Jumat, 25 Maret 2016

[Resensi] Bukan Pasarmalam - Pramoedya Ananta Toer


Judul buku: Bukan Pasarmalam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul: Ong Hari Wahyu
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun terbit: Agustus 2015 (cetakan ke-8)
Tebal buku: 106 halaman
ISBN: 978-979-3820-03-3



BLURB

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang... seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang... dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"
-Pramoedya Ananta Toer

Roman ini berlangsung dalam satu putaran perjalanan seorang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu, terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang tak pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi.

Dikisahkan bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru yang penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.

Berpotong-potong kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh "aku" dalam roman ini tidak hanya mengritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pascakemerdekaan yang hanya asyik mengurus dan memperkaya diri sendiri.

RESENSI

Di bulan Desember 1949, "Aku" menerima sepucuk surat dari Blora. Surat yang sebenarnya tidak terlalu menyayat hati "Aku" seandainya saja sebelumnya "Aku" tidak mengirim surat yang berisi sesuatu yang tak enak ke Blora. Surat dari Blora itu meminta "Aku" agar pulang barang tiga-empat hari karena sang ayah sedang sakit.
Dengan hati pedih, "Aku" berkeliling Jakarta mencari pinjaman uang untuk digunakan pulang. Dan tak lama, "Aku" dan sang istri naik kereta menuju Blora. Sepanjang perjalanan, melalui jendela, "Aku" merenungi tempat-tempat yang pernah menjadi medan perangnya melawan penjajah. Renungan yang berakhir pada sosok ayah. Renungan yang membuat hatinya tersayat.
Setiba di Blora, "Aku" mendapati ayah yang dulu tegap dan kokoh harus terbaring tak berdaya di ranjang rumahsakit, terbatuk-batuk hebat hingga mengeluarkan darah. "Aku" menyaksikan nasib adik-adiknya, rumahnya dan idealisme sang ayah sekarat secara perlahan.

-------

Bukan Pasarmalam meski cukup tipis tapi terasa sarat makna dan penuh sindiran. Kisahnya lumayan singkat tapi mampu membuat hati miris.
Betapa manusia yang keras, pejuang yang tangguh yang menjalani masa tahanan dengan gagah pun bisa lumpuh tak berdaya dalam rasa takut akan kehilangan. Menjadi melankolis, menjadi manusiawi.

Tokoh dalam novel ini memang tak bernama. Bukan hanya "Aku" sebagai si tokoh utama, tapi juga bapak, istri, adik-adik, paman, dukun dan tetangga, semua nggak memiliki identitas nama. Meski begitu Pramoedya tetaplah penulis yang mampu mencengkeramkan sosok sang tokoh dengan intens di ingatan saya sebagai pembaca.

Latar pasca kemerdekaannya pun kental dengan aroma sisa-sisa perjuangan dan derak perubahan yang menggilas kaum nasionalis-idealis. Memperkuat kisah yang suram dan gelap ini dengan sindiran yang menghujam. Sindiran pada diri sendiri, pada ketakutan akan kematian dan pada perjuangan kemerdekaan yang berbelok ke arah pencarian untung semata.

Novel Bukan Pasarmalam ini pernah dilarang pada tanggal 30 November 1965. Namun juga pernah diterbitkan di berbagai penerbit di kurun waktu yang berbeda, di antaranya:

1. Balai Pustaka, 1951, 1959 (Bukan Pasarmalam), edisi Indonesia
2. Yayasan Kebudayaan Sadar, 1964 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
3. Journal Indonesia no.15, April 1973, (It's not An All Night Fair), edisi United States
4. Abbas Bandong, 1976 (Bukan Pasarmalam), edisi Malaysia
5. Horlemann, 1993 (Mensch Für Mensch), edisi Jerman; Pent. Diethelm Hofstra
6. De Geus, 1998 (Een Koude Kermis), edisi Belanda; Pent. Alfred van der Helm, Angela Rookmaker
7. Bara Budaya, 1999 (Bukan Pasar Malam), edisi Indonesia
8. De Geus, 2001 (Een Koude Kermis), edisi Breda, Belanda; Pent. Henk Maier
9. Equinox, 2001, (It's not An All Night Fair), edisi Singapore; Pent. C.W. Watson

5 komentar:

Alexandra Esther mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
ford amanda mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Zainab Omar mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Williams Anderson mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
ornelas mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon