Rabu, 28 Oktober 2015

[Resensi: Remember Dhaka - Dy Lunaly] Menemukan Jati Diri di Kota Dhaka


Judul buku: Remember Dhaka
Penulis: Dy Lunaly
Penyunting: Ikhdah Henny
Penerbit: Bentang Belia (PT. Bentang Pustaka)
Tahun terbit: Januari 2013 (cetakan pertama)
Tebal buku: vii + 204 halaman
ISBN: 978-602-9397-64-2



BLURB

Di antara dunia baruku yang absurd,
aku menemukanmu.

Di antara semrawutnya kota ini, kamu datang seperti peri.

Kurasa, kamu jadi alasan terbesarku
bisa dan mau bertahan di sini.

Dhaka, tak pernah sekali pun terpikir olehku sebelumnya.

Bersama kamu, aku bisa menemukan diriku.

Karena kamu, kota ini jauh lebih hidup di mataku.

Jadi, tetaplah di sini.
Tetaplah indah seperti peri.

RESENSI

Bagi Arjuna Indra Alamsjah tak ada hal yang bisa mengalahkan kekayaan dan kekuasaan keluarganya, The Alamsjah. Maka ketika ia lulus dengan nilai yang sangat pas-pasan, ia tenang saja. Uang ayahnya pasti bisa membeli kampus manapun untuknya. Tapi, kakaknya, Agni, menolak pemikiran itu.
Merasa Arjuna terlalu menyepelekan hidup, Agni berniat mengirimkan adik semata wayangnya itu untuk mengikuti volunteer trip ke Dhaka. Tadinya Juna menolak mentah-mentah tawaran kakaknya dan memilih kabur dari rumah.
Tapi Juna lupa, tanpa uang ayahnya, ia bukan siapa-siapa. Teman-temannya menjauh karena kartu-kartu dan rekeningnya dibekukan. Dan Juna pun setuju untuk pergi ke Dhaka dan menjadi volunteer selama sebulan.
Siapa sangka, setibanya di Dhaka, ia bertemu seorang peri, atau lebih tepatnya seorang cewek yang mirip peri. Emma, meskipun lebih muda darinya, ternyata telah mengikuti Dhaka Education Project dan menjadi volunteer sejak usia 13 tahun.
Apakah Juna yang sejak kedatangannya ke Dhaka selalu mengeluh itu sanggup bertahan? Akankah ia menuntaskan tugas sukarelawannya atau memilih pulang sebagai pecundang? Apakah ia akan berubah atau tetap menjadi Juna yang mendewakan harta keluarganya?

--------------------

Ketika saya pertama melihat novel ini mejeng di rak toko buku, saya langsung jatuh cinta dengan judul dan kavernya. Padahal saya nggak ada gambaran sama sekali tentang jalan cerita novel ini akan seperti apa, karena blurb-nya yang mengambang.
Tapi toh saya beli juga dan kaget membaca awal kisahnya.

Sumpah, di bab awal, saya rasanya pengin nyeburin Juna ke Kali Code pas banjir lahar dingin, karena sombongnya selangit. Haha...
Karakternya yang semau gue dan nggak peduli terhadap orang-orang di dekatnya itu nyebelin banget. Saya rasa dari segi ini, Dy Lunaly sukses membuat tokoh yang nggak beres dan harus dirombak kepribadiannya.
Tapi, Juna ini baru berasa cowok ketika menggunakan bahasa lo-gue. Begitu Juna ber-aku-kamu, Juna jadi kehilangan 'suara' dan jiwa cowoknya. Dan lagi, ketika Juna beberapa kali menyebut orang yang lebih tua dengan kata 'beliau' saya jadi merasa Juna nggak brengsek-brengsek amat. Lah itu, masih sopan sama orang yang lebih tua. ^^

Tema yang menarik dan setting yang unik, membuat saya jatuh cinta pada Remember Dhaka. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang Juna, saya diajak mengamati metamorfosisnya. Meskipun saya rasa kesadaran diri Juna agak terlalu cepat datangnya.

Sesuai dengan judulnya, Remember Dhaka, novel ini menyuguhkan setting Dhaka yang kuat. Pastinya Dy Lunaly telah melakukan riset yang benar-benar mendalam karena kota ini dideskripsikan dengan begitu detail. Saya nggak cuma mendapati lokasi-lokasi yang samar tapi lokasi yang tergambar dengan jelas.

Hampir sebagian besar dialog tokohnya menggunakan bahasa inggris. Bagi saya sendiri itu nggak masalah, tapi untuk beberapa murid remaja saya yang meminjam buku ini, saya sempat diprotes karena mereka nggak paham saking banyaknya kalimat inggris yang panjang. Untungnya saya guru yang baik hati *preet*, jadi saya bisa sekalian menjelaskan makna kalimat dan beberapa grammar yang salah. Haha...

Buat kalian yang ingin membaca novel ringan dengan setting yang berbeda dan unik, baca deh Remember Dhaka. Ada selipan petuah yang membuat kita berpikir ulang apakah benar hidup itu nggak adil sama kita :')

TEBAR-TEBAR QUOTE

"Juna, kamu jangan berekspetasi macam-macam, tapi juga jangan langsung underestimate sama tempat tujuan kamu. Percaya sama Kakak, setisp tempat pasti menyimpan keindahannya sendiri. Begitu juga India dan Bangladesh." (hlm. 30)

"Hidup udah begitu baik kepadaku, apa yang bisa aku berikan?" (hlm. 70)

"Kita yang menciptakan tempat untuk diri kita sendiri, Jun. Selama kita berpikir ini bukan tempat kita, selamanya akan berakhir seperti itu. Tapi, kalau kamu mau berusaha sedikit lebih keras, kamu bakal tahu bahwa ini tempatmu." (hlm. 77)

"Hidup ini selalu tentang mengeja ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk ikhlas menerima kondisi apa pun yang ada dalam hidup kita." (hlm. 99)

"Caring for the other is like a drop of water. It will make ripples troughout the entire pond. Kebaikan menyebar dan akan terus menyebar. Dan, yang paling penting itu bertahan dan akan menjadi bagian dari orang itu." (hlm. 151)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon