Selasa, 08 November 2016

[Blogtour & Giveaway] Seaside - Zee

Judul buku: Seaside
Penulis: Zee (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)
Penyunting: Misni Parjiati
Tata sampul: Amalina
Penerbit: Senja
Tahun terbit: 2016
Tebal buku: 236 halaman
ISBN: 978-602-391-263-6



BLURB

Awalnya, dia hanya gadis biasa. Juga mulai terbiasa menghadapi guncangan besar ketika ayahnya masuk penjara akibat ulah musuh-musuhnya. Tapi, begitu dibutakan oleh amarah, dia mulai mengumpulkan setiap informasi dan menyusun rencana balas dendam.

Gadis itu membuat kesepakatan dengan iblis. Langkah penuh risiko dia lalui, dibantu oleh seseorang yang masih misterius.

Satu demi satu targetnya berjatuhan. Dan dia menikmati setiap tetes darah yang mengalir di tangannya. Apakah masih ada tempat untuk nurani? Apakah dia masih mampu memaafkan?


RESENSI

Ketika sang papa yang sedang menyelidiki kasus korupsi dijebak dan dijebloskan ke dalam penjara, Aku merasa berang. Papa adalah satu-satunya keluarga yang Aku miliki, setelah Aku merasa kecewa karena sang mama dan saudara-saudaranya menolak mendukung papa. Dengan hati-hati, Aku merencanakan balas dendamnya. Baginya tak cukup dengan mata dibalas mata, Aku menginginkan lebih. Aku menginginkan nyawa mereka yang telah membuat papanya dipenjara. Para pejabat korup, dan juga para penegak hukum yang mudah tergiur uang.
Aku mulai menyusuri jalan kelamnya. Memulai dari sang informan, Aku bertemu dengan Anon, seseorang yang melatih fisik dan mentalnya sebagai pembunuh tak kenal ampun. Namun bukan hanya dari Anon, Aku mengasah dirinya. Aku juga bertemu pemuda seusianya, yang melatihnya sebagai pelacur, demi bisa mendekati para pejabat korup. Dan dari pemuda itu pula, Aku menemukan kenyamanan dan kepercayaan. Namun bisakah rencananya berjalan mulus hingga akhir?

------------------------------

Seaside merupakan karya ketiga Ziggy yang telah saya baca. Dan saya masih saja dibuat terpukau dengan betapa bunglonnya gaya bertutur Ziggy. Sudah tiga bukunya saya baca, tapi saya menemukan dimensi yang lain dari novel-novel sebelumnya. Membaca Seaside seperti menyusuri labirin Square Maze di acara Benteng Takeshi. Tahu kan? Itu lho labirin dengan banyak pintu dan 2 algojo kekar yang bisa-bisa tiba-tiba ada di balik pintu. Nah, seperti itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini, prepare for the worst but still hoping for the best. Jadi saya hanya mampu mengikuti laju kisah ini dan berharap dengan berdebar-debar. Karena saya percaya, Ziggy selalu mampu mengejutkan saya dengan twistnya, dan benar saja. Ha!

Membuka bagian awal novel ini, yang langsung menarik perhatian saya adalah judul tiap babnya. Semua judul diawali dengan sea: Seance, Sealion, Seaweed, Seabed, Seafood, Seasick, Search, dan seterusnya. Total ada sebelas part dan satu epilog yang menggunakan judul dengan kata sea. Hal yang cerdas dan unik menurut saya.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Aku, sehingga saya dihanyutkan pada seluk beluk pikiran Aku yang diliputi dendam dan kecurigaan. Menarik untuk ditelusuri dan bikin bergidik di beberapa bagiannya. Saya merasakan kengerian, kesadisan dan kecemasan yang melingkupi kisah ini. Namun saya juga menemukan romantisme yang manis di tengah keriuhan dendam. Membuat saya sempat berharap.
Seaside mengambil beberapa setting tempat, di Lampung, Bandung, Jakarta, bahkan hingga ke Scheveningen. Semua settingnya dideskripsikan dengan detail yang apik dan rapi. Diksi yang digunakan Ziggy dalam Seaside begitu kaya dan unik, benar-benar enak untuk dinikmati. Dialognya begitu luwes dan hidup. Ini sebabnya saya sangat menyukai Seaside, karena chemistrynya pun terasa sangat tebal dan kuat.

Membaca novel ini adalah mencecap rasa karya Ziggy yang lain; rasa yang lebih menyengat, rasa yang membuat bergidik, rasa yang lebih brutal. Ziggy cukup terperinci dengan adegan pembunuhan para target Aku. Semua dengan cara yang berbeda, dan semua menakjubkan. Tapi meski berdarah-darah dan berlumur dendam, Ziggy mengimbangi kesadisan Aku dengan romance gelap yang dirasakan Aku. Walau haus darah, Aku nyatanya toh tetap gadis polos yang bisa jatuh cinta.

Ziggy pernah memukau saya dengan musik-musik klasik yang berjejalan di dalam novelnya, di Seaside pun, Ziggy masih melakukannya. Beberapa judul lagu, nama penyanyi dan nama band bertebaran di dalam novel ini, menarik dan bikin penasaran. Terutama lagu yang kemudian seolah menjadi soundtrack Aku dalam melakukan pembunuhan.

"Peristiwa yang mengubah manusia itu selalu menarik. Perubahan manusia sendiri menarik. Dan manusia yang berubah... they're more than fascinating." (hlm. 145)

Karakter dalam novel ini begitu bulat dan matang. Saya merasakan transformasi Aku dari gadis biasa namun keras kepala menjadi mesin pembunuh andal dan berdarah dingin. Bisa dibilang ia menghabisi para targetnya tanpa berkedip, tanpa ragu. Aku hanya merasakan saat-saat emosional saat bersama partner in crimenya. Tokoh-tokoh yang bergantian muncul untuk membantunya pun punya karakter yang khas. Mereka muncul dan langsung memikat saya, dengan gaya yang asyik, rasanya mudah saja untuk menyukai mereka.

"Bahkan meskipun mereka nggak akan menghargai pengorbanan kamu, pada akhirnya kalau kamu berjuang, kamu nggak akan pernah menyesal. Mungkin saja kamu salah. Mungkin saja kamu kalah. Tapi kamu nggak jatuh tanpa perlawanan. Meski kamu bisa saja kecewa dengan hasilnya, kamu nggak akan kecewa dengan prosesnya. Dan itu yang membuat kamu kuat—itu yang membuat kamu berarti." (hlm. 111)

Dari Seaside saya merasa Ziggy ingin menyentil hukum yang kadang begitu mudah dibeli. Kadang hukum begitu mudah mengkhianati kebajikan dan malah memuja uang. Di situlah balas dendam berbicara. Namun sekali Aku mengambil langkah ke dalan rasa dendam yang kelam, nggak ada jaminan untuk kembali. Nggak ada waktu untuk menyesali, selain maju dan menuntaskan semuanya hingga akhir. Dan menanti. Apakah dendam bisa berhenti. Atau justru dendamnya memunculkan rasa dendam yang lain lagi.
Saya sungguh sangat menikmati buku ini, sampai-sampai saya mempertanyakan diri saya sendiri, apa saya diam-diam punya jiwa psikopat? Namun terlepas betapa mengerikannya aksi Aku, keahlian bercerita Ziggylah yang membuat novel ini begitu hidup. Namun saya tetap merekomendasikan novel ini bagi dewasa muda, atau bagi yang kuat membaca adegan pembunuhan.


*******GIVEAWAY TIME*******



1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.

2. Follow akun twitter @divapress01 dan akun saya @KendengPanali juga like fanpage Penerbit Diva Press

3. Share info giveaway ini dengan hashtag #GASeaside dan jangan lupa memention kedua akun di atas.

4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian bawah postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).

5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | domisili| akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan ditutup pada tanggal 14 November 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Pengumuman pemenang akan diumumkan tanggal 15 November 2016, bagi yang belum beruntung bisa mengikuti GA di bloghost selanjutnya: Alvina

8. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

******UPDATE******

Haii... sepekan sudah giveaway novel ini berlangsung. Terima kasih yaa untuk para peserta yang luar biasa. Jawaban kalian banyak yang bijak meski ada juga yang lucu. Tapi yang terpenting ternyata teman-teman keren banget karena bisa menyisihkan dendam dan amarah.

So, sekarang saya akan mengumumkan satu nama yang beruntung karena jawabannya saya anggap lumayan kocak, mengimbangi kelamnya novel ini, dan karena mengingatkan saya pada Anon 😉 Dan yang beruntung adalaaaaah....

Dani N.
@dnv22

Selamaaaaat... Saya tunggu data nama dan alamat lengkap kamu lewat dm atau email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com paling lambat 2 x 24 jam.

Bagi yang belum beruntung jangan sedih yaaa... Karena masih ada dua host lagi yang menyelenggarakan blogtour ini. Dan karena saya masih punya dua giveaway buku unyu di bulan ini.
Keep reading ya, gaeesss 😊😊

45 komentar:

Kazuhana El Ratna mengatakan...

Nama : Ratnani Latifah
Domisili : Jepara
Twitter : @ratnaShinju2chi
E-mail : Kazuhanael_ratna@yahoo.co.id

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Sebagai manusia tentu saja saya pernah memiliki perasaan dendam. Apalagi setiap mengingat perlakuan kejam dan jahat yang pernah dilakukan saya.

Cara saya mengatasi perasaan dendam adalah dengan berusaha melupakan kejahatan yang mereka lakukan. Lalu berusaha ikhlas, mungkin memang begitulah jalan saya dalam belajar dan memperbaiki diri. Dan lagi karena dengan ikhlas bisa menyembuhkan saya dari penyakit dendam. atau sakit hati. Dan saya akan berlatih mensyukuri setiap kejadian yang menimpa saya baik baik atau buruk. Karena dengan mau bersyukur saya akan menjadi pribadi yang mengingat Allah, dan berharap tidak mudah tergoda setan dengan penyakit hati bernama dendam.

Imron Wong mengatakan...

Imron Fhatoni | Mataram, NTB | @imronfhatoniwk | imronfhatoni94@gmail.com

Jawaban: Saya pernah merasakan dendam, biasanya untuk mengatasinya selain sholat, saya lebih banyak menyempatkan diri untuk bermain, jalan-jalan ke Gramedia dan beberapa tempat wisata di Mataram. Tapi memang dendam itu tidak serta merta hilang begitu saja, ketika perasaan dendam kembali datang mendekap, saya biasanya pergi ke PUSDA untuk mencari bacaan2 islami dan meminjamnya disana atau dengan berselancar di Internet. Sebenarnya saya tidak bisa dibilang memiliki dendam yang begitu dahsyat seperti gadis di novel, kadang sebatas dendam2 kecil sesama teman organisasi atau teman kampus.

Maria Ulfa mengatakan...

Maria Ulfa
Karawang
@mriaulfaaff
maria.affandi@yahoo.com

Jawaban :

Sebagai mahluk bernama manusia, bohong jika saya tidak pernah mengalami perasaan dendam. Namun dendam yang bagaimanakah yang akan menghunus rasa gelisah sehingga Tuhan tidak marah. Saya akan mengatasinya dengan menjadikan diri ini lebih baik dari sebelumnya, boleh jadi hal demikian terjadi berkat kelalaian saya ketika diri lupa untuk bercermin pada kekurangan. Mengukir prestasi demi prestasi sehingga membuat hati lupa akan hal-hal yang merumitkan. Saya pikir, cara terbaik untuk membalas dendam adalah dengan tidak membalas, karena yang demikian tidak akan berbuah kilau. Sekali lagi, membenahi diri menjadi lebih baik akan jauh lebih menawan.

Cold mengatakan...

nama: Nathan Niki
domisili: Jakarta
akun twitter: @nathanniki14
alamat email: nathanniki14(at)gmail(dot)com

Pernah.
Yang saya lakukan adalah bekerja keras untuk memperoleh hal lebih baik. Membuktikan bahwa meski hati tergerus dendam, logika tetap bekerja sehat. Kemudian, memaafkan masa lalu, berdamai dengan masa lalu dengan belajar menerima kenyataan dan belajar memaafkan orang yang membuat saya dendam. Karena, kenyataannya, yang saya pelajari bahwa dendam tidak akan membawa kemana-mana. Cuma stuck di situ aja.

Elsita Fransiska Mokodompit mengatakan...

Elsita F. Mokodompit
Gorontalo
@sitasiska95
elsitafransiska@gmail.com

Pernah. Cara mengatasinya buat saya hanyalah dengan bersabar, mendoakan yang terbaik untuk diri sendiri dan sepenuhnya menanamkan dalam hati bahwa Tuhan tidak menutup matanya.

Bety Kusumawardhani mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Insan Gumelar Ciptaning Gusti mengatakan...

nama: insan gumelar ciptaning guati | domisili: surakarta| akun twitter: @san_fairydevil | alamat email: alamadt_saya@yahoo.com

Dan pertanyaannya adalah:

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Pernah. Dan awalnya aku kesel banget. Enggak bakal peduli ataupun apapun tentang orang itu. Aku pernah dendam, tapi lebih ke arah marah dongkol tingkat dewa. Dan buat ngataain itu, aku enggak meduliin dia lagi. Biar. Soalnya aki dendam atau marah dgn org lain sampe kayak gitu, itu karena aku yakin kalo itu bukan karena aku. Bukan salahku. Jadi ketika hal itu udah terjadi, fine. Aku, aku dan dia, dia. Hidup masing masing dan aku akan ngelupain dia.

Bety Kusumawardhani mengatakan...

nama: Bety Kusumawardhani
domisili: Surakarta
akun twitter: @bety_19930114
alamat email: aki.no.melody@gmail.com

Aku pernah merasa dendam. Yang aku lakukan untuk mengatasinya yaitu tidak menuruti emosi untuk membalas perbuatan buruk seseorang kepadaku. Fokus ke tujuan hidup ku dan jangan sampai menghancurkan masa depanku. Mengingat pahala yang begitu besar bagi orang yang mau memaafkan dan bersabar. Meyakinkan diri sendiri kalau menyibukkan diri dengan dendam hanya akan menghabiskan waktu dengan sia-sia. Percaya bahwa semua perbuatanku sekecil apapun pasti ada balasannya.

Eni Lestari mengatakan...

Eni Lestari | Malang | @dust_pain | shinra2588@yahoo.com

pernah. ada orang yang bikin aku dendam sampai ke ubun2. yang aku lakukan untuk mengatasinya, hmm aku tahu menyimpan dendam itu gak baik bagi kesehatan. jadi aku mulai melampiaskannya ke hal2 yang kusukai, biar gak begitu memikirkannya. kalau bisa juga aku menghindari orang yang bikin aku dendam itu. pokoknya sebisa mungkin fokus sama kebahagiaan diri sendiri aja, daripada memikirkan dendam kita ke orang lain :)

Ahmad Azwar mengatakan...

nama: ahmad azwar avisin alhaidar
domisili: sidoarjo
alamat email: azwarav@gma.com
alamat twitter: @azwaravisin

pernahkah kamu merasa dendam?? bagaimana cara mengatasinya?

pernah. saya tidak melakukan apa apa dan saya berusaha menabahkan hati dan menguatkan hati. balas dendam akan jadi nambah masalah dan nambahin urusan. saya tipe orang yang ketika disakiti sauya tidak bisa balas. saya lebih memlih diam. dan membiarkan segalanya terjadi. dan ajaibnya saya dikasih tunjuk oleh Yang Maha kuasa jika diam dan sabar itu ada ganjarannya bahwa yang mengalah itu tak selalu kalah. tuhan kasih tunjuk bahwa yang mengalah itu justru diangkat derajatnya dan yang menyakiti justru dibelit kesalahannya sendiri. saya percaya ada sebab ada akibat.ssaya tak perlu membalas dendam. ketenangan membuahkan kebahagiaan, saya percaya itu.

memang ada hal hal yang tak bisa dimaafkan dari sebuah kesalahan. paling tidak lupakan dulu kalau sekiranya memaafkan terlalu susah. sebab manusia tak bisa lepas dari tindakan yang salah dan menyakitkan.

terimakasih.

Ayu Widyastuti mengatakan...

Nama: Ayu Widyastuti
Domisili: Palembang
Twitter: @widyayu15
Email: widyayu15@gmail.com

Pernah. cara aku mengatasinya itu aku inget2 lagi klo dendam tuh hny merusak hati dan diri sndri. Gk baek. Slain itu harus slalu inget kbaikannya org itu, jngn terus2an inget kejelekannya aja.

aimatul latifah mengatakan...

Nama: A'imatul Latifah
Akun twitter: @Aim_La27
Domisili: Tuban
Email: Aimatullatifah27@gmail.com

Pernah. Dan menurut aku dendam itu memang pasti akan ada di setiap orang walaupun kadarnya berbeda-beda ya.. Kalau hati aku lagi dendam sih, biasanya aku langsung ambil wudhu kemudian sholat. Kalau belum waktunya sholat aku biasanya baca istighfar tiga kali terus diem sambil berusaha nenangin pikiran. Yang jelas hati selalu punya cara untuk menyembuhkan lukanya sendiri dan aku akan berusaha menanamkan di pikiran aku kalau bahagia itu dari diri kita sendiri dan hati selamanya tidak akan bahagia kalau terus menyimpan dendam pada orang lain.
Terimakasih :)

Dwi Larasati88 mengatakan...

Nama : Dwi Larasati
Domisili : Depok
Akun Twitter : @DwiLarasati88
Alamat Email : dwilarasati88@gmail.com

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Pernah.
Yang pertama saya mencoba positif thinking dan berusaha untuk memikirkan kebaikan dari seseorang tersebut karena pasti setiap orang pernah berbuat baik atau memiliki sisi baik di dalam dirinya. setelah itu tetap mencoba ikhlas dan berdo'a untuk mendapatkan yang terbaik dari Allah. tetap beribadah dan menyibukkan diri dengan kegiatan positif karena jika kita telah sibuk dengan kegiatan kita pasti kita akan sedikit demi sedikit lupa tentang hal yang lalu atau yang terlalu kita pikirkan terutama perasaan dendam tersebut. terbuka dengan hal-hal baru, tujuannya sama supaya kita tidak terlalu terfokus memikirkan perasaan dendam yang kita miliki. berkumpul dengan teman dan keluarga yang membuat kita bahagia dan terus mengajak pada hal yang positif.

Anonim mengatakan...

nama: Dani N.
Domisili: Jakarta
akun twitter: @dnv22
alamat email: dani_noviandi@yahoo.com

dendam? pernah lah, apalagi kalo maen ww (di vets), wuiiihhh.. mengatasinya? hm, rasa dendam itu mengubun2 di awal2nya saja, satu hal yang bisa menghapus dendam yaitu: Waktu. ya, seiring berjalannya waktu, biasanya saya akhirnya lupa. gak cuma tentang dendam sih, kesalahan2 yg bikin deg2an jg biasanya ilang dengan sendirinya, hehe

Haula Taqya mengatakan...

Nama: Haula Taqya
Domisili: Metro, Lampung
Akun twitter: @Taqya1999
Email: haula_snc@ymail.com

Jawaban:
Pernah. Aku nggak akan bales dengan cara seperti tokoh 'Aku'. Karena aku akan berusaha untuk tidak ingin berurusan dengan orang yang aku dendami. Aku lebih memilih untuk menjauh, berusaha untuk tidak terlibat apapun lagi dengannya. Kemudian aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi, hingga bisa menunjukkan padanya kalau aku bisa jadi lebih baik dan sukses, lebih baik dan sukses darinya.
Karena balas dendam terbaik adalah kesuksesan kita.

Mariyam Riya mengatakan...

nama: mariyam
domisili: surabaya
twitter: @mariyam_elf
email: mariyam.riya96@gmail.com

pernah, bisa dibilang sering. namanya juga manusia, pastilah punya dendam walaupun itu termasuk perbuatan yg di larang agama. klo aku pribadi sih jujur aku gak pernah lepas dari yg namanya dendam. klo udh terlanjur benci sma orang selalu berakhir ke dendam. itu aku.
aku emg susah untuk mengontrol rasa dendamku, tp aku gak pernah berbuat yg menyakiti orang itu. plingan aku cuman ngebatin aja. tp klo gak diingetin ttg orang itu ya perasaan dendamku normal. tp klo udh inget orangnya apalgi perbuatannya yg bkin aku dendam, ya aku lgsg emosi dlam hati.

Terry Irawan 3 mengatakan...

Nama : Tri
Domisili : Ciamis
Twitter : @tewtri
E-mail : triwahyuni.irawan3@gmail.com

Karena saya bisa merasakan rasa sakit maka, berat sekali untuk nggak pernah mendendam.
Sejujurnya dendam sendiri membuat rasa sakit yang udah ada jadi berlipat ganda laranya. Dan makin lama, jelas ini termasuk penyakit berbahaya. Banyak hal-hal tragis yang terjadi akibat dendam dan untungnya saya pribadi selalu berupaya agar dendam-dendam menyebalkan itu tidak sampai berlarut-larut. Dengan cara apa saya mengatasinya?
Dengan cara ingat Tuhan dan sadar lagi bahwa karma tuh eksis kok. Dimaklumlah kalau saya sebel nyampe ubun-ubun mau pecah rasanya atau menyumpah-nyumpah. Namanya juga sakit hati kan. Tapi, saya membatasi diri. Oke, manusia itu udah kejam sama saya. Dia seburuk-buruknya manusia. Semoga aja dia kesandung batu lalu amnesia. Tapi, saya nggak perlu nanem batu segede tahu bulet supaya dia kesandung. Saya nggak perlulah lempar kepalanya pake kerikil biar dia hilang ingatan. Yang cukup saya lakukan agar dendam itu berangsur hilang cuma percaya kalau keburukan sekecil apa pun pasti dapat balasan kok dari Tuhan. Entah itu dosanya yang ditambahin atau dia yang bener-bener bakal amnesia gara-gara kesandung langkahnya sendiri. Tuhan adil, jadi ada kalanya kita nggak perlu ambil peran Tuhan untuk mengadili. Lagipula, sekali kita menuruti sugesti negatif yang timbul karena dendam. Kita nggak akan berhenti, nggak akan pernah puas.

Heni Susanti mengatakan...

Heni Susanti | Pati - Jawa Tengah | @hensus91 | henis_minozz@yahoo.com/19hensus91@gmail.com

Aku termasuk yang susah menahan kemarahan dalam hati, apalagi pada orang yang dekat denganku. Seringnya hanya bertahan beberapa hari dan tiba-tiba lupa kalau sedang marah. Maka dari itu aku tidak pernah merasakan dendam pada seseorang.

Tapi akhir-akhir ini aku memang sedang agak kesal pada salah satu orang yang sok tahu tentang kehidupan pribadiku yang membuat keluargaku resah. Cara mengatasi hal itu agar tidak berlanjut menjadi dendam adalah dengan meyakinkan diriku kalau apa yang dia gembar-gemborkan itu tidak benar. Bahwa selama keluargaku masih percaya padaku dan aku bisa bertanggung jawab pada jalur yang benar dengan hidupku, aku tak perlu mempedulikan apa pun perkataannya. Lebih memasrahkan pada-Nya juga dan memohon perlindungan dari rasa ingin mencabik dia aja :D

Demikian dan terima kasih :)

Vena D mengatakan...

Nama : Vena Dwi Masfiyah
Domisili : Tulungagung - Jatim
Twitter : @venadwim
Email : venadm16@gmail.com
Jawaban :
Dendam sih pernah. Untuk mengatasinya aku lebih sering menghindari orang itu dan berusaha tidak mengingat-ingat hal yang membuatku merasa dendam. Dengan cara seperti itu, rasa dendam di hati berangsur-angsur menghilang dan aku bisa memaafkannya tapi walau aku sudah memaafkannya rasa percayaku kepada orang itu sudah tidak sebesar dulu lagi.

Nur R mengatakan...

Nama: Nur Rachmawati.Z
Domisili: Semarang
Akun : @OmbakBintang
Email : ombakbintang@gmail.com

Pernahkah merasa dendam? Saya pernah merasakannya. Cara mengatasinya adalah dengan diam dan mencoba menghilangkannya. Bukan karena saya baik cuma saya enggak ingin dendam itu malah membuat saya melakukan hal-hal yang makin menyakiti. Kesal memang, namun itu tidak dapat terus saya perdulikan bukan. Toh hidup bukan hanya saya dan dendam saya. :)

Rani Daiki mengatakan...

Nama : Rani W
Domisili : Bandung
Twitter : @raniwidiyansyah
Email : ranidaiki@gmail.com

Pernah merasa dendam? Pernah.
Cara mengatasinya sih lebih seperti mengacuhkan orang itu, tidak memperdulikan orang itu, karena kalau aku balas dendam, nanti dia balas lagi, terus nanti aku balas lagi, gitu aja terus sampai negara api menyerang. Cara lainnya juga yang aku lakukan dengan berusaha lebih baik dari dia dalam segala hal supaya dia nya malu, itu cara balas dendam paling elegan. Setelah itu dendam hilang, lagipula aku tidak suka mendendam lama lama, hanya buang buang waktu dan pikiran.

Andini Ginanti Tuzzahra mengatakan...

Nama: Andini Ginanti Tuzzahra
Domisili: Rangkasbitung, Lebak, Banten
Twitter: @andinigt
Email: andiniginantituzzahra13@gmail.com

Pernah merasa dendam? Pernah
Seperti dendam rindu harus dibayar tuntas hehehehe, tiba-tiba teringat salah satu judul buku karena kata dendam. Sebenarnya dendam itu kayak ulat yang menggerogoti hati, dibiarin lama-lama bikin hati cenat-cenut dan merambat ke pikiran. Karena itu kalau dendam harus dibayar tuntas ya dibayar saja. Dibayarnya dengan doa biar orang itu sadar akan kesalahannya dan ga mengulangi lagi. Syukur-syukur kalau dia minta maaf kan memperbaiki tali silaturahmi tuh. Sekalian doa minta jodoh juga. Eh

nunaalia 79 mengatakan...

Aulia | Serang | @nunaalia | auliyati.online@gmail.com

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Kalau jadi tidak suka, sebel, kesal dan benci pada orang yg pernah mempermalukan aku bisa disebut dendam, berarti aku pernah mengalaminya. Tapi aku tidak memiliki keinginan untuk membalas perlakuannya. Aku hanya tidak ingin lagi berurusan sama orang itu, bahkan menghindari bertemu dengannya supaya rasa benci yg kurasa tidak bertambah. Aku berharap waktu akan menghapus dendam yg kurasa, karena jujur saja membenci seseorang itu tidak menyenangkan.

Asep Nanang mengatakan...

Nama : Asep Nanang
Domisili : Jambi
Twitter : @asepnanang59
E-mail : asepnanang59@gmail.com

Pernah. Menurut saya semua orang pernah merasa dendam. Biasa dendam timbul akibat ada kesalahan atu kekhilafan yang dilakukan oleh orang lain pada kita. Supaya saya bisa mengatasi masalah dendam saya akan membayangkan saya yang berbuat salah tersebut. Saya tentu ingin dimaafkan juga. Dengan begitu ada suatu pemikiran yang timbul yakni setiap manusia bisa salah, maka maafkanlah kesalahan yang diperbuat orang lain. :)

Anonim mengatakan...

Nama : Ikal Harun
domisili : Gorontalo
twitter : @justikal
email : rifandiharun@gmail.com

kalau ditanyakan apa pernah merasakan atau menaruh dendam maka jawabannya adalah pasti.
dulu saya sering dipandang sebelah mata oleh teman-teman kampus karna niat saya yang ingin maju sebagai ketua sebuah organisasi. terus-terusan dipandang remeh membuat dendam menyulut di hati saya. namun saya mengubah dendam tersebut menjadi motivasi untuk bisa terus berkarya dan membungkam segala apa yang dialamatkan kepada saya. alhasil saya bisa mendapatkan apa yang saya mau dan orang-orang yang awalnya memandang remeh kini berbalik mendukung saya. intinya adalah dendam itu lumrah namun kita harus tetap cerdas mengkonversikannya menjadi hal yang positif. dan saya percaya dendam adalah motivasi paling ampuh di jagad raya ini.

Humaira Balfas mengatakan...

Humaira | Purwakarta | @RaaChoco | humairabalfas5@gmail.com


Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?


Pernah, sekecil apapun dendam itu aku yakin semua orang pasti pernah merasakannya termasuk aku tentu saja. Saat merasakan pertama kali aku pasti berusaha meredamnya, menarik nafas perlahan dan coba mendinginkan pikiran meski seringkali gagal, tapi aku mencobanya walau yang keluar hanya air mata. Masalah dendam, meski seiring berjalannya waktu selama apapun titik dendam itu masih ada, aku selalu berpikir setiap perbuatan baik-buruk sekecil apapun yang dilakukan pasti ada balasannya. Jadi, meski rasa dendam itu ada di hatiku, aku percaya semua ada balasannya.

adin dilla mengatakan...

Nama: Hapudin
Kota: Cirebon
Twitter: @adindilla
Email; hapudincreative@gmail.com

Jawaban: Saya pernah dendam kepada orang tua. Karena, mereka secara tidak langsung menggagalkan kuliah saya. Sehingga begitu saya mendapatkan kerja, saya bersikap egois. Saya tidak ada simpati pada mereka. Saya menjauh diri dari mereka seakan-akan kita punya kehidupan masing-masing.

Saya tidak melakukan apa-apa untuk menghapus dendam itu. Tapi Allah ikut turun campur mengingatkan saya dengan sakit TB parah. Kabar sakit itu membuat Ibu menangis semalaman mengingat kondisi saya yang kos. Beliau sangat khawatir kondisi saya. Sejak itulah saya memaafkan keputusan mereka yang membuat saya gagal kuliah. Saya lega hingga saat ini untuk menghapus dendam itu. Jika sakit itu datang lagi, saya segera menepisnya agar tidak membuat hati saya kembali menyimpan dendam. Sebab hati yang menyimpan dendam, hati itu sakit dan tidak pernah senang, tentram, dan damai. Lepaskan dendam saat ini juga, kawan!

afifah khoiriyah mengatakan...

nama: afifah khoiriyah
domisili : Yogyakarta
akun twitter : @Afifah_1412
alamat email : afifah.kh789a@gmail.com
Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

pernah. Ke teman2 kelas. Mereka menyontek tugasku lalu mereka tanpa punya malu mereka mengolok2ku. Saya berusaha menjauh dari mereka. Jujur semua rasa sakit itu hanya kusimpan diganti tanpa membalas mereka. Aku berdoa pada Allah semoga mereka sadar dg apa ya mereka perbuat. Cara ampuh di saat itu yaitu pejamkan mata, tarik nafas, lalu sebut nama orang yg kau sayang, dan berdoa demi kebaikanmu... Itu sungguh cara efektif dan tercemar

Bintang Maharani mengatakan...

Bintang Maharani | Palembang, SumSel | @btgmr | btgmhrn@gmail.com

Tentunya pernah. Tapi untungnya dendam saya tidak pernah berlangsung lama. Karena saat saya merasakan dendam terhadap seseorang, saya selalu berdoa supaya Allah membantu melapangkan hati saya, membuang jauh-jauh rasa dendam yang dapat menjadi noda hitam di hati saya, dan kerelaan untuk memaafkan orang itu meski pun orang itu tidak minta maaf langsung pada saya. Manusia memang mudah untuk marah, tapi sulit sekali untuk memaafkan padahal pahalanya besar. Saya selalu membayangkan kalau seandainya saya di posisi dia yang pernah khilaf melakukan salah dan membuat orang lain marah, tentu saya merasa nggak enak. Apalagi kalau punya salah yang tidak termaafkan. Nggak tenang dunia akhirat kayanya hehe. Makanya saya maafkan saja supaya mggak jadi beban di hati :)

Ratna Komalasari mengatakan...

Nama: Ratna Komalasari
Domisili: Tangerang
Twitter: @dreravios
Email: dreravios@gmail.com


Semua orang pasti pernah dendam kepada orang lain, termasuk aku.

Dendam itu berasal dari hati, kalau hati kita ikhlas kita akan terjauhi oleh dendam itu. Jangan dibawa ke hati apa kata orang, orang gak tau apa yang ada di dalam hati kita hanya kitalah yang tau persis apa yang ada di dalam hati kita.
Dendam itu penyakit hati yang tidak ada obatnya sama sekali,tapi kalau kita berserah diri kepada Allah, dan memaafkan orang itu dengan ikhlas dari hati kita insya Allah kita dijauhi dari kata Dendam.

Rizkytria Octasiana mengatakan...

Rizky Tria
Brebes, Jawa Tengah
@Octannow_
rizkytria98@gmail.com
Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Manusia adalah makhluk perasa, misal sedih, bahagia, marah, sakit, dendam, dll. Jadi (menurutku), tentu saja semua orang pernah mengalami dendam. Termasuk aku. Yang membedakan hanya sering atau tidaknya seseorang mengalaminya.
Dendam adalah rasa marah yang kita simpan jauh dalam hati, sehingga menimbulkan kerusakan hati kita sedikit demi sedikit. Dendam juga muncul karena rasa marah yang terus berkembangbiak.
Akibat dari menyimpan dendam, tentulah akan mengalami tekanan berkepanjangan.
Cara mengatasinya? Pertama, gausah turuti emosi terus-menerus, intinya mengubah 'mindset' terlebih dahulu untuk selalu berfikir positif. Kedua, perlu diingat kalau dendam akan membuat jiwa jadi hina, maka lebih baik memaafkan saja agar jiwa menjadi mulia.
Ketiga, sekali-kali jadi orang yang 'masa bodoh', gaperlu lah memikirkan dendam yang bakal nguras waktu. Sakit sih emang sakit, tapi yaudahlah biarkan saja. Pelan tapi pasti dendam itu bakal terbawa angin. Keempat, serahkan pada Tuhan. Percaya biar Tuhan yang membalaskan ketika di akhirat kelak. Rasanya sia-sia kalo waktu dibuang begitu saja demi memikirkan cara buat balas dendam. Be a good girl, pastinya ☺

Mifta Rizky Wiratnasari mengatakan...

Mifta Rizky W | Gresik | @keyminoz | keyminoz@yahoo.com

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Pernah, dendam dgn seseorang tp enggak sampai mengancam nyawa takut masuk penjara wkwkwk mungkin dendamnya sedikit menjurus sakit hati gara-gara beda pendapat ato kata-kata yg dilontarkan nyelekit sampe menusuk di hati, cara mengatasi palingan pertama narik nafas dalem2, terus mbatin kok ada orang sikapnya kayak gitu, trus palingan ngadu sama yang di atas berdoa minta pertolongan gmn enaknya nyari jalan tengahnya, minta maaf kalo misal kita yg bikin orang itu sakit hati duluan, introspeksi diri juga apa kelakuan kita juga nyakiti orang lain.

Meika Hapsari mengatakan...

Meika Hapsari | Sukoharjo | @meikahapsari59 | meikahapsari59@gmail.com

Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

Tentu saja pernah. Adalah sangat wajar, sebagai manusia yang menjalankan hidup dan qodratnya sebagai makhluk sosial yang sangat membutuhkan adanya orang lain dalam hidupnya. Tentu sebagai manusia yang juga tiada sempurna bisa melakukan suatu kesalahan yang mungkin disengaja atau tidak dengan niatnya. Hal inilah yang sering menimbulkan benci, benci dan benci yang terus disimpan dalam hatinya sampai pada tahap dendam yang selanjutnya mencari cara untuk membalaskan semua perbuatannya karena hanya hal itu yang mungkin akan jadi penawar rasa Benci dalam hatinya. Setiap orang mempunyai takaran berbeda-beda dalam dendamnya. Ada yang dendam sebatas pada perasaan kesal dan marah, tetapi ada pula yang tingkat akut sampai berkeinginan untuk membuat seseorang menderita. NAUDZUIBILLAH ...

Oleh karena itu, aku selalu berusaha mengatasi rasa dendamku sebelum bertambah sampai akhirnya memuncak.
- Pertama, ketika api membara di hatiku dan emosi meluap-luap, aku selalu mengingat Allah dengan mengucap istighfar'Astagfirullah'. Insya allah, hati akan menjadi tenang.
- Kedua, aku selalu mengingat untuk apa tujuanku hidup di dunia ini. Aku selalu mengatakan dalam hati, "Meika, jangan hancurkan masa depanmu yang masih panjang dan penuh harapan hanya karena emosi sesaat. Yang berlalu biarlah berlalu toh tidak akan kembali seperti sedia kala!"
- Ketiga, aku selalu mengingat bahwa dendan dan benci itu merugikan dirimu sendiri karena hanya membuat hati tidak tenang dan selalu dipenuhi marah. Jadi sebisa mungkin aku akan berusaha memaafkan orang yang membuatku sebal tersebut.
- Terakhir, jika benci dan dendam itu tak jua hilang, maka aku akan mengingat-ingat kebaikannya, mungkin ada kebaikan yang pernah ia lakukan padaku. Jangan selalu memikirkan keburukannya, kejahatannya dan sifatnya yang kurang terpuji. Insyaallah dengan itu hatiku akan terobati.

Terima kasih. Semoga beruntung. Bismillah ... :)

Blajar pd Nature mengatakan...

Nama : jawahirul arifah
Akun twitter : @jawarifah
Domisili : Kudus
Link share : https://twitter.com/jawarifah/status/796304711175409666

Jawaban : kalo kamu punya dendam sama orang, apa yg akan kamu lakukan ?
Kalo aku mengikuti dia kemanapun. Kenapa ? Karena aku pingin tau ada alasan apa sebenernya kok aku bisa dendam sama dia. Istilahnya cari latar belakang, masalah apa yg ditimbulkan ? Kalo emang pangkal masalah uda ditemukan dan aku tetap dendam sama dia, maka aku akan melabrak dia dan meminta penjelasan yg sebenarnya. Udah itu, aku akan berusaha memaafkan apa yg terjadi dan menjaga jarak sama dia. Trauma lah. Jadi waswas sama dia. Selanjutnya aku akan melampiaskan sisa sisa dendam dengan makan atau jalan jalan. Karena aku hobi kedua duanya. Sekalian refresing dan melakukan sebuah usaha melupakan.

Sekian dan terima kasih.

Siti Faridah mengatakan...

nama : Siti Faridah
domisili : Kendal - Jawa Tengah
akun twitter : @sitifaridah96
alamat email : sitifaridah43@yahoo.co.id
pertanyaan :
Pernahkah kamu merasa dendam? Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?
Jawaban : Tentu saja pernah,saya selalu mencoba untuk melupakan dan mengabaikan dendam itu. Karena jadi pendendam itu tidak baik.

Pramestya Ambangsari mengatakan...

nama: pramestya
domisili: temanggung
akun twitter: @p_ambangsari
alamat email: pramestya23@gmail.com

Dendam? Tentu aja pernah. Karena dendam itu akibat dari kemarahan dan terkadang ras iri, maka yang aku lakukan adalah berdiam diri. Aku selalu memilih cara itu ketika marah karena kalau aku berusaha membalas, aku bakal 'hancur' karena nggak kuat.

Dan ketika aku berdiam diri, aku membiarkan imajinasiku membalas dendam. Hanya imajinasi, karena sekali lagi jika aku berusaha membalas secara nyata, aku akan 'hancur'. Selain berimajinasi aku akan merenungkan semuanya, apa yang akan aku lakukan setelahnya; tetap berdiri dekat orang yang membuatku dendam atau menjaga jarak untuk menghilangkan rasa dendam sedikit demi sedikit, atau aku harus membuktikan pada dia bahwa aku bisa lebih baik daripada dia, atau apakah ada cara lain untuk membalas namun tidak membuatku berdosa.

Aku ini tipe orang pemikir, ada buruk dan baiknya. Buruknya waktu terlewat begitu saja tanpa bisa kugunain untuk hal berguna, baiknya aku punya perencanaan matang dan dalam hal ini, dendam itu kubalas hanya lewat perencanaan.

Aku membalas orang yang membuatku dendam dalam pikiran dengan kontrol diri penuh, ketika aku terlalu marah atau dendam, maka aku akan membayangkan pembalasan dalam waktu lama. Sampai aku 'tersadar', aku ingat "Masalah sudah selesai, ini gk penting lagi." dan aku melupakan rasa marahku.

Menurutku sih rasa dendan dan marah itu sebenarnya bukan dendan dan marah pada orang lain, tapi lebih pada diri sendiri yang tidak tahan terhadap gangguan dari orang lain. Dan cara efektif untuk mengatasi adalah dengan menyelesaikan pertarungan dengan diri sendiri dan memaafkan diri sendiri.

Terima kasih kak:))

Ifah Zhiigo mengatakan...

nama : ifah
alamat : bekasi
twitter : @zhiigo
email : zhiigo90@gmail.com

aku sih jujur aja nggak pernah ngerasa dendam. Kalau marah, bahkan marah banget sih pernah.

Tapi emang nggak pernah ngerasain diperlakukan enggak enak yang bikin aku pengen bales sih. Jadi aku juga nggak tahu gimana caranya mengatasi dendam.

Biasanya kalau aku disakiti, aku langsung balas saat itu juga. Dan setelah itu, ya udah. Gitu aja. Nggak nyampe terbawa perasaan yang gimana.

Jadi menurut aku, buat ngilangin perasaan dendam, kalo masih tahap awal mungkin dengan langsung konfrontasiin ke orang nya deh. Soalnya dendam tuh kan sebenernya manifestasi dari rasa marah yang terpendam dan berlebihan.

Nova Indah Putri Lubis mengatakan...

Nova Indah Putri | Medan | @n0v4ip | n0v4ip[at]gmail[dot]com
https://twitter.com/n0v4ip/status/796743585743962112

Syukurnya sampai saat ini saya belum pernah dendam pada siapapun. Kalau marah besar pernah tapi tidak sampai menimbulkan perasaan dendam. Palingan kalo saya lagi marah besar saya memilih pergi dan menjauh untuk memenangkan diri. Terus kalo ketemu orangnya saya bakal memilih diam untuk menghindari konflik. Gitu aja sih kak... hehe :D

Terima kasih kak ^^

wawha cuza mengatakan...

Nama: Nurwahidah

Domisili: Medan

Twitter: @wawha_cuza

Email: wawcuz@gmail.com

Jawaban: Kalo dendam sih nggak, paling marah aja. Awalnya pasti pengen dia sengsara tapi aku langsung istigfar, nggak boleh doain yang nggak baik untuk orang lain.

Atina YF mengatakan...

Nama : Yunia Fatina
Alamat : Mataram
Twitter : @yfatina
Email : fatinayunia@gmail.com

Dendam telah merusak terumbu karang dalam hidupku. Bertahun-tahun lamanya menyimpan dendam. Dengan dendam itu, aku terus mengejar sesuatu hal yang bisa menjadikanku tak disepelekan lagi. Namun kenyataan yang kudapatkan hanyalah kekecewaan dan kegelisahan. Jiwa tak tenang, fisik pun tak sehat. Apa yang salah dalam diriku?

Kuberanikan diri untuk sharing dengan org lain. Beliau menyarankan untuk memplongkan perasaan dari 3D 'Dengki, Dendam, Dongkol'. Terlalu banyak menghimpun potensi2 negatif dalam diri. Negatif thinking, negatif feeling dan negatif motivation shg yg masuk dalam kehidupanku hanyalah yg negatifnya saja. Selain memplongkan hati, aku mencoba melihat kehidupan org2 disekitar, bagaimana mereka sabar, ikhlas serta bersyukur dlm hidup.

Ketika dlm perjalanan, tiba2 ban motor bocor. kubiarkan saja bocor sambil terus mengendarai motornya., tapi dgn mengurangi kecepatannya agar seimbang.
Sampai di tukang tambal ban, "mbak, ini ban luar dan dalamnya robek besar, harus diganti dengan ban yang baru?".
Ku merenung akan peristiwa itu. Terlalu nyamankah aku dengan dendam2 itu? Shg tak terpikirkan bahwa semakin lama kerusakan yg ditimbulkannya semakin besar.
*jika hanya sebuah ban rusak, bisalah aku ganti baru, tapi bagaimana jika hidupku yg rusak, entah dimana aku harus mencari gantinya.

So mulailah dari memaafkan kesalahan diri sendiri maupun org lain. Terimakasih

Atina YF mengatakan...

Nama : Yunia Fatina
Alamat : Mataram
Twitter : @yfatina
Email : fatinayunia@gmail.com

Dendam telah merusak terumbu karang dalam hidupku. Bertahun-tahun lamanya menyimpan dendam. Dengan dendam itu, aku terus mengejar sesuatu hal yang bisa menjadikanku tak disepelekan lagi. Namun kenyataan yang kudapatkan hanyalah kekecewaan dan kegelisahan. Jiwa tak tenang, fisik pun tak sehat. Apa yang salah dalam diriku?

Kuberanikan diri untuk sharing dengan org lain. Beliau menyarankan untuk memplongkan perasaan dari 3D 'Dengki, Dendam, Dongkol'. Terlalu banyak menghimpun potensi2 negatif dalam diri. Negatif thinking, negatif feeling dan negatif motivation shg yg masuk dalam kehidupanku hanyalah yg negatifnya saja. Selain memplongkan hati, aku mencoba melihat kehidupan org2 disekitar, bagaimana mereka sabar, ikhlas serta bersyukur dlm hidup.

Ketika dlm perjalanan, tiba2 ban motor bocor. kubiarkan saja bocor sambil terus mengendarai motornya., tapi dgn mengurangi kecepatannya agar seimbang.
Sampai di tukang tambal ban, "mbak, ini ban luar dan dalamnya robek besar, harus diganti dengan ban yang baru?".
Ku merenung akan peristiwa itu. Terlalu nyamankah aku dengan dendam2 itu? Shg tak terpikirkan bahwa semakin lama kerusakan yg ditimbulkannya semakin besar.
*jika hanya sebuah ban rusak, bisalah aku ganti baru, tapi bagaimana jika hidupku yg rusak, entah dimana aku harus mencari gantinya.

So mulailah dari memaafkan kesalahan diri sendiri maupun org lain. Terimakasih

esti yuli mengatakan...

Esti | mjokerto| @estiyuliastri| estiyuliastri@gmail.com

Pernah, cara mengatasinya yg pertama dengan berusaha berdamai dengan hati & pikiranku.
Yg kedua coba mengingat kembali kebaikan-kebaikan yg pernah dilakukan orang tersebut. jadi jangan semata-mata dendam, lantas mata kita tertutup dengan kejelekan2 dia saja yg terlihat. Sedangkan kebaikannya tak nampak. Kalo perlu catat kebaikan2 yg pernah dia lakukan, sehingga saat aku mulai dikuasai emosi, aku bisa baca catatan tersebut, agar emosi & dendam bisa sedikit meredam. Recommended!

rini virgo mengatakan...

Rinita | Jatim| @RinitAvyy | rinivir90@gmail.com |

Q: Pernahkah kamu merasa dendam?

A: Pernah. Bohong banget kalau aku menjawab tidak. Karena, manusia memang di ciptakan dengan tingkat emosional yang tinggi. Terkadang sulit sekali untuk menetralkannya. Yang pada akhirnya emosional itu berkembang menjadi perasaan tidak suka, bahkan sampai membenci. Tetapi, percayalah, rasa dendamku tidak sebesar kisah novel diatas. Apalagi sampai ada adegan yg menganiaya. Sebab, rasa dendamku cukup ku simpan di dalam hati. Yang lama-kelamaan menjadi tak bersisa jika aku berusaha mengurangi dan menghilangkannya.

Q: Apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?

A: Tips mengatasi dendan 'ala Rinita':

1. Melaksanakan Sholat, baik lima waktu (wajib) atau sunah. Karena, semakin kita dekat dengan Allah, maka semakin jauhlah setan yag menempel di sisi kanan-kiri.

2. Menahan hama nafsu serta tahan amarah dari godaan setan adalah cara yg bisa di pakai mengatasi amarah yg berujung dendam. Maka, sering-seringlah melakukan puasa untuk mengatasinya.

3. Dendam termasuk sifat tercela yang wajib di tinggalkan. Memang sih, orang pasti memiliki sifat jelek dalam dirinya, meski itu sedikit. Tetapi, sebagai manusia yg memiliki akal dan pikiran, kita bisa kok memadamkan dendam yang membara dan semakin panas itu. Barangkali, dengan sedikit demi sedikit (lama-lama menjadi bukit) menumbuhkan rasa ikhlas di dalam hati.

4. Mengatur sisi tingkatan emosional sebaik mungkin. Lalu bisa juga di praktekannya. Yaitu, pada saat kita merasakan adanya euria emosi, segeralah baca lafad 'Taawudz'.

5. Melakukan intropeksi diri setiap kali menjelang tidur di malam hari. Dengan mengintropeksi diri sama halnya kita menilai hal apa saja yg sudah di lakukan di siang hari tadi, lalu kita berusaha untuk menjadi lebih baik pada keesokan harinya.

5 Tips diatas adalah solusi paling sederhana menurutku, namun terbukti 'echo' mengurangi dan mengatasi perasaa. dendam serta amarah. Semoga bermanfaat. Dan terima kasih atas kesempatannya.

iid alMuhyi mengatakan...

Moh.Muhyiddin
Sarang Rembang Jateng
@iid_fauz
iid.almuhyi@gmail.com
Cara mengatasi dendam..
Segala sesuatu atau perbuatan tentu tidak akan semuanya sesuai dengan apa yang kita inginkan, termasuk juga perlakuan atau perbuatan orang terhadap diri kita. Pertama kita harus sadari itu, kita tidak bisa memaksakan semua orang harus bertindak sesuai apa yang kita inginkan. Karena sifat orang, tujuan, maksud, berbeda-beda. Maka dengan begitu kita paling tidak, tahu akan hal itu. Kemudian Berfikirlah, manusia itu dijalankan oleh Allah, Orang tersebut hanya menjadi sarana untuk mununjukkan sifat "kekuasaan" Allah, bahwa serapi, sesetruktur sesuatu yang kita jalankan bisa saja tidak sesuai apa yang kita inginkan, karena kita lemah di hadapan Allah. Semua itu rencana Allah, manusia sebagai perantara saja. Orang yang menjadikan kita dendam itu perantara..
kita benci terhadap orang, itu salah satu Cara Allah untuk mengetes Allah, untuk memastikan hambanya mempunyai sifat pemaaf. ingatlah firmanNya Fafshah Safhah Jamil, maka turunkanlah sayap kamu dengan bagus. Kalimat yang digunakan menunjukkan pemberian maaf itu tulus, tidak ada kebencian. Bila masih belum bisa, tetap maafkanlah dan sebisa menghindari orang tersebut. Seperti yang dilakukan Oleh nabi Muhammad, ketika bertemu pembunuh pamannya. Nabi berucap, telah memberi maaf, namun menyingkalah dari pandanganku.. itu sudah cara terakhir.

Veny Prasetyowati mengatakan...

Nama : Veny
Domisisli : Balikpapan
Twitter : @yutakaNoYuki
Email : himurasora@gmail.com

Aku pernah merasa dendam dengan seseorang, bahkan rasanya sampai mau teriak frustasi saking jengkel dan marahnya. Terus aku langsung berimajinasi segala cara pembalasan dendam yang bisa aku lakukan buat membalas sakit hati ini ...
Tapi kemudian hal itu cuma jadi imajinasi aja. Sedendamnya aku, tapi nyatanya aku cuma bisa mendem dendam itu. Kalau ditanya bagaimana cara mengatasi dendam tersebut, aku juga gak tau. Tapi yang kurasakan adalah dendam itu semakin menyusut ketika aku memutuskan untuk nggak ambil pusing, nggak berurusan lagi dan lebih menyibukkan diri sendiri.
Mungkin bisa jadi sekedar tips, kalau kamu merasa mendendam, sebaiknya pergi jauh-jauh dari sumber dendam itu. Soalnya membalas dendam juga gak akan ngasih efek apapun. Puasnya sementara tapi setelah itu ya kesel lagi. Karena rasa sakit itu akan tetap tertinggal di memori kita, dan membalas dendam sama sekali gak bisa menggantikan rasa sakit itu.

Poskan Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon