Minggu, 05 Juni 2016

[Resensi: Sabtu Bersama Bapak - Adhitya Mulya] Pesan-pesan Sang Bapak untuk Anak-anaknya


Judul buku: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penyunting: Resita Wahyu Febiratri
Penata letak: Landi A Handwiko
Desainer sampul: Maxima Pictures
Penerbit: Gagas Media
Tahun terbit: 2016 (cetakan kedua puluh satu, cetakan pertama tahun 2014)
Tebal buku: 278 halaman
ISBN: 979-780-721-5



BLURB

Video mulai berputar.

"Hai Satya! Hai Cakra!" sang Bapak melambaikan tangan.
"Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit.
Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.
...
Mungkin Bapak tidak dapat duduk di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.

Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don't let death take these, away from us.
I don't give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian."

Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan... tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.


RESENSI

Cakra Garnida, baru saja genap berusia 30 tahun, seorang bankir muda yang melesat dan berhasil menduduki jabatan Deputy Director.  Di usianya yang sudah sangat matang itu sayang kisah percintaannya tak sesukses karirnya. Menyatakan cinta 3 kali dan ditolak 4 kali, Cakra kerap menjadi target pertanyaan "kapan menikah?"
Kemampuannya mendekati perempuan memang minim, seminim penampilannya pula, tapi ada alasan lain mengapa Cakra belum juga mencari perempuan. Cakra ingat pesan Bapak.
Kini saat di kantornya hadir seorang perempuan cantik bernama Ayu, bisakah Cakra memenangkan hatinya?

Satya Garnida, sekarang berusia 33 tahun dan menjadi seorang geophysicist untuk NOG (Norse Oil og Gas). Bapak tiga anak yang hanya bisa bertemu dengan keluarganya di akhir pekan. Namun bukan pertemuan yang menyenangkan bagi Rissa, sang istri dan anak-anaknya. Selalu ada yang salah di mata Satya dan dikeluhkannya; masakan Rissa yang kurang ini itu, Ryan yang tidak bisa berhitung, Dani yang belum bisa berenang juga Miku yang masih mengompol. Hingga Rissa tak tahan lagi dan mengirimi Satya email yang membuka mata Satya. Pria itu sadar ia telah terlalu menuntut dan membuat anak-anaknya ketakutan. Hanya satu yang bisa menyelamatkan Satya, pesan-pesan dari Bapak.
Pesan-pesan yang disampaikan bapak mereka sebelum meninggal, yang dibuat dengan harapan agar Satya dan Cakra tetap tumbuh besar tanpa kehilangan tempat bertanya. Pesan-pesan yang sedari kecil mereka tonton melalui layar televisi setiap sabtu sore.
Kini berbekal pesan-pesan itu, Cakra siap mencari seorang perempuan perhiasan dunia akhiratnya, dan Satya siap membenahi hubungannya dengan istri dan anak-anaknya. Agar Bu Itje yang selama ini dengan tegar mendampingi mereka, bisa tersenyum dan terlengkapi.

********

Novel Sabtu Bersama Bapak dengan cover film ini saya dapat sebagai hadiah Reading Challenge di bulan Februari dari Mbak Yuska. Meski sudah pernah membacanya di rentalan buku, tapi saya naksir berat sama cover versi film ini. Jadilah saya memasukkan Sabtu Bersama Bapak dalam wishlist saya. Dan saking excited-nya saya langsung re-read novel ini begitu sampai di tangan saya (setelah membaca Detektif Conan tentunya). Tapi kali ini... saya membaca ulang nggak sendirian, ada suami saya yang ada di samping saya dan mendengarkan saya membaca ^^

Dalam bahasa Jawa, Bapak memiliki arti "bab opo-opo pepak" sehingga bisa dibilang bahwa bapak adalah tempat bertanya, tempat untuk menemukan segala jawaban. Meski itu konsep jaman dulu karena dulu bapaklah yang lebih aktif bekerja dan bersosialisasi di luar, sedangkan ibu hanya konco wingking yang tahunya hanya dapur, kasur dan sumur. Tentunya berbeda dengan masa sekarang di mana ibu pun pasti juga canggih dan bijak dalam menjawab pertanyaan anak-anaknya.
Pun tetaplah saja, bapak adalah sosok yang penting yang memiliki jawaban dengan logika dewasa yang dibutuhkan anak-anak. Tapi bagaimana jika usia menjadi penghalang bagi seorang bapak untuk "ada" dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sang anak?
Bagi saya, ini adalah premis yang menarik dan cerdas. Seorang suami terlebih bapak memang harus bisa dua langkah di depan. Seperti Gunawan dalam kisah ini.

Saya mendapati emosi saya dengan mudahnya diaduk oleh mixer buku ini. Sekali waktu saya dibuat sedih sampai nangis, sekali waktu saya merasa terharu, speechless, dan kadang senyum-senyum simpul—terutama membaca bagian kisah Cakra. Sungguh saya merasakan "aaah", " ooooh", "ihiiik" dan "hueeek" moment saaat membaca kisah Cakra XD

Alur cerita jelas dan rapi, layout-nya menarik dan penuturannya begitu renyah. Pengkarakterannya terasa kuat dan punya suara yang berbeda-beda.

Novel ini benar-benar paket komplet mewakili tiap elemen dalam keluarga. Ada seorang ibu dan seorang istri dalam diri Bu Itje, ada seorang suami dan ayah dalam diri Pak Gunawan, ada seorang anak laki-laki, suami sekaligus ayah dalam diri Satya, ada seorang anak laki-laki, jomblo yang jadi pria tuna asmara dalam diri Cakra, ada seorang istri, menantu dan ibu dalam diri Rissa, ada seorang perempuan yang bimbang dalam memilih pasangan hidup dalam diri Ayu.
Kisah mereka saling terjalin dalam sebuah harmoni yang manis dan menyentuh.

Apalagi ada nilai parenting yang terselip dalam novel ini. Ada moral-moral lama yang dikritik dengan cantik di sini. Saya sih setuju.
Secara keseluruhan saya rekomendasikan buku ini buat siapa saja. Harus. Banget. Baca. Buku. Ini. *tanda seru, tanda seru, tanda seru*
Terutama buat cewek-cewek yang sedang bingung soal jodoh, yakin deh seleksi itu perlu, cara yang dilakukan Ayu penting banget demi menemukan pria yang berkualita istimewa ;)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon