Minggu, 29 Januari 2017

[Resensi] Rule of Thirds - Suarcani

Judul buku: Rule of Thirds
Penulis: Suarcani
Penyunting: Midya N. Santi
Penyelaras aksara: Mery Riansyah
Perancang sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 288 halaman
ISBN: 9786020334752



BLURB

Apalagi yang paling menyakitkan dalam pengkhianatan selain menjadi yang tidak terpilih?


Demi mengejar cinta Esa, Ladys meninggalkan karier sebagai fotografer fashion di Seoul dan pulang ke Bali. Pulau yang menyimpan kenangan buruk akan harum melati di masa lalu dan pada akhirnya menjadi tempat ia menangis. 

Dias memendam banyak hal di balik sifat pendiamnya. Bakat terkekang dalam pekerjaannya sebagai asisten fotografer, luka dan kerinduan dari kebiasaannya memakan apel Fuji setiap hari, juga kemarahan atas cerita kelam tentang orang-orang yang meninggalkannya di masa lalu. Hingga dia bertemu Ladys dan berusaha percaya bahwa cinta akan selalu memaafkan. 

Ini kisah tentang para juru foto yang mengejar mimpi dan cinta. Tentang pertemuan tak terduga yang bisa mengubah cara mereka memandang dunia. Tentang pengkhianatan yang akhirnya memaksa mereka percaya bahwa hidup kadang tidak seindah foto yang terekam setelah mereka menekan tombol shutter.


RESENSI

Setelah tiga belas tahun mengikuti papa "bersembunyi" di Seoul, Ladys akhirnya kembali ke Bali. Tujuannya hanyalah berada dekat dengan Esa dan mungkin meningkatkan hubungan mereka ke jenjang status pernikahan. Sayang kenyataan tak seindah harapan. Di hari pertamanya bekerja sebagai fotografer, Ladys bertemu dengan Dias, pemuda aneh yang lebih memilih membisu di dekatnya. Pemuda sok tahu yang membuat Ladys geram dan uring-uringan.
Namun yang lebih menyakitkan, Ladys harus menelan kenyataan pahit akibat pengkhianatan Esa.
Namun Ladys masih belum mampu meninggalkan Bali. Apalagi pertemuannya dengan Dias ternyata bagai takdir agar mereka berdamai dengan masa lalu masing-masing. Bersama, kedua fotografer ini berusaha mencari arti cinta dan memaafkan.

----------------------

"Cinta akan selalu memaafkan." (hlm.132)

Rule of Thirds adalah kesempatan kedua saya membaca karya Suarcani, setelah dulu sempat membaca Stardust Catcher dan memandu blogtournya. Bagi saya, Stardust Catcher adalah novel Young Adult yang membekas di benak saya, maka saya pun jadi ingin menjajal mencicipi karya baru Suarcani yang muncul di lini Metropop.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama bergantian dari sisi Ladys dan Dias. Nggak perlu takut bingung karena ada perbedaan yang jelas di antara keduanya. Ladys menggunakan kata ganti "saya" dan cenderung keras kepala, sementara Dias menggunakan kata ganti "aku" dan terkesan cuek. Mereka konsisten dengan kepribadian masing-masing dan muncul saling mengisi satu sama lain.
Ada dua hal dalam novel ini yang menonjol dan melekat kuat di benak saya. Yang pertama adalah setting Bali yang lagi-lagi digunakan oleh Suarcani. Settingnya terdeskripsi dengan apik dan rapi, cukup jelas bagi saya yang buta akan lokasi-lokasi di Bali. Suasana dan alam Bali terpotret dengan baik.
Yang kedua adalah dunia fotografi yang digeluti oleh Dias dan Ladys, segala istilah dan filosofi tentang potret memotret dituangkan dalam buku ini. Menarik karena Suarcani mampu menarik garis antara istilah fotografi dengan filosofi dalam hubungan antar manusia. Saya jadi merasa nyambung-nyambung saja dan nggak terbingungkan dengan istilah-istilah tersebut.

Yang saya rasa cukup drama hanyalah Ladys. Hahaha... pertama saya jengkel karena Ladys merasa nggak terima karena Dias 'sok pintar'. Haduuuh saya sempat benci karena dia menganggap Dias bego dan nggak ngerti apa-apa. Saya nggak suka ada orang yang meng-underestimate seseorang apa pun profesinya dan seperti apa penampilannya. Bahkan saat Ladys akhirnya 'tertonjok' fakta tentang Dias, saya masih belum puas.
Kemudian plin-plan dan ragu-ragunya Ladys menyikapi hubungannya dengan Esa itu bikin gemas-gemas jengkel. Pantaslah kalau Dias jadi murka, untuk alasan yang tepat.
Sementara Dias saya anggap karakter yang pas sebagai penyeimbang. Saya suka dengan sosoknya yang biasa aja. Nggak menonjol, tenang—nggak mudah terpancing dan yaah.. bego dalam urusan asmara. Khas cowok. *lalu saya dirajam para cowok* wkwkwk~
Esa sendiri pria yang gigih meski ngawur. Haha... Alasannya untuk tetap di samping Ladys itu egois sih. Nggak ada dewasa-dewasanya, tapi yaah saya akui dia pintar ngegombal sehingga bikin Ladys hilang logika.

Konflik dalam Rule of Thirds memang cukup menarik. Betapa kita bisa memiliki nasib yang sama dengan beberapa orang namun menyikapinya dengan cara yang berbeda-beda. Berduka dan berdamai karena kehilangan dan pengkhianatan dengan cara masing-masing. Betapa nasib kadang menyeret kita pada pola yang sama dengan yang dialami orangtua kita, entah kita sadar atau tidak.

Rule of Thirds bukan hanya menyoroti kisah cinta rumit antara dua-tiga orang saja, namun juga tentang drama keluarga. Yah, saya dibikin nangis juga oleh buku ini. Bukan hanya karena adegannya, tapi juga diksi yang digunakan Suarcani membuat momennya makin dalam. Memang, membaca novel ini bikin geregetan, bukan hanya karena tensi hubungan para tokohnya naik turun, tapi juga ditarik dan diulur. Lihat saja di bagian akhirnya, huh jantung saya rasanya mau copot karena saya kira endingnya bakal bikin saya sedih. Tapi ternyata aww... endingnya supeeerr manis. Sukak 😍

Sabtu, 21 Januari 2017

[Resensi] Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi - Yusi Avianto Pareanom

Judul buku: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penata artistik dan penyelaras bahasa: Ardi Yunanto
Penata tipografi dan ilustrator ikon: Cecil Mariani
Pelukis sampul: Hartanto 'Kebo' Utomo
Penerbit: Banana
Tahun terbit: Maret 2016
Tebal buku: 450 halaman
ISBN: 978-979-1079-52-5



BLURB

SUNGU LEMBU menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca—cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki makian Anda dalam waktu berdekatan—mungkin bersamaan.


RESENSI

Tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati. (hlm. 84)

Saya menghabiskan waktu dua minggu untuk membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi, bukan karena bukunya membosankan atau berat, tapi karena saya merasa sayang kalau buru-buru menghabiskannya. Sejak awal saya sudah jatuh cinta pada Sungu Lembu, baru tiga halaman pertama saja Sungu Lembu sudah beberapa kali mengumpat "anjing!", belum lagi berbagai sumpah serapah semacam kadal kopet, jangkrik , babi, tapir buntung, dan masih banyak lagi. Meski memang anjinglah yang paling sering disebutkan oleh Sungu Lembu. Aneh tentu saja, kenapa ia tak mengumpat memakai namanya sendiri yang juga mengandung unsur binatang. Lembu!

Saya rindu kisah semacam Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Sebagai penikmat cerita kolosal, membaca buku ini bagai menemukan surga, karena Raden Mandasia bukan hanya kisah tentang pertarungan dan dendam saja, tapi merupakan petualangan panjang yang dikemas dengan kekayaan. Kaya akan sumpah serapah, jelas. Kaya akan korban yang bergelimpangan dan berlumur darah, niscaya. Kaya akan kuliner yang bikin perut langsung keroncongan dan liur dleweran, pastinya. Kaya akan dongeng/legenda/kisah dari berbagai negara dan sumber, iyap. Kaya akan bumbu seksual, hei ya iya to ya!* Kaya akan filosofi bila direnungkan dalam-dalam, sudah tentu.

Dan selayaknya cerita kolosal, buku ini menghadirkan puluhan tokoh yang datang dan pergi, ada yang selintas lewat ada yang bertahan dari awal hingga akhir. Namun kepiawaian Yusi Avianto Pareanom dalam bertutur membuat semua tokoh membekas dan mudah diingat. Detail perawakan dan sifat para tokoh dideskripsikan dengan begitu uniknya.
Sebagai orang Jawa saya paham bahwa Mandasia adalah nama salah satu pawukon, tapi saya nggak menyangka kalau keseluruhan pawukon digunakan sebagai nama anggota keluarga Raden Mandasia. Mulai dari Prabu Watugunung, Dewi Sinta dan Dewi Landep, hingga Mandasia bersaudara yang semuanya berjumlah 27 pangeran yang terdiri dari 13 pasang pangeran kembar dan satu pangeran bungsu. Nama-nama pawukon sendiri menurut kisah Jawa lama berasal dari suatu kerajaan yang dipimpin raja Watugunung dan permaisurinya Dewi Sinta beserta 28 putranya.
Cukup terhibur juga karena wuku saya, wuku Kurantil yang diwakili oleh Raden Kurantil, salah satu kembar sulung, punya porsi yang cukup banyak di bab Perang Besar. 😷😷
Namun bukan hanya kisah awal pawukon ini saja yang muncul dalam buku sastra yang menjadi pemenang Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini, tapi ada juga kisah tentang pembawa wahyu, kakek pembuat boneka kayu, sang koki yang terikat perjanjian dengan majikan, dan tentunya perang yang serupa perang baratayudha, hingga kejutan spesial yang ternyata disiapkan Yusi Avianto Pareanom di penghujung bukunya.

Dikisahkan dari sudut pandang orang pertama, justru Sungu Lembu-lah yang menjadi tokoh sentralnya. Dengan gayanya yang koplak, cerewet, dan sedikit songong, Sungu Lembu membawakan kisah ini dengan jatmika. Gayanya memang nggak seselengekan Wiro dalam Wiro Sableng, nggak juga sehalus Agung Sedayu dalam Api di Bukit Menoreh, nggak seberwibawa Angling Dharma, dan nggak sesakti Arya Kamandanu dalam Tutur Tinular, tapi Sungu Lembu mudah untuk disukai. Tutur katanya yang blak-blakan dan kesialan yang sering ia temui terasa menghibur dan membuat perjalanan ratusan halaman ini begitu renyah.
Buku ini menggunakan alur campuran, kadang maju, kadang mundur, dan terkadang semakin mundur lagi. Namun toh, karena kepiawaian Yusi Avianto Pareanom, alur bukanlah kendala untuk memahami jalan cerita. Bahkan saya dibuat terjebak dan tersesat dalam narasinya yang bergelimang kosakata klasik. Settingnya pun seolah ada dan tiada, saya berusaha menghindari membayangkan Kepulauan Rempah sebagai Nusantara, tapi toh akhirnya gagal. Namun meski demikian, Kerajaan Gilingwesi tetaplah sebuah kerajaan yang di benak saya nggak bisa saya samakan dengan salah satu kerajaan lama di Nusantara. Gilingwesi adalah Gilingwesi.

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi memang menyajikan cerita dewasa. Bukan sekali dua kali saja Sungu Lembu melakukan hubungan badan dengan beberapa wanita. Dan jangan lupa pesta cerrr-ke-cehhh yang fenomenal yang membuat seorang teman mengumpat menirukan Sungu Lembu, "Jagat dewa batara!" Hahahahanjing...
Kemudian tentu saja kesadisan dan kekejaman dalam pertarungan kecil maupun pertempuran besar yang dilewati Sungu Lembu dan Raden Mandasia mungkin bisa membuat mual. Beberapa memang terasa sadis bagi saya yang hatinya begitu halus dan mudah terenyuh ini. #ngek

Berat rasanya bagi saya mengakhiri membaca Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi ini. Apalagi mendekati penghujung kisah saya merasa masygul saat sebuah rahasia terungkap. Termangu beberapa saat dan mengelus dada, jadi inilah akhir kisah perjalanan Raden Mandasia, Raden Sungu Lembu dan Prabu Watugunung. Kisah perjalanan dua orang melalui aral dan tantangan dengan niat dan tujuan masing-masing. Dalam babak Perang Besar, apa yang pernah diungkapkan paman Banyak Wetan terasa benar adanya.
Hingga tibalah di bagian favorit saya dari sebuah buku, epilog. Dan kejutan yang diberikan penulis kali ini bikin saya senyum-senyum dan merasa bahwa akan selalu ada pelangi bahkan seusai kita menempuh badai... badai puluhan ribu kematian yang darahnya memerahkan Gerbang Agung.
Yang muncul di benak saya kemudian adalah, Raden Mandasia yang konon menggemari daging sapi itu, pada akhirnya berpetualang dan mencuri daging sapi bersama sapi (lembu) pula. Entah hal itu disadari Mandasia dan Sungu Lembu atau tidak.
Yang jelas yang niscaya hanya satu hal... kalian harus baca buku anjing keren ini!


Note:

* logat Banjaran Waru yang digunakan Nyai Manggis untuk meyakinkan Sungu Lembu.

Minggu, 08 Januari 2017

[Resensi: Yes, I Do But Not With You - Shandy Tan] Balas Dendam Sang Mantan Kekasih

Judul buku: Yes, I Do But Not With You
Penulis: Shandy Tan
Ilustrator cover: Yulianto Qin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2017
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-3711-1



BLURB

Amy tak pernah menyangka rencana masa depannya hancur berkeping-keping dalam sekejap. Pernikahan yang hanya tinggal sejengkal, tiba-tiba sirna. Joshua, sang calon suami sekaligus tujuan hidupnya, menghamili perempuan lain. Amy kehilangan kekasih, pekerjaan yang sangat ia suka, dan kepercayaannya terhadap laki-laki.

Tetapi, kemudian Semesta mempertemukan Amy dengan Gabriel yang melezatkan hari-hari Amy dengan pastry buatannya. Meski begitu, Joshua tak kunjung menyerah merebut Amy kembali, dan dia selalu tahu bagaimana meluluhkan pertahanan Amy. Akankah Amy menerima Joshua kembali? Ataukah ia akan melepaskannya, dan mendengarkan Semesta yang mencoba menghiburnya dengan kehadiran Gabriel? 


RESENSI

Semesta kadang-kadang bisa sangat kejam, mengabulkan keinginan seseorang dengan menghancurkan kebahagiaan orang lain. (hlm. 152-153)

Saat mengetahui bahwa Joshua berselingkuh, Amy murka. Bagaimana tidak, ia dan Joshua akan melangkah ke pelaminan setahun lagi, tapi tiba-tiba saja muncul wanita yang mengaku hamil karena Josh. Tanpa bisa dicegah, Amy menghajar 'Pamela Anderson', mengambil kartu ATM yang berisi rekening bersama mereka, menyita laptop dan semua benda penting yang bisa membuat Josh kelimpungan. Amy tak rela, pengabdiannya sebagai sekretaris dan babu Josh secara gratis dibalas dengan perbuatan hina Josh.
Merasa hancur, Amy menerima saran sahabatnya Lucia untuk menemukan kehidupan baru sambil menghindari Josh. Dan Amy pun bertemu Gabriel. Pria yang menjadi tetangga barunya sekaligus chef baru di Pondok Sarapan milik Cia dan Paris.
Kedekatan mereka membuat Amy merasa hidup lagi, terutama karena pastry buatan Gabriel yang lezat. Namun Josh pria yang gigih dan bertekad berjuang habis-habisan untuk mendapatkan hati Amy kembali.
Akankah Amy memaafkan Josh? Atau ia memilih melupakan mantan kekasih brengseknya dan memilih Gabriel? Dan apa yang akan dilakukan Josh untuk kembali ke sisi Amy?

----------------------

"Aku percaya kadang-kadang karma butuh bantuan supaya pekerjaannya lebih mudah dan lebih cepat selesai. Kita hanya menyusun skenario." (hlm. 115)

Pengkhianatan memang menyakitkan, terutama jika terjadi di detik-detik saat kita merasa ada di puncak harapan. Maka terkadang bagi beberapa orang, untuk melepaskan rasa sakit yang menyesakkan itu, diperlukan tindakan ekstrem seperti... balas dendam misalnya. Karena kita butuh momentum untuk, bukan hanya move on, tapi juga move up.
Inilah ide cerita yang diolah oleh Shandy Tan dengan lincah dan cukup kocak. Beberapa bagian begitu menghibur dan bikin saya senyum-senyum geli. Bukan hanya dalam adegannya saja, tapi juga diksi dan penempatan dialognya yang terasa cerdas.

Ini memang pengalaman pertama saya membaca karya Shandy Tan. Pengalaman yang sangat berkesan karena sebenarnya saya nggak terlalu suka dengan genre metropop. Tapi Shandy Tan berhasil membawa saya ke dunia yang seru dan menyenangkan tentang kehidupan cinta Amy dan kehidupan urbannya. Saya suka dengan pikiran-pikiran Amy yang sedikit nakal juga dengan hubungan antar karakternya.

Yes, I Do But Not With You diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, tapi lebih terfokus pada Amy. Apa yang Amy rasakan dan pikiran-pikirannya lebih banyak mendominasi dalam novel ini. Ada secuil sudut pandang Gabriel dan Paris yang muncul dan membuat saya girang karena memang layak ditunggu. Bagi saya sebagai pembaca yang lebih suka mengetahui perasaan dan pikiran sang hero, ini tentunya menjadi kepuasan tersendiri.
Setting Medan di novel ini nampak pada logat bahasa yang diucapkan oleh segelintir orang. Sementara para tokoh utama tetap menggunakan bahasa yang universal dan nggak terlihat dialeknya. Demikian juga dengan lokasi yang terasa kurang Medan bagi saya. Namun untuk lingkup setting ruang yang lebih sempit, deskripsinya mendetail dan mudah dibayangkan.

Karakter dalam novel ini begitu mudah menancap di benak. Terutama Josh yang diceritakan berprofesi sebagai pembica seminar semacam motivator yang bernama lengkap... Joshua Teguh. Ngg.... seriously? Kkk~ yaa saya kan langsung kepikiran sama seseorang yang sering muncul di televisi 😷😷 Karakter Josh cukup konsisten nyebelinnya. Baik dari apa yang digambarkan oleh Amy maupun dari tindak-tanduknya.
Amy selayaknya karakter heroine dalam metropop yang mandiri, cerdas tapi dibutakan cinta. Persahabatannya dengan Cia mencuri perhatian saya. Hubungan mereka seru dan asyik, terasa cair dan klop banget sebagai partner in crime. Chemistry mereka juara banget lah. Saya suka gaya Cia saat menasehati Amy, kelihatan banget keunikan sifatnya. Hmm... saya jadi penasaran Cia dan Paris ini ada bukunya sendiri nggak sih?
Sementara Gabriel cukup oke. Well, sebenarnya saya suka karena dia jago masak dan tampak penuh perhatian serta cool banget. Gayanya, cara ngomongnya, saat masak, asyik banget. Sayang, twistnya bikin saya berubah pandangan tentang dia. Gabriel masih oke, masih punya pesona dengan kesabaran dan gentle tapi yaaa... setelah tahu apa yang dia lakukan saya jadi merasa beda. Hahaha... sory, Gabe.

Konfliknya dibangun dengan baik. Meski saya sempat merasa penganiayaan terhadap 'Pamela Anderson' terlalu sering disebut, padahal tanpa sering disebut pun adegan itu tetap berbekas dalam di benak saya. Ada beberapa hal yang mudah terbaca, namun ada juga yang menjadi kejutan dalam novel ini. Penyelesaiannya pun saya anggap pas. Nggak muluk-muluk amat dan nggak nanggung. Saya justru bakal merasa sebal seandainya novel ini dipaksa ke ending bahagia selama-lamanya. Kebahagiaan yang didapat Amy adalah puncak kepuasannya, dan itu yang terpenting.

Secara keseluruhan, Yes, I Do But Not With You merupakan novel yang ringan, menghibur dan enak dibaca. Buat kamu pencinta novel metropop saya rekomendasikan novel unyu nan kocak ini.

Senin, 02 Januari 2017

[Resensi] When I See Your Smile - Netty Virgiantini

Judul buku: When I See Your Smile
Penulis: Netty Virgiantini
Desain sampul: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2016
Tebal buku: 216 halaman
ISBN: 978-602-03-3543-8



BLURB

Hidup Seruni rasanya berubah 180 derajat setelah pernikahan ibunya dengan Mas Bim, pelatihnya di klub bulu tangkis Semangat Baru. Kedekatannya dengan Arya dan Arga––kakak satu bapak lain ibu––juga menimbulkan gosip tidak sedap di SMA Satria tentang Seruni yang punya pacar dua sekaligus. Tapi ia tidak peduli. 

Karena, diam-diam Seruni waswas pada laki-laki misterius dengan senyum familier dalam mobil hitam yang terus mengikutinya. Ia tidak berani menceritakan masalah itu pada orang-orang terdekatnya. Hingga suatu sore, Seruni diculik dan disekap oleh pria itu. 

Siapa yang akan menyelamatkan Seruni? Benarkah rasa sayang Arya dan Arga lebih dari sekadar saudara tiri? Lalu, siapa laki-laki misterius dengan senyum familier itu?" 

RESENSI

Sejak membaca When I Look Into Your Eyes, saya masih terbawa penasaran akan kelanjutan kisah Seruni. Ke manakah hati Seruni si tukang telat itu akan berlabuh. Hingga kemudian muncullah When I See Your Smile yang menjadi jawab atas rasa penasaran saya. Penasaran dengan kelanjutan perasaan Arya dan Arga, penasaran dengan kehidupan baru Seruni dan bagaimana dia beradaptasi dengan status baru orang-orang di sekitarnya. Sekuel dari When I Look into Your Eyes ini semakin seru dengan konflik yang baru.

When I See Your Smile menggunakan sudut pandang orang ketiga dan masih di setting yang sama dengan novel sebelumnya. Arya, Seruni dan Arga masih bersekolah di tempat yang sama di Magetan dan kurun waktunya gak terlalu jauh dari novel pertama. Dengan gaya bertutur Netty Virgiantini yang segar dan sederhana, saya dibawa terhanyut dalam konflik batin Seruni. Diksinya yang kadang lugas dan kadang puitis memberi warna tersendiri dalam novel ini. Hal yang saya sukai disamping dialog ceplas-ceplos khas Jawa yang rasanya dekat banget dengan keseharian saya.

Dalam novel ini, Seruni bukan lagi si tukang telat. Dia telah menjelma menjadi tuan puteri yang dimanja orang-orang di sekitarnya; Mas Bim, Arya dan Arga. Walau begitu ada kekosongan dan kehampaan yang ia rasakan, terutama ketika ia kehilangan perhatian dari Mas Bim. Sayang Seruni di sini lumayan menyebalkan, sedikit egois terutama terhadap Joko. Terhadap Arya dan Arga, Seruni bisa bersikap manis, tapi terhadap Joko dia malah seenaknya sendiri. Paling jengkel waktu Joko harus berurusan dengan polisi gara-gara Seruni, duh Seruni keterlaluan deh, kasihan Joko.
Saya juga gemas dengan Seruni karena lebih memilih diam saat merasa ada yang memata-matainya. Ini sebenarnya pelajaran dasar sih, terutama bagi remaja cewek, di jaman edan seperti sekarang. Jangan diam saja kalau memang merasa dikuntit, paling nggak catat nomor polisi kendaraannya, dan cerita pada orang yang benar-benar dipercaya. Memang masalahnya Seruni dia merasa kesulitan menemukan orang yang kira-kira bisa curhati, tapi mestinya nggak perlu sungkan. Jadi pelajaran juga bagi orang dewasa seperti saya, yang harus lebih perhatian pada remaja dan menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa dan siap kapan pun mendengarkan mereka.
Sementara untuk kakak beradik Arya dan Arga, juga sedikit berbeda. Arya masih seperti sebelumnya, perhatian dan sayang terhadap Seruni. Tapi kebandelan Arga sudah berkurang di novel ini. Keras kepalanya masih, tapi kelakuannya sudah jauh lebih manis. Justru Joko yang mencuri perhatian saya, meski sering mengajak Seruni berantem, tapi Joko terhitung sabar dengan segala polah Seruni yang cukup sadis terhadapnya. Wkwkwk...

Konflik dalam novel ini lumayan beragam. Masih ada sisa-sisa konflik novel sebelumnya yang akhirnya dituntaskan, dan ada konflik baru yang berkaitan dengan rahasia masa lalu yang terungkap dan status baru Seruni. Untuk konflik perasaan antara Arya, Arga, Seruni dan Joko porsinya pas dan menjadi bumbu yang membuat cerita makin seru. Sementara konflik sang pengintai cukup membuat penasaran dan bikin bertanya-tanya. Drama penculikannya yang pasti menegangkan dan nggak bisa berhenti baca sampai akhir.

Overall, saya cukup puas membaca novel When I See Your Smile ini. Membuat saya lega akan akhir kisah Seruni yang saya anggap nanggung di When I Look into Your Eyes. Ada kehangatan kisah kekeluargaan dan persaudaraan yang manis dalam novel ini. Juga ada kisah cinta yang menurut saya gokil karena saking slengekannya Seruni. Lucu, menghibur dan yang pasti maniiiisss. Buat kamu penyuka teenlit yang lugas dan menghibur boleh banget lho baca dua novel ini.

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon