Rabu, 28 September 2016

[Resensi] Owning The Beast - Alexa Riley

Judul buku: Owning The Beast
Penulis: Alexa Riley
Penerbit: CreateSpace Independent Publishing Platform
Tahun terbit: Januari 2014
Tebal buku: 100 halaman
ISBN: 9781508602477



BLURB

When Annabella Blanca finds herself on the doorstep of her new home, she is terrified, yet hopeful of what her new life will be. 

Griffin Stone has locked himself away from the world. One minor mix-up, and all his carefully built walls come crashing down. 

When love finds its way in to even the darkest of hearts, will it be enough to stand the greatest tests? Can beauty own the beast?


RESENSI

Setelah kematian ayahnya, Annabella tak tahu harus pergi ke mana. Selama ini ia selalu dijaga ketat oleh ayahnya sehingga tak paham dunia luar. Itu karena tinggal di Meksiko yang penuh dengan kejahatan, membuat ayahnya selalu memproteksinya.
Namun kini, Annabella yang berjuang untuk hidup berakhir di sebuah agen penyedia jasa wanita penghibur. Sebagai perawan, ia dikirim kepada seorang klien yang menginginkan calon pengantin wanita. Berpikir bahwa menjual diri kepada satu lelaki lebih baik daripada menjual diri kepada banyak lelaki, Annabella menerimanya. Maka berangkatlah ia ke kediaman Griffin Stone.
Namun rupanya terjadi kesalahpahaman. Seperti biasa, Griffin meminta seorang pelacur kepada agen tempat Annabella bernaung. Alih-alih mendapatkan pelacur, Griffin justru mendapati seorang gadis polos dan perawan. Ketika ia mengetahui kesalahan yang telah terjadi, Griffin bertekad mempertahankan Annabella. Bahkan meski ia harus bertarung dengan klien Annabella yang sebenarnya.

---------------------

Masih dalam rangka ketagihan baca karya Alexa Riley, saya akhirnya membaca Owning The Beast. Kisah yang temanya berdasar dongeng favorit saya Beauty and The Beast. Karena saya memang tergila-gila pada ide cerita dongeng ini. Bagi saya kisah cinta antara si cantik dan si buruk rupa ini begitu romantis dan manis. Maka, saya pun nggak ragu untuk membaca Owning The Beast.

Seperti kebanyakan novel Alexa Riley yang telah saya baca, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Annabella dan Griffin. Porsinya berimbang dan masing-masing saling mengungkapkan isi hati dan perasaan mereka. Meski lagi-lagi, sang hero dan heroine dibuat sebatang kara. Nasib yang monoton ini lama-lama mulai membosankan juga. Lagi-lagi heroine yang kesepian, lagi-lagi heroine yang harus mencari tempat untuk bergantung, dan lagi-lagi seolah dunia begitu sempitnya dan hanya berisi sang hero dan heroine. Dengan tambahan seorang tetragonis dan antagonis tentunya.

Saya suka karakter Griffin. Yah pastilah ya, Griffin ini kan karakter yang Beast banget. Suka marah, main perintah, kasar, tapi aslinya dia kesepian. Dan kalau sudah mencintai seseorang, dia mau bersikap manis dan gentle banget. Seperti itulah Griffin. Awalnya dia brengsek banget. Tapi begitu udah ngerasain malam pertama dengan Annabella, dia mulai luluh. Mulai jadi manis. Mulai siap melakukan apa saja demi Annabella.
Sayangnya, karakter Belle yang cerdas dan mandiri itu nggak ada dalam diri Annabella. Memang sih Annabella berani melawan kehendak Griffin, berani nunjukin apa yang dia mau, tapi tetap saja kekuatan tekadnya nggak sebesar Belle.
Dialog antar kedua tokoh juga terlalu biasa, kurang greget dan tanpa makna. Chemistrynya cukup lumayan. Saat berdua, Annabella dan Griffin cukup manis juga. Tapi karena adegannya klise banget, jadinya ya kurang berkesan. Nggak terlalu romantis juga dan masih kalah manis dibanding My New Step-Dad. Mungkin karena di novel tersebut tarik-ulur antar kedua tokohnyalah yang membuat cerita jadi menarik.

Hal yang paling bikin saya sebal adalah betapa mudahnya semua terselesaikan bagi sang hero dan heroine. Puncak konfliknya memang menegangkan, ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Alexa Riley dengan konflik yang berasal dari luar. Bukan lagi sekedar perang batin ya atau tidak bagi hero dan heroinenya, tapi benar-benar muncul sesosok antagonia yang mengancam kebahagiaan kedua tokoh utama. Namun sayangnya, penyelesaiannya begitu sederhana dan mudah. Seolah nggak ada hukum, semuanya beres pokoknya. Saya jadi bertanya-tanya Griffin ini masa bisa sebegitu berpengaruhnya hingga bisa menyelesaikan masalah hanya dengan berkedip.
Banyak kejanggalan yang nggak masuk akal juga berkaitan dengan meninggalnya orangtua Griffin dan bagaimana Griffin bisa mengetahui siapa dalang di balik kematian orangtuanya. Aneh dan terlalu mengada-ada bagi saya.

Well, sebagai pencinta kisah Beauty and The Beast saya menganggap Owning The Beast bukanlah adaptasi terbaik. Terlalu banyak plot hole dan konflik yang kurang greget. Tapi paling tidak saya menikmati cerita ini sebagai kisah yang manis tentang seorang heroine yang mau menerima kekurangan sang hero, dan bagaimana sang hero mengatasi ketakutannya untuk kemudian berani berjuang. Adegan panasnya juga seru dan bikin panas dingin. Yang pasti smutnya khas Alexa Riley banget.
Membaca novel ini memberi ide pada saya untuk berburu novel dengan tema Beauty and The Beast yang lain. Hmm... kira-kira novel adaptasi dongeng ini mana yang bagus dan layak untuk dibaca ya? Yah, mari berburu mulai dari sekarang.

2 komentar:

Ila Rizky mengatakan...

ternyata di luar juga ada yang pakai dongeng ini buat dibikin novel ya, mba ina. kirain cuma astrid zeng aja yang tertarik bikin berdasarkan kisah beauty and the beast, hihi. penasaran euy.

nurina widiani mengatakan...

Iya, Mbak Ila.. Hehe.. Beauty and the beast memang kisah cinta sepanjang masa, ya, jadi pasti ada saja yang bikin cerita berdasar dongeng itu. Saya sih nggak pernah bosan sama ceritanya :)

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon