangguh namun berusaha mati-matian mengendalikan diri.

Mezty Mez beberapa kali menggunakan kalimat asosiasi dalam novel ini. Indah dan mengena. Kalimat-kalimat bijak yang cantik yang bisa jadi membuat baper kalau saya juga tengah menanti seseorang seperti Rena. ^^

Secara keseluruhan novel ini cukup menghibur dengan kisahnya yang ringan. Simple and warm.


-----------GIVEAWAY TIME-------------




Naah sekarang waktunya saya untuk kembali bagi-bagi hadiah berupa satu buah novel Sesaat di Keabadian bagi kamu yang beruntung!
Hoohhoo... sudah nggak sabar kan?

Caranya mudah saja:
1. Peserta tinggal atau memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @OnlyMezty @ Entermedia3 dan akun saya @KendengPanali
3. Share info giveaway ini dengan hashtag #SesaatDiKeabadian dan jangan lupa mention ketiga akun di atas.
4. Follow blog ini melalui GFC atau email.
5. Menjawab pertanyaan di bawah ini dengan menyertakan Nama | Akun twitter | Nama yang digunakan untuk memfollow blog | alamat email

Sesaat di Keabadian adalah kisah tentang penantian. Share dong lagu favorit kalian yang mengisahkan tentang penantian. Yang sekiranya bakal cocok untuk jadi soundtrack membaca novel ini ;)

6. Giveaway akan berlangsung selama 6 hari dan akan saya tutup pada tanggal 10 Februari 2016 pukul 23.59 WIB.
Pemenang akan diumumkan serentak di blog www.ach-bookforum.blogspot.co.id pada tanggal 12 Februari 2016.
7. Yang terakhir good luck yaa :)

Kamis, 04 Februari 2016

[Resensi: Perjalanan Hati - RIawani Elyta] Menemukan Jawab dalam Nostalgia Perjalanan


Judul buku: Perjalanan Hati
Penulis: Riawani Elyta
Editor: Dewi Fita
Perancang sampul: Dwi Annisa Anindhika
Penerbit: Rak Buku
Tahun terbit: 2013
Tebal buku: 194 halaman
ISBN: 978-60-217-5596-9




BLURB

Suara dari masa lalu itu masih berembus kencang.
Menyergapku dalam rindu yang dingin.
Ia bercerita tentang sebuah rasa yang terus tumbuh dan
terpelihara. Jika tidak pada tempatnya, maka ia tak ubahnya ilalang kering.
Kusadari, bayang-bayangmu tak hadirkan rasa benci, tetapi rindu yang perlahan-lahan berembus

Ini cerita tentang aku

Aku yang menapaktilasi masa lalu, mencoba mencari rasa yang terserak untuk menetapkan hati
Aku yang berjalan mengitari hatinya, mencoba mencari getaran itu kembali
Ketika semua terasa hampa, apakah kau masih mau berdiri di sana....
Menungguku pulang dan memeluk erat


RESENSI

Tiba-tiba saja Maira meminta izin pada suaminya, Yudha, untuk ikut rombongan backpacker menuju gugus Anak Krakatau. Padahal sejak menikah dua tahun lalu, Maira telah menuntaskan hobinya berpetualang di alam setelah melakukan pendakian ke Gunung Leuser. Yudha curiga, kebulatan tekad Maira ada hubungannya dengan kedatangan Donna beberapa hari sebelumnya. Donna, mantan pacar Yudha yang paling lama berhubungan dengan Yudha.
Tapi Maira tak menjawab desakan pertanyaan Yudha. Ia memang gelisah, tapi ia ingin mencari jawaban kegundahannya melalui perjalanan backpacker kali ini. Karena ia tahu melalui adiknya bahwa Andri pun turut serta dalam rombongan. Andri, sesorang yang teramat akrab dengan masa lalu Maira.
Maka dimulailah perjalanan Maira, menyusuri liku perasaannya dan menelaah rindu yang sesungguhnya. Meski semakin lama ia sadar, ia bukannya mendapatkan jawaban tapi 'perjalanannya' bisa saja menjadi jerat bagi dirinya sendiri. Jerat nostalgia yang dibawa oleh Andri.
Bisakah Maira mengurai simpul hatinya? Bisakah Maira memaafkan dosa-dosa Yudha? Atau justru ia akan terjebak nostalgia?

--------------

Membuka novel ini saya langsung senyum-senyum sendiri, apalagi kalau bukan karena menemukan nama tokohnya yang sama dengan nama putra pertama saya. Yudha dengan huruf 'h'. Hehe~

Novel ini memang tipis, hanya 191 halaman sehingga cepet banget dituntaskan. Tapi justru ceritanya padat dan langsung  to the point, nggak berputar-putar.
Konfliknya memang nggak serta merta terungkap, baru setelah beberapa bab saya tahu alasan apa yang membuat Maira pergi. Kenapa Donna memberi pengaruh yang begitu besar dan apa sebenarnya kabar yang dibawa Donna.

Novel ini diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan fokus utamanya pada Maira dan Yudha. Bergantian saya dibawa menyelusuri kegundahan mereka masing-masing, bagaimana perang batin dalam diri mereka. Ditambah lagi, diksi yang digunakan Riawani Elyta membuat saya terhanyut dalam mengikuti kisah ini.
Dan nggak tahu bagaimana, mungkin karena gaya berceritanya, atau diksinya yang puitik, atau dialognya, atau mungkin temponya, kok ya saya malah kebayang adegan-adegan ini berasa di dalam film jadul. Saya kok kebayangnya Yessy Gusman sama Rano Karno yang memerankan kisah ini. Huwahaha~ astagaa imajinasi sayaah!

Semua tokoh dalam karakter ini terasa dewasa bagi saya. Entah berapa umur mereka, saya lupa ada disebutkan atau enggak, semua punya cara pikir yang logis. Terutama cara berpikir Donna, yang belakangan malah mencuri simpati dan perhatian saya.

Yang paling saya suka dari novel ini adalah detail settingnya. Terutama ketika sampai di Anak Krakatau. Sejak awal memang nuansa pencinta alamnya sudah kental, karena ketiga tokoh utamanya: Maira, Yudha dan Andri adalah pencinta alam. Namun penggambaran situasi Anak Krakatau itu yang juara. Saya suka banget dengan detail-detailnya.

Secara keseluruhan saya suka novel ini. Meski tipis tapi menyajikan cerita yang mendalam. Tentang sebuah perjalanan. Tentang sebuah kepercayaan. Tentang memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.


TEBAR-TEBAR QUOTE

"Pernikahan nggak selamanya menjadi gembok besar yang menghalangi kesempatan orang lain untuk memasukinya selama yang empunya juga selalu alpa memasang gembok itu rapat-rapat." (hlm. 53)

"Rintangan ada untuk kita hadapi dan taklukkan, bukan untuk dihindari apalagi sampai mencari pelampiasan jika merasa tak sanggup menghadapinya." (hlm. 117)

Rabu, 03 Februari 2016

[Resensi: Wheels and Heels - Irene Dyah] Ketika Cinta Menyingkap yang Ada Di Balik Roda dan Sepatu Hak Tinggi


Judul buku: Wheels and Heels
Penulis: Irene Dyah Respati
Editor: Pradita Seti Rahayu
Penerbit: Elex Media Kompitindo
Tahun terbit: 2015
Tebal buku: 310 halaman
ISBN: 978-602-02-7547-5
Book available at: Bukupedia.com



BLURB

Pangeran memalsukan citra saat bertemu Cinderella di belantara
Cinderella memalsukan busana saat berdansa dengan Pangeran di Istana
Dan toh, mereka bahagia selamanya


Abhilaasha tak bisa lepas dari gaun mewah, high heels, dan dunia gemerlapnya. Sedangkan, Aidan selalu lekat dengan kemeja aneh, serbakaku, dan dunia otomotifnya.

Dua dunia berbeda itu mempertemukan Abby dan Aidan.

Mereka berperan, berpura-pura, beradu dalam rahasia.

Ketika kejujuran ditunjukkan oleh masing-masing pemeran, apakah semua akan tetap sama?


RESENSI

Abhilaasha atau yang biasa dipanggil Abby dari luar tampak seperti gadis glamour. Betapa tidak, dengan kaki jenjang, wajah cantik dan tubuh sempurna, Abby seolah begitu nyaman bekerja sebagai usher dan talent.
Ketika menjalani pelatihan produk untuk motor show, Abby bertemu dengan Aidan, sang trainer yang kaku dan serius tapi berulang kali tertangkap mata sedang memelototi kaki Abby!
Entah mengapa Aidan gampang memerah dan tak mau memandang wajah Abby, berulang kali Aidan lebih suka menatap langit-langit ruangan ataupun kaleng kerupuk daripada menatap Abby. Hingga niat iseng Abby muncul karenanya.
Satu pertemuan disusul pertemuan yang lain. Lama-lama Abby menyadari betapa Aidan sangat misterius. Kadang pria itu tampak malu-malu dan grogi, tapi terkadang tampak berseri-seri mendekati Abby, lain kali begitu serius dan kebanyakan waktu selera humornya garing parah.
Tapi mereka masing-masing punya rahasia sendiri. Jati diri yang mereka selubungi. Latar belakang Abby. Latar belakang Aidan. Semua tak seperti apa yang terlihat dari luar.
Abby pun lalu merasa ada jurang yang memisahkan mereka. Akankah mereka bisa membangun jembatan di atasnya atau malah memperlebar jarak jurang mereka? Ataukah sebenarnya jurang itu hanyalah sebuah ilusi saja?

-------------

Wheels and Heels. Judulnya matching ya. Hehe~ Seperti yang kita tahu, mobil dan wanita memang nggak bisa dipisahkan. Di setiap pameran mobil terutama mobil mewah, pasti ada wanita-wanita cantik yang mengobral senyum padahal setengah mati tersiksa dengan high heels yang mereka pakai.
Wanita-wanita yang seolah cuek saja ditatap judes sama ibu-ibu rese atau dipelototin mata-mata pria nakal yang minta diculek.

Yah inilah yang coba diungkap novel Wheels and Heels. Abby sangat mewakili para usher dan talent yang kadang harus pasrah ditatap sinis karena profesi mereka tapi dipuja para fotografer dan kamera.
Saya suka banget ide profesinya yang fresh dan juga sifat yang ditanamkan pada para tokohnya.

Wheels and Heels diceritakan menggunakan POV orang pertama dari sudut pandang Abby. Plotnya rapi dan ceritanya mengalir dengan begitu alami. Naik-turunnya hubungan Abby dan Aidan benar-benar bikin gemas.

Saya suka banget karakter-karakter dalam novel ini. Saling bertolak belakang dan kontras banget. Abby rada-rada konyol. Kadang. Cewek cantik memang rata-rata pede ya, langsung ngerasa kalau ada cowok yang merhatiin. Untung bukan cuma kege-eran. Haha. Saya suka karena dia punya prinsip. Dan lumayan drama juga. Haha~
Nicolette lebih asyik lagi. Blak-blakan, ketus, sinis tapi perhatian banget. Sahabat yang nggak sungkan-sungkan ngomong kalau Abby salah, yang berani mengkritik tapi perhatian nggak ketulungan.
Dan Aidan... ya ampuuun, ngegemesin gilak! Ada ya pria mapan, ganteng dan pintar tapi malu-malu sama wanita. Dan selera humornya yang parah itu... duh Aidan beneran harus sering-sering diseret nonton standup comedy.

Hal yang suka dari Irene Dyah adalah caranya membangun emosi yang kuat antar tokoh. Interaksi antar tokohnya selalu asyik dan chemistry-nya terasa kental. Hubungan tokohnya selalu cair bahkan dengan karakter yang kaku dan serius. Dialognya terasa hidup bahkan meski dengan kalimat baku.

Konflik Wheels and Heels bisa saya bilang masih terlalu ringan. Saya kira konflik di Tambora itu bakal jadi konflik yang menajam, dan sempat berpikir kok konfliknya klise begini. Tapi oh tapi, ternyata ini konflik yang mudah diselesaikan dan menjadi twist yang melegakan.

Covernya polos-polos unyu deh. Simple, dan warna mobil sama high heelsnya kontras dengan warna latar dan judul. Manis, tapi masih kurang mengundang bagi saya.
Di bagian dalam, gambar bunga matahari langsung menangkap perhatian saya. Cantik. Dan saya suka bagaimana di awal bab selalu diawali dengan status update-an facebook Abby. Lucu-lucu. Dan kini, setiap melihat milo saya pasti akan ketawa karena teringat Abby dan Aidan. Duh.

Akhirnya saya simpulkan saya sukaaaa novel ini. Saya suka gaya bertutur Irene dan nggak akan mikir dua kali buat baca karya-karya beliau berikutnya. Saya rekomendasikan novel ini buat kalian yang suka novel ringan dengan karakter yang nggak keberatan untuk terlihat konyol dan bodoh di depan pembacanya. Saya saja dibuat menangis dua kali dan ngekek ribuan kali.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon