Jumat, 10 November 2017

[Resensi: Telembuk - Kedung Darma Romansha] Menelusuri Jejak Pahit Kehidupan Sang Telembuk

Judul buku: Telembuk
Sub judul: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat
Penulis: Kedung Darma Romansha
Penyunting: Dian Dwi Anisa
Pemeriksa aksara: Maria Puspitasari
Cover: Nugroho Daru Cahyono
Penata letak: Azka Maula
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun terbit: Mei 2017
Tebal buku: 414 halaman
ISBN: 978-602-3092-65-9



BLURB

Roman ini menunjukkan keseriusan menjelajahi secara kritis pengalaman penulisnya di tanah tumpah darahnya sendiri. Memeriksa timbunan pengetahuan lokal dan mengartikulasikannya dengan bahasa etnografis pengalaman keagamaan dan godaan seksualitas sebuah hiburan. Yang suci dan profan, yang sakral dan banal bercampur membentuk cerita yang memikat.
Muhidin M. Dahlan

Novel Kedung Darma Romansha ini bercerita tentang dunia prostitusi, panggung dangdut, pergaulan para pemabuk dan tukang kelahi. Adegan seks dan kata-kata kasar bertaburan. Namun uniknya, novel ini tidak terkesan vulgar. Mengapa demikian? Saya rasa hal itu terkait dengan nada penulisan dan posisi narator. Narator berada pada posisi netral: dia tidak memberi penilaian moral apapun, baik dalam arti menghakimi perilaku tertentu, maupun sebaliknya, yaitu merayakan atau membela perilaku yang berada di luar standar moralitas yang menjadi pegangan mayoritas orang Indonesia. Di samping itu, penulis menaruh perhatian pada detail-detail penggambaran suasana, juga bahasa dan gaya pergaulan lokal, yang terkesan cukup realistis dan berbasis pada riset lapangan. Dengan demikian, lingkungan dan perilaku manusia yang diceritakan sekadar hadir sebagai sesuatu yang memang eksis, dan menarik sekali-sekali dilirik, serta dimasuki lewat dunia khayal sebuah novel. Mau dihakimi, dinikmati, atau sekadar diamati, itu terserah pembaca.
Katrin Bandel, kritikus sastra


RESENSI

Aan merupakan remaja belia yang telah empat tahun meninggalkan desanya untuk mesantren di Jogja. Namun ia selalu pulang ke Imdramayu setiap libur caturwulan tiba untuk melepas rindu kepada suasana desa dan teman-teman masa kecilnya yang nakal. Jika liburan tiba, ia akan pergi bersama teman-temannya untuk menonton dangdut dan tarling. Saat itulah Aan melihat Diva Fiesta sang bintang dangdut. Perhatian Aan begitu tersedot pada gadis itu, ia merasa mengenali sosok yang goyangannya mampu membuat hati para lelaki berdesir itu. Merasa penasaran ia pun mngajak Govar dan Kriting untuk membuntuti Diva dan memastikan kecurigaannya.
Dari sinilah kisah ini kemudian bergulir, rahasia-rahasia Diva dan kaitannya dengan menghilangnya Safitri perlahan mulai terungkap. Perjalan hidup Diva, kisah pilu Safitri, cinta Govar yang lama terpendam, kenangan Aan akan gadis yang pernah dipujanya, Mukimin dan cintanya pada Safitri yang timbul tenggelam, perasaan-perasaan yang muncul di benak mereka masing-masing, semua berkelindan dan membentuk jalinan cerita yang kian kelam, kian suram.
Akankah rahasia besar itu terungkap, akankah ada kebahagiaan bagi orang-orang yang telah mencicipi getirnya hidup ini?

------------------------------------------

Didorong oleh rasa penasaran saya akan nasib Safitri yang raib di akhir Kelir Slindet, saya pun mengejarnya hingga ke novel Telembuk. Konon kabarnya, segala jawaban dan penyelesaian akan nasib Safitri ada di dalam buku ini. Saya pun kemudian berharap kegelisahan dan kekepoan saya bisa terpuaskan melalui Telembuk.
Bagi kalian yang masih blank tentang apa sih telembuk dan slindet itu, seperti pertanyaan yang dilontarkan beberapa kawan saya saat mereka tahu saya membaca novel ini, akan saya sampaikan secara singkat saja. Telembuk adalah istilah lokal untuk pekerja seks komersial, sedangkan slindet adalah telembuk yang masih belia, dengan kisaran usia belasan. Nah... nah... jangan dulu buru-buru mengerenyit atau menuding karena mungkin siapa tahu jalan hiduplah yang membuat mereka begitu, seperti yang terjadi pada Safitri....

"Tidak apa-apa, Diva. Biar kamu tahu, bahwa hidup kadang dipaksa untuk melakukan dosa." ~ Mak Dayem (hlm. 71)

Ini adalah babak baru dari kehidupan Safitri. Bagaimana ia berusaha bangkit setelah dituding dan dijatuhkan oleh asumsi dan opini masyarakat. Ia kabur dari desanya, saat usianya masih 15 tahun, karena tak tahan dengan gunjingan, tekanan dan cibiran, serta orang-orang yang meninggalkannya sendirian. Tak ada penopang, tak ada pengayom. Bahkan orang tuanya sendiri sibuk berkubang dalam rasa malu. Bisakah dibayangkan ke mana anak gadis seusia itu pergi sendirian tanpa tujuan?

Dengan mulut kalian, kalian bisa mengubah nasib seseorang jauh lebih buruk. Itulah mulut. Kalian boleh tertawa. Menertawakan diri sendiri. Karena kesenangan kalian belum tentu menjadi kesenangan orang lain. ~ Safitri (hlm. 193)

Walau tahun beranjak, walau rezim berganti, nasib masyarakat Cikedung nggak ada perubahan. Pola kehidupan mereka masih sama seperti sebelumnya. Anak-anak gadis yang dianggap tak perlu sekolah tinggi, pernikahan dini, gaya hidup kaum lelakinya yang mendorong kaum wanita untuk menjadi TKW ke luar negeri, dan kebanyakan rata-rata akhirnya berujung pada perceraian. Perceraian di usia muda inilah yang mendorong para wanita yang nggak punya bekal pendidikan atau keahlian akhirnya memilih menjadi telembuk. Terpola. Terus menerus seperti itu sehingga lama-lama profesi telembuk dianggap wajar.

Meskipun novel ini merupakan lanjutan dari novel Kelir Slindet, tapi pembaca nggak perlu khawatir jika belum pernah membaca Kelir Slindet, karena di awal kisah Telembuk, ada ringkasan kisah awal Safitri dan Mukimin seperti yang dikisahkan dalam Kelir Slindet. Bahkan di dalam Telembuk diungkapkan juga beberapa adegan yang ternyata disensor dalam Kelir Slindet.
Yang menarik dan sejujurnya lumayan bikin saya mengerutkan kening adalah gaya narasinya yang berbeda dengan Kelir Slindet. Dalam Telembuk saya dilempar dari satu narator ke narator lainnya. Rasanya persis seolah saya sedang menelusuri jejak Safitri dan mendengarkan cerita orang-orang yang kemungkinan mengerti bagaimana nasib Safitri. Baru saya sadari bahwa, ya, saya dibuat seolah sedang memburu kisah Safitri dari satu orang ke orang yang lainnya. Sehingga kisah Safitri yang saya dapat bukanlah sebuah dongeng belaka dari seseorang yang serba tahu, tapi dari orang-orang yang telah, sedang dan pernah berinteraksi dengan Safitri.
Walau tetap saja saya merasa "intermeso" bagaimana para tokoh tiba-tiba muncul dan menggugat sang narator sedikit menggelikan, karena saya jadi sedikit meragukan kebenaran fakta yang telah diungkapkan oleh narator. Narator dalam Telembuk ini di mata saya nggak lagi seperti narator-narator di novel lain yang bisa sangat terpercaya kebenarannya, tapi menjadi orang biasa yang jika saya dengarkan ceritanya, saya masih meragukan benar nggak sih ceritanya???? Kirik!

Namun walau cerita tentang Safitri membuat saya ragu, lain halnya dengan latar yang disajikan dalam novel ini. Kedung Darma Romansha masih memberikan nuansa kedaerahan yang kental, masih menunjukkan dengan gamblang latar sosial masyarakat Indramayu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kultur yang mengemuka dalam novel ini terasa kuat dan membuatnya tampak sangat nyata. Ya, sekali lagi saya yakin ini bukan dongeng.

Pasti kalian ingin tahu siapa yang menghamiliku. Kenapa kalian harus tahu? Sepenting itukah aku bagi kalian? Lalu ketika kalian tahu siapa yang menghamiliku, kalian akan merasa puas? (hlm. 192)

Eng...ing...eng... coba bagaimana rasanya disinisin oleh tokoh utama cerita yang sedang kalian baca? >.< 
Di titik inilah saya merasa mulai malu pada Safitri, saya merasa telah melanggar privasinya karena telah mengintip kehidupannya, menelanjangi kisah asmaranya, dan terus menduga-duga siapa yang menghamilinya. Lalu... apa bedanya saya dengan masyarakat yang dengan lidah mereka telah menghakimi Safitri?
Saya bukan siapa-siapa yang bisa masuk ke dalam cerita dan menuntut keadilan bagi Safitri, kan?

Membaca novel ini pada akhirnya bukanlah untuk menghakimi Safitri, Mukimin, Carta, Mang Alex, Mak Dayem, Govar, Sini, Saritem, Sondak atau siapa pun juga. Membaca novel ini adalah masuk ke kisah panjang perjalanan seorang telembuk yang dikemas Kedung Darma Romansha dengan begitu naturalnya. Masuk berarti memahami, masuk berarti menjadikan rahasia dan liku kehidupan Safitri sebagai bagian dalam ingatan saya. Pilihannya adalah, menyimpannya untuk diri sendiri atau menyebarkan cerita ini kepada orang lain. Nah, jadi apakah kalian ingin mendengarkan kisah ini? 😏



2 komentar:

Jiah Al Jafara mengatakan...

Oh, Telembuk artinya itu
Aku pikir apa gitu. Kalau dunia hiburan malam, baik desa maupun kota kayanya enggak jauh beda ya. Tapi ya siapa kita menghakimi mereka

nurina widiani mengatakan...

Hmm~~ nggak tau juga sama atau beda. Tapi sedih sih baca lingkaran setan ini, dan bagaimana wanita selalu disalahkan 🙈🙈

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon