Selasa, 19 Januari 2016

[Resensi: Dua Cinta Negeri Sakura - Irene Dyah] Keresahan Miyu di Antara Akal Sehat dan Hati


Judul buku: Dua Cinta Negeri Sakura
Penulis: Irene Dyah
Editor: Gita Savitri
Desain sampul: Mia Sekartaji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Maret 2015
Tebal buku: 181 halaman
ISBN: 978-602-03-1269-9



BLURB

Seandainya aku tidak ke Solo waktu itu...seandainya nasib tidak membawaku bertemu pria itu...aku pastilah tetap menjadi Miyu Hasegawa yang normal. Gadis Jepang biasa yang hidup dalam irama tetap barangkali monoton, tapi toh, menikmatinya. Tapi sekarang? Aku bersandar di tempat tidur kanak-kanak yang bukan milikku, rambut semrawut, hati dan otak lebih semrawut lagi. Memelototi Crazy Stupid Love di TV tanpa suara dengan mata sembap. Meratapi dan mengasihani diri sendiri, jatuh hati pada pria yang salah.

Hidup Miyu yang tenang mendadak absurd karena kehadiran Scott , fotografer yang sering terlena menatap Miyu menari di pentas, melupakan kamera di tangannya. Lebih absurd lagi, Miyu harus menyembunyikan identitas pria itu dari kedua sahabatnya: Aliyah; istri dan ibu yang masih kerepotan mengurus hijab barunya, serta Ajeng; gadis metropolis yang nyinyir pada pernikahan.

Kala akal sehat tidak sejalan dengan hati, mana yang Miyu pilih? Lepas dari Scott yang tidak kenal kata menyerah, atau merelakan diri hanyut terbawa pesona yang begitu memabukkan?

Dan ketika Masjid Camii Tokyo mempertemukan Miyu dengan sang Bintang Fajar, sungguhkah Miyu telah menemukan happy ending-nya?

Jangan kamu melepaskan gunung permata di tanganmu hanya karena tergiur ingin memungut satu butir kecil batu yang tercecer. —Miyu Hasegawa


RESENSI

Miyu Hasegawa merasa serba salah saat Scott masih terus saja berusaha menemuinya. Kali ini Scott menawari Miyu agar bersedia difoto secara profesional oleh Scott. Miyu berusaha menolak, tapi Scott memang sulit dihentikan. Pria itu bisa keras kepala meski sebuah cincin pernikahan telah melingkar di jari pria itu.
Miyu pun tak bisa meluapkan keresahannya pada kedua sahabatnya, Aliyah dan Ajeng, karena Scott ternyata adalah sahabat Aliyah juga. Ia pun memutuskan merahasiakan identitas Scott dari Aliyah dan Ajeng.
Tapi sebuah insiden menimpa istri Scott dan rahasia mereka pun terkuak. Miyu semakin gelisah melihat labilnya perasaan manusia yang diperlihatkan oleh istri Scott, namun di lain pihak ia pun melihat kekuatan spiritual Aliyah yang semakin kuat. Miyu sadar bahwa mendalami agama membuat manusia menjadi stabil.
Di tengah usahanya melupakan Scott, dan rasa penasarannya pada agama Islam, Miyu dipertemukan dengan Thariq, sang Bintang Fajar. Sahabat-sahabatnya sangat mendukung Miyu untuk meraih bintang fajar itu, tapi benarkah hati bisa sedemikian mudah berpindah? Akankah Miyu menerima Thariq? Dan akankah Miyu menemukan kedamaian hati seperti yang dirasakan Aliyah?

-------------

Dua Cinta Negeri Sakura merupakan sekuel dari novel Tiga Cara Mencinta, yaitu kisah tentang tiga orang sahabat: Aliyah, Miyu dan Ajeng.
Sayangnya saya belum sempat membaca buku pertamanya, dan dengan pede langsung melongkap buku yang kedua ini. Ini karena yaah... kaver Dua Cinta Negeri Sakura lebih mengundang dan menggiurkan. (Maafkan alasan cetek saya ^^) Saya memang mudah tergoda pada kaver novel. Lagipula saya kira saya akan mudah mencernanya meski belum membaca Tiga Cara Mencinta.

Tapi saya salah. Huhuuu~ ternyata tetap saja ada bagian yang nggak saya mengerti. Loh, kenapa begini? Lha, emang sebelumnya gimana? Terutama apa yang terjadi di Solo???
Ini karena rangkuman cerita sebelumnya cuma sedikit dan samar-samar, jadi saya pun mencoba meraba-raba masa lalu tiga sekawan ini.

Setting yang digunakan novel ini yaitu di Tokyo dan Bangkok saya rasa juara banget. Bukan hanya deskripsi tempat tapi juga nuansa sosial budayanya disajikan sebagai pelengkap. Apalagi dengan kalimat-kalimat bahasa Jepang dan Thai yang digunakan para tokohnya, settingnya jadi kuat banget.

Novel ini menggunakan POV orang ketiga dan mengalir dengan lumayan cepat. Dan diksi yang digunakan Irene Dyah sangat lincah dan menggelitik, beberapa kali saya tersenyum karena istilah ajaib yang digunakannya. Dialognya juga segar dan seru, terutama dialog Ajeng yang gokil parah.

Di antara ketiga sahabat ini saya tahu saya memang paling suka dengan Ajeng. Ceplas-ceplos dan apa adanya banget. Pengeeeen punya sahabat kayak dia. :)
Karakter Miyu memang lebih kalem dan sederhana dibanding yang lain, tapi ternyata punya tekad dan pendirian yang nggak main-main. Saya yang memang nggak suka tokoh yang terlalu kalem dan pasrah malah suka dengan Miyu karena meski kalem tapi logis dan punya harga diri.
Chemistry mereka bertiga asyik banget dan bikin iri. Dialognya lepas dan terasa dekat karena begitu mirip dengan percakapan yang biasa saya lakukan dengan teman-teman saya. Seru!
Sementara Scott, kok ya saya nggak bisa sebel sama dia, malah jatuh cinta. #waaks
Scott ini lucu, keras kepala dan dewasa. Saya langsung suka ketika dia ngobrol dan menasehati Aliyah. Sayang sudah beristri. *manyun*

Sayangnya konflik Miyu-Scott-Thariq ini serasa masih kurang dalam. Saya malah pengen melihat sendiri frustasinya Scott menghadapi sifat istrinya, bukan hanya dari kata-kata Scott pada Miyu. 
Dan kisah Aliyah sepertinya mengambil porsi lumayan besar di novel ini. Jadi novel ini bukan hanya tentang kisah cinta Miyu dan ujung dari kegalauannya tapi juga kisah penyempurnaan spiritual Aliyah.
Dan saya suka bagaimana Irene Dyah memasukkan spirit Islami dengan setahap demi setahap dan begitu halus. Nggak ada kesan ceramah, dakwah ataupun menggurui dalam novel ini. Kemantapan Aliyah, keraguan Miyu dan keengganan Ajeng, saling mengimbangi dengan pas.

Overall, saya suka novel ini, karena bukan hanya menyajikan kisah cinta dan persahabatan yang asyik, tapi juga memberi pandangan spiritual yang unik. Dan tampaknya saya perlu membaca buku pertama dan ketiganya untuk menambal rasa pemasaran saya. :)

2 komentar:

Scarlet mengatakan...

Resensi yang menarik, jadi pengen baca juga. Tapi kayanya mesti baca yang pertama dulu kali ya.
Salam kenal mba. :)

www.gramedia.com

nurina widiani mengatakan...

Terima kasih. Yap, saya sih menyarankan baca yang Tiga Cara Mencinta lebih dulu :)

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon