Tampilkan postingan dengan label Courtney Milan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Courtney Milan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Desember 2017

[Resensi] Skandal Sang Duchess - Courtney Milan

Judul buku: Skandal Sang Duchess
Judul asli: The Duchess War
Series: Brothers Sinister #1
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A. W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2016
Tebal buku: 480 halaman
ISBN: 978-602-03-3290-1



BLURB

Miss Minerva Lane terkenal pendiam, dan ia ingin tetap seperti itu, karena kali terakhir ia menjadi pusat perhatian, hal itu berakhir sangat buruk sampai ia terpaksa mengganti nama untuk meninggalkan masa lalunya yang penuh skandal. Jadi ketika seorang duke tampan muncul, ia sama sekali tidak menginginkan perhatiannya. Tetapi justru itulah yang ia dapatkan.

Robert Blaisdell, Duke of Clermont, memiliki misi penting yang amat dirahasiakan. Karena itu, ia terkejut ketika Minnie berhasil mengungkap rencananya. Robert menyadari di balik sifat pendiam Minnie, ada kecerdasan yang membahayakan. Maka ia bertekad menguak skandal masa lalu Minnie sebelum wanita itu mengungkap rencananya lebih jauh. Tapi si nona pemalu terbukti merupakan lawan yang lebih tangguh...

RESENSI

Setelah membaca The Governess Affair sebagai novella yang mengawali seri Brothers Sinister, saya cukup bersemangat untuk lanjut ke novel pertamanya yaitu The Duchess War atau Skandal Sang Duchess. Hmm... yang menarik dari pandangan pertama tentunya adalah cover version-nya yang berbeda dengan cover version aslinya. Saya suka dengan gambar bidak-bidak catur di situ, karena maknanya lebih mewakili dibanding cover sosok seorang wanita.
Beberapa kali membaca karya Courtney Milan, terutama seri Turner, membuat saya menyadari betapa saya mengagumi penulis ini. Dalam karya-karyanya, Courtney Milan selalu memberi tokoh utamanya sebuah kekurangan. Hal inilah yang saya temui ketika membuka halaman pertama The Duchess War. Ya, Minnie atau Miss Willhelmina Pursling adalah seorang wanita yang memiliki bekas luka di wajahnya dan dianggap membosankan.

"Menurutku dia akan muat dengan pas. Sebagai istri, Mrs. Pursling akan seperti buku-buku ini. Saat aku ingin mengeluarkan dan membacanya, dia akan ada di sana. Saat aku tidak ingin, dia akan menunggu dengan sabar, persis di tempat dia ditinggalkan. Dia akan menjadi istri yang penurut untukku, Ames. Selain itu, ibuku menyukainya." (hlm. 12)

Miss. Pursling mungkin adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan istri bagi kalangan atas di masa itu. Kritik sosial yang disampaikan dalam novel ini jelas adalah menyinggung perilaku para prianya yang menjadikan wanita sebagai alas kaki, yang dianggap bodoh dan hanya sebagai hiasan pelengkap. Tapi tunggu. Benarkah heroine kita di novel ini adalah makhluk penakut dan pasrah menerima keadaan?
Rupanya Miss. Pursling hanyalah topeng yang digunakan oleh Minerva Lane untuk menutupi jati dirinya, karena Minnie yang asli takut orang-orang akan mengetahui skandal yang pernah ia alami yang telah mengakibatkan luka di wajah dan rasa sakit jauh di dalam hatinya. Jika pada awalnya saya sempat merasa kecewa, pada akhirnya saya sangat menyukai Minnie. Ia ahli dalam berstrategi, otaknya bagai mesin yang penuh hal-hal yang mencengangkan, ia berani dan nggak gampang digertak.
Berbeda halnya dengan Robert Blaisdell, Duke of Clermont, yang menurut saya biasa saja. Saya telah membaca The Governess Affair, dan saya tahu betapa menjijikkannya ayah Robert yang mewariskan gelar Duke of Clermont. Saya merasa bersimpati dan memahami mengapa Robert menjadi begitu terobsesi untuk menjadi perjaka. Ia nggak mau melakukan kesalahan dan kebejatan yang sama seperti yang dilakukan ayahnya. Sayangnya, ini membuat Robert terlalu "baik" dan terlalu polos, sehingga acara seksual pertama mereka terasa sedikit aneh :')

Konflik dalam novel ini sangat seru, karena begitu kompleks. Pembaca bukan hanya diajak mengikuti perkembangan hubungan Minnie dan Robert yang naik-turun, tapi juga perkembangan politik pada masa itu, bagaimana Robert berusaha menghapuskan hak-hak para bangsawan dan memberi hak-hak yang lebih manusiawi kepada para buruh industri. Kesungguhan Courtney Milan dalam melakukan riset untuk membangun latar waktu dan suasana, terlihat jelas dalam novel ini.

Sebagai buku pertama dari sebuah serial, kemunculan Oliver Marshall, Sebastian Malheur, dan Violet Waterfield dihadirkan dengan porsi yang pas untuk memancing rasa penasaran. Kebersamaan mereka juga banter yang mereka lakukan begitu menggelitik dan menarik minat. Bagi saya, jujur saya sangat tertarik dengan hubungan Sebastian dan Violet yang terlihat kompak dan seolah menyimpan sesuatu. Ehem.

Bagian favorit saya, adalah hubungan Robert dengan ibunya dan hubungan Robert dengan ibu Oliver. Sebenarnya saat ibu Oliver memeluk Robert itulah yang paling bikin saya mewek. Untunglah penerimaan yang mereka tunjukkan dan berikan belum terlambat. Untunglah Robert masih bersedia menanti dan nggak jadi pria yang pahit.

Well, bagi saya The Duchess War menjadi novel historical romance yang layak dibaca karena bangunan konflik dan plotnya yang apik. Dan saya sudah nggak sabar untuk melanjutkan petualangan dengan brothers sinister selanjutnya 😉




Selasa, 26 September 2017

[Resensi: Skandal Sang Governess - Courtney Milan] Adu Tekad Serigala dan Governess

Judul buku: Skandal sang Governess
Judul asli: The Governess Affair
Series: The Brother Sinister #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Eka Budiarti
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-3358-8



BLURB

Ketika reputasinya dihancurkan oleh seorang duke, Serena Barton tidak menyerah. Terlebih ketika ia kehilangan pekerjaan sebagai governess, tanpa kenal malu dan takut, ia menuntut kompensasi dari sang duke. Ternyata, bukan sang duke yang membuat Serena gentar, melainkan pengelola bisnis pria itu, sang Serigala Clermont, yang ditunjuk untuk menangani Serena.

Hugo Marshall pria yang sangat kompeten dalam pekerjaan. Masalah dalam wujud governess yang suka mengganggu hanya soal kecil. Sayangnya, cara baik-baik tidak mempan untuk Serena. Hugo memutar otal, tapi semakin ia mengenal Serena, semakin sulit ia menemukan cara paling tepat untuk menaklukkan sang governess...

RESENSI

Sekali lagi Hugo Marshal harus membereskan masalah yang dibuat oleh Duke of Clermont. Kali ini sang duke bukan saja membuat sang duchess kabur—yang kemungkinan bisa berakibat fatal pada keuangan dan masa depan Hugo—tapi juga membuat marah seorang governess keras kepala. Hugo tahu, ia harus segera membereskan apapun tuntutan yang dibuat sang governess sementara Clermont pergi mengejar dan membujuk duchess-nya.
Sayangnya Serena Barton bukanlah wanita yang mudah digertak. Kekuatan tekadnya untuk tak mudah kalah membuat Hugo harus mengakui ia mendapat lawan yang sepadan. Perlahan, hatinya bertentangan, antara menunaikan kewajiban dan memuaskan hasratnya sendiri.
Saat akhirnya Hugo mengetahui skandal yang sesungguhnya sedang ia hadapi, semua sudah terlambat. Hugo harus bertempur, menyingkirkan Serena demi meraih mimpinya atau harus rela kehilangan lima ratus pound dan menyerah kalah pada hantu masa lalunya.

-------------------------

 "Menikahlah denganku." 
"Aku sedang bertanya-tanya kapan kau akan mulai mengancamku dengan nasib yang lebih buruk dibandingkan kematian. Selamat, Mr. Marshall. Sekarang aku benar-benar takut."(hlm. 73)

Cukup lama waktu berselang sejak saya menuntaskan membaca novella pembuka serial The Brother Sinister dan mengulasnya di sini. Bagaimanapun juga saya akui, mood baca novel romance saya lumayan merosot tajam, bahkan bisa dibilang nol. Untunglah buku-buku sastra masih bisa memuaskan hasrat membaca saya, meski saya harus susah payah mereviewnya.
Novella Skandal Sang Governess ini tadinya hanya buku asal comot di timbunan sebagai teman saya berada di ruang tunggu puskesmas. Sebulan ini, saya memang terlalu akrab dengan puskesmas karena kedua putra saya bergiliran jatuh sakit. Saya pun berhasil menuntaskan novella ini sambil menunggu hasil cek darah putra saya. Courtney Milan memang seorang pencerita yang handal karena sanggup membawa saya larut ke dalam dunianya dan memudarkan kecemasan saya.

Diceritakan dengan berlatar di London pada tahun 1835, The Governess Affair menyajikan plot yang menarik. Sedari awal sudah muncul ketertarikan di antara kedua tokoh utamanya yang terasa manis tapi juga ironis, karena masing-masing harus berperan sebagai pihak yang bertentangan.

"Kau paham benar apa yang terjadi. Kita salig tertarik, dan itu menyusahkan." (hlm. 79)

Novella ini murni hanya mengulik kisah asmara antara sang hero dan heroine-nya saja tanpa hal yang menarik di mata saya. Berbeda dengan novella pembuka serial ini, A Kiss for Midwinter, yang menampilkan lika liku sang hero yang berprofesi sebagai dokter.
Dalam Skandal sang Governess ini, Hugo yang merupakan pengelola bisnis milik seorang duke pun tak terlihat mencolok dalam profesinya, begitu juga dengan Serena yang tadinya adalah seorang governess. Namun bukan berarti novella ini menjadi kurang kuat, justru naik turunnya hubungan antara Hugo dan Serena membuat saya nggak sanggup untuk berhenti membaca hingga tuntas.

Courtney Milan selalu bisa membuat satu adegan simple yang manis dan menyentuh. Dalam buku tipis ini, ada dua adegan yang membuat saya jatuh hati pada Hugo dan Serena; yang pertama adalah reaksi yang muncul ketika Hugo menyiksa Serena saat hujan lebat, dan yang kedua adalah malam pertama mereka saat Hugo dan Serena saling bertukar jepit permohonan. Aih... aih.... sungguh saya dibuat meleleh oleh pasangan ini.

Bagian yang paling menarik disajikan dalam epilog: Penutup & Permulaan. Memang salah saya sendiri yang melewatkan membaca buku pertama serial Brother Sinister dan langsung membaca novella yang terhitung sebagai buku ke 1,5 ini, sehingga saya jadi penasaran akan bab epilognya. 
Yah... mungkin ini tandanya saya harus membaca buku pertama serial ini sesegera mungkin. Bulankah begitu? 😅

Jumat, 24 Februari 2017

[Resensi] A Kiss for Midwinter - Courtney Milan

Judul buku: Ciuman Musim Dingin
Judul asli: A Kiss for Midwinter
Series: The Brother Sinister
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Martha Widjaja
Desain sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 184 halaman
ISBN: 978-602-03-3322-9



BLURB

Miss Lydia Charingford selalu tampak ceria. Namun sekuat apa pun ia berusaha tersenyum, ia tak dapat melupakan aib masa remaja yang dapat menghancurkan reputasinya. Ketakutan itu kembali muncul setelah ia bertemu lagi dengan Jonas Grantham, salah satu dokter yang mengetahui rahasianya. Ia tak ingin berurusan dengan Jonas, tetapi pertemuan mereka malah berakhir dengan taruhan konyol yang melibatkan sebuah ciuman. Seperti Lydia, Jonas pun menyimpan rahasia. Ia menanggung rasa bersalah terhadap wanita itu, dan kini setelah mengetahui Lydia berhasil melanjutkan hidup, ia malah jatuh cinta padanya. Meski Lydia terang-terangan menolak Jonas, dengan memanfaatkan taruhan mereka, ia bertekad akan memenangkan hati wanita itu. 


RESENSI

Sebelum memulai kuliah kedokterannya di King's College di London, Jonas Grantham diizinkan menghabiskan waktu bersama Dokter Parwine. Ia sepakat mengambil alih praktik pria itu usai menyelesaikan pendidikan. Saat itulah pertama kalinya Jonas bertemu dengan Lydia Charingford, gadis berusia limabelas tahun, yang tengah hamil dan divonis menderita miasma. Hal yang menurut Jonas mustahil tapi ia tak mampu bersuara.
Lima tahun berselang, Jonas telah mengambil alih praktik Dokter Parwine dan menjadi seorang dokter di Leicester. Ia pun berniat mencari istri. Ia kembali bertemu Lydia yang menurutnya menempati peringkat sebelas dalam daftar wanita tercantik di Leicester. Namun Lydia yang masih mengingat jelas siapa Jonas merasa Jonas hanya ingin merendahkannya. Gadis itu membenci Jonas dan curiga Jonas hanya ingin mengoloknya.
Jonas yang telah bertekad menjadikan Lydia sebagai miliknya tak kurang akal. Ia menantang Lydia dalam sebuah pertaruhan. Jika ia menang, ia menginginkan ciuman Lydia, tapi jika ia kalah, ia akan menyanggupi permintaan Lydia untuk tak berbicara dengannya. Bersamaan dengan bunyi lonceng natal di pertengahan musim dingin, siapakah yang akan menang?

-----------------------

"Kau hanya wanita tercantik kesebelas di seluruh Leicester sampai kau membuka mulut. Begitu kau berbicara, tidak ada yang dapat menandingimu." (hlm. 82)

Sejak membaca seri Turner, saya dibuat jatuh cinta dengan karya Courtney Milan. Apalagi saat saya mengetahui riset apa saja yang sudah ia lakukan untuk karya-karyanya. Namun seorang teman pernah berkata kalau karya Courtney Milan yang berjudul Ciuman Musim Dingin, yang diterjemahkan dari A Kiss for Midwinter, lumayan membosankan dan kurang bagus. Maka, saya pun mengawali membaca novela ini tanpa ekspektasi yang tinggi. Saya tetap ingin membacanya karena bagi saya, sekali saya jatuh cinta pada karya seorang penulis, saya akan terus membaca karya-karyanya yang lain, entah karya tersebut bagus atau tidak. Maka, berikut adalah kesan saya seusai membaca novela ini.

A Kiss for Midwinter dibuka dengan adegan pembuka saat pertama kalinya Jonas Grantham bertemu dengan Lydia Charingford di Leicester pada September 1857. Pertemuan yang cukup suram dan mengguncang, tapi membekas begitu dalam di benak keduanya. Hingga lima tahun kemudian mereka bertemu kembali dan memulai perseteruan.
Untuk setting tempat memang kurang digali dan kurang dipaparkan dengan detail. Namun untuk setting waktu, terasa menarik terutama dilihat dari sisi dunia medis. Digambarkan betapa Jonas Grantham berusaha mengubah persepsi orang-orang tentang hal yang dianggap tabu oleh masyarakat. Yang sayangnya, bahkan di era modern ini, masih dianggap tabu oleh sebagian masyarakat di beberapa wilayah tertentu.

"Aku bukan perjaka. Kau juga bukan perawan. Bahkan jika kau masih perawan, kita berdua tidak perlu bersikap malu-malu mengenai persoalan ini. Jika wanita cukup umur untuk mengeluarkan anak seberat empat setengah kilogram dari saluram kelahiran, dia boleh mendengar kata seperti 'alat kelamin pria' dan 'rahim'. Ini istilah medis, Miss Charingford, bukan kata-kata kotor." (hlm. 74)

Bukan hanya blak-blakan dan ketus, Jonas Grantham dilukiskan sebagai dokter muda yang cerdas dan terbuka dalam menerima perubahan dalam dunia medis. Ia menentang cara-cara medis lama dan melakukan hal-hal baru seperti mencuci tangan saat memeriksa pasien. Sifatnya yang terlalu terus terang dan bicara apa adanya, memang membuatnya sering bertengkar dengan Lydia dan membuatnya bermasalah dalam menghadapi sang ayah.

Lydia sendiri adalah heroine yang tangguh. Setelah mengalami peristiwa nggak menyenangkan di usianya yang baru limabelas tahun, Lydia belajar banyak. Saya menangkap kesan betapa ia tetap bersikap optimis dan ceria, walau hati terdalamnya menangis. Satu-satunya orang yang ia pandang dengan pesimis, skeptis dan curiga hanyalah Jonas.
Sungguh menyenangkan membaca interaksi keduanya; Lydia yang benci dan ingin menyingkirkan Jonas sejauh-jauhnya dengan Jonas yang tenang dan blak-blakan, merayu dengan caranya sendiri yang sungguh terasa manis.

Bagi saya novel dengan premis hubungan love-hate memang selalu saya sukai. Apalagi kalau dibumbui beberapa hal menarik dan diramu dengan apik, sedemikian halnya dengan A Kiss for Midwinter. Latar dunia medisnya yang bergerak dari cara lama ke cara baru membuat saya tergelitik, dan Courtney Milan menuliskannya dengan gaya bertutur yang enak dibaca. Penerjemahannya sendiri rapi dan memuaskan, pilihan diksinya pun sangat baik.

Seolah hubungan intim dan hasrat sensual hanya... suatu hal. Hal biasa, fungsi tubuh, dan bukan topik memalukan. Seolah gairah, seperti kebenaran, dapat menjadi anugerah dan bukan hanya sumber rasa malu dan takut.  (hlm. 159)

Selain naik turunnya hubungan Jonas dan Lydia, novela ini juga dibumbui dengan keresahan Jonas menghadapi ayahnya. Rasa cintanya pada sang ayah yang sakit dan keras kepala. Rasa frustasinya berusaha membujuk sang ayah begitu kental. Bahkan saya sempat menangis juga saat konflik mereka mencapai klimaks. Courtney Milan selalu bisa memberi nuansa kekeluargaan yang lumayan muram tapi sangat kental dalam novel-novelnya, dan kali ini tertuang melalui hubungan ayah dan anak Grantham.

Secara keseluruhan, saya puas membaca novela ini. Dengan jalan cerita yang menarik dan isu kesehatan di tahun 1800-an, kisah dalam novela ini memikat dan menyentil dalam waktu bersamaan. Saya rekomendasikan novela ringan ini buat kalian pencinta historical romance terutama kisah tentang love-hate relationship.

Kamis, 03 November 2016

[Resensi] Unlocked - Courtney Milan

Judul buku: Membuka Hati Sang Lady
Judul asli: Unlocked
Seri: Turner #1,5
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Harisa Permatasari
Proof: Nindy
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2013
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 978-602-03-0090-0



BLURB

Lady Elaine Warren tidak menyukai pesta. Ia selalu menjadi bulan-bulanan karena tawanya yang dianggap terlalu keras dan seperti kuda. Itulah sebabnya ia sengaja tak menonjolkan diri dan berusaha tidak menarik perhatian dalam setiap acara. Dan semuanya baik-baik saja, sampai pria itu kembali. Pria yang hanya akan membuatnya sengsara seperti dulu. Namun ia bertekad takkan membiarkannya menang.

Evan Carlton, Earl of Westfeld, sangat populer dan berpengaruh. Terlalu berpengaruh hingga olok-oloknya terhadap Elaine bertahun-tahun lalu bertahan hingga kini. Evan tahu perilakunya di masa lalu tak terpuji, dan sekarang bertekad akan memperbaikinya. Namun ketika Elaine mengabaikan permintaan maafnya, Evan menyadari ia menginginkan lebih. Dan kali ini, yang menyiksanya mungkin cintanya kepada wanita itu... 


RESENSI

Setelah sepuluh tahun meninggalkan London dan berpetualang mendaki gunung, Evan Carlton kini kembali ke ton sebagai Earl of Westfeld setelah kematian ayahnya. Dulu Evan adalah anak emas—tampan, populer dan disukai semua orang. Ia gemar melontarkan lelucon yang membuat orang-orang tertawa paling nyaring, termasuk Lady Elaine.
Sejak awal season, Evan telah terpesona pada Lady Elaine, namun merasa malu ia membuat lelucon konyol tentang tawa Lady Elaine yang mirip kuda. Semua orang tertawa, dan mulai mengolok Lady Elaine. Evan baru menyadari kesalahannya saat Elaine mulai menarik diri. Rasa bersalah Evan pun membuatnya melakukan tindakan pengecut dengan kabur dari London.
Elaine tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Evan. Meski berusaha tegar dan tak memedulikan ejekan orang-orang, jauh di dalam dirinya ia merasakan sakit hati terhadap Evan. Namun kini, pria itu kembali dan menyatakan permintaan maaf dan bahkan melamarnya. Apakah ini hanya trik perangkap lain untuk mempermalukannya? Ataukah Evan memang bersungguh-sungguh?

------------------

Unlocked atau Membuka Hati Sang Lady adalah novella tambahan untuk seri Turner. Tadinya saya berharap, Courtney Milan akan menuliskan kisah Richard Dalrymple. Namun karena minat asmara Richard cenderung menyimpang, tentunya bakal sulit menuliskannya. Dan jujur saja saya sama sekali nggak punya bayangan tentang siapa Lady Elaine dan Evan Carlton, serta apa hubungan mereka dengan kakak-beradik Turner. Baru di pertengahan cerita disebutkan bahwa Elaine pernah disebut-sebut sebagai calon potensial untuk Mark Turner, dan bahwa ia juga merupakan teman dekat Margareth, Duchess of Parford.
Itu sebabnya saya merasa novella ini bisa dinikmati bahkan meski pembaca belum mengenal Turner bersaudara. Karena kehadiran Ash, Margareth dan Mark hanya muncul sekilas, itu pun mendekati akhir cerita.

Unlocked bersetting di Hampshire di bulan Juli tahun 1840, tentunya setting di mana Ash telah menikah dengan Margareth dan Mak masih melajang. Meski berupa novella, Courtney Milan tetap saja detail dalam menuliskan settingnya, membuat tempat dan suasana terbentuk dengan mudah di benak saya. Bukan dalam bentuk narasi-deskripsi panjang yang melelahkan, namun diselipkan dalam adegan-adegan yang penting, sehingga semakin memperkuat jalinan kisahnya.

Dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga, novella ini memuaskan batin saya dengan curahan perasaan Evan yang melimpah di dalamnya. Sudut pandang yang saya suka banget. Plotnya begitu rapi dan mengalir. Saya sendiri masih tetap tergila-gila pada cara bertutur Courtney Milan, bayangkan saja, saya nangis DUA KALI membaca novella ini, ditambah berlinang air mata satu kali.
Memang nggak bisa dipungkiri kalau kisah love-hate relationship adalah favorit saya. Benci jadi cinta. Bagaimana sang hero kemudian berusaha keras mendapatkan hati sang heroine. Saya selalu jatuh cinta pada kisah klise ini. Tapi Courtney Milan menuliskannya dengan begitu apik dan menyentuh.

Karakter Evan sungguh dewasa, terlepas dari sikap sembrononya di masa muda: pria muda yang populer tapi melakukan kesalahan pada gadis yang dipujanya. Keputusannya untuk lari meninggalkan London memang pengecut, tapi ia mengubahnya menjadi petualangan yang membentuk pribadinya. Perjalanannya menaiki gunung membuatnya sadar. Lagi-lagi Courtney Milan menunjukkan kepiawaiannya dalam membuat detail tentang profesi Evan.
Saya suka bagaimana Evan berusaha bersikap gentleman, dan juga tak ragu mengungkapkan perasaannya.
Elaine di sisi lain merupakan gadis yang kuat hati. Ejekan dan cemoohan yang diterimanya membuatnya menjadi teguh. Ia begitu cerdas dalam membalikkan ejekan Diana, dan menantang mereka semua dengan berani.

Kalau ditanya adegan mana yang saya suka dalam novella ini, jawabanya adalah semua. Saya suka adegan-adegannya, saya suka dialognya, saya suka penggambaran suasananya, dan juga suka suara serta kepedihan hati Evan.

"Aku akan menjadi temanmu pada siang hari. Aku akan memperlakukanmu sebagai rekan setara di semua ruang dansa terang benderang. Tapi sendirian, di bawah cahaya bulan, aku takkan berpura-pura tidak menginginkanmu menjadi milikku." (hlm 136)

Konfliknya bukan hanya tentang usaha Evan mendapatkan maaf dan hati Elaine, tapi juga konflik antara Diana dan Elaine. Diana merupakan bangsawan yang masih berpegang bahwa ia harus menindas agar tidak ditindas. Perannya sebagai antagonis dalam novel ini sangat pas dan ngeselin banget. Ia mengejek, melakukan trik licik, mencari-cari kelemahan Elaine untuk menindasnya, dan menolak gagasan Evan untuk menghentikan cemoohannya.
Penyelesaian konfliknya memang bisa ditebak. Tapi toh tetap terasa manis. Aaahhh pokoknya saya suka dengan endingnya.

Secara keseluruhan, Unlocked menjadi kisah tambahan yang sama memesonanya seperti kisah tiga bersaudara Turner. Bahkan novella inilah yang paling menyentuh saya. Jadi bagi kamu penyuka kisah cinta yang manis silakan baca Unlocked.

Rabu, 02 November 2016

[Resensi] Unraveled - Courtney Milan

Judul buku: Sang Hakim dan Sang Penyaru
Judul asli: Unraveled
Seri: Turner #3
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Harisa Permatasari
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 448 halaman
ISBN: 978-602-03-0342-0



BLURB

Sebagai hakim, Smite Turner yang juga dikenal sebagai Lord Justice sangat berdedikasi terhadap tugasnya. Namun di balik itu semua, tak hanya ada keteguhan untuk melakukan apa yang benar, tapi juga rahasia masa lalu yang terus menghantui. Dan Smite bertekad akan terus menyembunyikan rahasia tersebut meski itu berarti ia harus menjaga jarak dengan semua orang—hingga suatu hari muncullah wanita mencurigakan di pengadilannya...

Selama ini Miranda Darling selalu sukses menjalankan tugasnya, setidaknya sampai ia bertemu Lord Justice. Miranda tahu seharusnya ia melarikan diri jauh-jauh ketika pria itu mengancam akan memenjarakannya. Namun ia tak sanggup melakukannya, apalagi setelah ia mengenal pria itu, dan mulai menyibak rahasianya...

RESENSI

Sekali lagi Miranda Darling menyamar dan mendatangi sidang yang dipimpin oleh Smite Turner. Ia telah melakukannya beberapa kali dan berhasil tanpa ketahuan. Sebenarnya ia ragu melakukannya karena ia merasa Smite Turner atau yang lebih dikenal sebagai Lord Justice sangat mengerikan. Namun Miranda tak mampu menolak perintah Sang Patron. Bagaimana pun ia berhasil hidup di jalanan tanpa disentuh para kriminal, karena perjanjiannya dengan Sang Patron. Miranda akan melakukan apa yang diperintahkan Sang Patron, dan Sang Patron akan menjamin keamanannya dan keamanan Robbie.
Namun mata dan ingatan Smite tak bisa ditipu. Ia tahu persis bahwa Miranda telah datang beberapa kali di sidangnya dengan menyamar. Mengikuti instingnya, Smite membuntuti Miranda hingga ke sudut paling kumuh di Bristol. Niat awal Smite adalah memperingatkan Miranda untuk jangan datang lagi ke persidangannya dan mengambil risiko melakukan kesaksian palsu. Namun, Smite tak menyangka, gadis kurus dan biasa itu berhasil memikatnya. Dan Smite pun menawarkan perjanjian. Menjadikan Miranda sebagai wanita simpanan selama sebulan, dan sebagai balasannya Miranda mendapatkan rumah dan uang agar Miranda bebas dari kehidupan jalanannya. Hanya saja, tak boleh ada kasih sayang di antara mereka.
Miranda pun setuju.
Hanya saja, Sang Patron rupanya tak berniat melepaskan Miranda. Seolah, ia punya rencana yang melibatkan Miranda.
Bisakah Miranda lepas dari ikatan perjanjiannya dengan Sang Patron? Dan setelah satu bulan, akankah hubungannya dengan Smite berakhir?

------------------

Dari pertama kali mengikuti seri Turner, saya sudah jatuh cinta pada Smite. Bagi saya, Smite itu unik. Rumit. Karakter hero yang jarang-jarang saya temui. Dia dingin, menjaga jarak, padahal bergelimang kasih sayang dari kakak dan adiknya. Saya juga dibuat penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Bukan dari sudut pandang Ash, bukan dari sudut pandang Mark, tapi dari sudut pandang Smite sendiri. Mengapa Smite jadi terlalu keras pada diri sendiri?

Bersetting di Bristol pada tahun 1843, novel historical romance ini nggak bergelimang gaun indah dan pesta dansa. Ini kisah tentang kehidupan jalanan yang keras. Antara hukum yang sesuai undang-undang dan hukum jalanan. Dan tentang sang magistrat yang terbelah antara prinsip yang dipegangnya dan belas kasih yang mulai dikenalnya sejak bertemu dengan Miranda. Saya suka dengan settingnya, terutama setting suasananya. Benar-benar menggambarkan Bristol di abad 19 secara detail. Dari catatan penulis di halaman terakhir novel ini, saya juga mendapati mengapa kisah ini begitu matang. Riset yang dilakukan oleh Courtney Milan sungguh luar biasa. Courtney Milan bahkan sampai mendatangi Kantor Berkas Bristol demi untuk memperdalam tulisannya tentang perilaku para magistrat. Segala kisah tentang banjir di Somerset, kerusuhan Bristol tahun 1831, Undang-Undang Reformasi, Municipal Corporations Act, SS Great Britain, bahkan hal seremeh surat tilang yang diterima Richard Dalrymple pun diriset dengan sungguh-sungguh. Keren.

Plot Unraveled atau Sang Hakim dan Sang Penyaru ini sungguh rapi. Alurnya mengalir maju dan apa yang terjadi di masa lalu muncul sekilas-sekilas dalam momen yang pas. Saat Smite mengunjungi penjara dan mendengar suara kecipak air yang berasal dari hukuman yang harus dihadapi para tahanan, kengerian masa lalunya muncul. Begitu juga dengan masalah usangnya dengan Dalrymple, alasan mengapa mereka berseteru muncul dengan alami. Saya rasa cara bercerita Courtney Milan memang enak untuk diikuti, disamping penerjemahan dari pihak GPU yang juga rapi dan apik.

Untuk tokohnya, Smite benar-benar semakin bikin saya jatuh hati. Sebagai hakim, ia tegas, tajam dan mau mendengarkan. Ia menelaah dan nggak asal membuat keputusan seperti magistrat lain. Dan yang bikin saya mengidolakan Smite adalah ingatannya yang luar biasa. Ia mengingat apa saja dengan mudah, bahkan hal remeh sekalipun. Tragedi yang ia lalui memang membuatnya trauma, tapi bukannya menyembuhkan diri, Smite menjadikan tragedi itu sebagai pengingat prinsipnya. Hanya pria yang punya tekad besar dan kekuatan diri yang bisa begitu.
Di Unveiled, Ash memiliki kekurangan yang sangat menonjol. Demikian juga dengan Mark di Unclaimed. Saya tahu semestinya Smite pun diberi kekurangan, tapi karena saya sudah terlanjur jatuh hati, saya nggak bisa memutuskan yang mana kekurangan Smite. ^^
Miranda Darling saya rasa memang pas untuk Smite. Saya suka bagaimana cara Smite memanggil nama Miranda. Sama seperti Miranda, saya pun bertanya-tanya saat Smite mengucapkan nama Miranda.

" Saat kau memanggilku Miranda Darling, apa kau memanggilku Miranda Darling sebagai namaku, atau kau mengatakan Miranda, koma, darling?" (hlm. 208)

Miranda memiliki cara berpikir yang unik yang nggak terbayang oleh saya. Membuat hubungan mereka semakin menarik. Sikap dan ucapannya menghibur dengan caranya sendiri. Mencintai Smite tapi nggak berniat mengubahnya atau menyembuhkannya.

"Apa? Dia akan jatuh cinta dan berubah menjadi pria biasa? Siapa pun yang mencintainya tidak akan menginginkan hal itu. Itu sama seperti mencintai samudra, tapi berharap akan berubah menjadi segelas air." (hlm.318)

Konfliknya cukup seru walau nggak terlalu mencekam. Meski sebenarnya berpotensi menjadi thriller, tapi toh konflik cinta antara Miranda dan Smite lebih menyita kisah ini. Namun meski sudah paham akan kemana semua ini berakhir, saya toh tetap terkejut juga dengan tersingkapnya jati diri sang patron. Saya nggak menyangka sama sekali. Courtney Milan menyamarkan fakta dengan cukup baik.
Endingnya memang luar biasa. Momen Smite-Ash yang telah saya tunggu sejak awal akhirnya muncul. Lega rasanya.

Overall, Unraveled menjadi kisah penutup yang manis bagi seri Turner bersaudara. Diceritakan dengan detail yang apik dan tokoh yang sama-sama unik, saya rekomendasikan novel ini untuk para pembaca historical romance yang menyukai kisah yang lain dari yang lain.

Jumat, 13 Mei 2016

[Resensi: Unclaimed - Courtney Milan] Sang Courtesan dan Sang Perjaka


Judul buku: Rayuan Sang Courtesan
Judul asli: Unclaimed
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Lingliana
Editor: Eka Pudjawati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli 2013
Tebal buku: 432 halaman
ISBN: 978-979-22-9753-9




BLURB

Tampan, kaya, dan terhormat, Sir Mark Turner merupakan bujangan paling diminati di London. Terkenal berkat buku karyanya dan reputasi pria yang menjaga kesucian, Mark dianggap sebagai sosok panutan yang dipuja. Tak sedikit orang yang muak melihat pemujaan yang diterima Mark, namun siapa sangka ternyata ia sendiri tak menikmati itu semua.

Sementara itu, karena terdesak sekaligus penasaran, Jess menerima tantangan yang diberikan padanya: merayu Sir Mark dan membeberkan kisahnya kepada publik. Sebagai courtesan, merayu bukan hal baru dan tentu takkan sulit bagi Jess. Namun ternyata itu memang sulit, karena ketika ia menyadari cintanya untuk Mark, ia harus memilih antara masa depan yang ia dambakan atau cinta yang ia tahu mustahil.


RESENSI

Begitu buku panduan gentleman terbit, ketenaran membuat Mark Turner menjadi bujangan potensial. Apalagi sang ratu sendiri telah membaca buku filsafat tentang kesucian itu dan kemudian memberikan gelar knight pada Mark atas kontribusinya pada moralitas umum.
Merasa lelah dengan orang-orang yang mengelu-elukannya, Mark memilih menyepi ke Shepton Mallet, pedesaan di mana ia dulu tinggal bersama ibu dan kakak-kakaknya. Tapi dugaannya salah. Meski jauh dari ingar bingar London, rupanya penduduk desa itu juga mengenali 'kesucian' Mark.
Tepat di hari pertama kedatangannya, Mark bertemu dengan Mrs. Jessica Farleigh, seorang janda yang menjadi penduduk baru di Shepton Mallet. Kecantikan dan gaya busanannya yang provokatif membuat Mrs. Farleigh dikucilkan. Penduduk desa pun berusaha mati-matian untuk menjauhkan Mark dari wanita itu.
Dengan cepat Mark menyadari kontradiksi dalam diri Mrs. Farleigh. Meski tertarik, Mark tetap menolak rayuan wanita itu.
Jessica Carlisle telah meninggalkan kehidupannya sebagai putri pendeta dan menjalani kehidupannya sebagai courtesan. Hingga satu kejadian membuatnya merasa hampa. Maka ia mengajukan diri kepada George Weston untuk merayu Sir Mark Turner yang suci dan berniat mempublikasikannya di ton. Tapi dalam menjalani misinya, Jessica menyadari kebenciannya pada Mark memudar dan mendapati Mark sepenuhnya pria yang tak keberatan dikalahkan oleh wanita.
Kini dalam dilemanya, akankah Jessica tetap melanjutkan misinya menghancurkan reputasi Mark atau justru berani menerima cinta yang ditawarkan sang perjaka suci?

-----------

Unclaimed merupakan buku kedua seri Turner, rupanya si bungsu lebih dulu menemukan wanitanya ^^
Dibanding buku pertamanya yaitu Unveiled, novel ini lebih dalam lagi menyoroti perilaku bangsawan di masa lalu. Mengambil setting tahun 1841, Unclaimed membidik dan mencemooh kesucian para bangsawan di masa itu melalui Mark yang menulis panduan gentleman tentang kesucian. Bukannya memahami apa yang coba dijelaskan oleh Mark, masyarakat menerjemahkan bahwa demi menjunjung kesucian, maka wanita tak bermoral harus dikucilkan. Bahwa wanita tak bermoral adalah musuh yang berbahaya dan harus diwaspadai.
Lalu muncullah Jessica, wanita yang merupakan simbol yang melawan kesucian. Jessica adalah courtesan. Berbeda dari pelacur, courtesan bukan hanya dibayar untuk seks semata, tapi seorang courtesan biasa memiliki pelindung yang membiayainya, dan sebagai balasannya seorang courtesan akan menemani ngobrol atau berdiskusi, mengusahakan kenyamanan, menemani berburu atau kegiatan lain. Jadi seorang courtesan memang harus cerdas dan pandai menempatkan diri.
Dan saya merasa Jessica ini keren banget, dia bisa mendebat Sir Mark dengan sinisme terselubung, jago menembak, dan cerdas. Momen favorit saya tentunya adalah ketika Mark dan Jessica ada di perlombaan menembak. Mark payah banget dalam mengenai sasaran, dan Jessica berusaha nggak membuat Mark malu dengan cara ikut-ikutan payah. Tapi Mark menyadarinya dan menuntut Jessica menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Mark dikalahkan... telak. Ada ego pria yang harus Mark ajak berdamai dalam dirinya. Dikalahkan wanita dalam hal yang maskulin tentu berat. Haha...

Di buku ini juga akhirnya terungkap misteri yang tadinya masih jadi tanda tanya besar di buku pertama. Tentang mengapa Edmund menyebut Mark berbahaya dan menakutkan, padahal Mark tampak polos dan menyenangkan. Teungkap juga mengenai kegilaan sang ibu dari sisi Mark. Saya menyadari rupanya kegilaan sang ibu memberi pengaruh berbeda bagi tiga orang anak lelakinya. Mark rupanya lebih memahami kegilaan itu... dan lebih terpengaruh.

Lagi-lagi saya menangis. Astaga. Saya benar-benar jadi cengeng saat membaca karya Courtney Milan. Adegan-adegannya manis, kalimat-kalimatnya menyentuh, dan konfliknya benar-benar dituntaskan. Semua konflik. Beberapa novel hanya terfokus menuntaskan satu masalah utama, tapi Courtney Milan selalu menuntaskan semua konflik dalam novelnya.

Nah... saya rasa Unclaimed cukup memuaskan meski nggak sebagus Unveiled. Tapi saya jamin... Courtney Milan benar-benar pintar mengaduk perasaan. Maka, sepertinya ini waktunya untuk membaca buku ketiga, kisah si Smite Turner, karakter favorit saya. :)))

Senin, 09 Mei 2016

[Resensi: Unveiled - Courtney Milan] Menyingkap Penyamaran Sang Lady


Judul buku: Penyamaran Sang Lady
Judul asli: Unveiled
Seri: Turner #1
Penulis: Courtney Milan
Alih bahasa: Lingliana
Desain sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juni 2013
Tebal buku: 472 halaman
ISBN: 978-979-22-9608-2



BLURB

Ash Turner menanti bertahun-tahun untuk membalas dendam kepada pria yang menghancurkan keluarganya. Dan kini saatnya telah tiba. Ia tiba di Parford Manor, bertekad merebut gelar duke dan menguasai segalanya. Tak disangka, ia malah berjumpa dengan sosok jelita yang kelak menggoyahkan niatnya.

Sementara itu, Lady Anna Margaret Dalrymple harus mempertahankan penyamarannya sebagai perawat di Parford Manor. Sebagai mata-mata yang ditempatkan kakaknya, ia harus melaporkan semua hal yang mungkin dapat di manfaatkan untuk menjatuhkan Ash. Namun ketika mendapati Ash tak seburuk yang ia sangka, Margaret tak yakin di mana ia harus menempatkan kesetiaannya...


RESENSI

Kesempatan Ash Turner untuk membalas dendam sudah tiba. Yang menjadi prioritas Ash adalah kebahagian adik-adiknya. Apa pun akan ia lakukan asal kehidupan adik-adiknya terjamin, termasuk harus merampas gelar duke dari Duke of Parford.
Ash menyerahkan bukti tentang perkawinan pertama Duke of Parford kepada majelis pendeta, ini menyebabkan perkawinan keduanya dianggap tidak sah atas dasar bigami. Anak-anak yang dihasilkan dari perkawinan itu dinyatakan tidak sah dan tidak boleh menjadi ahli waris. Itulah sebabnya, sepupu kelima sang duke yang sejak dulu dibenci–yang adalah Ash–menjadi ahli waris.
Ash kemudian mengajak adik bungsunya, Mark Turner, untuk mendatangi Shepton Mallet, manor milik Parford, untuk mengawasi harta warisannya agar tidak dihamburkan selama menanti keputusan parlemen dan masa sekarat Duke of Parford tua.
Setiba di manor, Ash langsung jatuh hati pada seorang pelayan yang alih-alih menundukkan kepala, namun justru menatapnya dengan mata membangkang. Margareth Lowell, perawat pribadi Duke of Parford dengan segera menjadi pusat perhatian Ash. Namun Ash menyadari ada banyak kemisteriusan yang menyelimuti Margareth.
Lady Anna Margareth Dalrymple adalah putri bungsu Duke of Parford. Ia membenci Ash... pada mulanya. Margareth tak menyangka bahwa pria yang membuat statusnya menjadi anak haram dan merampas hak waris kakak sulungnya, Richard Dalrymple, adalah pria muda gagah dan penuh pesona. Selagi menyamar sebagai perawat pribadi ayahnya, Margareth punya misi khusus untuk mengamati dan menyelidiki tindak-tanduk Ash, untuk dilaporkan ke kakaknya.
Tapi Ash Turner pria yang pintar menempatkan diri. Ia bukan jenis pria bangsawan kebanyakan, Ash pria yang menganggap pelayan setara dan meributkan status anak haram hanyalah kebodohan.
Ketika Margareth jatuh makin dalam, ketika Ash mempercayakan kelemahan dan kerapuhannya dalam genggaman Margareth, hati Margareth terbelah. Loyalitasnya bercabang. Di satu sisi ia ingin tetap ada di sisi Ash dan mendukung pria itu, di sisi lain kakak-kakaknya adalah pihak yang harus ia bela. Kepada siapa Margareth menyerahkan kesetiaannya? Dan mana yang penting bagi Ash: kebahagiaan Margareth atau kebahagiaan adik-adiknya?

--------------

Beberapa saat lalu notifikasi di Ijak saya menunjukkan bahwa ada buku yang direkomendasikan seorang teman. Ternyata Mbak Desty yang memberi saya rekomendasi novel historical romance ini. Saya sempat meminjam tapi tak terbaca dan akhirnya kembali dengan sendirinya. Pinjam lagi, tak terbaca lagi. Hahah~ saya memang jenis pembaca yang lebih nyaman baca buku fisik. Tapi toh akhirnya saya baca juga novel ini dan... terkesima.

Novel ini bersetting di Somerset, cerita dimulai di bulan Agustus tahun 1837 tepat saat Ash dan Mark berkuda menuju manor Parford. Dan hampir 80% setting tempatnya adalah di dalam manor. Tapi nggak ada kejenuhan sama sekali saat emosi para tokohnya begitu kuat dan tersampaikan. Membaca novel ini, yang alurnya begitu lambat, justru membuat saya geregetan dan penasaran. Cara bertutur Courtney Milan benar-benar membuat saya terseret ke dalam kisah ini dan sulit berhenti.

Ash Turner. Ash. Teman-teman yang mengenal saya pasti tahu saya adalah fans Ash atau Acheron dalam serial Dark Hunter milik Sherrilyn Kenyon. Begitu kuatnya image Ash hingga setiap nama ini muncul, bayangan yang terbentuk dalam pikiran saya adalah Ash milik Sherrilyn Kenyon.
Tapi... damn! Ash dalam novel ini benar-benar beda dan membuat saya melupakan Ash milik SK. Ash Turner bisa jadi hero yang paling nggak menuntut sejauh yang saya baca. Ash membebaskan, tetap ada namun dalam jarak aman, memberi kuasa penuh pada Margareth untuk maju atau untuk lari. Pada akhirnya jika mereka berhubungan itu benar-benar kehendak Margareth. Ash juga punya kekurangan. Yang membuatnya merasa malu... kekurangan yang membuatnya terlihat lemah. Ini menjadikan Ash tampak manusiawi.
Margareth tipikal heroine favorit saya. Berani, berlidah tajam namun penyayang dan berdedikasi. Kelemahannya mungkin terlalu emosional, dan mudah percaya. Tapi justru dialognya yang bisa membuat saya menangis. Oh.. ya, saya menangis membaca novel ini. Ketika dengan gagah berani Margareth menghadapi Smite Turner dan menuding pria itu kejam karena mengabaikan Ash. Namun jawaban Smite benar-benar di luar dugaan saya.

Ya ini adalah novel tentang keluarga dan persaudaraan. Satu elemen yang saya sukai dalam sebuah novel. Persaudaraan yang hangat yang saling mendukung. Kakak-beradik Turner benar-benar family men. Saya jadi penasaran dengan cerita Smite. Tapi itu bisa nanti, setelah saya menyelesaikan review ini.

Sumber konflik novel ini sepertinya diriset dengan sangat baik. Tentang seluk beluk bigami, tentang perebutan gelar dan bagaimana masyarakat pada masa itu memandang status anak haram. Dari pihak Ash ada rasa dendam, bukan hanya terhadap Duke of Parford yang telah menyebabkan adik perempuan Ash meninggal, tapi juga pada kedua kakak Margareth, Richard dan Edmund, yang telah membuat kehidupan Smite dan Mark begitu sulit selama bersekolah di Eton. Juga ada rasa ingin membahagiakan adik-adiknya yang pernah terlantar di jalanan. Namun ketika ia menyadari siapa Margareth dana apa yang akan dialami gadis itu jika Ash diputuskan menjadi duke, seketika Ash merasa terbelah.
Margareth sendiri punya konflik batin yang nggak kalah besar. Ia ingin mendukung Ash namun ia tahu kesetiaan seharusnya hanya milik Richard. Jika Richard gagal jadi duke, mereka benar-benar jadi anak haram dan nggak punya tempat di kelas sosial mana pun.

Aaah... saya puas sekali membaca novel ini. Sempat kaget dengan endingnya, tapi sebenarnya saya tahu itulah yang akan dilakukan Ash. So... tunggu apa lagi? Coba deh baca Unveiled ;) 

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon