Selasa, 18 Agustus 2015

[Resensi: To All The Boys I've Loved Before - Jenny Han] Surat Cinta yang Tanpa Sengaja Terkirimkan


Judul buku : To All The Boys I've Loved Before
Penulis : Jenny Han
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Penyunting : Selsa Chintya
Penerbit : Penerbit Spring
Tahun terbit : April 2015 (cetakan pertama)
Tebal buku : 308 halaman
ISBN : 978-602-71505-1-5
Available at: bukupedia.com




BLURB

LARA JEAN

MENYIMPAN SURAT-SURAT CINTANYA DI SEBUAH KOTAK TOPI PEMBERIAN IBUNYA.

Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai--totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan--entah oleh siapa.

Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya--termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya, dan cowok terkeren di sekolah.


RESENSI

Kehidupan Lara Jean selama ini hanya berpusat pada keluarganya. Ayahnya, dr. Covey, yang merupakan dokter kandungan; Margot, kakak tertuanya; dan Katherine, adik perempuannya yg lebih sering dipanggil Kitty. Dan tentu saja masih ada Josh, tetangga sekaligus pacar Margot. Josh telah menjadi idola bagi gadis-gadis Song, demikian mereka menamai diri mereka berdasarkan nama gadis ibu mereka yang telah meninggal.
Sebagai anak kedua, yang telah kehilangan ibunya saat berusia 10 tahun, tentu saja Lara Jean sangat mengidolakan Margot. Margot selalu teratur, selalu cekatan dan selalu bisa diandalkan. Maka saat Margot berpacaran dengan Josh, meski Lara Jean juga mencintai cowok itu, Lara Jean hanya bisa menerimanya dan mengubur rasa cintanya. Itu sebabnya ia menulis surat cinta untuk Josh. Surat sebagai tanda ia telah selesai mencintai cowok itu. Surat yang hanya ingin ia simpan bersama keempat surat cinta lainnya, tanpa ia niatkan untuk mengirimkannya.
Bahkan ketika Margot pergi kuliah ke Skotlandia dan putus dengan Josh, Lara Jean tetap menganggap Josh adalah milik Margot.
Dan tibalah hari itu, ketika Peter Kavinsky, cowok terkeren di sekolahnya, mendatangi Lara Jean dan menanyakan apa maksud surat dari Lara Jean yang ia terima. Kepanikan melanda Lara Jean, karena meskipun Peter adalah cowok pertama yang menciumnya, ia merasa sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi pada Peter.
Dan dimulailah perubahan dalam hidup Lara Jean. Demi menghindari Josh, Lara Jean berpura-pura berpacaran dengan Peter. Karena Peter sendiri juga ingin membuat mantan pacarnya cemburu. Tapi semua jadi di luar kendali. Bagai kotak pandora yang dibuka, surat-surat Lara Jean membuat hidup Lara Jean jungkir balik. Ia harus menghadapi cowok-cowok yang pernah ia sukai, menemukan kenyataan yang mencengangkan, mendapat ciuman dari Josh dan Peter, juga harus menghadapi Genevieve, mantan pacar Peter yang masih menganggap Peter sebagai miliknya dan siap mengincar Lara Jean seperti singa lapar.
Bagaimana Lara Jean menghadapi kekacauan hidupnya? Dan bagaimana hal itu bisa ikut merubah kehidupan gadis-gadis Song? Siapa yang sesungguhnya Lara Jean cintai? Josh atau Peter?

-------

To All The Boys I've Loved Before sudah menarik hati saya sejak awal diterbitkan. Judulnya menggetarkan... well, jujur saya pun pernah melakukan hal yang sama seperti Lara Jean, melampiaskan unek-unek untuk merampungkan perasaan. Hanya saja saya menulisnya di buku harian, bukan di kertas surat dan menyegelnya dengan amplop bertuliskan alamat lengkap seperti Lara Jean. :P
Membaca blurbnya juga membuat saya makin penasaran. Sungguh, saya sudah berniat ingin memburu novel ini.
Namun begitu tahu akhirnya menggantung, dan bakal ada novel keduanya, saya urung. Saya jadi ragu untuk membacanya. Saya takut jadi penasaran.
Karena digantung dan penasaran itu menyebalkan. #eyaaa #tsurhat

Begitu saya berani mencoba membaca, saya sangat menikmatinya. Diceritakan dari sudut pandang Lara Jean sebagai "aku" novel ini membuat saya cengar-cengir. Terutama di bagian dialog Lara Jean dengan Kitty dan dialog Lara Jean dengan Peter.

Karakternya sungguh menyenangkan. Saya suka gambaran seorang ayah dengan tiga anak gadisnya. Langsung kebayang Steven Gerrard dan anak-anak ceweknya. Haha...
Margot cukup menyenangkan di awal cerita, meskipun saya setuju dengan Chris-sahabat Lara Jean-bahwa Margot membosankan. Saya cukup kesal pada Margot saat ia pulang dari Skotlandia dan tampak 'menyepelekan' pilihan Lara Jean. Sebagai kakak perempuan, tingkah kekanakannya terasa menyebalkan.
Dari awal membaca saya sudah yakin kalau saya adalah #TimPeter ^^ Karakternya yang over pede, haus pujian dan tengil itu sungguh menggemaskan. Saya suka chemistry antara Peter dan Lara Jean, adegan-adegan romantis spontan mereka membuat saya memfavoritkan pasangan ini. Juga dialog mereka yang fun, nakal dan jahil. Adegan favorit saya yang melibatkan mereka adalah saat mereka mengunjungi estate sale. Saya bisa memahami mengapa Peter menganggap Lara Jean gadis unik ;)

Hal yang paling saya suka dari novel ini adalah persahabatan Lara Jean dengan Chris. Itu bukan hanya persahabatan embel-embel untuk melengkapi cerita. Tapi ada kesan kuat dalam persahabatan mereka. Lara Jean yang gadis baik-baik bersahabat dengan Chris yang liar, suka ganti cowok dan mabuk. Lara Jean begitu setia dengan menerima kehadiran Chris kapan pun gadis itu membutuhkannya. Dan anggapan buruk Margot tentang Chris salah saat Chris, yang benci karyawisata, tetap ikut demi Lara Jean, dan akhirnya Chris-lah yang membuat Lara Jean tetap kuat. Keren.

Penerjemahannya bagus, gampang dicerna. Banyak catatan kaki tentang istilah dan hal asing yang sangat membantu. Dan yang paling penting, mulus dari typo.

Overall, saya sukaaaaaa kisah ini dan nggak sabar membaca buku keduanya.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Kalau cinta diibaratkan seperti kerasukan arwah, mungkin bagiku surat-suratku itu semacam upacara pengusiran arwah. Surat-suratku membebaskanku. (hal. 5)

Bagaimana rasanya jika ada seorang cowok menangis untukmu? Bukan sembarang cowok, tapi Josh. Josh kami. (hal. 31)

"Menurutku sebuah hubungan tidak hanya berkaitan dengan sentuhan fisik. Selalu ada cara untuk menunjukkan bahwa kau menyayangi seseorang, tidak hanya dengan menggunakan bibirmu. Atau bagian tubuh lainnya." (hal. 128)

"Bertengkar bukan pertanda yang baik, Lara Jean. Itu artinya mereka masih saling sayang." (hal. 204)

"Apa menurutmu ada bedanya? Antara milik seseorang dengan dimiliki seseorang?" (hal. 206)

Kurasa sekarang aku tahu perbedaannya, antara mencintai seseorang dari kejauhan dengan mencintai seseorang dari dekat. Ketika kau melihat mereka dari dekat, kau melihat diri mereka yang sesungguhnya, dan mereka juga melihat dirimu yang sesungguhnya. (hal. 375-376)

Cinta itu menakutkan. Cinta berubah. Cinta tidak bisa menghilang. Itulah bagian dari risikonya. (hal. 376)

3 komentar:

Fikriah Azhari mengatakan...

Aku juga sudah baca ini^^ Greget banget sama endingnya yang gantung parah. Sudah tak sabar ingin membaca P.S. I Still Love You.

nurina widiani mengatakan...

Yep... makanya bacanya milih dekat-dekat jadwal P.S. I Still Love You terbit, biar gak lama penasarannya :))))

Desita Wahyuningtias mengatakan...

Pingin baca,,,, baca reviewnya aja udah ikut baper...

Poskan Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon