Tampilkan postingan dengan label #31HariBerbagiBacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #31HariBerbagiBacaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Oktober 2016

[Resensi] Love Bites - Edith PS

Judul: Love Bites
Penulis: Edith PS
Editor: Veronica B Vonny
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Oktober 2014
Tebal buku: 200 halaman
ISBN: 9786020309446



BLURB

Vania:
“Percayalah, kalau diizinkan memilih, aku ingin menghabiskan sepanjang hariku di sofa, menonton dvd komedi keluarga Modern Family sambil menikmati sundae dan bercengkerama dengan Cherish. Sayangnya...”

Ivan:
“Ini bukan tentang gue mengerti atau tidak soal pekerjaannya, tapi tentang bagaimana seorang suami menjadi sandaran bagi istrinya yang butuh pendengar. Gue ingin bisa diandalkan olehnya.”

Apa yang terbayang saat mendengar fenomena Alpha Wife dan Beta Husband? Tentang bagaimana pernikahan diusahakan ketika terjadi pertukaran peran antara suami dan istri. Tentang dominasi istri—dari segi finansial dan pengambilan keputusan—dan peran baru laki-laki sebagai stay-at-home husband.

Selamat datang di kehidupan Ivan dan Vania. Pasangan muda dengan satu anak perempuan berusia lima tahun, yang dipenuhi beragam dinamika pernikahan kaum urban di era modern: gaya hidup, stigma sosial, kodrat, idealisme, skala prioritas, inferioritas, pelarian... Sampai akhirnya keduanya yang semula mempermasalahkan perbedaan, yang awalnya diyakini menyatukan mereka, mulai saling menyalahkan.

In fact, love is not that blind. It even bites!


RESENSI

Saya tertarik membaca Love Bites karena ide ceritanya yang menarik. Tentang Alpha Wife dan Beta Husband. Bisa dibilang saya akrab dengan isu ini karena beberapa orang yang saya kenal menjalani peran yang sama. Ya, saya mengenal para Alpha Wife dan juga para Beta Husband. Itu sebabnya saya membaca novel ini untuk mencoba membandingkan dunia nyata dan dunia fiktif yang ada dalam genggaman sang penulis.

Love Bites dikisahkan dengan menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Ivan dan Vania. Masing-masing mendapat porsi bergiliran satu bab, dengan jumlah halaman yang cenderung singkat. Pace yang cepat dan bab yang singkat, membuat novel ini mudah dibaca tuntas dalam sekali duduk. Setting metropolitannya sangat terasa, mulai dari kesibukan, gaya hidup dan pola pikir para tokohnya.

Bicara soal karakter, sorry to say, I hate them all. Saya nggak suka pada Vania yang tampak egois, nggak bisa dibantah, mengambil keputusan sendiri, menganggap dirinya super dan telah mengorbankan segalanya. Saya tahu karakternya memang dibuat dominan, tapi para alpha wife yang saya tahu nggak pernah sekali pun merendahkan suaminya. Mengeluh ya, tapi nggak pernah mengungkit bahwa uangnyalah yang bicara. Ya ampun kalau hal ini dibalik dan suami saya mengatakan hal-hal jahat yang Vania katakan, saya bisa sakit hati.
Dalam rumah tangga, terlepas siapa yang mencari uang (yang telah diputuskan dari diskusi bersama), nggak tepat rasanya mengungkit uang yang sudah dikeluarkan. Terlebih menimbang pengorbanan siapa yang lebih besar. Ini rumah tangga, bukan perusahaan. Sungguh sakit hati saya membaca novel ini.
Lucunya, saat Vania memberi nasihat pada Kika saat Kika ragu untuk menikah, menurutnya Kika harus berdiskusi dengan Haris. Saya pengin teriak bullshit. Kapan kamu sendiri melakukan diskusi dengan Ivan, Vania? Yang ada Vania bikin keputusan dan Ivan nurut-nurut aja. Bah!

Ivan sendiri juga sama menyebalkannya. Idealismenya terasa konyol. Okelah ia tidak mampu berbisnis, tidak secemerlang Vania, tapi masa sebegitu gegabahnya berbisnis dengan orang tanpa menyelidiki track recordnya? Dan saya menyesal karena si pria yang katanya idealis ini nggak mempertahankan idealismenya. Sebagai penulis, ketika karirnya mentok dan naskahnya ditolak, ia menyerah. Pasrah. Begitu saja. Duh nangis saya bacanya.

Dan yang paling membuat saya sakit hati adalah kejadian yang menimpa Ina, kakak Ivan. Saat Ina muncul, ditampilkan sebagai sosok yang berkebalikan dengan Vania, saya berharap akan mendapat keseimbangan. Bagai dua sisi mata koin. Meski sama-sama pintar dan cemerlang, jalan mereka menerjemahkan arti diri sebagai istri dan ibu begitu berbeda. Namun deskripsi yang dibuat Edith tentang Ina menyakiti hati saya (sumpah alasan saya bukan karena namanya sama dengan saya).

Gue melirik Mbak Ina. Dia memakai daster longgar. Wajahnya berminyak. Kalau gue mencium ketiaknya, mungkin aroma dapur atau paling parah asam cuka yang menguar. Gila! (hlm. 143)

Gosh! Sebel banget saya sama kalimat tersebut. Menyedihkan ya jadi ibu rumah tangga full time? Harus dinilai secara fisik seperti itukah? Dan puncaknya adalah nasib Mbak Ina sang istri yang penuh pengabdian itu dibuat ngenes dan seolah itu salah si istri! Damn!!

Mbak Ina lalu menceritakan alasan Mas Baskoro mengkhianatinya—tanpa kuminta. Dari penjelasannya yang penuh jeda isakan, kusimpulkan bahwa Mas Baskoro selingkuh karena bosan. Tidak ada gairah lagi seperti dulu.
Mbak Ina yang dulu begitu cemerlang, atraktif, kini berubah jadi ibu rumah tangga yang meja riasnya berdebu saking lamanya tak terpakai. Mbak Ina seolah lupa cara berdandan. Sehari-harinya Mbak Ina mengabdikan diri sebagai ibu rumah tangga, yang akrab dengan daster, bumbu masakan, dan lap pel.
Menyambut Mas Baskoro pun tidak ada beda. Sudah sedemikian lama Mas Baskoro menghindari hubungan ranjang. Jangankan Mas Baskoro, aku pun sempat takjub dengan pilihan yang diambil Mbak Ina. (hlm. 171)

Sedih ya? Padahal yang salah kan Baskoro, tapi kesalahan ditimpakan pada istri yang nggak mau merias diri. Jujur saya di rumah juga nggak pakai rias-riasan, meja rias aja nggak punya. Lalu apa suami saya bosan? Apa nilai saya jadi rendah dan layak ditinggal. Oh betapa sempitnya pemikiran Vania.

Dan endingnya.... yah okelah. Asal Vania bahagia. Tendang saja si suami yang nggak berguna. Dan selamat datang pria seksi setampan Hideaki Takizawa.
Hal terbaik dalam novel ini hanya Cherish. Itu saja. Selebihnya, saya nggak related sama novel ini.

Selasa, 11 Oktober 2016

[Resensi] Loving The Beast - Skye Warren

Judul buku: Loving The Beast
Series: Beauty
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: April 2015
Tebal buku: 116 halaman
ASIN: B00TZAB6LI



BLURB

The sexy journey began in Beauty Touched the Beast and continued in the Beauty series. Now read the breathtaking conclusion in this epilogue novella from New York Times bestselling author Skye Warren...

Since their forbidden beginning, Erin and Blake's relationship has been marked by deep sensuality and intense emotion. Each challenge only makes them stronger, and Blake is ready to take his new fiance to meet his family. And to meet hers.

Home holds secrets for them both. A dark legacy threatens everything they've worked to build. When old debt comes between them, both Blake and Erin must fight to protect each other--and their love.


RESENSI

Blake masih saja dihantui oleh mimpi buruk. Setiap malam ia mendapat mimpi buruk dan nyaris melukai Erin. Blake sadar ia membuat gadis itu ketakutan. Padahal ia tak ingin membuat Erin takut, terutama di saat Blake akan membawa Erin menemui kedua orangtuanya.
Erin dan Blake ingin menyingkap apa yang sebenarnya pernah dialami oleh ibu Erin di rumah orangtua Blake saat masih bekerja di sana sebagai pelayan. Rahasia yang tersimpan bertahun-tahun. Saat semua terungkap, masihkah mereka sanggup bertahan?

--------------------------------


Loving The Beast adalah sebuah epilog yang sangat sempurna dari serial Beauty. Dari keempat novella sebelumnya nggak ada yang sedalam, seseksi dan semanis novella ini. Jika sebelumnya saya kecewa dengan novella keempat, Beauty Becomes You, kali ini saya nggak ragu untuk memberi lima bintang untuk Loving The Beast.

Novella ini diawali dengan adegan peperangan terakhir Blake. Tepat di detik-detik menjelang ia terluka, secara fisik dan jiwa. Hal yang membuatnya terus mengalami mimpi buruk. Penderitaan Blake karena mimpi buruknya, dan apa akibatnya bagi hubungannya dengan Erin, terasa dark dan menyesakkan. Kali ini Blake bukan hanya harus menghadapi rasa insecurenya, tapi juga rahasia yang disimpan orangtuanya serta hantu mimpi buruknya.
Saya takjub dengan cara Skye Warren bertutur. Kalimatnya begitu indah dan penuh kedalaman rasa. Membuat saya benar-benar merasakan kepedihan dan perasaan para tokohnya. Padahal novella ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi saya seolah sangat mengenal Blake dan Erin. Saya bahkan lupa kalau saya sedang membaca novella bergenre erotica karena plot, diksi, setting dan karakternya begitu kuat dan rapi.

Sejak awal kisah, Skye Warren telah membangun ketegangan saya dengan kegalauan Erin dan firasat Blake saat hendak menemui orangtua Blake. Saya pun telah menyiapkan diri dengan kemungkinan paling klise: penolakan dari orangtua Blake. Tapi rupanya, Skye Warren punya timing dan cara tersendiri untuk menjatuhkan bomnya. Ia tetap menjaga ritme dan memperbolehkan Blake dan Erin beradegan ranjang sepuasnya dulu sebelum meletuskan konflik utamanya. Hah!

Sejak di novella pertama, Beauty Touch The Beast, saya sudah jatuh cinta pada Blake dan Erin. Kini di novella kelima yang menjadi epilog ini, saya tergila-gila. Blake dan Erin makin menunjukkan kematangan dan rasa cinta yang besar. Mereka posesif namun juga protektif secara seimbang. Keinginan untuk saling melindungi yang terasa manis banget.
Erin juga menunjukkan kualitasnya, ia mampu memikat ayah Blake bukan dengan kecantikan atau sesuatu yang dangkal, melainkan dengan kepiawaiannya main catur. Sebuah langkah yang biasanya dilakukan calon mertua pada calon menantu laki-lakinya. Tapi di sini Erin membuktikan diri, bahwa ia punya kualitas. Dan sekali lagi Erin menunjukkan kekuatannya saat mendapat konfrontasi dari ibu Blake. Keberaniannya untuk membela diri, walau hatinya begitu terluka benar-benar luar biasa.
Blake di sisi lain mulai menunjukkan sisinya yang gelap, terdorong oleh rasa posesif dan protektifnya. Perasaan yang ia miliki terhadap Erin begitu kaya.

Who was your first?
She was his first—the first woman he’d loved, the first woman he’d let in. The first woman to truly love him back, and he hated that she’d ever fucking doubted them.

Untuk adegan panasnya, saya rasa inilah yang paling hot bila dibandingkan dengan keseluruhan serinya. Mereka bercinta di mana-mana dan semakin intens. Yang paling epic tentu saja dalam perjalanan pulang dari rumah Blake, saat Blake menuntut Erin memberitahunya apa yang telah dilakukan ibunya hingga Erin terlihat begitu tersakiti. See? Kini Blake bahkan bisa menyadari apa yang salah hanya dari gestur yang dibuat Erin.
Saya nggak bisa menghitung seberapa banyak dirty talk yang diucapkan Blake, yang pasti ada di mana-mana. And I really love it!

Well, membaca serial Beauty menjadi pengalaman yang menyenangkan, dan ini menjadi serial favorit saya. Bukan hanya karena saya terobsesi pada Beast, tapi sebagai erotica, novella ini ditulis dengan sangat baik dan menyentuh.

Senin, 10 Oktober 2016

[Blogtour: Review + Giveaway] Roma - Pia Devina

Judul buku: Roma
Penulis: Pia Devina
Editor: Cicilia Prima
Desainer kover: Teguh
Penata isi: Putri Widia Novita
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: Agustus 2016
Tebal buku: 194 halaman
ISBN: 978-602-375-653-7



BLURB

Chalinda Noemi

Sejak awal, aku tidak yakin bisa merestui pernikahan Mama dengan Terenzio Lambardi, seorang pria berkebangsaan Italia. Tapi, demi kebahagiaan Mama, haruskah aku tetap bersikap egois? Aku ingin Mama bahagia. Mengiyakan rencana pernikahan yang akan berlangsung di Roma—dan mau tidak mau membawaku serta ke Kota Abadi itu.

Maurizio Folliero

Sejak awal, gadis itu tidak tampak menyenangkan. Dingin dan menjaga jarak. Sialnya, aku memerlukan bantuannya untuk membebaskanku dari hukuman yang diberikan orangtuaku. Yang benar saja, aku kan bukan anak kecil lagi. Bersama dengannya ke Ostia Lido, memulai segalanya. Ternyata gadis itu memerlukan pertolongan.

Ryan Watkins

Sejak awal, gadis itu terlihat murung. Kakinya terluka karena menubruk tubuhku. Aku ingin menolongnya. Bukan hanya karena kakinya yang terkilir, tapi karena mendung yang membayangi wajahnya.

*****

Di Roma, kebersamaan telah mengikat Chal dan Maurizio dalam usaha melarikan diri dan upaya mencari jawaban atas jati diri Terenzio. Ryan Watkins pun hadir di antara mereka, siap mengulurkan tangan saat Chal tenggelam dalam kegundahan.

Di Kota Abadi ini lah, sebuah perjalanan tentang kisah cinta, persahabatan, dan keluarga yang rumit telah dimulai. 

RESENSI

Roma. Betapa ajaibnya bahwa saat kita mendengar satu kata atau satu nama kota, banyak hal melintas dalam benak kita. Maka, saat mendengar kata Roma, apa yang terlintas dalam bayanganmu? Kota yang indah? Pria tampan? Ataukah klub sepakbola?
Kalau saya, yang terlintas adalah satu novel karya Pia Devina. Sebuah novel yang mengajak saya bertualang mengunjungi tempat-tempat istimewa dan rahasia yang tersimpan di kota tersebut.

Roma dikisahkan menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian dari sisi Chal dan Maurizio. Pergantian sudut pandang ini terjadi di setiap pergantian bab, sehingga terasa nggak mengganggu dan mudah diikuti. Dengan porsi yang sangat adil, saya dibuat memahami perasaan dan emosi kedua karakter utamanya. Gaya bertutur Pia Devina terasa mengalir dengan pace yang tepat, sayang di beberapa bagian dialog terasa kaku dan adegannya kurang alamiah.
Saya merasa dialog antara Magdalena dan Maurizio masih kurang luwes, saya nggak bisa menangkap kesan mereka sebagai kakak beradik yang doyan bertengkar.

Yang seru dari membaca novel ini adalah setting kota Roma yang ditulis dengan detail dan rapi. Penggambaran tempat, suasana dan atmosfer dilukiskan dengan tepat dan cermat oleh Pia. Seolah saya juga ikut ada di sana dan mengagumi setiap petaknya. Trivia yang diselipkan sangat informatif. Banyak tempat-tempat yang baru saya dengar dan memberi pengetahuan baru. Yang paling saya suka adalah saat Maurizio dan Chal pergi ke Ostia Lido. Tempatnya terasa luar biasa dan bikin saya pengin ada di sana juga. Dan pantai itu juga semakin instimewa saat interaksi Maurizio dan Chal makin dekat. Mereka mulai sama-sama membuka hati untuk satu sama lain.

Chal adalah karakter gadis yang luar biasa cintanya pada sang ibu. Saking sayangnya, ia jadi mudah khawatir, takut ibunya kembali terluka seperti sebelumnya. Namun hubungan ibu dan anak yang katanya sangat dekat itu kurang terlihat dalam novel ini. Saya sebenarnya ingin nelihat pembicaraan mendalam yang dilakukan ibu dan anak. Saat seorang ibu mengambil keputusan untuk menikah lagi tentunya ia akan memberi penjelasan dari hati ke hati pada anaknya, terutama jika sang anak sudah dewasa. Tapi ibu hanya bilang akan menikah lagi dan bahwa Terenzio orang baik. Yang bikin saya sedih adalah saat Ibu menampar Chal di depan banyak orang. Duh, sakit hati saya. Meskipun itu pertama kalinya, tetap saja saya sedih. Dan saya jadi berharap seandainya momen ibu dan anak ini lebih banyak porsinya.
Maurizio menjadi karakter yang menarik. Ia tampil sebagai kakak yang rese, jagoan yang dianggap tukang bikin onar. Tapi ada kelembutan dalam dirinya saat menghadapi anak kecil. Gimana Chal nggak meleleh tuh jadinya?
Sementara Ryan yang saya tangkap adalah cowok yang ramah dan mudah bersahabat. Sayangnya, peran dan karakternya kurang digali. Bahkan porsinya pun nggak begitu menonjol.
Moment terbaik Maurizio dan Chal adalah saat mereka dikejar-kejar geng Oberto. Saya merasa hubungan mereka semakin mencair dan chemistry mulai tumbuh di antara mereka.

Secara keseluruhan, Roma adalah novel yang seru dan menghangatkan hati. Ada petualangan dan ada makna tentang penerimaan di dalam kisah ini. Saya rekomendasikan Roma untuk kalian yang suka bertualang ke kota-kota yang menyimpan tempat-tempat unik dan indah. Menemukan sebuah cinta di sana, pasti akan menjadi petualangan terindah.


***********GIVEAWAY TIME************



Sudah baca review Roma di atas? Gimana? Tertarik mengikuti keseruan petualangan Chal dan Maurizio di Roma?
Kali ini saya diberi kesempatan untuk membagikan satu eksemplar novel Roma untuk satu orang yang beruntung. Ada yang mau?
Caranya mudah kok 😉 :

1. Peserta adalah warga negara Indonesia atau memiliki alamat pengiriman di Indonesia.
2. Follow akun twitter @piadevina dan akun saya @KendengPanali
3. Share info giveaway ini dengan hashtag #NovelRoma dan jangan lupa memention kedua akun di atas.
4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via email, G+ atau GFC yang bisa dilihat di bagian bawah postingan ini. (Optional saja dan nggak memaksa).
5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyebutkan nama | akun twitter | alamat email. Dan pertanyaannya adalah:

Kalau kamu tersesat di Roma kamu maunya tersesat bersama siapa?

Silakan bebas saja jawabannya ya, boleh artis, tokoh fiksi atau anak presiden. *uhuk* 😷

6. Giveaway akan berlangsung selama sepekan dan ditutup pada tanggal 16 Oktober 2016 pukul 23.59 WIB.

7. Jika ada pertanyaan, jangan segan colek saya di akun saya, ya. Good luck :))

*******UPDATE*******

Hai.. Hai.. Akhirnya setelah berlangsung selama sepekan, blogtour dan giveaway Roma telah ditutup. Terima kasih kepada para peserta yang sudah berpartisipasi. Jawaban teman-teman sungguh seru. Jadi bikin saya pengin tersesat di Roma juga :)))

Nah, kali ini lagi-lagi saya minta bantuan Mr. Random untuk membantu saya mendapatkan satu nama pemenang. Ini karena banyak bamget jawaban yang bagus. Dan yang beruntung mendapatkan novel unyu ini adalah:



Ana Bahtera (@anabahtera)

Selamaaaaat!!! Saya tunggu konfirmasi nama, alamat dan nomor telepon kamu di email saya nurinawidiani84(at)gmail(dot)com atau bisa melalui DM twitter paling lambat dalam 2 x 24 jam yaa.

Bagi yang belum beruntung, jangan sedih. Masih akan ada informasi, review dan giveaway buku-buku unyu yang bisa kalian dapatkan di sini, so tetap setia mengunjungi blog ini ya. 😘😘😘

Minggu, 09 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Becomes You - Skye Warren

Judul buku: Beauty Becomes You
Serial: Beauty #4
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: Agustus 2013
Tebal buku: 79 halaman
ISBN: 9781940518008



BLURB

With the end of semester approaching, Erin and Blake decide to lay low. After all, they have all the time in the world after that. Except Blake’s future at the university is up in the air and trouble is brewing back in Erin’s hometown. When the couple is tested, they will have to trust each other to forge their own sexy ending.


RESENSI

Dua bulan menjelang kelulusan Erin, Blake meminta agar mereka menjaga jarak hingga tiba waktunya Erin lulus. Blake merasa betapa riskannya jika hubungan mereka terkuak dan menggagalkan rencana masa depan Erin. Meski dengan berat hati, Erin menyetujuinya.
Ketika masa penantian mereka berakhir, secara tiba-tiba ibu Erin mengalami serangan jantung. Merasa panik dan ketakutan, Erin berusaha sesegera mungkin kembali ke kota asalnya. Sayang mobilnya mogok dan Blake sama sekali tak bisa dihubungi. Blake juga tak ada di manapun. Di tengah rasa putus asanya, muncullah Doug, pria dari masa lalu Erin, menawarkan bantuan untuk mengantar Erin. Secara lugas Doug meminta maaf atas perbuatannya dan berharap bisa kembali bersama Erin.

-------------------------

"Love wasn’t a lightning strike, a sharp point with a definite beginning and an inevitable end. Love was a shelter from the storm, respite from her fears and relief from the reality of his pain."

Aah tiba juga saya akhirnya di buku keempat seri Beauty, Beauty Becomes You. Tentu saja ini rekor karena saya biasanya sulit menyelesaikan serial dengan tokoh yang sama. Saya lebih menikmati standalone series karena nggak ada keterikatan untuk harus menuntaskan keseluruhannya, dan karena saya gampang bosan kalau bertemu tokoh yang sama lagi dan lagi.
Tapi sejak membaca buku pertamanya, Beauty Touch The Beast saya telah jatuh cinta pada Blake dan Erin. Juga jatuh cinta pada gaya bertutur Skye Warren yang tadinya saya ragukan. Bagi saya yang mencintai dongeng Beauty and The Beast, serial ini benar-benar sama manis dan menyentuhnya.

Dibuka dengan adegan percintaan yang hot dan smut, Beauty Becomes You menjadi cerita pemuncak yang minim konflik. Seolah semua masalah sudah terselesaikan di buku ketiga, Broken Beauty. Karena di sini, percik konfliknya begitu mudah dihadapi dan nggak memicu masalah yang besar. Novella ini hanya berisi pencerahan dan penyadaran diri Blake dan Erin tentang arti hubungan mereka. Pikiran mendalam yang dihasilkan setelah mereka terpaksa harus berpisah untuk sementara. Kesabaran mereka dan kesetiaan mereka.
Pada akhirnya Blake pun bertemu dengan ibu Erin. Satu hal yang semestinya menurut saya bisa menjadi puncak konflik. Karena nasib yang terjadi pada ibu Erin telah disebut-sebut sejak lama. Saya kira akan ada kelanjutan sikap penolakan sang ibu setelah di buku ketiga.

Bisa dibilang buku terakhir ini hanyalah sebuah penutup yang memperlihatkan bahwa semua karakternya sudah move on. Bahwa mereka berhasil melewati luka dan kegelisahan mereka. Yang mengejutkan adalah munculnya Doug dan konklusi yang mengikuti kemunculannya. Lagi-lagi, kehadiran yang nggak menimbulkan konflik. Doug muncul hanya untuk menegaskan bahwa ia nggak sebrengsek ayahnya, bahwa ia bukan bajingan dan meminta maaf. 
Entah saya harus kecewa atau bahagia. Namun yang paling saya suka adalah cara Erin menyikapi semuanya.
Tiba-tiba mendapat kabar bahwa ibunya dirawat di rumah sakit, mendapati mobilnya rusak dan nggak bisa digunakan untuk menempuh perjalanan pulang sejauh empat jam perjalanan, kesulitan menghubungi Blake, nggak mampu menemukan Blake di manapun, sungguh ajaib ia nggak mencak-mencak pada Blake. Paling nggak saya bakal cemberut begitu bertemu keesokan harinya dan menuntut penjelasan. Tapi Erin dengan kalem menerima permintaan maaf Blake dan mempercayai Blake. Erin ini makan apa kok bisa sabar, dewasa dan bijaksana begitu? :(
Blake sendiri juga mulai bisa lebih tenang. Rasa posesifnya terasa manis tapi nggak mengekang. Berkali-kali ia menyebut Erin adalah miliknya dengan cara yang begitu manis. Ketika menemukan Erin bersama Doug dengan posisi yang bisa menimbulkan salah paham, ia tetap percaya pada Erin. Duh duh... Blake ini benar-benar mudah dicintai deh.

“Wait for me,” she whispered.
“Forever,” he murmured. “I’d wait for you forever. Though if you came back sooner, I’d make it worth your while.”

Bagi saya, novella ini tidaklah semenarik novella sebelumnya. Mungkin karena tanpa riak dan hanya berupa penegasan hubungan yang mudah diduga.
Well, meskipun ini adalah buku terakhir serial Beauty, masih akan ada satu kisah tambahan tentang Blake dan Erin. Yang membuat saya jadi penasaran, kalau pasangan ini telah begitu sempurna dalam kebahagiaan, apa yang akan dituangkan Skye Warren dalam kisah ekstranya? Hmm~ adegan ranjang tanpa henti mungkin?  :)))

Sabtu, 08 Oktober 2016

[Resensi] Broken Beauty - Skye Warren

Judul buku: Broken Beauty
Series: Beauty #3
Penulis: Skye Warren
Format: Kindle Edition
Tahun terbit: Juni 2013
Tebal buku: 70 halaman
ASIN: B00DFLFQ5K



BLURB

A troubling revelation puts Blake’s newfound career in jeopardy and Erin’s impending graduation at risk. The couple forge ahead, determined that love conquers all. They find a new depth to their respect for one another and new heights for their sensual play, but secrets and shadows lay in wait along the path.


RESENSI

Hanya diperlukan satu mata kuliah di semester terakhir ini, maka Erin bisa lulus kuliah dan mencari pekerjaan. Hal yang telah lama Erin nanti-nantikan. Namun betapa kagetnya ia saat mendapati bahwa profesor yang akan mengajar kelas yang ia ambil adalah Blake. Karena sebelumnya saat Erin bukanlah murid Blake saja, mereka harus menyembunyikan hubungan mereka, apalagi sekarang. Erin pun sempat berpikir untuk mengundurkan diri dan menunda kelulusannya. Hanya saja Blake tak mengizinkannya. Setelah berkompromi, mereka pasrah menerima keadaan dan tetap berusaha menyembunyikan hubungan mereka.
Sayangnya Melinda yang licik mulai mengendus hubungan asmara antara Blake dan Erin. Dengan licik ia menyudutkan Erin untuk mrninggalkan Blake. Apakah Erin akhirnya meninggalkan Blake? Ataukah ia tetap bertahan dan melawan?

---------------

Saya nggak bisa berhenti membaca serial Beauty dari Skye Warren. Setelah dibuat jatuh cinta dan penasaran dengan kedua buku sebelumnya Beauty Touch The Beast dan Beneath The Beauty, saya pun lanjut mengikuti kisah cinta Blake dan Erin dalam Broken Beauty. Diluar ekspektasi saya, novella ketiga ini benar-benar semakin seru dan semakin baik dibanding kedua buku pendahulunya. Ada kedalaman dan ketajaman dalam kisah ini, yang membuat saya makin nggak bisa berhenti membacanya.

Konflik yang dialami Blake dan Erin makin berkembang. Hubungan rahasia antara Blake dan Erin terancam terkuak, karena di semester terakhir ini, Erin menjadi murid kelas yang diajar Blake. Masing-masing merasa harus melindungi kepentingan pasangannya. Erin terbelah antara keinginannya untuk segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan kemungkinan menghancurkan reputasi Blake. Demikian halnya dengan Blake yang nggak ingin Erin menunda kelulusannya hanya demi dia sementara Blake tahu pasti perjuangan Erin dalam belajar dan mengumpulkan uang.
Saya suka melihat betapa kuatnya perasaan yang mereka rasakan satu sama lain. Hasrat untuk saling melindungi. Dan terutama saya suka bagaimana mereka kemudian berbicara untuk berkompromi.
Setelah menunggu dialog yang "berisi" sejak mengawali membaca serial ini, saya akhirnya menemukan dialog antara Blake dan Erin yang penuh kedewasaan dan cerdas. Saya menikmati membaca diskusi panjang mereka. Akhirnya sang hero dan heroine mencapai tahap yang saya inginkan, kedekatan emosi dan intelektual.

Di dalam Broken Beauty, saya mendapati Blake yang mulai terlihat berbeda. Nggak minderan lagi seperti kisah terdahulu, setidaknya di hadapan Erin. Blake benar-benar sudah percaya pada Erin, dan mulai menunjukkan dominasinya. Tuntutannya. Dan hasratnya yang nggak lagi malu-malu. Apa yang dia inginkan berani dia ungkapkan dan dia raih. Dia mempercayai Erin sepenuhnya.
Erin di sisi lain juga terlihat makin kuat, rasa cintanya yang begitu besar pada Blake sungguh luar biasa. Mereka pasangan yang manis dan panas sekaligus. Hahhahaha...

"Come on, let me hear you lecture."
"No way. I can make a fool of myself in front of a bunch of strangers. I don't have to do it in front of my girlfriend."
She couldn't help it. She grinned, sudden and wide.
He cocked his head. "What is it? Morning breath? You should have told me."
She rolled her eyes. "No, you called me your girlfriend."
"What else should I call you?"
"Hmm. Your fuck buddy?"
He frowned. "My lover."
"Your maid."
His hand clasped hers. He rested his forehead against hers. "My everything." 

Selain itu, rupanya Melinda masih menjadi ancaman besar bagi hubungan Blake dan Erin. Seolah belum puas ditolak Blake dan membuat gonjang-ganjing sesaat dalam hubungan Blake dan Erin, kini Melinda bertingkah lagi. Dengan licik ia menyudutkan Erin dan membuat Erin berada dalam situasi yang sulit. Bitch!
Namun rupanya Skye Warren masih terlalu sayang pada Erin dan Blake sehingga permasalahan mereka nggak bertahan lama. Sayang sekali. Padahal ada banyak hal yang bisa digali untuk mencapai puncak konflik yang maksimal. Karena bila sebuah kisah dibawa ke konflik tertinggi, penyelesaian endingnya bakal sangat berkesan dan bikin nyeesss di dada. *halah*
Namun bukan berarti ending Broken Beauty nggak oke. Endingnya manis banget, malah. Tapi nggak sampai bikin saya mewek termehek-mehek.

Untuk adegan ranjangnya, super hotnya level dewa. Karena Blake dan Erin sudah nggak malu-malu tapi mau lagi. Jadi di mana dan kapan mereka bertemu, jatuhnya di pembaringan juga. Hal yang tentu bikin saya heran, kapan Erin belajar dan kerja kalau dirusuhin Blake melulu? Wkwkwk~
Overall, saya paling suka novella ketiga ini. Selain karena para tokohnya sudah menyelesaikan masalah insecure mereka, novella ini juga makin matang dan masih saja memberi rasa penasaran. Saya sudah nggak sabar untuk membaca buku keempatnya.


Jumat, 07 Oktober 2016

[Resensi] Beneath The Beauty - Skye Warren

Judul buku: Beneath The Beast
Series: Beauty #2
Penulis: Skye Warren
Format: Kindle Edition
Tahun terbit: Mei 2013
Tebal buku: 63 halaman
ASIN: B00CVGFCEK



BLURB

When Blake receives an offer to return to his alma mater as associate professor, he knows this is his chance to reenter the world—and to be worthy of the woman he loves. Erin wants this chance for him to heal… even if it means leaving her behind.

Beneath the Beauty is a novella in the Beauty serial. Don’t miss the sexy initial installment, Beauty Touched the Beast, available now. 


RESENSI

Dua minggu sejak resmi menjadi pasangan, Erin merasa hubungannya dengan Blake seolah masih berjarak. Apalagi Blake selalu diam-diam meninggalkannya saat dikiranya Erin telah tertidur, dan pergi ke ruang kerjanya hingga lupa waktu. Apakah Blake punya wanita lain?
Di tengah usahanya meyakinkan Erin bahwa gadis itulah satu-satunya, Blake mendapat tawaran untuk menjadi profesor pengganti di universitas. Maka melangkahlah Blake ke dunia luar setelah bertahun-tahun mengurung diri. Sayang, dengan status barunya, ia tak bisa mengakui Erin–yang merupakan mahasiswa di universitas tempat Blake mengajar–sebagai kekasihnya. Dan munculah Melinda, mantan tunangan Blake yang ingin kembali berhubungan dengan Blake. Akankah Blake kembali pada Melinda? Ataukah ia tetap bertahan di sisi Erin?

----------------------------

“There are no happy endings for the beast.” 

Membaca Beneath The Beauty tadinya hanyalah keisengan saya untuk melanjutkan serial Beauty. Setelah membaca Beauty Touch The Beast yang cukup mengesankan, saya berharap menemukan kisah yang semakin mendalam di buku keduanya. Tapi bisa dibilang, harapan saya juga nggak muluk-muluk amat, karena saya tahu biasanya buku lanjutan novel eroro hanyalah berupa aktivitas seksual yang semakin intens.
Namun rupanya saya salah besar!
Novella kedua serial Beauty ini semakin matang dalam plot dan storyline yang jelas. Alur ceritanya semakin menarik dan latar belakang tokohnya pun mulai tersingkap.

Beneath The Beauty masih menggunakan sudut pandang orang ketiga. Porsinya pun masih sama imbangnya. Alurnya maju dan lingkup sosialnya mulai meluas. Ada suasana baru, ada dunia luar yang mereka datangi dan orang-orang luar yang terlibat dalam kisah cinta antara Blake dan Erin.
Suasana baru yang sangat normal dan membuat saya lupa kalau saya sedang membaca eroro. Karena kesan yang saya dapatkan dalam novella ini adalah romance yang elemen-elemen pentingnya terpenuhi. Dari segi setting, karakter, juga plot.

Blake masih berkutat dengan rasa rendah dirinya. Wajahnya yang cacat separuh akibat luka ledakan yang ia derita saat sedang bertugas masih membuatnya membentengi diri. Jika saja Erin nggak ada di sana mungkin ia akan tetap menolak tawaran untuk menjadi pengganti profesor sementara. Bahkan saat menjadi profesor dan bertemu dengan Erin sebagai profesor dan mahasiswa, Blake masih merasa nggak pantas menginginkan Erin.
Rasa takut yang wajar apalagi menilik masa lalunya. Penolakan-penolakan yang harus ia hadapi setelah menjadi cacat. Blake digambarkan begitu mirip Beast dalam dongeng aslinya, yang menyendiri dan menutup diri, marah pada dunia, dan menyembunyikan jati dirinya dalam kegelapan.
Hingga Erin datang. Ternyata perasaan Blake telah tumbuh sejak pertama kalinya Erin datang melamar pekerjaan. Diungkapkan juga bahwa Blake mulai punya semangat dan berani ke luar ke jalan cahaya karena Erin. Ia ingin menggapai Erin. Ooh... saya benar-benar mulai jatuh cinta pada Blake!

Erin sendiri ternyata juga punya latar belakang yang memilukan. Terutama dengan mantan kekasihnya. Tapi bukannya merasa trauma, Erin berani menyambut dan memperjuangkan rasa cinta yang ia miliki terhadap Blake. Ia belajar dari kesalahan. Ia tampak dewasa di novella kedua ini, dan lebih memegang kendali. Dia benar-benar berdiri di sana di hadapan Blake dan dengan yakin menyatakan dan mencurahkan kasih sayangnya.

Konflik di novella kedua ini mulai berkembang. Bukan lagi sekedar perang sanubari para tokoh utamanya, tapi mulai muncul orang ketiga. Seseorang dari masa lalu Blake yang tiba-tiba datang dan menginginkan rujuk. Melinda benar-benar jenis wanita yang bakal jadi lawan tangguh dan berpotensi menjadi bom yang mengguncang kisah cinta Blake dan Erin.
Sayangnya... konflik cinta ini terlalu mudah diselesaikan. Entah apakah Skye Warren nggak berani membuat tokohnya saling berkonfrontasi ataukah penulis ini menyimpan ledakannya untuk buku lanjutan serial yang berikutnya, saya nggak tahu.
Tapi toh endingnya memang manis dan memuaskan. Rasanya meleleh melihat chemistry mereka berdua. Saya paling suka ketika Erin menemukan Blake di depan apartemennya, itu benar-benar twist yang sempurna setelah saya hampir mewek di bab sebelumnya.

Well, Beneath The Beauty masihlah novel hot nan erotis. Apalagi adegan seksnya mereka lakukan di kantor sang profesor. Gila dan menantang. Jangan lupakan juga dirty talk yang saling mereka lemparkan. Tapi jangan khawatir, meski kadar panas novel ini bisa bikin telur jadi matang, nggak ada kesan kotor dan mrnjijikkan. Gaya tuturnya begitu romantis, jenis smut yang bakal bikin saya meleleh. Namun yang lebih penting, Beneath The Beauty punya pesan yang jelas, tentang rasa insecure yang tentunya ada dalam hati kita, dan bagaimana menghadapinya. Jika telah menemukan orang yang tepat, jangan segan untuk melepaskan segala rasa sakit dan rasa pedih. Saya tersentuh saat akhirnya sang Beast menitikkan air mata.

Kamis, 06 Oktober 2016

[Resensi] The Girl on Paper - Guillaume Musso

Judul buku: The Girl on Paper
Judul asli: La Fille de Papier
Penulis: Guillaume Musso
Penerjemah: Yudith Listiandri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Titish A.K
Design cover: Chyntia Yanetha
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun terbit: September 2016
Tebal buku: 448 halaman
ISBN: 978-602-74322-4-6



BLURB

Gadis itu terjatuh dari buku.

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer's block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?


RESENSI

"Aku terjatuh."
"Terjatuh dari mana?"
"Terjatuh dari sebuah buku. Terjatuh dari bukumu, tepatnya! Aku terjatuh dari sebuah baris, di tengah kalimat yang belum selesai." (hlm. 69)


Karena kesalahan cetak, sebanyak seribu eksemplar novel Tom Boyd terhenti di halaman 266, tepat di sebuah kalimat '"Kumohon!" seru gadis itu jatuh', selebihnya hanyalah halaman kosong hingga ke akhir novel. Namun menurut Milo, sahabat Tom, itu bukanlah kabar terburuk. Kabar paling buruknya adalah Tom, si penulis miliarder itu telah bangkrut. Karena Milo telah memasukkan hampir semua uang mereka ke dalam dana manajemen yang tersandung kasus Madoff.
Patah hati, tergantung pada obat-obat antidepresan, mengalami writer block, dan kini bangkrut. Hidup Tom sudah benar-benar hancur. Ditambah lagi tiba-tiba ada seorang gadis telanjang berada di dalam rumahnya dan mengaku sebagai salah satu tokoh fiksi dari buku Tom.
Meski mustahil namun gadis itu benar-benar tampak seperti Billie. Bertingkah laku seperti Billie. Dan tahu segala detail kehidupan Billie yang tak pernah Tom ungkap kepada siapa pun. Mau tak mau Tom percaya.
Mereka membuat perjanjian bahwa Billie akan membantu mengembalikan cinta Aurore dan Tom harus meneruskan karyanya yang mandeg agar Billie bisa kembali.
Tapi mereka dikejar waktu. Karena Aurore sedang berlibur dengan kekasih terbarunya, Tom harus tiba di sana sebelum pria lain melamar Aurore dan Billie harus kembali ke dunia fiksi sebelum buku-buku yang cacat cetak dimusnahkan.
Berhasilkah misi mereka? Ataukah sesuatu yang tak terduga akan terjadi?

----------------

Seingat saya, penulis-penulis Prancis memang selalu luar biasa dalam menyajikan sebuah cerita. Mereka penuh imaji dan pandai memainkan emosi pembaca. Maka saya nggak ragu untuk membaca The Girl on Paper karya Guillaume Musso ini, apalagi karena saya juga percaya Penerbit Spring selalu menerbitkan novel-novel yang memukau dan memuaskan.

Premis The Girl on Paper benar-benar menarik dan membuat saya penasaran. Ide sang penulis untuk membaurkan dunia fiksi dan dunia nyata sungguh membuat saya nggak bisa menolak untuk melalap habis novel yang lumayan tebal ini. Prolognya disusun dengan unik, yaitu berupa potongan-potongan berita tentang Tom Boyd dan Aurore Valancourt. Dimulai dari artikel kegemilangan karir mereka, hubungan asmara mereka, skandal putusnya hubungan mereka dan bagaimana terpuruknya Tom setelah ia dicampakkan. Seolah saya sedang membaca file yang berisi kliping sebuah kasus.

Novel ini dituturkan menggunakan dua macam sudut pandang. Yang pertama adalah sudut pandang orang ketiga, yang digunakan oleh Guillaume Muso saat hendak bercerita dari sudut pandang Milo, Carole dan beberapa karakter lainnya. Dan yang kedua adalah sudut pandang orang pertama, saat penulis bercerita dari sudut pandang Tom. Dual POV yang berimbang, nggak bikin bingung dan justru terasa unik. Plotnya sangat rapi dan temponya terjaga, nggak terlalu cepat dan juga nggak terlalu lambat. Alurnya maju dengan sesekali mundur ketika Tom, Milo dan Carole mengenang masa lalu mereka.

Perjalanan Tom dan Billie sungguh seru untuk diikuti. Dari satu tempat ke tempat yang lain, digempur cuaca yang sedikit ekstrim, dialog-dialog yang saling mereka lemparkan begitu cair dan menunjukkan chemistry yang asyik.
Bagian yang saya suka adalah ketika Milo dan Carole memburu satu buku karya Tom yang salah cetak. Satu-satunya buku cacat yang tersisa yang menurut mereka menjadi jalan untuk mengembalikan Billie ke dunia fiksi. Petualangan satu buku itu yang dioper dari satu orang ke orang lainnya, melintasi negara dan benua malah terasa menarik. Ada banyak kisah pendek yang ikut menghiasi keseluruhan novel ini. Kisah-kisah yang juga sama menyentuhnya.
Sebagai novel yang mengambil banyak lokasi setting, The Girl on Paper begitu mendetail dalam deskripsi settingnya. Suasana dan nuansanya begitu mudah dicerna, membuat saya seolah hadir di sana pula.

Ada banyak nama-nama bintang layar kaca dan penulis-penulis terkenal yang tersebar di dalam novel ini. Trivia-trivia informatif yang diselipkan dengan luwes dan cermat. Menjalin keterikatan dengan saya sebagai pembaca yang memang akrab dengan nama-nama tersebut.

"Kalau kau tidak sungguh-sungguh berjuang melawan dirimu sendiri, kau tahu apa yang akan terjadi? Kau akan terus menelan lebih banyak obat penenang dan mengisap lebih banyak sabu-sabu. Setiap kali begitu, kau akan tenggelam sedikit lebih dalam, membenci dan muak pada dirimu sendiri. Dan setelah kau tidak punya uang lagi, kau akan berakhir di jalanan, tempat suatu pagi seseorang akan menemukan mayatmu, dengan jarum suntik masih terbenam di lenganmu." (hlm. 125)

Kesemua karakter dalam novel ini terasa kuat. Mulai dari Tom, Milo dan Carole. Rasa depresi Tom walau bikin gemas tapi sungguh meremukkan hati. Carole yang tenang di luar tapi terlihat rapuh saat hanya berdua dengan Tom, dia yang paling misterius bagi saya. Billie yang cerewet dan selalu bisa meng-KO Tom dengan kata-katanya yang pedas dan mengena. Karakter Milo juga konsisten, konsisten pengen nyekek. Hahaha..
Namun yang membuat saya bertanya-tanya adalah karakter Lilly. Setelah twist ending yang mengejutkan, saya justru jadi bertanya-tanya tentang sosoknya. Tentang seperti apa dia yang sebenarnya.

Secara keseluruhan, The Girl on Paper benar-benar kisah yang komplet. Ada keputusasaan yang berubah menjadi harapan, ada keegoisan yang harusnya bisa disingkirkan, ada persahabatan yang telah melewati bermacam ujian dan bertahan, ada kekuatan dan tekad. Setelah 446 halaman saya menutup novel ini dengan rasa puas, menikmati petualangan yang nggak pernah bisa saya bayangkan, dengan kualitas penerjemahan yang oke pula.

Nah... Setelah membaca review saya untuk Girl on Paper, ada juga artikel wawancara saya dengan Penerbit Spring serta GIVEAWAY satu eksemplar novel The Girl on Paper yaa. Ayoo ikutan 😉


Rabu, 05 Oktober 2016

[Resensi] Beauty Touch The Beast - Skye Warren

Judul buku: Beauty Touch The Beast
Penulis: Skye Warren
Edisi: Kindle Edition
Tahun terbit: November 2011
Tebal buku: 30 halaman
ASIN: B006Q648F0



BLURB

Erin cleans Mr. Morris's house twice a week, soaking up every moment with the reclusive ex-soldier she secretly loves. Blake Morris knows he's scarred both inside and out and is no good for the beautiful young woman who cleans his house to pay for college. But when Erin walks in on Blake touching himself and moaning her name, all bets are off.


RESENSI

Sebagai pekerja yang datang dua kali seminggu untuk membersihkan rumah Blake Morris, Erin sebenarnya memendam rasa terhadap bosnya tersebut. Ia menikmati pembicaraan mereka dan menyukai Blake apa adanya. Namun, karena menyadari dia hanyalah pelajar biasa yang perlu mencari tambahan uang dengan bekerja kasar, Erin hanya bisa berdiam diri. Hingga ketika tiba waktunya ia membersihkan rumah Blake, ia tak sengaja melihat Blake, di atas ranjangnya, sedang menuntaskan hasrat seksualnya. Bukan hanya itu yang membuat Erin terkejut, tapi juga saat di puncak kenikmatannya, Blake menyebutkan nama Erin.
Malu karena terpergok, Blake berusaha menjauh, namun akankah Erin menerimanya begitu saja? Saat ia tahu ia menjadi obyek fantasi dari pria yang dicintainya?

--------------------

Beberapa hari yang lalu, setelah saya menyelesaikan Owning Her Beast dari Alexa Riley, saya meniatkan diri untuk membaca novel atau novella yang berdasarkan dongeng Beauty and The Beast. Sebagai dongeng favorit saya, saya memang nggak pernah bosan dengan kisah cinta yang serupa. Dan kemudian seorang teman merekomendasikan novella super pendek, Beauty Touch The Beast karya Skye Warren ini. Novella ini sendiri merupakan bagian pertama dari serial Beauty.

Beauty Touch The Beast dikisahkan menggunakan sudut pandang orang ketiga secara bergantian dari sisi Erin dan Blake. Dual POV ini lumayan berimbang dan menggambarkan dengan tepat perasaan mereka masing-masing. Cukup mengejutkan bagi saya karena biasanya novel erotica tipe fast-insta-love menggunakan sudut pandang orang pertama. Namun, menyebut Beauty Touch The Beast sebagai bagian dari erotica pun rasanya kurang tepat. Karena, plotnya begitu jelas dan rapi. Bukan main adegan panas tanpa sebab musabab jelas hingga hampir absurd seperti novel erotica kebanyakan.
Latar belakang juga pekerjaan Erin dan Blake sebenarnya cukup seru jika lebih digali, karena saya pikir akan lebih baik lagi jika dideskripsikan atau dinarasikan dengan lebih detail. Misal mengapa Blake bisa penuh luka, bagaimana Blake bekerja, bagaimana keseharian Erin di luar rumah Blake. Pasti Tapi semoga saja nanti segala pertanyaan itu akan terjawab di buku keduanya. Jalan ceritanya runut dan disusun secara rapi. Meski adegan pembukanya sangat mengejutkan tapi toh kedua tokoh utama saling mampu menahan diri. Adegan seksnya pun nggak sevulgar novel erotica yang lain, bahkan dirty talknya juga terkesan lebih puitis. Wkwkk~

Mengenai karakter kedua tokoh, saya merasa Erin dan Blake benar-benar gambaran Belle dan Beast versi modern yang "nakal". Tapi rasa rendah diri Blake sungguh menyentuh. Blake sadar dirinya cacat dan buruk rupa, bekas-bekas lukanya nggak enak dilihat. Beberapa kali dia memalingkan wajah dan bahkan di atas ranjang dengan kebesaran hati dia meminta Erin menganggapnya sebagai pria lain. Duh Blake. Saya mendapati saya tersentuh akan gerak-gerik dan sikap Blake.
Sementara Erin benar-benar gadis yang saya rasa tahu apa yang dia inginkan dan berani melakukan sesuatu untuk mendapatkannya. Tekadnya mirip seperti Belle. Dia berani maju saat Blake melangkah mundur. Saya yakin pula dia punya pertimbangan dan siap menanggung segala risiko di hadapannya.
Dan yang bikin saya jatuh hati pada pasangan ini adalah jarak usia mereka yang jauh. Pembaca setia review saya pasti tahu kalau saya tergila-gila pada kisah cinta antara dua karakter yang usianya terpaut jauh. Beberapa mungkin tahu alasannya. Tapi sayangnya, Beauty Touch The Beast nggak menjelaskan dengan pasti berapa usia mereka sebenarnya. Hanya diungkapkan bahwa dengan usianya, Blake sepantasnya menjadi ayah Erin.

Sayangnya Beauty Touch The Beast ini begitu pendeknya hingga habis dibaca hanya dalam sekali jongkok. Beneran. Bukan hanya sekali duduk saja, karena memang singkat banget. Padahal plotnya sangat menjanjikan dan pasti akan lebih menarik lagi dengan dua atau tiga bab tambahan. Meski kepadatan kisah ini memberi rasa puas juga.
Yang pasti novella super singkat ini menarik minat saya untuk melanjutkan kisahnya ke buku kedua, Beneath The Beauty. Karena karakter tokohnya yang Beast banget, jalan ceritanya yang menjanjikan dan gaya bertutur Skye Warren yang asyik. Smut yang manis dan romantis tanpa kesan dirty. Tapi tetap saja saya sarankan hanya untuk pembaca dewasa (dewasa dalam pengertian mental, sih), dan sepertinya nggak akan cocok dibaca di tempat umum. You know why, lah ya. Hihihi...

Selasa, 04 Oktober 2016

[Resensi] Golden Book - Kyoko Hikawa

Judul buku: Golden Book Deluxe
Judul asli: Gin No E-Hon
Penulis: Kyoko Hikawa
Alih bahasa: Mustika Maria
Editor: Nia Ikasary
Desain sampul: Henrikus Ariyanto
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun terbit: November 2010
Tebal buku: 291 halaman
ISBN: 978-979-27-7060-2
            978-979-27-7059-9




BLURB

Walau sudah lumayan lama berpacaran, Chizumi masih saj tetap tidak percaya diri. Kini malah muncul "saingan nyata" cintanya, yang ternyata murid privat Fujiomi!!
Ditambah lagi, tetangga baru di apartemen Chizumi sekarang seorang cewek yang bermulut pedas. Duh... bisa tidak, ya, Chizumi mengatasi ketidakpercayaan dirinya?


RESENSI

Kyoko Hikawa merupakan mangaka favorit saya sejak SMP, dan itu berarti 18 tahun yang lalu. Melalui Miriam, manga karya Kyoko Hikawa yang pertama kali saya baca, saya langsung jatuh cinta dengan gaya artwork dan gaya ceritanya. Sejak itu serial maupun short storynya nggak pernah mengecewakan saya.
Hingga saya bertemu dengan serial Chizumi dan Fujiomi yang terbagi menjadi tiga buku: Angin Musim Gugur, Pastel Mood dan Golden Book. Baru kali itulah saya bertemu karakter cewek yang ceroboh banget dan seolah nggak bisa ngapa-ngapain tanpa mengacaukannya. Saat itu, cewek ceroboh belumlah terlalu booming, dan Chizumi lah karakter cewek ceroboh yang pertama kali saya baca. Meski saya nggak begitu suka dengan karaktenya, saya toh melalap ketiga judul manga serial ini.

Selang  beberapa tahun kemudian, Elex Media Komputindo menerbitkan ulang manga-manga lawas mereka, dan satu di antaranya adalah Golden Book. Kali ini seri Chizumi & Fujiomi hanya dibagi menjadi dua buku. Itu artinya, dalam Golden Book Deluxe (series 2), terdapat bagian kisah yang berasal dari Pastel Mood.
Ada tiga part dalam Golden Book Deluxe, yang pertama adalah Pastel Mood, Deretan Pohon Ichiyo dan barulah Golden Book. Pastel Mood dan Golden Book sama-sama menghadirkan perempuan lain yang berusaha menarik perhatian Fujiomi. Perempuan-perempuan yang lebih percaya diri, lebih cantik, nggak ceroboh dan yang merasa bisa mengalahkan Chizumi dalam hal memenangkah hati Fujiomi.
Dulu pikiran cetek saya selalu mempertanyakan apa sih yang membuat Fujiomi memilih Chizumi. Memang Chizumilah yang telah mengubah Fujiomi, dengan kecerobohan dan kepolosannya ia menjadi penyeimbang bagi sifat Fujiomi yang kaku dan lurus itu. Tapi baru kini saat membaca ulang kisah ini lagi saya menyadari, betapa besar ketulusan dan kepercayaan Chizumi pada Fujiomi.
Chizumi yang selalu ceroboh, rendah diri dan nggak punya kelebihan itu punya perasaan paling tulus dan percaya habis-habisan pada Fujiomi. Chizumi yang seolah selalu membutuhkan Fujiomi justru memberi kesempatan pada Fujiomi untuk melakukan apa yang paling dibutuhkan pria itu, melindungi gadis yang dicintainya. Chizumi bergantung tapi sebenarnya juga menopang.

Bagi saya, Golden Book bukan lagi kisah menyebalkan antara pria paling super dengan gadis paling ceroboh. Ini adalah kisah cinta yang begitu seimbang. Chizumi menunjukkan kualitasnya dengan telak di depan gadis-gadis lain yang mengharapkan Fujiomi. Kebaikan dan ketulusannya meluruhkan anggapan saya bahwa ia nggak pantas mendapatkan Fujiomi.
Pada akhirnya kisah cinta ini menjadi terasa manis. Sikap Fujiomi terhadap Chizumi, senyum Fujiomi yang seolah memuja Chizumi itu asli sudah menggambarkan perasaannya yang sesungguhnya.

Yang menyenangkan dari kisah ini adalah kehadiran pacar pertama Fujiomi. Seru karen bisa melihat Fujiomi versi SMP. Lucu banget. Sifat kikuknya menggemaskan dan di sisi lain juga membuat saya iba.
Namun tentunya kehadiran Asako Yasugi lebih menyebalkan dari Chizumi sendiri. Bahkan lebih menyebalkan dari bocah kelas 3 SMA yang jadi murid privat Fujiomi. Yah, cewek mana sih yang suka dan santai saja kalau mantan pacar pertama kekasih kita datang lagi dan mulai deket-deket lagi. Dan dengan sok tahunya bilang:

"Tapi aku tahu... Kalau Fujiomi itu baik hati dan jujur. Aku lebih dulu tahu dadipada kamu... Lebih dulu dari kamu..." (Asako)

Bah! Kalau saja saya yang di posisi Chizumi sudah saya lempar gelas saya ke mukanya. Tapi Chizumi... aaah malah nggak enak sendiri dan iya iya aja. Duuuh gemaaaas. Tapi siapa sangka kalau Asako malah terintimidasi dengan sikap Chizumi. Wkwkwk~

Well, selesai membaca ulang manga ini saya merasa mulai bisa menyukai Chizumi. Saya menyadari betapa manis-unyunya pasangan ini. Tapi toh tetap saja Chizumi tak bisa menggeser Miriam dari karakter cewek favorit saya. Hmm~ tetaplah berjuang Chizumi!

Senin, 03 Oktober 2016

[Resensi: My Boyfriend is 16 - Yoshinaga Yuu] Pemuda yang Mampu Menghapus Luka Masa Lalu

Judul buku: My Boyfriend in 16
Judul asli: Koibito Wa 16-Sai
Penulis: Yoshinaga Yuu
Alih bahasa: Torana Astrid Y
Penyunting: Yoke Yuliana
Artistik: Ikmal Aldwiansyah
Penerbit: M&C
Tahun terbit: 2010
Tebal buku: 198 halaman
ISBN: 9786022100874



BLURB

Ruka Sawaguchi, gadis 20 tahun, trauma dalam soal cinta sejak patah hati waktu SMA. Suatu hari, tanpa sengaja Ruka bertemu dengan Soushiro.
Awalnya Ruka merasa kesal, tapi lama-lama mulai muncul rasa sayang terhadap cowok yang ternyata... masih berusia 16 tahun itu!


RESENSI

Di malam tahun baru, seusai bekerja, tanpa sengaja Ruka menabrak dan menjatuhkan seorang cowok. Padahal keinginannya hanya sederhana, ia ingin bisa hidup tenang dan damai. Tapi belum juga tahun baru berlalu, ia sudah mendapat masalah. Namun rupanya itulah takdir Ruka bertemu dengan Soushiro Kuroki yang tampan dan terlihat populer. Karena trauma akan masa lalunya, Ruka pun berusaha menghindari Soushiro. Tapi rupanya cowok itu tak kenal menyerah. Ia tetap mendekati Ruka meski tahu perbedaan usia mereka. Mampukah Soushiro menyembuhkan dan meluluhkan hati Ruka?

Ada pula dua short story dalam buku ini yaitu Prince K, dimana Kanna seusai putus cinta datang ke kedai ramal. Peramal itu mengatakan bahwa jodoh Kanna akan muncul seminggu lagi dan berinisial K. Maka dimulailah usaha Kanna mencari sang pangeran berinisial K. Apakah Kanna berhasil menemukannya? Bagaimana jika pria yang akhirnya Kanna sukai bukan berinisial K?

Yang terakhir ada Trouble Maker Girlfriend. Mengkisahkan tentang Satomi yang telah menyimpan perasaan selama tiga tahun pada Yuichi Kawasaki. Sementara di tim basket Satomi ada Suzuka, gadis manis yang dijauhi dan dikucilkan. Satomilah yang selalu membela dan menemani anak itu. Tapi sayangnya lama-lama Satomi merasa Suzuka terlalu dekat dengan Yuichi, dan ia merasa cemburu. Satomi tak lagi berusaha membantu Suzuka, akibatnya Yuichi marah padanya. Apakah Satomi berhasil mengatasi kecemburuannya?

------------------------

Kalau punya mangaka favorit dan sang mangaka lama banget nerbitin karya baru, yang bisa saya lakukan cuma menanti tanpa kepastian. Atau kalau saya memang kangen banget saya bakal membaca ulang manga lamanya. Dan inilah yang terjadi saat saya kangen pada karya Yoshinaga Yuu.
Kebetulan dulu saya membaca My Boyfriend in 16 dari hasil nyewa di taman bacaan. Tapi kemarin ketika ngubek-ubek gudang gramedia rasanya seperti menemukan harta karun ketika melihat manga ini di belantara tumpukan manga yang menggunung. Whoaaaa .... bahagia banget rasanya.

Kali ini saya nggak akan menulis review kilat seperti beberapa manga Yoshinaga Yuu yang pernah saya ulas di sini. Saya ingin mencoba menulis review manga karyanya yang keempat ini dengan detail. Dan semoga nggak jadi spoiler ya.
Manga ini berisi satu serial yang terdiri dari tiga part, dan dua short story. Menurut Yoshinaga Yuu, ini adalah pertama kalinya ia membuat karya serial.  My Boyfriend in 16 atau yang dalam bahasa aslinya berjudul Koibito Wa 16 Sai merupakan serial yang cukup pendek juga karena hanya terdiri dari tiga bab. Plotnya rapi dan storylinenya jelas. Naik turunnya hubungan Ruka Sawaguchi dan Soushiro bikin saya senewen, apalagi karen abeberapa kesalahpahaman yang dibiarkan terjadi. Menggiring Ruka kepada Murai, sang second lead male yang aduhai... bertolak belakang banget dengan Soushiro.

Perihal adegan yang cheesy, saya yakin kebanyakan manga serial cantik pastilah menggunakannya. Tapi selama artworknya digarap dengan cantik dan mengena, saya nggak pernah keberatan. Dan Yoshinaga Yuu selalu bisa menggambarkan adegan cheesy yang melelehkan hati. Ekspresi tokohnya, suasananya dan dialognya selalu bikin saya klepek-klepek.



Walau saya nggak terlalu suka dengan kisah cinta antara cewek yang lebih tua dengan cowok yang masih bocah, saat membaca manga ini saya anehnya merasa cukup suka. Mungkin karena karakter Ruka yang nggak dewasa dan cengeng. Jadinya kesan Soushiro yang selengekan itu malah jadi lebih dewasa. Hubungan mereka pun jadi manis karena Soushiro selalu menggoda dan bikin Ruka mewek-mewek bahagia.

"Jadi milikku saja, ya? Padahal kau cewek yang merepotkan. Tapi aku nggak tahu kenapa... Aku nggak mau menyerahkanmu... pada orang lain." (Soushiro to Ruka)

Untuk short story sebagai kisah tambahan ada Prince K dan Trouble Maker Girlfriend. Saya sih lebih suka Trouble Maker Girlfriend. Prince K sendiri kalau nggak salah merupakan karya ketiga Yoshinaga Yuu dan merupakan karya pertama yang dimuat di majalah komik. Mungkin itu sebabnya kesan yang biasanya ada dalam karya-karyanya belum nampak dalam manga ini. Twistnya mudah ditebak dan adegannya pun standar. Tapi artworknya sudah keren dan cakep banget.
Trouble Maker Girlfriend lebih ngetwist dan lebih bikin dongkol. Storylinenya juga lebih rapi. Yah walau saya nggak begitu suka dengan tokoh ceweknya, yang cemburu tanpa alasan, ada rasa penasaran akan ending manga penutup ini.

Di antara Soushiro, Syouri dan Yuichi, saya paling suka dengan Yuichi. Habisnya Yuichi muncul dengan seragam baseball sih, lengkap pakai topi dan sarung tangan baseball. Saya kan paling lemah dengan cowok pemain baseball di dalam manga. Hal yang bikin saya betah mengikuti karya Adachi Mitsuru. Pokoknya cowok dalam manga yang main baseball itu yang paling keren deh.
Yaaah tapi Yuichi juga sangat dewasa. Dan ekspresinya bikin hati saya campur aduk.

Yang pasti ketiga kisah dalam My Boyfriend is 16 ini maniiiis banget. Khas Yoshinaga Yuu yang selalu menampilkan cowok-cowok kalem tapi romantis. Karena Yoshinaga Yuu selalu bisa bikin adegan mendebarkan dan meleleh. Kali ini pun, saya dibuat terhanyut dan tergila-gila pada karyanya.

Minggu, 02 Oktober 2016

[Resensi] The Spanish Consultant's Baby - Kate Hardy

Judul buku: Cinta Sang Konsulen Spanyol
Judul asli: The Spanish Consultant's Baby
Penulis: Kate Hardy
Alih bahasa: Juliana Tan
Sampul dikerjakan oleh: Marcel A. W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Januari 2012
Tebal buku: 264 halaman
ISBN: 978-979-22-7982-5



BLURB

Sejak pertemuan pertama, dr. Ramón Martínez—konsulen tamu dari Spanyol—tertarik pada Jennifer Jacobs. Wanita itu cekatan dan penuh perhatian pada anak-anak. Benar-benar cocok menjadi suster kepala di bagian pediatri Bradley Memorial Hospital.

Tetapi Jennifer langsung menjaga jarak jika berhubungan dengan pria, terutama Ramón. Jadi ia melakukan pendekatan berbeda, meminta wanita itu membantunya mengenal kota baru tempatnya ditugaskan.

Dengan waktunya yang terbatas sebagai dokter tamu, Ramón pun berusaha keras membuat Jennifer percaya bahwa dia bukan sekadar kekasih di masa liburan. 


RESENSI

Kedatangan Ramon Martinez, seorang konsulen dari Spanyol, membuat Jennifer Jacobs sedikit was-was. Apalagi ketika sang dokter menampakkan rasa ketertarikannya pada Jennifer secara terang-terangan. Ramon mengingatkan Jennifer pada sosok Andrew, mantan suaminya yang penuntut dan selalu merendahkannya. Jennifer enggak jatuh ke lubang yang sama. Apalagi Ramon hanya bertugas di rumah sakit tempat Jennifer bekerja, selama beberapa bulan saja. Jennifer sama sekali tak tertarik hanya menjadi selingan.
Namun kegigihan Ramon akhirnya melelehkan Jennifer juga. Dengan bujuk rayu dan sikap super gentleman, Ramon berhasil menjadi kekasih Jennifer. Namun, benarkah akhir bahagia adalah milik mereka? Bagaimana jika seorang adik yang angkuh datang dan menjatuhkan bom tepat di hadapan Jennifer? Sanggupkah ia bertahan?

--------------------

Kate Hardy merupakan salah satu penulis Harlequin favorit saya. Cara bertuturnya nggak pernah gagal membuat saya terhanyut dan premisnya selalu menarik. Dan kali ini, lagi-lagi saya dibuat jatuh cinta pada karyanya.

Siapa bilang Harlequin hanya menyajikan roman-roman picisan dengan adegan yang klise dan cheesy. Polanya memang sama, kadang juga sulit diterima nalar. Tapi selama isi ceritanya membuat pembaca menutup buku dengan kebahagiaan dan kepuasan, saya anggap di situlah keberhasilan sebuah novel romance. Tapi toh Kate Hardy memang nggak pernah membuat tulisan yang biasa-biasa saja. Kali ini Kate Hardy menghadirkan dunia kedokteran sebagai latar novelnya. Sebuah medical romance yang berisi dan menyentuh.

Konflik utamanya ada dalam diri sang heroine, Jennifer Jacob. Masa lalunya membuat dia menutup diri dari pria yang hadir ke dalam hidupnya. Terutama jika pria tersebut begitu mirip dengan mantan suaminya dan mengingatkan Jennifer pada kenangan pahit di masa lalu. Kekerasan dalam rumah tangga memang bukan melulu urusan fisik, kata-kata yang melecehkan, atau pasangan yang terlalu mendikte dan mengekang juga termasuk dalam bentuk kekerasan rumah tangga. Sayangnya banyak wanita yang masih terjebak dalam kekerasan semacam ini dan Jennifer adalah salah satunya. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk membangkitkan kepercayaan dirinya, dan sungguh sulit membuatnya kembali membuka hati. Ketakutan, kecemasan dan keraguan Jennifer bisa saya pahami dan membuat saya menyayanginya. Apalagi melihat dia begitu penuh kasih kepada pasien dan staffnya.
Di sisi lain Ramon merupakan sosok yang menjadi penyeimbang yang ideal bagi Jennifer. Pria yang gigih, lembut, sedikit licik tapi dia benar-benar tahu apa yang dia mau. Sungguh menyenangkan melihat interaksi kedua tokoh ini, terutama ketika mereka bahu-membahu memberi penjelasan pada keluarga pasien dan berusaha menenangkan kepanikan mereka.
Apalagi ketika hubungan mereka mulai meningkat dan mereka resmi jadi sepasang kekasih. Aww... manis banget deh. Sungguh chemistry yang seru dan menarik. Bukan hanya antara hero dan heroinenya saja, tapi juga antara Jennifer dan para pasien. Benar-benar cair dan menakjubkan.
Untuk konflik pemuncaknya barulah saya mulai merasa ini sedikit klise. Lagu lama. Tapi, saya penasaran juga bagaimana Kate Hardy akan mengeksekusinya. Sayang endingnya nampak mudah dan nggak sepadan dengan perjuangan Ramon-Jennifer sepanjang kisah dan kehadiran adik Ramon yang bagai bom di siang bolong.
Namun saya tetap puas kok. Endingnya manis dan romantis. Saya pun bisa menutup buku ini dengan bahagia.

Di dalam Cinta Sang Konsulen Spanyol banyak sekali istilah penyakit yang nggak pernah saya dengar. Tapi pembaca jangan khawatir nggak mudeng dengan nama penyakit dan istilah kedokteran yang tersebar dalam novel ini, karena semua dijelaskan dengan sejelas-jelasnya oleh duet Ramon-Jennifer. Mulai dari penyebab, akibat, efek, hingg cara penanganan dan penyembuhan, semua lengkap dipaparkan. Jadi sambil menikmati kisah cinta antara sang konsulen dan sang suster, pembaca juga disuguhi pengetahuan baru.

Secara keseluruhan, saya menyukai The Spanish Consultant's Baby ini. Ada banyak kekuatan yang bisa saya temukan di dalamnya. Tentang kerelaan seseorang untuk membuka hati lagi, tentang berdamai dengan masa lalu dan keberanian untuk melangkah, menyambut kebahagiaan yang baru. Setidaknya sebagai novel Harlequin yang biasanya cukup ringan dan fun, kali ini The Spanish Consultant's Baby memberikan kisah yang lumayan berbobot. Sebuah medical romance yang hangat dan manis. Saya rekomendasikan novel ini buat kalian yang menggemari kisah cinta berlatar dunia kedokteran.

Sabtu, 01 Oktober 2016

[Resensi: Yamaniwa - Netty Virgiantini] Menuntaskan Luka Masa Lalu

Judul buku: Yamaniwa (Ketika Cinta Bertemu Karma)
Penulis: Netty Virgiantini
Ilustrator: Innerchild
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 224 halaman
ISBN: 978-602-03-0017-7



BLURB

“Perselingkuhan tidak perlu alasan dan tidak termaafkan!”

Niwa tidak menyangka pengkhianatannya pada Yama, kekasih di masa lalu, harus ditebus dengan sangat mahal: hubungan cinta yang selalu kandas di tengah jalan.

Dalam sepuluh tahun, sudah lima laki-laki meninggalkannya. Bahkan menurut ramalan sahabatnya, ia bakal patah hati 995 kali lagi!

Namun yang terberat, Niwa menyadari sesungguhnya ia masih sangat mencintai Yama, tepat ketika pria itu muncul dan meminta Niwa membuatkan kebaya pengantin untuk calon istrinya. Apakah ini karma yang masih harus dibayar Niwa atau ini sekadar pembalasan dari Yama?

Jika memang ada karma cinta, Niwa ingin membayar semua dosa masa lalunya pada Yama, agar ia bisa segera move on dari pria itu. Tapi jika ini pembalasan... 


RESENSI

Tiba-tiba saja Yama muncul di modiste milik Niwa setelah mereka tak bertemu lagi selama sepuluh tahun. Dan pertemuan itu mengguncang Niwa. Karena setelah pengkhianatannya terhadapa Yama dulu, tak sekalipun Niwa melupakan tatapan terluka Yama. Niwa dihantui perasaan bersalah. Apalagi selama sepuluh tahun, hubungan cintanya selalu kandas. Era, sahabatnya, bilang itu adalah karma. Derita yang harus dirasakan Niwa karena telah melukai Yama. Menurut Era, Niwa harus meminta maaf pada Yama.
Dan kini Yama sendiri yang mendatangi Niwa. Namun tujuan kedatangan Yama, membuat Niwa terluka. Yama meminta Niwa menjahitkan kebaya untuk calon istri Yama. Dengan hati yang remuk, Niwa menyanggupi permintaan Yama. Namun tak urung, di hatinya terselip juga sebuah tanya. Apakah ini upaya Yama untuk membalas dendam?

---------------------------

"Kalau kita mencintai seseorang, apakah kita bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cintanya?" (hlm. 84)

Kamu pernah jadi korban perselingkuhan? Atau justru kamulah si pelaku perselingkuhan? Terlepas jawabanmu ya atau tidak, yang pasti, novel Yamaniwa ini menyorot dengan apik tema perselingkuhan dalam hubungan percintaan.

Jujur saya nggak suka novel dengan tema pengkhianatan alias selingkuh, karena hal ini membawa luka lama yang menyakitkan dan sulit sembuhnya. Maka pada awalnya saya jelas sebal setengah mati pada Niwa. Tanpa alasan yang kuat, Niwa begitu mudahnya mengkhianati Yama. Walau saat itu dia masih remaja labil yang lagi menthel-menthelnya, dan butuh kasih sayang yang nyata, tapi kan.... selingkuh itu jahat. Hiks.

Namun saya toh tetap mengikuti kisah ini, karena saya nggak punya pilihan selain terhanyut dalam alur kisahnya. Tentu saja karena gaya bertutur Netty Virgiantini yang selalu bisa pas porsinya. Hanya Netty Virgiantini yang membuat saya bisa kelepek-kelepek hanya karena kedua tokohnya saling tatap. Suasananya selalu terasa manis tapi juga nyesek. Dan tentunya karena saya dibuat bertanya-tanya dan berharap-harap cemas akan maksud tujuan Yama kembali mendatangi Niwa. Benarkah Yama menginginkan balas dendam?
Karena memang itulah yang saya harapkan. Saya mengharapkan sedikit banyak kisah ini akan seperti novel-novel harlequin favorit saya, dimana sang hero berniat balas dendam tapi akhirnya nggak mampu menuntaskan misi balas dendamnya karena ternyata masih cinta.
Tapi ternyata, jalan kisah Yamaniwa jauh lebih manis dan lebih gereget dari apa yang saya harapkan. Meski endingnya sudah bisa ditebak, tapi semua terbayar dengan adegan paling manis di akhir kisah. Dan ya, bisa dipastikan, saya mewek dong! Nangis di bagian ending ketika Yama akhirnya mengakui maksud tujuannya. Duh, Mas Yama.

Meski dasar kisah ini berasal dari perselingkuhan, tapi novel ini dipenuhi akan penyesalan Niwa dan bagaimana reaksi orang-orang di sekitarnya. Bahwa betapa bodoh dan salahnya Niwa karena telah mengkhianati Yama. Bahkan Era, sang sahabat pun menakut-nakuti Niwa dengan menyebut-nyebut tentang karma. Siapa yang menabur dia akan menuai. Yamaniwa memotret dengan baik fenomena perselingkuhan dan kesempatan kedua yang langka diberikan. Melalui Yama, Niwa, Era dan Agas, pesan moral tentang kedua hal itu tersampaikan dengan jelas.

Meski saya sebal dengan Niwa, tapi saya jatuh hati dengan Yama. Hahaha... sudah bisa diduga sih. Saya memang pencinta deretan cowok kalemnya penulis satu ini. Apalagi namanya Yama itu Yamadipati. Lagi-lagi nama favorit saya dalam pewayangan!
Yama yang kalem, dewasa dan nrimo. Gimana nggak bikin meleleh dengan sikapnya yang gentleman dan manis itu. Saya suka dengan caranya memperlakukan Niwa. Chemistrynya juga bagus dan saling mengisi.
Yang membekas dalam ingatan saya adalah adegan ketika Yama dan Niwa memilih lingerie. Kocak abiiss tapi maniiis. Tentu saja selain adegan paling mendebarkan di tangga modiste yang bikin saya mewek.

Selain Yama ada satu lagi tokoh favorit saya, yaitu Sisil. Konyol dan selalu bisa membuat suasana cair. Mulutnya yang blak-blakan itu mungkin perlu disambit, tapi dialah yang paling frontal menunjukkan kesalahan Niwa. Kehadirannya bukan sekedar pelengkap cerita, tapi dialah jiwa dalam novel ini. Makanya saya suka. Saya paling demen sama tokoh yang apa adanya dan ceplas-ceplos macam Sisil ini.

Overall, saya sukaaaa banget novel ini. Bukan hanya karena saya dibikin nangis, tapi juga ada arti tentang kesetiaan dan memaafkan dalam novel ini. Tentang pengkhianatan. Dan tentang kesempatan kedua. Kisah yang mendalam tapi ditulis dengan begitu apik dan rapi sehingga menjadi sebuah cerita yang manis.
 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon