Senin, 10 April 2017

6 Pengalaman Pertama Mencecap Buku Mereka

Holaaa... bertemu lagi dengan saya yang mulai malas ngisi blog ini. *sembunyi di balik taplak meja* Saat ini saya terpaksa nongol demi ikut seru-seruan mengisi acara yang digagas divisi event BBI. Biar kelihatan rajin gitu. Wkwkwk~

Setahun ini (April 2016 - Maret 2017) beberapa kali saya membaca buku karya penulis yang baru bagi saya. Baru dalam artian sebelumnya saya belum pernah membaca karyanya. Jadi semacam pengalaman icip-icip pertama. Ada yang berkesan dan bikin saya langsung suka, ada juga yang bikin saya mengerenyit dan merasa hilang selera.
Saya memang nggak keberatan bereksperimen mencicip karya penulis baru, apalagi jika penulis atau karyanya berseliweran di obrolan-obrolan sesama pencinta buku ataupun jelas-jelas bukunya direkomendasikan seorang teman.

Berkaitan dengan perayaan ulang tahun Blogger Buku Indonesia yang ke-6, maka saya ingin menuliskan tentang pengalaman pertama saya mencicipi karya 6 orang penulis yang saya anggap berkesan bagi saya. Pilih angka enam karena ini kan ultah ke-6, biar matching lah. ^^
Nah siapa saja mereka dan buku yang mana yang jadi pengalaman pertama saya? Inilah mereka:



1. Penelope Ward & Vi Keeland

Saya mencicip hasil duet kedua penulis ini pertama kali melalui novel mereka, Cocky Bastard. Ini pengalaman pertama saya yang langsung bikin saya readgasm saking nikmatnya membaca tiap halamannya. Saya pernah mengulas Cocky Bastard di sini.
Reaksi saya seusai membaca karya mereka adalah... menimbun. Hahahaha... Ternyata walau saya kesengsem berat dengan gaya bercerita mereka, saya masih belum bisa move on dari Chance si mulut kurang ajar.
Saya memang mendapat kesan pertama yang luar biasa terhadap karya Penelope Ward & Vi Keeland, sayangnya ini juga merupakan satu-satunya karya mereka yang saya baca setahun ini. Semoga saya punya timing yang pas untuk membaca karya mereka lagi. Soon. :)


2. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Di Tanah Lada merupakan perkenalan pertama saya dengan karya penulis luar biasa ini. Saya langsung dibuat tercengang dan penasaran dengan karya-karyanya yang lain. Petualangan saya menelusuri karya Ziggy berlanjut ke San Francisco dan Seaside. Ketiga buku tersebut pernah saya ulas di sini.
Tiga kali membaca karya penulis ini, tiga kali pula saya mendapati feel yang berbeda-beda. Yang paling bikin saya merinding tentunya saat membaca Seaside. Ini yang membuat saya mengagumi Ziggy dan menjadikannya penulis yang karyanya selalu ingin saya baca.
Oh ya saya saat ini masih berusaha menyelesaikan membaca Semua Ikan di Langit yang... eung... membuat saya syok bahkan sejak lembar pertama. XD


3. Annisa Ihsani

Jujur saya baru berkenalan dengan karya Annisa Ihsani di tahun ini melalui Teka Teki Terakhir. Saya sudah jarang melirik teenlit lagi, apalagi penulis baru. Seringnya saya hanya membaca lini atau genre ini jika penulisnya sudah saya suka gaya bertuturnya. Tapi mencoba membaca karya Annisa Ihsani yang satu ini ternyata nggak bikin nyesel. Seru, asyik dan nggak melulu tentang cinta-cintaan. Gaya bertuturnya yang enak langsung bikin saya betah, kesederhanaan tokohnya bikin saya nyambung. Itu sebabnya saya masih ngidam buku Annisa Ihsani yang lain yang belum juga bisa saya temukan. Semoga kami bisa segera berjodoh. Review Teka Teki Terakhir pernah saya tulis di sini.


4. Skye Warren

Penulis erotica romance yang satu ini baru saya cicipi akhir tahun lalu. Pertemuan saya dengan karyanya karena penulis ini menulis retelling dongeng Beauty and The Beast versi erotica-nya. Saya yang penyuka kisah klasik gadis cerdas cantik bertemu pria buruk rupa & galak tentunya menyambar kesempatan ini. Nggak disangka saya suka dengan gaya bercerita Skye Warren dan menikmati membaca keseluruhan seri Beauty yang saya ulas di sini.
Sayangnya ketika saya mencoba membaca buku lain karya Skye Warren yang bergere dark romance, saya nggak sanggup. Hahaha.


5. Yusi Avianto Pareanom

Meledaknya kepopuleran Raden Mandasia membuat saya jadi tertarik juga untuk membaca kisah yang diganjar Khusala Sastra Khatulistiwa 2016 ini dan menuliskan reviewnya di sini. Saya bersama beberapa teman pun janjian untuk baca bareng buku yang lumayan tebal ini. Seru tentu saja. Dan saya sayang sekali untuk menamatkannya. Bukan karena kisahnya yang kaya akan dongeng dan legenda, tapi juga betapa piawainya Yusi Pareanom membawa saya terdampar dari satu peristiwa ke peristiwa yang dialami Sungu Lembu. Anjing benar.
Tentunya pengalaman ini membuat saya jadi penasaran terhadap penulis satu ini dan memburu karya-karya lainnya yang juga diterbitkan secara indie, sehingga harus ekstra keras mencarinya.


6. Brahmanto Anindito

Saya menyukai sejarah, terutama sejarah Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang pernah bergejolak di negeri ini selalu menarik rasa ingin tahu saya. Maka ketika Brahmanto Anindito melahirkan sebuah novel thriller militer yang berlatarkan situasi pemberontakan di Papua, saya jelas tertarik. Membaca Tiga Sandera Terakhir—yang pernah saya ulas di sini—sungguh menjadi pengalaman pertama saya mencicipi karya Brahmanto Anindito yang mengasyikkan. Saya menikmati cara berceritanya dan bagaimana ia membuat saya berdebar di tiap adegannya. Rasanya sayang sekali harus cepat-cepat mengakhiri novel ini. Yang jelas saya ingin membaca karya-karyanya lagi.


Demikianlah enam penulis yang membuat pengalaman pertama saat berkenalan dengan karya mereka terasa berkesan bagi saya. Ibaratnya mereka membuat saya jatuh cinta di pertemuan pertama. #eaaaaakk
Nah, bagaimana dengan kamu? Siapa penulis yang bikin kamu jatuh cinta di pengalaman pertama? :))


10 komentar:

bintang permata mengatakan...

Annisa Ihsani emang pantes sih masuk jejeran penulis terbaik. Pertama kali baca bukunya yaitu A Untuk Amanda. Tapi kalau untuk Ziggy, aku kok belum begitu sreg ya. Pertama kali baca bukunya yaitu San Francisco, tapi ya menurutku biasa aja sih. Tapi meski begitu, aku tetep pengin baca beberapa bukunya yang sempet hype yaitu Jakarta Sebelum Pagi sama Semua Ikan Di Langit

Alvina Ayuningtyas mengatakan...

aku saranin baca di Tanah Lada aja deh ketimbang dua buku yang Jakarta ama Ikan itu, ciyus.

Alvina Ayuningtyas mengatakan...

kamu pasti copas ya namanya Ziggy? *nuduh XD Aku juga kaget di Ikan kok bisa sebeda itu dia kalau nulis fantasi. antara pengen nyerah tapi kok ya sayang. Ayo mbaa kamu bisaaa.

nurina widiani mengatakan...

Bener banget kata Vina, Bin. Di Tanah Lada atau Seaside aja dulu. :))

nurina widiani mengatakan...

Kagak. Aku udah hapal & bisa nulis namanya tanpa nyontek atau kopas *nyombong* yoih.. ntar kalo mood terusin lagi julung²nya XD

Pauline Destinugrainy mengatakan...

Aku ga sanggup baca buku ikan. Mungkin karena saya lebih suka daging daripada ikan #eh
Tapi Tanah Lada suka sih

Dhila - Kilas Buku mengatakan...

duh i won't take ziggy wntah siapa namanya itu anymore. ga cocok sama seleraku. baca seaside itu udah cukup dulu. nanti lagi aja entah kapan baca buku dia lagi.

Ren mengatakan...

MbaIiiin..kalau suka erotica, mesti banget baca Olivia Cunning deh. Itu HOT BANGET :)))). Atau Tiffany Reisz juga bisa. Shiloh Walker yang lama - lama juga oke, hohoho

Duh..jadi pengen baca erotica, tapi nanti endingnya aku jadi meluk guling :P

justaveragereader mengatakan...

Aku sukaaaa sama Annisa Insani. Tapi kalo Ziggy, kok masih awang2en mo nyoba baca ya... Timbun dulu di Scoop hihihihi...

Frida Kurniawati mengatakan...

No. 3 sama no. 5 aku juga pertama kali kenalan tahun ini, MMbak :D

Poskan Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon