Sabtu, 19 Maret 2016

[Resensi] Si Bolang: 7 Cerita Seru di Negeri Buah Merah - Veronica W


Judul buku: Si Bolang: 7 Cerita Seru di Negeri Buah Merah
Penulis: Veronica W.
Ilustrator: InnerChild
Penyunting: Pradikha Bestari
Perancang sampul & Penataletak: Deborah Amadis Mawa
Materi: Tim Liputan Si Bolang Trans7
Foto: Dok. Si Bolang Trans7
Penerbit: Kiddo (Imprint Penerbit KPG)
Tahun terbit: 2015
ISBN: 978-979-91-0986-6
Book available at: Bukupedia.com





BLURB

Salam bocah petualang!

Yuk, ikut bertualang denganku, Si Bolang, di Papua, Negeri Buah Merah.

Aku akan mengenalkanmu dengan sahabat-sahabatku di sana.

Lalu, kita bikin noken bersama-sama, main kole-kole, barapen atau bakar batu, main perang-perangan dengan sumpit, berburu dan pesta karaka, nyam!

Eh, kita juga bisa membuat rumah honai yang seperti rumah jamur para kurcaci di Negeri Dongeng, lo.

Dan, jangan lupa, kita bisa menikmati pemandangan alam Negeri Buah Merah yang luar biasa cantik.

Sst... Koleksi juga boneka kertasku, ya!


RESENSI

Bolang sedang berjalan kaki sepulang dari sekolah ketika tiba-tiba seorang nenek tanpa sengaja menyiram Bolang. Tas Bolang jadi basah demikian juga peta di dalam tasnya. Sang nenek pun mengganti peta Bolang dengan 'peta spesial'. Ternyata peta itu dapat membawa Bolang ke tempat-tempat yang diinginkannya.
Nah kira-kira ke mana saja Bolang berpetualang?

1. Noken untuk Ibu - Sugapa

Karena tasnya basah, Bolang memutuskan untuk memakai noken Papua milik ayahnya. Tapi ternyata noken itu tidak diketemukannya. Maka peta ajaib milik si nenek membawa Bolang ke Sugapa, yaitu sebuah distrik di Kabupaten Intan Jaya yang terletak di dataran tinggi, 1.600-2.500 meter di atas permukaan laut. Di sana Bolang belajar cara membuat noken dan mendinginkan daging dengan kulkas alam.

2. Berburu Karaka ke Mimika

Bolang pulang dari latihan bola dengan perut lapar, sebenarnya ia diajak teman-temannya untuk makan bubur bersama, tapi Bolang ingat kepiting Karaka oleh-oleh dari Ayah. Sayang, tidak ada karaka tersisa di meja makan. Karena kesal dan ingin makan karaka, Bolang pun terisap masuk ke peta dan tiba di Mimika Barat. Di Mimika yang berupa daerah pesisir, Bolang bukan hanya mencari karaka tapi juga tambelo, cacing yang hidup dalam batang kayu bakau yang sudah mati. Bolang juga belajar membuat tauri dan naik kole-kole serta melihat Soa-soa.

3. Barapen Perdamaian dari Ayamaru

Teman-teman Bolang bertengkar dan Bolang ingin mendamaikan mereka. Saat Bolang melihat batu-batu di sekeliling kolam, Bolang ingat pada tradisi bakar batu di Papua untuk mendamaikan perang. Maka Bolang pun dengan bantuan peta ajaib tiba di Ayamaru, Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Di sana Bolang belajar tradisi barapen atau bakar batu, makan Buah Merah, juga mengobati pegal dengan Daun Gatal Papua.

4. Tukar Sumpit di Prafi

Saat sedang menikmati mi ayam di kantin dengan sumpit, Bolang teringat pada anak-anak Prafi di Papua. Berbekal sumpit mi ayam, Bolang pergi ke Prafi dengan peta ajaib. Distrik Prafi terletak di Pegunungan Arfak di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Di sana terdapat suku Hatam yang pandai berburu dan menjebak binatang di hutan. Bolang ikut bermain noneam atau perang sumpit bersama anak-anak Prafi. Bolang juga ikut melakukan molo-molo atau menangkap ikan dengan menyelam dan melihat binatang kuskus yang dilindungi serta bermain rakit pisang. Sayang karena harus buru-buru pulang, Bolang tidak sempat makan papeda, makanan pokok di Papua.

5. Tifa Penyemangat dari Asmat

Tim bola Bolang berhasil menang 1-0 di pertandingan. Bolang merasa bersemangat karena ada penonton yang menabuh tifa. Merasa penasaran pada tifa, Bolang pun menuju Sawaerma dengan bantuan peta. Sawaerma adalah sebuah distrik yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Asmat, Provinsi Papua. Bolang diajak ikut menari Pokombi, sebuah tarian khas yang diiringi tabuhan tifa. Selain itu Bolang ikut membakar kulit siput untuk mengecat perahu hias, menyaksikan tradisi bakar perahu, mengemas sagu, juga melihat cara membuat anyaman dari daun tapin.

6. Rumah Jamur Beratap Alang-Alang

Adik Bolang merengek minta dibuatkan rumah jamur yang ditinggali para kurcaci seperti dalam dongeng. Duh, ke mana Bolang harus belajar membuat rumah jamur? Bolang pun masuk ke peta dan tiba di tengah-tengah permainan sikoko, permainan yang menggunakan rotan dan tombak. Oh ternyata Bolang ada di kampung Obia yang terletak di Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Kampung ini terletak di Lembah Baliem. Di sana Bolang ikut memberi makan burung kasuari dan mengikuti upacara adat Wampaliogo dan upacara osilo. Setelahnya Bolang mencari alang-alang jenis osiluk di Bukit Insnubaga untuk bahan membuat atap honai. Namun saat hendak pulang, Bolang sempat ketakutan melihat ada mumi leluhur berwarna hitam yang diletakkan di dalam honai.

7. Kejutan di Akhir Cerita

Ayah Bolang mengalami sakit tekanan darah tinggi, maka Bolang pun berniat mencari obatnya. Bolang teringat pada sarang semut yang bisa didapatnya di Papua. Bolang tiba lagi di Ayamaru dan terkejut karena menjadi sasaran permainan tembak terong. Sebelum mencari sarang semut, Bolang membantu Bapa Jekson membuat tabob atau kaleng berasap untuk mengusir binatang buas. Di tengah perjalanan, Bolang makan daun pakis untuk mengganjal perutnya yang lapar hingga akhirnya Bolang berhasil mendapatkan sarang semut untuk mengobati penyakit ayah.

---------

Pasti sudah banyak yang mengenal Bolang alias Bocah Petualang, kan? Bolang merupakan salah satu program acara Divisi News Pemberitaan Trans7 yang memotret kehidupan anak-anak di seluruh pelosok Indonesia.
Program ini sering meraih penghargaan, salah satunya adalah KPAI Awards 2015 sebagai Program Ramah Anak.

Buku ini sangat informatif dan disusun dengan apik. Penyajiannya berupa cerita perjalanan Bolang dengan memo tersendiri yang memuat informasi khusus.
Tata letaknya menarik, ilustrasinya yang lucu, diimbangi dengan foto-foto yang seru dan cantik. Yang lebih asyik lagi, seusai bertualang dengan Bolang, ada kuis yang beragam yang bisa dimainkan oleh anak-anak. Hal ini bisa untuk membantu anak semakin memahami cerita dan semakin bersemangat menjelajah bersama Bolang.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari ketujuh cerita pendek bertabur informasi dalam buku ini. Bahwa masyarakat Papua sangat bergantung pada alam tapi tidak berlebihan dalam memanfaatkan alam dan menjaga alam dengan sebaik-baiknya.
Mulai dari permainan, bahan makanan dan obat-obatan, peralatan sehari-hari hingga cara pengawetan pun semua bersumber dari alam. Betapa sesungguhnya alam telah berbaik hati menyediakan segala kebutuhan kita dan sebaiknya kita membalas jasa alam dengan menjaga sebaik-baiknya.

1 komentar:

Alexandra Esther mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon