Tampilkan postingan dengan label Elex Media Komputindo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Elex Media Komputindo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2018

[Blogtour & Giveaway] Tapak Setan - Haditha

Judul buku: Tapak Setan
Penulis: Haditha
Penyunting: Dion Rahman
Penata Letak: Divia Permatasari
Ilustrasi Isi: Haditha
Desainer Sampul: Dedy Koerniawan Susanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 217 halaman
ISBN: 978-602-04-7989-7



BLURB

Ada tidak sih cara menghukum orang yang tingkahnya kayak setan kalau tidak dengan cara yang lebih setan lagi?

Aku, Atarjoe, setiap pagi bangun dengan tangan berlumuran darah dan berbau bangkai. Coba bayangkan kalau harimu diawali dengan itu. Setiap hari aku harus berkutat dengan rutinitas macam itu. Menjijikkan. Lama-lama kuketahui, ada setan yang memperalat tanganku untuk berburu mangsa darah. Enak saja, ini tanganku, aku tak sudi dipakai seperti itu. Maka aku rebut balik kendali atas tanganku. Dari setan itu aku tahu tanganku mampu menyedot setan-setan lain untuk kemudian dipakai sebagai senjata.

Hidupku ini dipenuhi orang celaka yang membuat orang-orang sengsara. Melalui tapak setan ini aku menyalurkan dendam orang-orang yang tak bisa melawan itu. Kugantikan tugas si setan. Aku berburu orang-orang laknat yang bikin banyak orang susah. Tinggal kuraup muka mereka dan mereka akan kerasukan setan seumur hidup, dan setiap hari mereka akan melukai diri sendiri, tanpa bisa mati. Pembalasan yang memuaskan, bukan?

RESENSI

Ini adalah pengalaman kedua saya membaca karya Haditha, sebuah pengalaman yang berbeda walau masih bercerita tentang dunia yang sama. Tapak Setan memang begitu berbeda dengan Karung Nyawa, terutama dari segi emosi dan suasana yang disuguhkan dalam ceritanya.

Coba aku tanya, kalian pernah bangun tidur lalu melihat tangan kalian bersimbah darah?
Pernah? Tidak?
Aku setiap hari! (hlm. 2)

Semula Atarjoe hanyalah seorang pemuda belasan tahun yang tinggal di kawasan kumuh dan harus menghadapi kehidupan yang pahit. Ia dikuasai kemarahan karena melihat ibunya yang bekerja sebagai pelacur sering dimanfaatkan terutama oleh seseorang yang disebutnya sebagai Si Bangsat. Hingga ia mendapati setiap pagi saat terbangun tangannya selalu bersimbah darah dan berbau bangkai. Itulah pembuka jalan bagi Atarjoe untuk melampiaskan kemarahan dan dendamnya.

Membaca Tapak Setan membuat saya jadi sering merinding. Bagaimana tidak, kehidupan Atarjoe yang tragis dari satu kehilangan ke kehilangan yang lain membuat buku ini terasa emosional. Sedikit demi sedikit, dari hari ke hari, Atarjoe dibimbing oleh Setan Bocel untuk mengumpulkan amarahnya. Ketika amarah itu telah terkumpul, pelepasannya sungguh mengerikan. Namun puaskah Atarjoe?
Yang menarik adalah, setelah mengetahui fungsi dari telapak tangannya, Atarjoe memilih untuk berburu setan-setan baru dan menggunakannya untuk menghukum orang-orang yang dianggapnya telah melakukan dosa. Beragam setan pun bermunculan, bahkan jenis-jenis yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Selain Setan Bocel ada Setan Cebol, Tuyul Dubur, dan yang paling mengerikan yaitu Setan Klobot.
Semua setan ini memiliki keistimewaan dan tingkat kengerian masing-masing. Ada yang menjijikkan, ada yang mesum, tapi ada juga yang pendiam.

Fokus novel ini memang amarah dan dendam. Ceritanya penuh dengan kematian dan darah. Kematian yang membuat trenyuh, yang membuat bergidik, dan juga kematian yang memuaskan. Bagaimana seseorang berusaha menyembuhkan kesedihan dan lukanya dengan melampiaskannya kepada orang-orang penuh dosa. Walau Atarjoe beberapa kali menyebut dirinya sebagai bos para setan, saya merasa bias siapa yang menjadi budak siapa. Kemarahan Atarjoe di sisi lain membuatnya menjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari setan.
Saya menemukan beberapa sentilan yang cukup mengena pada situasi lingkungan kita saat ini. Orang-orang mementingkan diri sendiri, memuja orang yang salah, main keroyokan... pada akhirnya orang-orang sok suci justru memiliki dosa juga melalui tangan orang lain. Maka di situlah Atarjoe nuncul untuk membasmi mereka.

Gaya bahasa yang digunakan Haditha dalam novel ini pun begitu kelam. Sadis dan bikin mual kalau saya boleh bilang. Saya bisa merasakan kebrutalan dalam diri Atarjoe melalui cerita yang keseluruhannya berupa narasi ini. Namun rasa penasaranlah yang membuat saya tak bisa berhenti membaca novel ini. Selain petualangan Tapak Setan begitu mendebarkan, ada misteri dibaliknya yang membuat saya terus terseret dalam alurnya. Kemana semua ini akan berujung? Bagaimana nasib Atarjoe nantinya? Apakah Tapak Setan itu sebenarnya?
Semua pertanyaan saya itu terjawab dengan klimaks yang luar biasa mencengangkan. Ah... saya rasa semua ini belumlah berakhir.

Tentu saja bagi kalian yang menyukai cerita horor dan terbiasa dengan hal-hal tragis dan sadis, saya merekomendasikan novel ini. Walau ada beberapa bagian yang membuat saya mual membacanya tapi karena jalan ceritanya yang seru, saya anggap novel ini layak untuk dibaca.

********** GIVEAWAY **********


Ada satu novel Tapak Setan yang bisa kalian dapatkan melalui blogtour kali ini. Kalian hanya perlu melakukan photo challenge yang tata caranya bisa disimak di akun instagram saya @kendengpanali 🤗
Buruan ya karena photo challenge ini hanya berlangsung tiga hari saja dari tanggal 8 - 10 November 2018. Ditunggu yaa partisipasinya :)

Rabu, 18 April 2018

[Review] Hijab fo Sisters - Anastasha Hardi | Ujian Berat Asha dan Khalda

Judul buku: Hijab for Sisters
Penulis: Anastasha Hardi
Penyunting: Dion Rahman
Perancang sampul: Ulayya Nasution
Rated: 13+
Genre: Novel Islami
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 9786020453798



BLURB

Di hari pembagian rapor, Asha yang menjadi langganan juara umum di Pondok Pesantren Modern Putri Siti Fatimah, dikejutkan oleh pengumuman Ustazah Nurul mengenai beasiswa yang akan diberikan pihak pesantren. Namun karena nilainya nyaris seimbang dengan Khalda, para ustazah bingung menentukan siapa yang laik diterbangkan ke Jerman untuk mendapat pendidikan yang diimpi-impikan banyak santri. Seakan masih kurang mengejutkan, pesantren mengirim keduanya untuk mengikuti satu semester pendidikan di sekolah umum sebagai tes akhir siapa yang lebih berhak mendapatkan beasiswa. Rangkaian tes ini sangat penting, karena baik Asha maupun Khalda bisa langsung menerapkan ilmu-ilmu agama yang sudah dipelajarinya di tengah-tengah siswa-siswi yang majemuk.

Mampukah keduanya bersaing dengan sehat selama berada di sekolah umum yang terasa asing bagi mereka? Lantas, setelah mengalami berbagai kejadian yang membuat keduanya kian dekat, apakah pengumuman siapa yang akan mendapat beasiswa tersebut masih penting?

RESENSI

Sebenarnya saya telah menyelesaikan novel ini beberapa hari yang lalu, tapi ternyata menuliskan resensinya tidaklah semudah membacanya. Memilah kata dan menyaring yang ingin saya sampaikan ternyata lebih berat, karena saya takut pernyataan saya mungkin bisa ditangkap keliru. Saya butuh mengendapkan dan meredakan riuhnya suara-suara di kepala saya untuk sementara waktu. Karena jujur, isi novel ini, terutama salah satu karakternya, berbeda dengan cara pandang saya. Fiuuhh... but here we go.

Sebagai (mantan) siswi yang menghabiskan masa sekolah di sekolah umum, novel Hijab for Sisters ini sangat menggelitik hati saya. Betapa tidak, Asha dan Khalda, dua gadis manis yang menjadi tokoh utama kisah ini nerupakan siswi yang menuntut ilmu di pondok pesantren khusus putri. Mereka adalah siswi terbaik di angkatan mereka yang kemudian harus berkompetisi untuk mendapatkan beasiswa ke Jerman. Para ustadzah mereka menganggap ujian yang paling pas adalah mengirim mereka ke sekolah umum untuk menguji kesiapan adaptasi mereka secara langsung. Jelas mereka ketakutan... dan saya bisa memahami ketakutan itu. Asingnya kehidupan sekolah yang heterogen di mata mereka, sama asingnya dengan kehidupan pergaulan homogen di mata saya.

Tentu saja Hijab for Sisters menjadi menarik karena perubahan drastis yang harus dilakoni para tokohnya. Jalan cerita seperti ini biasanya tak pernah gagal untuk membuat pembaca khusyuk mengikuti alurnya. Semula saya mengira novel ini akan menjadi serius, tapi rupanya Anastasha Hardi cukup cerdik untuk menyelipkan adegan absurd dan kocak yang membuat novel ini ringan dan enak dibaca.
Pertentangan pertama saya dengan novel ini terjadi ketika Asha dan Khalda membayangkan betapa jeleknya pergaulan di sekolah umum, betapa buruk moral para siswanya dan banyak perilaku menyimpang yang dilakukan di sana. Aww... ini menyakitkan untuk dibaca. Namun saya kemudian menyadari, tentunya itu hanyalah imajinasi yang terbentuk karena terdorong oleh rasa cemas berlebih dari seseorang yang akan memasuki kehidupan yang sepenuhnya berbeda. Beberapa orang mengalaminya, bukan? 

Nyatanya ketika hari pertama Asha dan Khalda menginjakkan kaki di sekolah umum... apakah berlebihan jika saya mengatakan seolah mereka membuka pintu ke Narnia? Wkwkwk~
Baru di hari pertama saja, Asha telah bertemu dengan Aidan, siswa ganteng idola sekolah yang sepertinya menaruh minat besar padanya. Tapiiii.... ada yang lebih seru dong. Pertemuan pertama Asha dan Khalda dengan Kepala Sekolah. Astaga! Sumpah saya nggak berhenti ngakak karena Pak Kepsek yang suka iseng ini.

"Diutus? Mendengar kata-katamu, Bapak jadi gemeteran. Bapak merasa seolah sekolah ini adalah sebuah desa jahiliyah yang kedatangan dua orang utusan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran." (hlm. 41)

Berawal dari situlah, petualangan Asha dan Khalda semakin menarik dari hari ke hari. Mereka membangun persahabatan dengan beragam orang, termasuk dengan Susanto, siswa ngondek yang menjadikan novel ini terasa segar. Susanto inilah yang membuat Khalda selalu mengucap istighfar 😂😂😂.
Mereka menghadapi konflik yang umum dihadapi remaja seusia mereka. Asha dan Khalda bukan hanya mencoba bertahan dengan prinsip mereka, tapi juga mencoba mengisi masa remaja mereka, bukan dengan kekosongan tanpa arah, tapi dengan sesuatu yang bermanfaat bagi diri mereka dan orang lain. Membangun kepercayaan, membentuk komunitas yang bukan mengeksklusifkan diri tapi merangkul siapa saja. Bukan membentuk benteng, tapi membentuk tapis, demi tetap bisa menyerap hal-hal baik yang ditawarkan dunia ini.

Pada awalnya saya cukup jengah dan terganggu oleh salah satu tokoh dalam novel ini. Khalda saya rasa sedikit berlebihan dan terlalu ceplas-ceplos. Seperti yang kita lihat di media sosial sekarang, banyak sekali orang-orang yang menghakimi perbuatan sesamanya, bahkan kadang seseorang yang lebih muda berani menegur dengan frontal orang yang lebih tua, hanya karena menurutnya perbuatan orang itu salah. Demikian pula Khalda di mata saya, dia main tegur saja tanpa memerhatikan situasi atau perasaan orang yang ditegurnya. Dan bagian konyol dari perasaan saya adalah, saya kok nggak terima dia berasal dari Yogya ya.. Wkwk~ Entahlah, hidup di kota ini, melihat orang-orangnya yang terbuka, yang menerima perbedaan dan luwes, saya kok merasa sedih. Well, tapi mungkin Khalda ini tinggal di sisi kota dan kehidupan yang berbeda dengan saya. 😅😅😅
Sementara Asha lebih menyenangkan, dia lebih tenang dan bisa menahan diri. Ya walau dalam hal kegigihan, Khalda lebih kuat. Itu sebabnya Asha lebih mudah dijebak dan menyebabkan konflik semakin memuncak. Asha juga lebih pandai berkata-kata, pidato singkat yang ia sampaikan pada pak kepsek sangat mengena tapi tetap terasa santun. Bahkan, Pak Kepsek pun sampai kehilangan kata-kata :))))

Bagian seru dari novel ini tentunya adalah kehadiran Susanto. Sayangnya apa penyebab Susanto ngondek tidak dijelaskan banyak dalam novel ini, padahal seandainya Asha, Khalda dan Aidan ingin Susanto berubah, mestinya didalami juga penyebabnya. Seseorang yang merasa gendernya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya tentu ada alasan dan pencetusnya, dan untuk menyembuhkan gangguan (gender dysphoria) itu biasanya dibutuhkan proses terapi. Saya memahami betapa menjadi Susanto sungguh tak mudah, ia bisa bertingkah centil di hadapan orang-orang, bersikap cuek pada omongan orang, padahal mungkin di dalam hatinya ia terus merasa kebingungan. Poor but tough Susanto :"

Secara keseluruhan saya menikmati novel ini, saya suka dengan perkembangan karakter yang dialami para tokohnya. Sebuah kisah yang terlahir dari kekhawatiran akan pergaulan remaja di zaman yang semakin melesat ini. Sebuah petualangan kecil para remaja yang berusaha memegang prinsip tapi tetap fleksibel dan bergaul sesuai norma. Hijab for Sisters tentunya sangat cocok dibaca para remaja karena betapa dekatnya kisah ini dengan kehidupan remaja masa kini. Di sini kita bisa menemukan kekuatan tekad, persahabatan dan apa makna agama bagi hidup kita. Saya, Asha, Khalda, Aidan dan yang lain telah menemukannya, sekarang giliran kalian 😉

Senin, 19 Februari 2018

[Resensi: The Maddening Lord Montwood - Vivienne Lorret] Jatuhnya Sang Bujangan Perayu Terakhir

Judul buku: The Maddening Lord Montwood
Penulis: Vivienne Lorret
Alih bahasa: Katherin Handayani S
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Oktober 2017
Tebal buku: 372 halaman
ISBN: 978-602-04-4722-3



BLURB

Para bujangan perayu wanita dari Fallow Hall bertaruh tidak akan pernah menyerah pada cinta, namun akankah si perayu terakhir menemukan pasangannya?

Frances Thorne bisa mengatasi persoalan apa saja, kecuali kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, dan ayahnya yang dipenjara dalam satu hari. Maka, ketika ada tawaran bantuan jatuh ke pangkuannya, dia sangat bersyukur, sekalipun itu terlihat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Hal terakhir yang dibutuhkannya adalah Lord Lucan Montwood, yang menawan, menyebalkan sekaligus menjengkelkan, menghalangi jalannya.

Akhir dari taruhan sudah dekat, dan Lucan Montwood bisa mengecap aroma kemenangan, asalkan dia bisa menjauhi wanita yang mampu melihat menembus penampilan luarnya. Namun, ketika mengetahui bahwa Frances dalam kesulitan, Lucan tidak dapat menyangkal bahwa dirinya rela melakukan apa saja demi membantu. Meyakinkan wanita itu untuk memercayainya adalah bagian yang sulit, menolaknya hampir mustahil, tapi jatuh cinta padanya? Mungkin itu terlalu sederhana.


RESENSI

Sejak kemunculan Lucan Montwood yang misterius, kelam, tapi memesona di The Devilish Mr. Danvers, saya sudah dibuat penasaran akan seperti apa perjalanan cinta pria satu ini. Atau lebih tepatnya, akan seperti apa ia melawan takdirnya untuk jatuh cinta. Karena berdasarkan kisah-kisah sebelumnya dalam serial The Rakes of Fallow Hall, Lucanlah yang telah menanamkan ide pertaruhan sebesar sepuluh ribu pound bagi yang mampu membujang hingga akhir tahun. Lucan telah mencium bau kemenangan setelah Everhart dan Danvers menikah. Tinggal sisa enam bulan lagi, tentunya itu waktu yang terlalu singkat untuk membuatnya jatuh cinta dan menikah, bukan? Atau... ia salah?

The Maddening Lord Montwood dibuka dengan latar tahun 1822 pada musim dingin di St. James. Ini adalah saat dimana Lucan sekali lagi harus mendapati kelicinan dan kelicikan ayahnya, yang menyebabkan sang Marquess lolos dari tiang gantungan dan malah menimpakan kesalahan pada Thorne, salah satu pekerjanya. Lucan harus mencari cara untuk membebaskan Thorne. Inilah asal mula Lucan memiliki utang besar dan kelak mendorongnya untuk bertaruh dengan teman-temannya.
Kurang lebih dua setengah tahun kemudian, Lucan harus menghadapi kemarahan Frances Thorne. Karena kehidupan Thorne tak juga membaik, dan Frances harus jungkir balik untuk menghidupi dirinya dan ayahnya. Tentu saja, hal termudah adalah mencari kambing hitam dan ia menyalahkan Lucan.
Frances menjadi tokoh yang kadang mengagumkan dan kadang menjengkelkan. Mengagumkan saat melihat kegigihannya mempertahankan hidup dan menghadapi ayahnya yang mulai kacau. Menjengkelkan saat ia hanya melihat hal-hal yang ada di permukaan. Sebagai seseorang yang hidup di jalanan dan mengajar seni membela diri tentunya ia harus waspada pada kebaikan terselubung, tapi Frances tetap keras kepala dan mendewakan pria yang berkali-kali menyebut dirinya murah hati.

Konflik dalam novel ini tak terlalu menegangkan. Mungkin karena sang penjahat telah diketahui sejak awal, sehingga pembaca hanya dibuat menebak-nebak apa motifnya. Mengikuti perjalanan naik-turunnya hubungan Lucan dan Frances juga ternyata tak semenarik novel pendahulunya. Sebagai bujangan yang menolak menikah ternyata Lucan mudah untuk menerima takdir cintanya dan sama sekali tak menyangkal.
Hubungan persahabatan dalam novel ini masih sangat hangat. Hal inilah yang membuat saya jatuh cinta pada serial ini. Persahabatan ketiga malaikat terbuang begitu akrab dan terasa kuat chemistry-nya. Saya menyukai dialog yang saling mereka lemparkan juga gestur mereka terhadap satu sama lain. Calliope dan Hedley juga begitu cair dalam lingkaran kecil persahabatan itu. Saya suka mendapati bahwa Hedley dan Lucan masih punya hubungan 'istimewa' seperti yang mereka tunjukkan di novel sebelumnya.

Secara keseluruhan The Maddening Lord Montwood cukup memuaskan. Melalui Lucan Montwood saya memahami bahwa kadang kita tak bisa mengambil kesimpulan terhadap seseorang hanya karena tampak luarnya saja, dan bahwa segala yang tampak begitu baik belum tentu benar-benar baik. Dan pada akhirnya yang membuat saya jatuh cinta tetaplah covernya yang memikat dan benar-benar merepresentasikan cerita di dalamnya. Setiap melihat sampulnya, saya membayangkan ketika Frances berjalan membawa lilin di lorong galeri rumah Whitelock sambil berharap suara Lucan muncul dari bayang-bayang kegelapan. Perfect!

Rabu, 14 Februari 2018

[Resensi: The Harlot Countess - Joanna Shupe] Pembalasan Dendam Sang Countess

Judul buku: Masa Lalu Sang Countess
Judul asli: The Harlot Countess
Penulis: Joanna Shupe
Alih bahasa: Nin Bakdisoemanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Juni 2016
Tebal buku: 426 halaman
ISBN: 978-602-02-8753-9



BLURB

Maggie, Lady Hawkins, memiliki debut yang lebih suka dilupakannya—bersama pernikahan pertamanya. Kini, kartunis politik itu adalah seorang wanita baru. Seorang wanita yang benar-benar modern. Sedemikian modern sampai-sampai khalayak ramai memercayai bahwa dia adalah seorang laki-laki...

FAKTA: Menggambar menggunakan nama samaran laki-laki, Maggie dikenal sebagai Lemarc. Objek favoritnya: Simon Barrett, Earl of Winchester. Pria itu adalah bintang yang baru naik pamor di Parlemen—dan mantan orang yang dipercaya dan dicintai Maggie, tapi memercayai rumor yang sampai detik ini masih menyakitkan bagi Maggie.

FIKSI: Maggie adalah Perempuan Jalang Setengah Irlandia yang merayu suami sahabatnya pada malam pernikahan mereka. Wanita ini harus ditakuti dan dibenci karena dia akan mengangkat roknya kepada lelaki mana pun.

Masih hancur oleh pengkhianatan Simon, Maggie tidak berniat membiarkan seluruh ton menghancurkan dirinya. Malah, kartun Lemarc telah membuat Simon menjadi bahan tertawaan ... tapi sekarang sepertinya Maggie mungkin telah salah mengenai apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dan bahwa Simon diam-diam merindukan dirinya sejak ... lama sekali. Mungkinkah pada akhirnya hati lebih kuat daripada pena dan pedang?


RESENSI

Disakiti oleh seseorang yang pernah kita cintai, tentunya sungguh menyesakkan. Membuat hati dipenuhi oleh amarah dan dendam. Maggie mengubah rasa dendam itu menjadi sesuatu yang produktif, yang bisa membuatnya puas: membuat karikatur tentang Simon Barret, Earl of Winchester. Karikatur Winejester yang mengolok-olok Simon, dan menjadi perbincangan panas di kalangan atas. Tak ada yang akan mencurigai Maggie karena ia menggunakan nama samaran laki-laki, Lemarc.

Novel ini dibuka dengan adegan pertemuan kembali antara Simon dan Maggie setelah perpisahan mereka yang menyakitkan sepuluh tahun lalu. Pertemuan yang menunjukkan kepada pembaca bahwa ternyata mereka masih punya perasaan mendamba terhadap satu sama lain. Dari sisi Maggie, sebenarnya jelas, bagaimanapun ia tetap melukis Simon walau dalam bentuk olok-olok. Hal itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia tak bisa melepas ingatan akan Simon.
Sebenarnya, premis cinta lama bersemi kembali dan dendam asmara selalu menarik minat baca saya, terutama jika berbau-bau skandal. Ini sebabnya saya langsung bersemangat untuk menuntaskan novel ini begitu membuka halaman pertamanya.

The Harlot Countess pada awalnya bersetting di London pada tahun 1819. Isu politik yang diangkat dalam novel ini adalah tentang hak wanita korban perkosaan. Simon sendiri merupakan bagian dari Parlemen yang cukup disegani, tentu saja kedudukan ini diperoleh secara turun temurun dalam sejarah keluarganya. Ia meneruskan jejak para pendahulunya untuk menjadi bagian dari Parlemen, walau tetap saja, ia telah bekerja keras membangun sekutu untuk membuatnya disegani. Hingga muncullah karikatur Winejester yang menjadi olok-olok bagi sosok Simon. Meskipun justru kartun itu malah semakin meningkatkan pamornya.

Simon sendiri di depan dan di belakang Maggie sungguh sangat bertolak belakang. Mungkin memang benar, jika pria sudah cemburu buta, ia akan bersikap sangat tolol. Banget. Sepanjang kisah ini, saya cukup jengkel dengan asumsi-asumsi dan penghakiman yang dibuat oleh Simon terhadap Maggie. Sungguh, dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk tetap diam menerima tuduhan itu dan menghitung kapan waktu terbaik menjatuhkan bom untuk menyadarkan si dungu Simon.

Maggie menjadi representasi kaum wanita di era tersebut yang masih kesulitan untuk melawan kaum pria. Meskipun sama-sama berstatus bangsawan, nyatanya toh khalayak tetap mempercayai para pria. Seandainya ada perempuan yang muncul dari kegelapan dengan pakaian terkoyak, wanitalah yang disalahkan. Wanitalah yang dianggap penggoda dan pelacur. Sungguh saya mengagumi kekuatan diri Maggie untuk tetap berdiri tegak saat tudingan-tudingan diarahkan padanya, saat kalangan atas mengucilkannya, saat lelaki yang ia percaya akan membelanya ternyata ikut berpaling. Maggie mampu menghadapi segala sakit hati itu selama sepuluh tahun dan produktif. Sungguh saya jatuh cinta pada ketabahan dan kekuatannya.
Walau mungkin agak disayangkan, setelah ia menjanda dan bertemu kembali dengan Simon, ia dengan mudahnya takluk kembali pada pesona Simon. Beberapa wanita mungkin akan menganggap Simon tak layak mendapatkan maaf, dan betapa murahannya Maggie karena mudah melompat ke ranjang Simon. Well, saya sendiri sebenarnya maklum. Hahaha... sebagai seorang janda yang pernikahannya kering akan cinta, dan betapa ia masih mencintai Simon, saya maafkan kalau seandainya Maggie memang jadi bitchy saat bersama Simon.
Lagi pula, dari sudut pandang Simon, saya sudah menangkap penderitaannya. Simon masih terlihat tergila-gila dan posesif hingga rasanya menyakitkan terhadap Maggie.

Saya sangat menikmati membaca novel ini, narasi, deskripsi, dialog dan chemistry-nya pas banget. Konfliknya juga cukup seru dan menegangkan. Adegan ranjangnya bertebaran dengan penerjemahan yang cukup bagus. Sepertinya saya bakal memasukkan nama Joanna Shupe sebagai penulis historical romance yang layak dibaca.

Senin, 27 November 2017

[Resensi: Impian Demian - Nimas Aksan] Perjuangan Demian untuk Menyelamatkan Impian-Impiannya

Judul buku: Impian Demian
Penulis: Nimas Aksan
Editor: Dion Rahman
Penata sampul dan ilustrasi: Ulayya Nasution
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2017
Tebal buku: 360 halaman
ISBN: 978-602-04-4956-2



BLURB

"Impianku bukan berada di sini bersamamu dan sepabrik dengan perempuan sensi lainnya yang bergerombol membahas lipstik. Aku mengambil jurusan arsitektur bukan iseng-iseng seperti saat kamu ikutan lotre dan buummm … namamu keluar sebagai pemenang. Aku ingin membuat gedung. Aku selalu membayangkan bisa membangun banyak sekali gedung tinggi yang indah di negeri-negeri yang jauh dari sini.” 

“Kenyataannya kamu berada di sini, Demian. Di gedung rusak yang harus kamu bangun kembali.”

Impian Demian Radityawangga untuk menjadi arsitek gedung bertingkat di seluruh dunia terancam kandas ketika dia didatangi oleh Alexandra Hardianty, Public Relation dari Sara Cosmetic, perusahaan kosmetik yang diwariskan kedua orangtuanya. Alexandra membuka kenyataan bahwa dia memiliki kewajiban memimpin perusahaan yang sedang mulai sekarat itu, sebagai bentuk pengabdiannya pada mendiang sang ibu, Sara Amalia, pendiri Sara Cosmetic. 

Keadaan semakin memburuk ketika Demian berkonflik dengan Hilda, ibu tirinya, yang memegang hak cipta atas Aqualove, produk kosmetik temuan terbaru yang seharusnya bisa menolong Sara dari kebangkrutan. 
Mampukah Demian dan Alexandra bersama-sama mengatasi krisis dan menyelamatkan pabrik kosmetik yang nyaris bangkrut itu, sementara di sisi lain, kesempatan untuk meraih impiannya mulai memanggil-manggil?


RESENSI

Ini adalah pertama kalinya saya mencicipi novel karya Nimas Aksan. Melalui Impian Demian saya disuguhi sebuah pergulatan batin seorang laki-laki tanggung yang harus memilih antara meraih impiannya sendiri atau mempertahankan impian almarhumah mamanya. Satu hal yang pastinya nggak akan mudah untuk dihadapi siapa pun, terutama jika ada ikatan yang sangat kuat antara sang anak & ibunya.

Impian Demian disajikan melalui sudut pandang orang pertama. Ya, novel ini begitu vokal menyuarakan isi hati Demian. Perasaannya terhadap kedua sahabatnya—Rio dan Dewi—yang sebentar lagi akan menikah, perasaannya terhadap mantan kekasih yang juga akan menikah, perasaan akan almarhum papanya yang ia benci, juga perasaannya menjadi pria populer yang selalu jadi bahan flirting wanita-wanita di sekelilingnya. Capek pasti rasanya ya 😅.
Sudut pandang ini pulalah yang membuat saya merasa Demian cukup egois. Pada awalnya saya merasa iba atas apa yang ia alami semasa kecil. Hidup dengan orang tua yang susah mengekspresikan rasa sayang tentu menyakitkan bagi anak-anak. Sulit. Namun saya juga bisa mengerti nggak semua orang tua mudah memeluk atau mudah menunjukkan kasih sayang. Saya tahu rasanya, karena saya pun mengalaminya. Saya belajar untuk tak terlalu berharap, dan saya belajar untuk memahami.
Sedang Demian justru mengambil jalan yang lain. Ia tetap memikul rasa sakitnya, dan mencari kasih sayang serta pengakuan dari gadis-gadis yang dikencaninya. Sadar atau tidak ia membalas dendam dan rasa sakit hatinya melalui perbuatannya.
Demian tumbuh menjadi pria yang sinis dan cenderung menarik diri dari orang-orang yang ia anggap sumber masalah baginya.
Ada kalanya saya membenci Demian, atas sikapnya terhadap Lucia. Saya gemas banget melihat eh membaca cara Demian memperlakukan Lucia. Sebagai anak bawaan dari Hilda, Lucia yang polos begitu memuja Demian sejak pertama, tanpa kenal lelah, walau ditolak dan dicuekin Demian berkali-kali :'(
Untunglah ada Alexandra yang menjadi penyeimbang yang membuat saya nggak jadi gila karena saking jengkelnya 😂😂. Cerdas, multitasking, berani dan cerewet setengah mati. Alexandra sangat menonjol dan sanggup menguasai keadaan, bahkan keadaan tersulit yang disebabkan Demian.
Setidaknya melalui sosok Alexandra dan Dewi dalam novel ini, saya merasa sudah terwakili untuk menyuarakan apa yang saya rasakan terhadap Demian.

Hubungan yang hangat justru dibagi Demian dengan kedua sahabatnya. Saya menyukai interaksi ketiganya, meski tetap saja satu-dua kali sisi egois Demian keluar. Namun bagi saya, bagian terbaik dari novel ini adalah interaksi yang terjadi antara para tokohnya. Terutama interaksi antara trio Demian-Rio-Dewi, dan interaksi antara Demian dan sekretaris pribadinya. Interaksi antara Demian dan Maura ini lucu dan gokil sehingga saya sempat merasa kalau mereka cocok 😂😂.

Konflik dalam novel ini ternyata nggak sesimpel kelihatannya. Bukan hanya perkara Demian harus menentukan sikap secara jantan untuk impian-impian yang berkelindan di benaknya, tapi juga ia harus mengurai masalah yang telah menumpuk bertahun-tahun. Bagaimana Demian harus berani menyingkirkan egonya dan berdamai dengan masa lalunya. Manusia punya beragam sifat, nggak semuanya hangat, menyenangkan dan mudah mengungkapkan perasaan. Ada insan-insan yang kesulitan untuk bersikap manis, meski jauh di dalam hatinya berlimpahan kasih sayang. Kadang, mungkin kitalah yang harus beradaptasi sedikit untuk menyentuh orang-orang seperti ini.

Sebenarnya ada banyak pesan yang bisa didapat dari Impian Demian, tapi saya memilih menggarisbawahi hubungan yang sulit antara Demian dan ayah serta ibu tirinya. Jika teman-teman unyureaders membaca novel ini, mungkin saja ada pesan lain yang akan teman-teman dapatkan. So, buat kalian yang demen cerita persahabatan & roman yang asyik, konyol dan nggak terlalu kental nuansa romantisnya, kamu harus banget baca novel ini.

Terus ikuti rangkaian blogtour Impian Demian ya, karena setelah postingan review ini saya akan membagikan sebuah cerita pendek versi saya 😉



Jumat, 20 Oktober 2017

[Resensi] Si Bengis Mr. Danvers - Vivienne Lorret | Kala Si Bengis Luluh Menjadi Manis

Judul buku: Si Bengis Mr. Danvers
Judul asli: The Devilish Mr. Danvers
Serial: The Rakes of Fallow Hall #2
Penulis: Vivienne Lorret
Alih Bahasa: Debbie Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: Juni 2017
Tebal buku: 336 halaman
ISBN: 9786020427768



BLURB

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Hedley Sinclair dapat menentukan masa depannya sendiri. Dia mewarisi Greyson Park yang bobrok tapi kehancuran bangunan itu tidak menghalanginya. Tak akan ada yang mengurungnya lagi atau mencoba untuk mengambil benda miliknya. Tidak seorang pun kecuali Rafe Danvers—pria menawan dan seperti iblis dari Fallow Hall. Pria itu bertekad untuk menuntut Greyson Park, namun jika Hedley tidak berhati-hati, pria itu juga akan menuntut hatinya. 

Rafe sepenuhnya berniat untuk membebaskan Greyson Park dari cengkeraman tangan keluarga Sinclair untuk selamanya. Hal terakhir yang dia harapkan adalah bertemu dengan Hedley yang memperdaya—adik dari mantan tunangannya—menghalangi niatnya. Dengan tuntutan drastis, dia berencana untuk membuat gadis itu menikah agar bisa memegang kendali atas rumah itu. Satu-satunya masalah adalah, dia sepertinya tidak bisa berhenti untuk menggoda gadis itu. Bahkan yang lebih buruk lagi, dia mulai jatuh cinta….


RESENSI

Rasanya sudah cukup lama saya nggak membaca novel sampai berurai air mata lebih dari sekali. Iya sih saya gampang terenyuh, gampang mewek saat membaca adegan yang kena di hati, tapi saya nggak menyangka novel historical romance yang asal comot di Scoop ini bisa bikin saya termehek-mehek. Seorang teman penulis memang pernah bilang kalau novel ini bagusnya kebangetan, jadi saya selain karena tertarik dengan sinopsisnya akhirnya merasa penasaran juga untuk melahapnya.

Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertama saya mencicipi karya Vivienne Lorret. Tadinya saya hanya berniat mengintip dulu pembuka ceritanya, tapi ternyata saya langsung dibuat terhanyut hingga sampai akhir kisah. Bagaimana tidak... sedari awal saya sudah dipertemukan dengan heroine yang menderita lahir dan batin karena telah dikurung bertahun-tahun di loteng oleh keluarganya, disembunyikan karena dianggap sebagai aib dan dengan tabah menerima perlakuan kejam ibu dan kakak perempuannya. Hmm... mungkin terdengar sedikit mirip cinderella ya? Tapi nggak kok, nggak ada pangeran tampan dan pesta dansa di kisah ini.
Justru sang hero adalah mantan tunangan kakaknya yang ditinggalkan begitu saja di altar. Bukan seorang pangeran tapi seorang seniman yang keluarganya juga dikucilkan oleh kalangan ton beberapa tahun terakhir.
Jadi mereka sama-sama orang tangguh yang dengan tegak menghadapi tuduhan sosial yang diarahkan pada mereka masing-masing.

Adegan pertemuan keduanya sungguh luar biasa bagi saya. Bagaimana Hedley Sinclair masih mengingat dengan jelas siapa pria di depannya, membawa ingatannya pada kenangan indah yang pernah diberikan Rafe Danvers, meski Rafe tak menyadarinya. Ya. Rafe nggak menyadari siapa Hedley pada awalnya.
Pertentangan batin Rafe merupakan hal yang paling menarik bagi saya. Sedari awal ia telah dibuat bingung antara harus memilih nalar atau perasaannya. Kebenciannya pada keluarga Sinclair toh tetap luruh karena kepolosan Hedley. Beberapa kali ia berusaha kembali pada kecurigaan, walau pada akhirnya ia menyerah dan mengakui Hedley tidaklah sama dengan kakaknya.

Apalah arti sebuah historical romance tanpa kebajinganan (wait... diksi apa ini? 😂). Well, maksud saya, semakin bajingan si tokoh pria, saya biasanya semakin suka. Jadi ketika Rafe punya rencana yang sedikit busuk saya bersorak dalam hati. Rafe ingin menang dalam taruhannya dan ia ingin menyingkirkan Hedley dari propertinya, maka ia membuat rencana perjodohan untuk Hedley. Daaan.... bisa ditebak dong, kalau rencana itu bakal jadi senjata makan tuan. Semua orang bisa menebak kok, termasuk saya, kecuali Rafe sendiri, bahwa dia bakalan kebakaran pantat karena cemburu melihat intimnya Hedley dan Montwood.
Oh iya, selain chemistry Hedley dan Rafe yang penuh percikan-percikan gairah, asmara, hasrat, dan apalah-apalah yang sejenisnya, chemistry Hedley dan Montwood juga terasa pas deh. Saya menangkap mereka berdua seolah memiliki frekuensi kesenduan dan kekelaman yang sama.

Bicara tentang karakter, saya langsung jatuh cinta pada Hedley. Gadis ini bukan tipe gadis keras kepala yang menyebalkan, juga bukan gadis yang malu-malu tapi nemplok juga. Hedley cerdik, pengamat yang jeli, jujur, polos dan dia tahu apa yang dia mau. Hedley nggak malu-malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya serta apa yang diinginkannya. Mungkin dia sagitarius sama kayak saya #halaaah
Rafe juga nggak menyebalkan banget. Yang pasti dia penyayang dan sweet dengan caranya sendiri. Bikin saya meleleh dengan tindakan-tindakan spontannya terhadap Hedley, dan bikin saya pengen getok kepalanya tiap kali mulai membentengi diri dan kekeuh kembali ke rencana semula.

Banyaaaak banget adegan super manis di novel ini. Salah satunya yang paling saya suka adalah ketika Calliope, yang baru saja bertemu dan berkenalan dengan Hedley, membela Hedley yang disakiti kakaknya. Aih... aih... ini adegan yang bikin saya mbrebes mili karena akhirnya Hedley merasakan apa artinya memiliki 'keluarga' walau itu terwujud dari seorang teman yang tetap berdiri mendukungnya.
Saya juga suka bagaimana Rafe membantu Hedley mengatasi trauma dan ketakutannya terhadap kuda dan kereta kuda. Bagaimana Rafe selalu ada di sana saat Hedley berada dalam situasi paling rapuh.

Sayangnya ending novel ini terasa terlalu cepat diselesaikan. Padahal mengikuti naik turunnya konflik antara Hedley-Rafe dan terutama Hedley-Ursa, saya pengin sesuatu yang lebih memuaskan hati. Setidaknya misalnya Ursa ketimpa reruntuhan Greyson Park atau apalah. Oke... um.. itu sadis sih, tapi setidaknya saya ingin sesuatu pembalasan yang setimpal bagi Ursa dong. Wkwkwk~~
Well, secara keseluruhan novel ini bikin saya puas bacanya. Sukaaakkk banget nget. Buat kalian yang suka novel dengan tema-tema semacam kita-musuh-tapi-saling-tergila-gila-tapi-itu-nggak-mungkin-tapi-aku-nggak-mau-kehilangan-tapi-ya-gimana-dong, saya rasa novel ini akan cocok buat kalian.

Senin, 13 Februari 2017

[Resensi] Love and Other Scandal - Caroline Linden

Judul buku: Antara Cinta dan Skandal
Judul asli: Love and Other Scandal
Seri: Scandalous #1
Penulis: Caroline Linden
Alih bahasa: Yunita Candra
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 448 halaman
ISBN: 978-602-02-9915-0



BLURB

Joan Bennett tergolong perawan tua. Dia telah menjalani empat season tanpa pelamar. Setelah membaca buku penuh sensasi yang mengejutkan, Lima Puluh Cara Berbuat Dosa, Joan memutuskan mungkin sudah waktunya untuk berhenti menjadi gadis yang sopan dan mulai menjadi pendosa, selagi dia masih cukup muda untuk menikmatinya. Dan pasangan mana yang lebih baik daripada teman minum kakaknya, Viscount Burke? Sepertinya pria macam itulah yang tahu caranya memberikan petualangan mendebarkan kepada seorang wanita.

Pernikaha sama sekali tidak ada dalam kamus sang viscount. Dengan hati-hati pria itu menghindarkan diri dari hubungan yang bisa menjerumuskannya pada pertunangan.

Namun skandal satu malam itu telah mengubah semuanya...


RESENSI

Joan Bennet telah mengenal Tristan Burke saat usianya masih 8 tahun. Di suatu musim liburan, Tristan yang ikut menginap di rumah keluarga Bennet atas undangan Douglas Bennet, mengendap-endap masuk ke kamar Joan dan bersembunyi di sana. Sejak itu, Joan hanya bertemu beberapa kali dengan Tristan.
Menjelang usianya yang sudah melampaui batas usia menikah, dan setelah menjalani empat season tanpa hasil, kini perhatian ibu Joan beralih pada mencari pasangan yang tepat untuk Douglas. Ibu Joan mengutus Joan untuk menemui sang kakak dan 'memaksanya' agar mau menghadiri pesta dansa. Tak disangka, Joan bertemu kembali dengan Tristan Burke yang tengah menginap di rumah Douglas.
Pertemuan kembali itu rupanya menyeret Tristan pada urusan kakak-beradik Bennet. Apalagi ketika ibu Joan jatuh sakit dan harus dirawat di pedesaan, Douglas mempercayakan Joan ke dalam pengawasan Tristan. Akankah pertemuan-pertemuan mereka semakin membuat dekat? Ataukah Tristan akan meledak dalam rasa kesal dan marah karena kata-kata Joan? Atau justru mereka akan menciptakan skandal?

-----------------

Biasanya tema cinta yang bermula dari masa kecil dan tema naksir sahabat kakak selalu jadi favorit saya. Jadi, saya memang menikmati banget membaca novel ini di awal-awal. Apalagi si sahabat kakak ini akhirnya jadi bajingan paling berbahaya tapi juga sekaligus paling diminati di kalangan ton. Aiiih... makin gemes kan ya jadinya, pengin sang hero ini akhinya klepek klepek dimabuk cinta. Emm... baiklah saya akui, itu memang klise. Tapi toh saya tetap selalu suka membaca kisah-kisah klise begini.. >.<

Love and Other Scandal bersetting di London pada tahun 1822. Meski nggak terlalu mendetail, tapi suasana London yang pikuk dan situasi sosialnya tertangkap dengan jelas. Dua hal yang menarik adalah toko buku yang menyediakan bacaan-bacaan nakal yang didatangi Joan secara sembunyi-sembunyi, dan balon udara yang dinaiki Joan bersama Tristan. Saya yang phobia ketinggian ini mungkin bisa mempertimbangkan naik balon udara asal merasakan pengalaman yang sama dengan Joan: dipeluk Tristan. Hahaha...

Karakter novel ini juga unik karena menghadirkan sosok heroine yang nggak sempurna. Joan Bennet punya tubuh yang terlalu sintal dan terlalu tinggi sehingga nggak cocok mengenakan pakaian-pakaian mode terbaru. Itu sebabnya meski Joan telah menjalani empat kali season, belum ada satu pun lamaran yang diterimanya. Namun, Joan punya semangat dan tekad besar juga kecerdikan yang bisa membuat Tristan Burke mati kutu.
Keluarga Bennet merupakan keluarga bangsawan yang nggak kaku, terutama sosok sang ayah yang lebih santai dan hangat dibanding para pria bangsawan pada umumnya. Lagipula, keluarga Bennet rupanya lebih mengutamakan cinta demi kebahagiaan putrinya daripada berusaha menjodohkan Joan dengan bangsawan yang memiliki gelar lebih tinggi.

Sejak membaca What A Gentleman Wants yang merupakan seri pertama dari trilogi Reece Family, saya sudah jatuh cinta dengan cara bertutur Caroline Linden. Apalagi konfliknya pun bukan hanya berkutat pada kisah cinta sang hero dan heroinenya saja. Ada ketegangan konflik yang besar dan mengancam para karaktenya. Sayangnya hal tersebut nggak saya temui di Love and Other Scandal ini. Cerita ini murni naik turunnya hubungan Joan dan Tristan. Bagaimana sang bajingan bertekuk lutut dan berusaha merayu adik sahabatnya. Puncak konfliknya pun hanya berupa skandal yang terjadi ketika Joan dan Tristan tiba-tiba menghilang setelah terlihat berdansa di tengah pesta dansa.
Saya kira penyelesaiannya akan lebih rumit, tapi toh menilik dari betapa bijaknya sang baronet, rasanya mustahil. Saya juga berharap akan ada pembicaraan panjang antar pria antara Douglas dengan Tristan, tapi rupanya nggak terjadi. Padahal di awal saya sudah terpesona dengan bromance mereka yang tampak solid.

Secara keseluruhan, Love and Other Scandal memang nggak menyajikan skandal menggemparkan, tapi cukup manis untuk dibaca. Kadar hotnya lumayanlah, nggak terlalu bikin kipas-kipas dan hanya satu adegan (agak kecewa sih sebenarnya 😛). Semoga saja buku keduanya lebih seru dari buku pertama serial Scandalous ini.

Selasa, 04 Oktober 2016

[Resensi] Golden Book - Kyoko Hikawa

Judul buku: Golden Book Deluxe
Judul asli: Gin No E-Hon
Penulis: Kyoko Hikawa
Alih bahasa: Mustika Maria
Editor: Nia Ikasary
Desain sampul: Henrikus Ariyanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2010
Tebal buku: 291 halaman
ISBN: 978-979-27-7060-2
            978-979-27-7059-9




BLURB

Walau sudah lumayan lama berpacaran, Chizumi masih saj tetap tidak percaya diri. Kini malah muncul "saingan nyata" cintanya, yang ternyata murid privat Fujiomi!!
Ditambah lagi, tetangga baru di apartemen Chizumi sekarang seorang cewek yang bermulut pedas. Duh... bisa tidak, ya, Chizumi mengatasi ketidakpercayaan dirinya?


RESENSI

Kyoko Hikawa merupakan mangaka favorit saya sejak SMP, dan itu berarti 18 tahun yang lalu. Melalui Miriam, manga karya Kyoko Hikawa yang pertama kali saya baca, saya langsung jatuh cinta dengan gaya artwork dan gaya ceritanya. Sejak itu serial maupun short storynya nggak pernah mengecewakan saya.
Hingga saya bertemu dengan serial Chizumi dan Fujiomi yang terbagi menjadi tiga buku: Angin Musim Gugur, Pastel Mood dan Golden Book. Baru kali itulah saya bertemu karakter cewek yang ceroboh banget dan seolah nggak bisa ngapa-ngapain tanpa mengacaukannya. Saat itu, cewek ceroboh belumlah terlalu booming, dan Chizumi lah karakter cewek ceroboh yang pertama kali saya baca. Meski saya nggak begitu suka dengan karaktenya, saya toh melalap ketiga judul manga serial ini.

Selang  beberapa tahun kemudian, Elex Media Komputindo menerbitkan ulang manga-manga lawas mereka, dan satu di antaranya adalah Golden Book. Kali ini seri Chizumi & Fujiomi hanya dibagi menjadi dua buku. Itu artinya, dalam Golden Book Deluxe (series 2), terdapat bagian kisah yang berasal dari Pastel Mood.
Ada tiga part dalam Golden Book Deluxe, yang pertama adalah Pastel Mood, Deretan Pohon Ichiyo dan barulah Golden Book. Pastel Mood dan Golden Book sama-sama menghadirkan perempuan lain yang berusaha menarik perhatian Fujiomi. Perempuan-perempuan yang lebih percaya diri, lebih cantik, nggak ceroboh dan yang merasa bisa mengalahkan Chizumi dalam hal memenangkah hati Fujiomi.
Dulu pikiran cetek saya selalu mempertanyakan apa sih yang membuat Fujiomi memilih Chizumi. Memang Chizumilah yang telah mengubah Fujiomi, dengan kecerobohan dan kepolosannya ia menjadi penyeimbang bagi sifat Fujiomi yang kaku dan lurus itu. Tapi baru kini saat membaca ulang kisah ini lagi saya menyadari, betapa besar ketulusan dan kepercayaan Chizumi pada Fujiomi.
Chizumi yang selalu ceroboh, rendah diri dan nggak punya kelebihan itu punya perasaan paling tulus dan percaya habis-habisan pada Fujiomi. Chizumi yang seolah selalu membutuhkan Fujiomi justru memberi kesempatan pada Fujiomi untuk melakukan apa yang paling dibutuhkan pria itu, melindungi gadis yang dicintainya. Chizumi bergantung tapi sebenarnya juga menopang.

Bagi saya, Golden Book bukan lagi kisah menyebalkan antara pria paling super dengan gadis paling ceroboh. Ini adalah kisah cinta yang begitu seimbang. Chizumi menunjukkan kualitasnya dengan telak di depan gadis-gadis lain yang mengharapkan Fujiomi. Kebaikan dan ketulusannya meluruhkan anggapan saya bahwa ia nggak pantas mendapatkan Fujiomi.
Pada akhirnya kisah cinta ini menjadi terasa manis. Sikap Fujiomi terhadap Chizumi, senyum Fujiomi yang seolah memuja Chizumi itu asli sudah menggambarkan perasaannya yang sesungguhnya.

Yang menyenangkan dari kisah ini adalah kehadiran pacar pertama Fujiomi. Seru karen bisa melihat Fujiomi versi SMP. Lucu banget. Sifat kikuknya menggemaskan dan di sisi lain juga membuat saya iba.
Namun tentunya kehadiran Asako Yasugi lebih menyebalkan dari Chizumi sendiri. Bahkan lebih menyebalkan dari bocah kelas 3 SMA yang jadi murid privat Fujiomi. Yah, cewek mana sih yang suka dan santai saja kalau mantan pacar pertama kekasih kita datang lagi dan mulai deket-deket lagi. Dan dengan sok tahunya bilang:

"Tapi aku tahu... Kalau Fujiomi itu baik hati dan jujur. Aku lebih dulu tahu dadipada kamu... Lebih dulu dari kamu..." (Asako)

Bah! Kalau saja saya yang di posisi Chizumi sudah saya lempar gelas saya ke mukanya. Tapi Chizumi... aaah malah nggak enak sendiri dan iya iya aja. Duuuh gemaaaas. Tapi siapa sangka kalau Asako malah terintimidasi dengan sikap Chizumi. Wkwkwk~

Well, selesai membaca ulang manga ini saya merasa mulai bisa menyukai Chizumi. Saya menyadari betapa manis-unyunya pasangan ini. Tapi toh tetap saja Chizumi tak bisa menggeser Miriam dari karakter cewek favorit saya. Hmm~ tetaplah berjuang Chizumi!

Sabtu, 24 September 2016

[Resensi] Scandal of The Season

Judul buku: Skandal Terbesar
Judul asli: Scandal of The Season
Seri: The Spinster Club #4
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Tikah Sofyan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2013
Tebal buku: 456 halaman
ISBN: 9786020222219

It


BLURB

“Bagaimana kalau kita lihat caramu menerima ciumanku?” 

Sebelum Victoria sempat mundur, Anthony menarik dan menciumnya. Kemarahan akibat dibohongi mereda ketika wanita itu membuka bibirnya sedikit. Anthony memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya, menikmati pertemuan lidah mereka. Entah mengapa Victoria merasa ingin mendorong Anthony agar melepaskannya, namun ciumannya berkata sebaliknya. 

Apakah reaksi itu merupakan respon yang ia pelajari dari profesinya? Apakah ia senang berpura-pura menjadi pelacur yang lugu? Perlahan Anthony menjauh dan tersenyum seraya menatap raut Victoria yang kebingungan. Raut wajah Victoria bukan raut wajah seorang perempuan yang terpaksa menerima ciuman. Anthony mengangkat dagu Victoria. “Kalau kau terus menciumku seperti tadi, aku sendiri akan mengira kau menginginkanku.”


RESENSI

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak Somerton melakukan hal yang tidak pantas terhadap gadis penjual jeruk yang ditaksirnya. Beberapa tahun terakhir ini, dengan gencar Somerton berusaha mencari tahu di mana gadis itu dengan bantuan Sophie, si cenayang. Dan kali ini secara melegakan, Sophie akhirnya memberi tahu di mana gadis itu berada saat ini.
Dan petunjuk Sophie membawa Somerton kepada Victoria, gadis pemalu dan kutu buku yang merupakan teman Sophie. Sayangnya di hari ketika Somerton berinteraksi dengan Victoria, Somerton kehilangan kalung berharga milik ibunya. Takjub akan kenyataan, Somerton membuat perjanjian dengan Sophie. Mereka akan saling bekerja sama dan Victoria harus berpura-pura menjadi wanita simpanan milik Somerton. Semua demi misi terakhir Somerton. Akankah mereka berhasil?

---------------------

Akhirnya saya memutuskan membaca Scandal of The Season, saking ngebetnya saya untuk menelusuri kisah percintaan Somerton, tokoh favorit saya dari seri The Spinster Club. Sejak awal, Somerton selalu hadir dalam kisah-kisah sebelumnya sebagai agen alias tangan kanan Sophie dalam mencomblangkan para anggota klub perawan tua. Somerton dibalik sikapnya yang kelihatan bajingan dan seenak pantatnya sendiri itu, pastilah hero yang paling potensial di antara hero lainnya.

Dan untungnya harapan saya terwujud. Novel Scandal of The Season bukan saja menghadirkan hero idaman saya, tapi juga heroine yang luar biasa dan bikin saya takjub. Di novel sebelumnya, saya sama sekali nggak tertarik ataupun terkesan pada Victoria, dia seolah hanya pelengkap dalam kelompok kecil itu. Namun ternyata Victoria pun sama cerdiknya dengan Somerton. Kesan yang saya tangkap selama ini runtuh seketika saat mengetahui profesi Victoria sebenarnya. Victoria merupakan pencopet yang canggih, yang beberapa kali membuat Somerton harus mengakui kelihaiannya.
Tentunya seru banget mengikuti kisah cinta antara mata-mata kerajaan dan seorang pencopet. Sungguh perpaduan yang menarik dan membuat jalinan cerita ini makin mengasyikkan.

Buku keempat dari seri The Spinster Club ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, dengan fokus utamanya bergantian antara Somerton dan Victoria. Alurnya mengalir maju dengan setting tahun 1807 pada awalnya, ketika saya dibawa ke tahun yang krusial bagi Somerton, Anne Smith dan Lady Whitely. Kemudian di bab selanjutnya, setting telah maju ke tahun 1817, tepat sepuluh tahun dan menjadi waktu yang tepat bagi Sophie untuk menjodohkan Somerton dan Victoria.

Novel ini pun berbeda dengan novel sebelumnya dari seri The Spinster Club. Betapa tidak, Scandal of The Season menyajikan misteri akan latar belakang kedua karakter utamanya di samping petualangan mereka dalam menjalankan misi melindungi prinny. Jadi, novel ini bukan hanya kisah cinta berbau skandal saja, tapi juga memberi kisah usaha Somerton dan Victoria dalam menyelidiki dan menuntaskan misi mereka. Kisah yang seru dan mendebarkan.
Namun karena saya sebelumnya sudah membaca buku kelimanya, asal-usul dan latar belakang keluarga Somerton sudah nggak mengagetkan saya lagi. Hahaha...

Saya suka dengan interaksi antara Somerton dan Victoria. Dialog yang mereka lemparkan satu sama lain begitu hidup dan intens. Chemistry di antara mereka berdua saya rasa merupakan chemistry terbaik jika dibandingkan dengan tokoh di novel yang lain dalam seri yang sama ini. Apalagi ketika tiba di saat sudut pandang terfokus pada Somerton, duuuh bikin klepek-klepek deh ungkapan perasaan dan penderitaan hatinya.
Cara Somerton cemburu pada Nicholas dan Hardy itu manis banget. Yaaah... ini kan dunia novel ya, jadi tokoh utamanya gampang cemburuan sih bebas aja. Tapi kalau di dunia nyata, cowok cemburuan mah tinggalin aja. Jangan diberi kesempatan untuk berbaikan. Wkwk~

Saya suka cover versi terjemahan ini. Bisa dibilang saya jatuh cinta pada cover novel historical fiction dari penerbit Elex Media Komputindo, karena selalu menampilkan gaun-gaun yang indah dengan warna yang cerah. Sayangnya untuk penerjemahannya masih kurang bagus dan banyak sekali typo dalam novel ini.

Overall, saya suka banget dengan Scandal of The Season. Sebuah kisah dengan karakter tokoh yang menarik dan beda dari yang lain. Seorang hero yang terluka hatinya, seorang heroine yang badass-nya minta ampun, dan sebuah konflik berbahaya yang berpotensi menyatukan mereka. Sungguh kisah yang luar biasa manis dan romantis.

Kamis, 22 September 2016

[Resensi] Every Time We Kiss - Christie Kelley

Judul buku: Setiap Kali Kita Berciuman
Judul asli: Every Time We Kiss
Series: The Spinster Club #2
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Layna Ariesianti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 384 halaman
ISBN: 9786020013404



BLURB

Wanita itu menghela napas, suara yang indah yang membuat perhatiannya kembali fokus ke bibir Jennette yang penuh dan berwarna merah jambu.
"Aku harus membuat rencana percomblangan ini dengan lebih baik lagi."

Dia mendekat selangkah ke Jennette, menyadari saat ini mereka sudah berdiri terlalu dekat dengan satu sama lain.
"Mungkin kau memang tidak ingin melakukannya dengan lebih baik?"
Jennette menengadah. "Maksudmu?"
"Mungkin kau tidak mau mencarikan seorang pengantin untukku."
"Tapi... Oh, tidak," katanya sambil menyunggingkan senyum tipis dan menggeleng "Aku tidak akan menikah denganmu."
"Mungkin," bisiknya. "Tapi tidakkah kau ingin tahu apa yang akan kau lewatkan?"
Mata Jennette yang biru berkilau jahil. "Tidak juga."

Dia mengusap pipi Jennette dengan tangannya yang terbungkus sarung tangan sampai wanita itu gemetar. "Tidak pernahkah kau menginginkan seorang berandalan di ranjangmu?"
"Seseorang sepertimu?"
"Persis."


RESENSI

Setelah lima tahun dikucilkan oleh kalangan ton, tiba saatnya bagi Matthew untuk kembali ke masyarakat kelas atas. Ini semua karena kematian ayah dan kakaknya, yang membuatnya mewarisi gelar Earl of Blackburn. Namun sayangnya, ton masih belum bisa memaafkan kesalahan fatalnya. Tak ada yang bisa melupakan fakta bahwa Matthew telah membunuh John, tunangan Lady Janette Selby, lima tahun lalu.
Maka untuk membantunya mendapatkan istri yang sesuai dengan mas kawin yang besar, Matthew justru meminta bantuan Jennete. Karena sesungguhnya hanya mereka berdua yang tahu dengan pasti apa yang terjadi di hari naas lima tahun yang lalu.
Janette bersedia membantu. Namun semakin lama ia mencari kandidat istri bagi Matthew, semakin tak karuan rasa hatinya. Ia mendapati bahwa ketertarikannya pada pria itu tak pernah memudar, begitu juga dengan Matthew. Sekuat tenaga Jennete berusaha melawan perasaannya, karena baginya Matthew terlalu baik untuknya.

--------------------

Every Time We Kiss merupakan buku kedua dari seri The Spinster Club. Seri yang membuat saya tertarik karena selalu melibatkan skandal para heroinenya. Setelah membaca seri pertama dan seri kelimanya, kali ini saya memutuskan untuk membaca Every Time We Kiss.
Namun jika dibandingkan dengan skandal yang menghebohkan antara Avis dan Lord Selby, kakak Jennete, di Every Night I'm Yours, kisah dalam novel ini cenderung flat dan membosankan.

Sebenarnya saya menyukai ide cerita dan konflik novel ini yang belum pernah saya temukan di novel dengan tema senada. Tentang seorang pria yang saking cintanya dan saking gentleman-nya mau melindungi si gadis dan memikul semua kesalahan. Rasanya sungguh mustahil. Hebat benarlah kalau memang ada di dunia nyata.
Sisi romantis saya (jiaaah ngaku-ngaku kalau romantis) menganggap tindakan Mattew benar-benar manis dan romantis. Tapi sisi rasional saya rasanya pengen mencak-mencak dan berharap Matthew mendapatkan keadilan. Terutama ketika Mattew diserang secara verbal oleh Mr. dan Mrs. Marston di hadapan seluruh tamu alias separuh ton. Huhuuu rasanya jadi pengin peluk Mattew.
Karakter Matthew benar-benar karakter hero yang sempurna. Dia mengaku seorang bajingan, tapi toh dia punya rasa tanggung jawab dan gentleman banget. Bukan bajingan sejati semacam Somerton (dan betewe saya masih tetap naksir berat pada Somerton dan masih menanti waktu untuk membaca kisahnya). Beberapa kali Mattew punya kesempatan untuk mengkompromi Jennete, tapi tetap saja ia membatalkannya. Hanya demi nama baik Jennete. Duuuh... so sweet banget nggak sih? *meleleh*
Sementara Jennete sebagai heroine yang cukup menyenangkan. Saya suka dengan kecerdasannya, dengan kemampuannya mengendalikan para lelaki di sekitarnya, keahliannya mendebat Selby, juga bakat-bakatnya yang membuat ia bukanlah gadis bangsawan yang membosankan. Tapi rasanya capek juga membaca pengingkaran yang dilakukannya. Kalau cinta ya cinta aja lah neng, nggak usah dibuat repot. Hahaha...
Sebab lucu rasanya melihat Jennete sibuk mencari jodoh yang tepat untuk Matthew, namun setiap kali melihat Matthew berdua saja dengan seseorang calon istri potensial, Jennete bakal langsung bete. Duh, kasihan kau, Nak.

Konfliknya cukup bagus. Ada banyak peran yang muncul, tapi jangan kuatir karena nggak bakal membingungkan. Kali ini konfliknya bukan saja berasal dari dalam diri hero dan heroinenya saja, tapi juga ada konflik yang berasal dari luar. Nah, untuk pembawa konflim dari luar inilah yang membuat saya mengurangi poin novel ini.
Well, memang banyak hero di novel-novel lain yang punya sejarah seks yang luar biasa. Banyak yang disebutkan punya mantan kekasih yang hebat. Namun, Matthew di sini sebelum kembali ke masyarakat kalangan atas, telah memelihara seorang kekasih. Walau hal ini banyak dilakukan oleh bangsawan pada masa itu, saya tetap merasa terganggu mendapati Matthew telah main perempuan cukup lama. Dan sepertinya Jennete nggak ada nasalah dalam hal itu. Huhuu.. kok malah saya yang baper ya saat tahu Matthew punya gundik selama beberapa tahun.

Untuk terjemahan novel ini sayangnya masih banyak terdapat typo, entah kekeliruan nama antara Anthony dan Nicholas, juga kesalahan penulisan kata. Saya juga kurang sreg dengan penyebutan "bujang" sebagai kata ganti untuk "pelayan". Aneh saja kedengarannya. Tapi secara keseluruhan tetap enak dibaca dan cukup luwes.

Yah, Every Time We Kiss yang jelas bukanlah novel favorit saya dalam seri The Spinster Club, tapi lumayan seru dan mengasyikkan. Mengikuti kisah cinta yang terpendam selama lima tahun dan terungkap setelah sang hero kembali. Hah, saya jadi pengin memutar lagu KLBK-nya Yovie Nuno jadinya :))))

Senin, 19 September 2016

[Resensi] Kepingan Terpendam - Indarpati Ayaran

Judul buku: Kepingan Terpendam
Penulis: Indarpati Ayaran
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Maret 2014
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 9786020235820



BLURB

Kinanthi 

Pandangan lelaki di hadapannya menusuk tajam. Dia merasa dikuliti. Anehnya, dia justru merasa lumer dan ingin berbagi semua mimpi tentang sebuah keluarga kepada lelaki yang justru belum setengah jam dikenalnya ini. 


Elang 

Jujur, dia merasakan sesuatu pada wanita itu. Parfum lembut yang menyapa indra penciumannya begitu Kinanthi mendekat tadi, seolah sudah lama dikenalnya. Ada saraf-saraf di tubuhnya yang mengatakan bahwa wanita yang baru datang ini memang akan datang hanya untuknya, selamanya. 


Bagi Kinanthi, Elang adalah sosok pria yang harus dihindari agar tak terulang kesalahan konyolnya di masa lalu. Bagi Elang, Kinanthi adalah wanita yang harus didekatinya demi berjalannya sebuah rencana yang dia harapkan dapat membalas kesalahan seseorang di masa lalunya. 

Ketika satu per satu kepingan yang terpendam terkuak, masih bisakah mereka mengingkari kenyataan yang sesungguhnya?


RESENSI

Untuk pertama kalinya Kinanthi bertemu dengan Elang, seorang pemilik perusahaan properti yang menginginkan Kinanthi mengurus pesta ulang tahun perusahaannya. Yang tidak diketahui Kinanthi adalah, Elang memang telah mengincarnya. Pria itu telah menyelidikinya dan menggiring Kinanthi agar jatuh cinta pada pesona Elang. Semua itu hanyalah demi satu hal, balas dendam.
Elang telah membawa dendamnya cukup lama dan menanti saat yang tepat. Kini ketika kesempatan itu tiba di ujung mata, hatinya malah goyah. Ia tak menyangka Kinanthi memberi pengaruh yang begitu kuat padanya. Ia mulai merasakan perasaan yang aneh terhadap gadis itu.
Sanggupkah Elang menjalankan rencananya?Mampukah ia menjatuhkan Kinanthi? Dan ketika mereka bersama, apakah hubungan mereka salah? Sebagai apa mereka saling mencintai: kakak-adik atau suami-istri?

-------------------

Saya mengambil novel ini untuk dibaca karena judulnya yang menggunakan bahasa Indonesia. Semakin banyaknya novel roman lokal yang diterbitkan, sayangnya semakin banyak pula yang menggunakan judul bahasa Inggris. Mungkin biar catchy. Mungkin juga biar gampang nancap di pikiran. Tapi bagi saya, judul yang menggunakan bahasa Indonesia justru judul yang romantis dan lebih berkesan. Bahkan meski cerita di dalamnya nggak sesuai harapan.

Kepingan Terpendam menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Jalan ceritanya cukup bagus namun sayang alurnya melompat-lompat dan kecepatannya nggak konstan. Hal ini membuat saya mudah capek dan bosan. Apalagi dialog antar tokohnya terasa seperti dialog young adult, dan bukan dialog antar karakter yang telah dewasa. Terlihat dari susunan kalimat dan pemilihan katanya yang kurang dewasa. Adegan-adegan romantisnya pun terkesan dipaksakan dan terlalu klise. Seperti mengusap sisa makanan di bibir si cewek lalu menjilatnya, atau mengulum jari. Duh... itu udah basi deh. Kecuali memang si tokoh memang sengaja, melakukannya untuk memancing birahi. Tapi ini kan bukan begitu tujuannya, makanya jadi terlihat klise dan halah adegan ini lagi ini lagi.

Karakter novel ini lumayan bikin kesal. Kurang bulat, masih mengambang dan masih "bersuara" sama. Nggak ada pembeda yang jelas antara Kinanthi, Elang, Mama Arini, Mama Rina, dan lain-lainnya. Semua sama membosankannya. Kinanthi gampang banget menyerah, nggak mau jatuh cinta tapi dirayu dikit kena juga. Elang yang arogan dan kepedean banget dan terlalu berusaha unjuk diri dalam narasi dan deskripsinya, kelihatan labil dan nggak terkesan berwibawa seperti seorang pemilik perusahaan besar. Dingin, jutek memang iya, tapi kesannya malah seperti anak manja yang arogan dan bukannya pekerja keras.
Terlalu banyak masalah yang berusaha dijejalkan dalam satu buku. Sehingga konfliknya jadi terasa lari kemana-mana dan kurang matang. Adegan mabuk dan membawa perempuan lain pun seolah dipaksa masuk tanpa ada pendahuluan atau latar yang jelas.
Dan di atas itu semua, chemistry antar tokohnya kurang kuat. Dialognya seolah tanpa emosi dan kurang bersuara. Memang ada beberapa kalimat bijak atau kalimat romantis yang diselipkan, cukup segar dan manis, tapi itu pun hanya satu dua kali.

Sebenarnya saya suka dengan premis ceritanya. Ini ide cerita yang selalu menjadi favorit saya sampai kapan pun. Tentang pembalasan dendam yang kemudian berujung pada cinta. Dan ternyata ada konflik lain yang menunggu sang hero-heroine yang nggak mereka duga (tapi bisa saya duga). Hanya saja cara penyajiannya dan eksekusinya masih kurang memuaskan saya.
Tapi saya suka dengan konflik incest yang muncul, akan lebih baik lagi jika disertai detail deskripsi akan akibat incest dan bagaimana hal itu mempengaruhi perasaan mereka. Elang cukup bagus dalam menunjukkan rasa frustasinya, tapi Kinanthi sayangnya enggak. Seolah mereka sudah tahu mereka akan bahagia juga nanti akhirnya.

Yah, secara keseluruhan novel Kepingan Terpendam merupakan novel ringan yang berusaha menyajikan kisah tentang balas dendam yang berujung pada jatuh cinta. Balas dendam yang sia-sia sebenarnya. Namun novel ini beberapa kali bercabang dan keluar jalur storyline-nya. Terlepas dari adegannya yang klise dan dialognya yang kaku, ide cerita novel ini sangat menarik. Membuat saya teringat pada sebuah novel tentang seorang stalker dan memberi twist yang luar biasa mengejutkan karya Andrei Aksana, yang berjudul 24 jam. Ah...

Minggu, 18 September 2016

[Resensi] One Night Scandal - Christie Kelley

Judul buku: Skandal Satu Malam
Judul asli: One Night Scandal
Seri: The Spinster Club #5
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Eka Budiarti
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 424 halaman
ISBN: 9786020222134



BLURB

Aroma wanita itu bagaikan lavender dan rasanya bagaikan dosa... 

Lahir dalam keluarga yang ’salah’, membuat Sophie Reynard memahami sepenuhnya konsekuensi hasrat yang tak dikendalikan. Meski berhasil menjodohkan teman-teman bangsawannya, kepiawaiannya tak berguna bagi dirinya sendiri. Jatuh cinta pada bangsawan tanpa garis silsilah kuat hanyalah sebuah kesia-siaan. 

Tapi itu tidak menghentikannya dari petualangan satu malam penuh hasrat bersama Nicholas Tenbury... Marquess of Ancroft!


RESENSI

Merasa kesepian karena para sahabatnya telah menikah, Sophie Reynard memutuskan untuk berlibur ke Venezia. Ketika sedang berkonsentrasi menatap air kanal untuk mencoba meramal masa depannya, tanpa sengaja, Sophie jatuh ke dalam kanal dan membentur gondola yang dinaiki Nicholas Tenbury. Pria itu pun dengan sigap menyelamatkannya dan membawanya ke rumahnya.
Ketika memandang Nicholas, secara samar dan singkat, Sophie mendapat penglihatan bahwa pria itu adalah jodohnya. Maka dengan berani ia pun merayu Nicholas. Sophie menganggap Nicholas hanyalah pria asing dan tak menyadari siapa pria itu sebenarnya.
Namun saat hendak menyelinap pergi, Sophie menemukan sebuah surat di meja pria itu. Saat membacanya, barulah ia sadar siapa Nicholas sebenarnya, dan betapa dekatnya hubungan Nicholas dengan sahabat-sahabat Sophie.
Akankah Sophie meneruskan skandal satu malamnya? Apakah ia berani mengambil risiko membuat skandal dengan seorang calin duke? Dan benarkah Nicholas adalah cinta sejatinya?

----------------------------

Kemarin seusai menyelesaikan Every Night I'm Yours saya bertekad untuk meneruskan membaca seri Spinster Club. Namun karena nggak bisa menemukan buku-buku dalam seri ini secara urut, akhirnya saya memilih membaca One Night Scandal, yang merupakan buku kelima dari seri tersebut. Meskipun membaca seri kelima berarti saya mengetahui beberapa fakta dari seri-seri sebelumnya, tapi tetap saja novel ini asyik dibaca dan nggak bikin bingung.
Dan kebetulan heroine dalam novel ini adalah tokoh favorit saya, Sophie si cenayang yang juga merupakan anak haram seorang earl. Sejak kemunculannya di Every Night I'm Yours, Sophie sudah membangkitkan rasa penasaran saya. Akan latar belakangnya, akan kemampuannya dan akan bagaimana perasaannya disepelekan oleh masyarakat kelas atas. Sungguh menyusuri kisah Sophie benar-benar sangat menarik.

One Night Scandal pada mulanya bersetting di Venesia pada tahun 1818, selang satu tahun dari kisah Avis dan Banning. Dan selama setahun tersebut, teman-teman Klub Perawan Tua telah menikah semua, dan membuat Sophie diam-diam merasa kesepian. Sungguh pada awalnya saya menyukai pertemuan Sophie dan Nicholas, saya suka interaksi mereka yang penuh kesan misterius karena sama-sama tak mengenal satu sama lain. Berhubungan dengan orang asing dan di tanah asing membuat kisah ini bisa mengarah ke mana saja. Dan kemudian cerita menjadi seru setelah Sophie menyadari siapa Nicholas sebenarnya.
Saya sebenarnya lebih ingin proses Nicholas dalam mencari siapa Sophie terjadi lebih lama. Saya lebih menginginkan ketegangan saat Sophie dan Nicholas bisa "nyaris" bertemu. Tapi rupanya Christie Kelley membuat mereka berdua lebih cepat bertemu dan membuat konflik batin.
Konflik yang lagi-lagi hampir sama dengan buku pertamanya. Ketika sang hero telah yakin dan melamar sang heroine, lamaran itu ditolak. Meski dengan alasan yang berbeda, polanya tetap saja sama. Dan di sinilah saya mulai bosan dan merasa nggak seantusias sebelumnya lagi.

Saya memahami kerapuhan perasaan Sophie. Tumbuh tanpa diakui oleh ayahnya, tanpa kasih sayang seorang ayah, dan ibunya sendiri hanya hadir saat sudah lelah bertualang. Sophie yang haus akan cinta namun dipaksa keadaan untuk menjadi kuat. Itu sebabnya saya menyukai interaksinya dengan Somerton. Saya suka bagaimana Somerton selalu ada di sana dan mendukung Sophie, saya suka dengan rasa posesifnya dan kelicikannya dalam membantu mendekatkan Sophie dan Nicholas. Dari keseluruhan cerita, hubungan Somerton dan Sophie lah yang paling membuat saya tersentuh.
Sayangnya, seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, Sophie jadi terlalu drama di pertengahan cerita. Ia menolak lamaran Nicholas dan bersikap tak masuk akal dengan menjodohkan Nicholas secara sembarangan. Dan yang paling parah, Sophie nggak mempercayai Jennette dan Nicholas, dan membuat tuduhan membabi buta tanpa mencari kebenarannya.
Sedangkan meski Nicholas cukup menyenangkan dan gentleman, saya justru merasa lebih tertarik pada Somerton. Dan saya juga merasa chemistry antara Nicholas dengan Sophie nggak sekuat chemistry Avis dan Banning di cerita sebelumnya.

Ada banyak kepedihan dan penolakan dalam kisah kali ini. Anak-anak yang ditolak mendominasi melalui Sophie dan Emma. Tapi siapa pun layak untuk dicintai, apa pun statusnya, karena semua anak harusnya mendapat limpahan kasih sayang dan rasa cinta. Dan saya juga suka dengan pengakuan yang dilakukan Somerton, ini membuat rasa cinta saya pada karakter satu ini bertambah makin besar.
Well, meski saya kurang puas dengan One Night Scandal tapi saya menikmati novel ini dan bersiap melanjutkan membaca serial Spinster Club yang lainnya.

Sabtu, 17 September 2016

[Resensi] Every Night I'm Yours - Christie Kelley

Judul: Selamanya Milikmu
Judul Asli: Every Night I'm Yours
Seri: The Spinster Club #1
Penulis: Christie Kelley
Alih bahasa: Debbie Hendrawan
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: Agustus 2012
Tebal buku: 416 halaman
ISBN: 9786020031668



BLURB

Kerinduan seorang wanita untuk mencicipi yang terlarang... Pada usianya yang kedua puluh enam, Avis Copley menggunakan status perawan tua sebagai lencana kehormatan. Tapi ia juga penasaran ingin mengetahui `kenikmatan daging` yang sesungguhnya. Karenanya, ia merancang suatu rencana yang berani.... Seorang pria yang siap mengajarkan segalanya... 

Avis memilih Emory Billingsworth, sesama novelis sesama untuk mengajarkan kenikmatan duniawi padanya. Tapi menurut sang Earl - Banning Talbot - Avis membuat pilihan buruk, dan menawarkan dirinya sebagai pengganti. Sayang Banning kurang mengantisipasi satu hal... murid yang sangat bersemangat dan seberapa jauh pelajarannya menimbulkan efek.... 


RESENSI

Avis Copley masih perawan di usianya yang keduapuluh enam. Semula ia merasa baik-baik saja, namun sebuah buku membuatnya memimpikan hal-hal erotis selama beberapa hari terakhir. Memutuskan untuk menyelami rasa ingin tahunya, Avis membuat keputusan untuk mencari kekasih. Dan pilihannya jatuh pada Emory Billingsworth, sahabat sekaligus rekannya dalam menulis. Avis menganggap Emory adalah pria baik yang akan membantunya dan tak akan menjadikan kesepakatan mereka terekspos dan menjadi skandal.
Sayang rencana Avis terendus oleh Banning Talbot, kakak sahabatnya. Pria yang juga telah mengambil ciuman pertama Avis hanya karena taruhan. Selama delapan tahun Avis dan Banning telah saling melemparkan hinaan dan sindiran. Namun kali ini, Banning harus mencegah dan menghentikan Avis dari perbuatan bodohnya. Maka, Banning pun menawarkan diri sebagai kekasih Avis. Ia bersedia menjalani malam-malam liar bersama Avis demi memuaskan rasa ingin tahu Avis. Namun, ternyata Banning punya tujuan lain yang berkaitan dengan Avis.

------------------------

Menyelesaikan satu buah novel historical romance dalam sehari merupakan rekor tersendiri bagi saya, terutama akhir-akhir ini. Tapi toh akhirnya saya bisa menyelesaikannya juga. Meskipun Every Night I'm Yours merupakan karya Christie Kelley yang baru pertama kalinya saya baca, tapi saya sungguh menikmati membaca novel ini.

Every Night I'm Yours menggunakan setting di London di tahun 1816. Menggunakan sudut pandang orang ketiga secara bergantian antara hero dan heroinenya. Hal yang membuat saya menjadikan novel ini sebagai novel favorit. Saya suka bagaimana Christie Kelley menyajikan kedalaman rasa dan pemikiran-pemikiran heronya. Dan tentunya saya pun dibuat semakin terhanyut dalam pusaran arus konfliknya yang naik turun.
Bagian yang menarik dari novel ini adalah Avis. Seorang gadis berusia 26 tahun, usia yang bagi masyarakat di masa itu dianggap telah melewati batas usia untuk menikah, dan dijuluki perawan tua. Bukan karena dia nggak cantik, atau nggak memiliki mas kawin, tapi justru karena ia memang memilih untuk nggak menikah. Tentunya hal ini sangat jarang terjadi di masa itu. Tapi, Avis ternyata memiliki ketakutannya sendiri. Di balik kemandirian dan kekeraskepalaannya ada seorang gadis yang ketakutan.
Sayangnya di pertengahan cerita Avis mulai terlihat konyol dan menyebalkan. Dia menolak gagasan pernikahan yang diajukan Banning, dan lebih mempercayai ucapan Emory. Saya merasa gemas di bagian tarik-ulur dan keragu-raguan Avis yang seolah hanya untuk memperpanjang cerita.
Sementara Banning benar-benar hero yang memikat. Ada kesan kurang ajar, bajingan tapi penuh perhatian dalam diri Banning. Dan rasa putus asanya untuk memiliki Avis digambarkan dengan penuh perasaan. Setiap kali sudut pandang mengungkapkan keresahan Banning adalah bagian terfavorit saya.

Sayangnya penerjemahannya masih kurang bagus. Saya terganggu banget dengan penyebutan "jagoan" yang merujuk pada kejantanan, dalam novel ini. Rasanya menggelikan. Karena selama ini saya terbiasa dengan istilah kejantanan atau pusat gairah atau apa pun kata untuk menerjemahkannya. Maka setiap kali kata "jagoan" muncul, saya hanya bisa memutar bola mata.
Tapi saya suka dengan cover versi terjemahan ini. Lebih manis daripada cover aslinya.
Untuk adegan panasnya lumayan bertebaran tapi masih dalam kadar yang aman. Saya sih menganggap biasa saja, dari skala 1 sampai 10 saya beri angka 7 untuk adegan panasnya. Karena di sela aktivitas ranjang antara Avis dan Banning, banyak banget momen romantisnya. Dan jangan lupakan adegan-adegan manis yang dilakukan Banning yang bisa bikin meleleh. Duh...

Saya mendapati novel ini merupakan novel pertama dari seri The Spinster Club. Dan sepertinya para tokoh dalam seri ini telah bermunculan dalam Every Night I'm Yours. Saya mengamati interaksi persahabatan mereka dan merasa puas. Sepertinya saya akan mengikuti seri Spinster Club ini. Karena saya suka dengan persahabatan yang saling mereka jalin, juga ikatan kekeluargaan yang tampak akrab. Saya memang paling suka dengan novel historical romance yang menampilkan kekeluargaan dan keeksentrikan yang besar.

Overall, Every Night I'm Yours merupakan novel historical romance yang manis banget. Banyak adegan romantisnya, dan banyak pula adegan panasnya. Namun yang pasti saya menangkap kekuatan dalam novel ini. Semua orang punya rasa takut, tapi selama kita percaya pada diri kita sendiri dan percaya pada seseorang yang akan menjaga kita dari segala ketakutan kita, maka semua akan baik-baik saja.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon