Jumat, 18 Desember 2015

[Blogtour: Review + Giveaway] Cinderella Teeth - Sakaki Tsukasa


Judul buku: Cinderella Teeth
Penulis: Sakaki Tsukasa
Penerjemah: Nurul Maulidia
Penyunting: Nyi Blo
Proofreader: Dini Novita Sari
Design Cover: Bambang 'Bambi' Gunawan
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun terbit: Oktober 2015
Tebal buku: 272 halaman
ISBN: 978-602-7742-63-5



BLURB

Saki ditipu oleh ibunya sendiri hingga gadis itu harus bekerja di sebuah klinik dokter gigi.
Padahal, ia benci dokter gigi!

Namun, musim panas itu akan menjadi musim panas yang berarti bagi Saki.
Pasien-pasien yang berkunjung ke klinik tersebut ternyata memiliki rahasia-rahasia unik. Belum lagi, seorang pemuda di klinik tersebut mulai menarik perhatian Saki.

Dapatkah Saki menghadapi phobia-nya, pasien-pasien, dan cinta yang datang bersamaan dalam satu musim panas?

REVIEW

Saki benci dokter gigi. Pengalamannya di masa kecil yang harus berurusan dengan dokter gigi yang tidak ramah sehingga ia kesakitan saat diperiksa membuatnya trauma. Itu sebabnya ia tak mau berurusan dengan klinik dan dokter gigi.
Hingga tiba waktunya libur musim panas dan Saki harus bekerja paruh waktu untuk mengisi liburan. Ibu Saki menyarankan Saki untuk menjadi resepsionis di tempat seorang kenalan. Saki setuju. Tapi betapa kagetnya Saki saat tempat kerja paruh waktunya adalah Shinagawa Dental Clinic, tempat pamannya yang dokter gigi bekerja. Tak bisa kabur, Saki pun pasrah bekerja sebagai resepsionis di tempat itu.
Di sana Saki bukan hanya bekerja bersama dokter gigi tapi juga perawat gigi, tekniker gigi dan seorang pegawai administrasi klinik. Bersama mereka, Saki berusaha memenuhi kepuasan pelanggan yang datang untuk merawat gigi.
Bermacam tipe pelanggan dijumpai Saki. Bukan hanya tipe yang kelewat ramah tapi juga tipe pemarah, tipe arogan dan tipe suka terlambat. Selain mendapat tugas untuk mewawancarai gaya hidup para pelanggan , Saki juga mendapat tantangan dari Yotsuya, si ahli tekniker gigi, untuk menganalisis setiap pelanggan yang datang.
Akankah trauma Saki sembuh? Dan bagaimana dengan cinta yang sering datang di musim panas? Bisakah Saki menghadapi para pelanggan dengan baik sambil merasakan debar-debar cinta?

-----------

Saat membaca judulnya pertama kali, saya merasa heran. Cinderella Teeth ini apa maksudnya ada gigi Saki yang tanggal lalu ditemu seorang pangeran dan sang pangeran mencari gigi siapa yang cocok dengan gigi temuannya? Ahahahaaa nggak mungkiiiiiin ya, kan?

Membaca novel ini momennya pas sekali. Pas karena saya pun sedang sakit gigi. Dan seperti Saki, saya benci dokter gigi. Dokter gigi yang saya temui saat kecil sinisnya minta ampun dan menceramahi saya dengan galak. Huhuuu~
Itu sebabnya saya merasa nyambung dengan cerita Cinderella Teeth ini.

Novel ini terasa menarik karena sangat 'berisi'. Banyak pengetahuan tentang gigi yang bisa kita dapatkan. Dan yang lebih seru adalah pertunjukan analisis *tsaah macem Detektif Conan aja* yang ditunjukkan Yotsuya. Ternyata masalah dengan gigi pun bisa menjadi penyebab orang memiliki sifat tertentu.

Diceritakan dari sudut pandang Saki sebagai orang pertama, cerita mengalir maju dan enak dinikmati. Penulis banyak memberi detail yang rapi di dalam novel ini.

Saya suka dengan karakter Saki yang agak-agak telmi. Tapi bisa dibilang Saki ini cewek yang pantang menyerah dan semangat juangnya tinggi. Khas karakter orang Jepang gitu. Dan senang rasanya melihat perkembangan karakter Saki dari yang tadinya pasif jadi lebih berani lagi.
Yotsuya merupakan cowok kalem dan susah bersosialisasi, tapi menjadi pengamat yang teliti. Takjub banget ketika Yotsuya tiba-tiba memberi petunjuk untuk membentuk analisis.
Karakter tokoh dalam novel ini memang banyak, tapi semua berbeda dan unik-unik. Pastinya asyik kalau ada klinik gigi yang berisi karyawan seperti karyawan di Shinagawa Dental Clinic ini.

Kavernya lucu banget. Saya memang selalu suka dengan kaver dari Bambi karena pasti unyu dan menarik.
Terjemahan novel ini juga bagus, nggak terlalu kaku tapi tetap mencerminkan kesopanan orang-orang Jepang dalam berbicara.

Saya rekomendasikan novel J-lit ini karena bukan hanya romansa saja yang akan pembaca dapatkan, tapi juga bagaimana cara menghadapi trauma terbesar kita dan bagaimana kita tetap sabar dan tabah pada perilaku orang lain.

***********GIVEAWAY TIME***************



Dalam blogtour Cinderella Teeth di blog ini saya punya dua eksemplar novel Cinderella Teeth dari Penerbit Haru untuk dibagikan kepada dua orang yang beruntung.

Syaratnya mudah saja:

1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia.
2. Follow akun twitter @KendengPanali dan @PenerbitHaru
3. Share giveaway ini dengan hashtag #CinderellaTeeth dan jangan lupa memention kedua akun di atas.
4. Boleh banget kalau mau follow blog ini via GFC ataupun email (nggak wajib tapi saya bakal seneng banget. Hehe~)
5. Jawab pertanyaan berikut di kolom komentar dengan menyertakan Nama, Akun twitter dan alamat email.
Pertanyaannya:

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi. Cerita yang unik dan menarik akan berkesempatan mendapatkan novel ini.

6. Giveaway dibuka mulai hari ini dan berakhir tanggal 31 Desember 2015 pukul 23.59 WIB.
7. Yang terakhir good luck, ya :)

48 komentar:

Rizki Oktavia mengatakan...

Nama : Rizki Oktavia
Twitter : @rizkorea
Email : rizki_oktavia@ymail.com

Ketika bertemu atau ada keperluan dengan dokter gigi,aku tidak merasa takut ataupun senang.. flat aja gituuu.. tapii,aku merasakan suatu debaran di jantungkuu #ea XD
Terakhir ke dokter gigi bulan Oktober lalu untuk keperluan pembersihan gigiku yang berkarang (alias jigong yang sudah keras) .Yang mana karang gigi ini menyebabkan gigiku suka berdarah saat sikat gigi *kata dokter yaa~*.
Gigiku dibersihkan oleh alat si doker gigi yang aku tidak tau apa namanya.. rasanya saat membersihkan karang gigi ituuuuu.. nyeri-nyeri aja gituu :D
Saat itu aku dikomenin oleh dokter giginya,tapi beliau bukan komen tentang gigiku melainkan karena aku lupa membawa sapu tangan atau tissue. Aku baru 'ngeh' kalau ternyata barang tsb wajib dibawa saat ke dokter gigi! *okesip*
Setelah gigiku bersih dari karang,rasanya itu seperti punya gigi baru lhooo~ gigiku terasa fresh(?) #senyumpeps*dent XD
Dokter gigi itu juga bilang bahwa aku harus kembali lagi 1 tahun kemudian. Eits, bukan karena dia kangen sama aku *hihihi* ,tapi ini untuk rutin pembersihan karang gigi. (y)
Alhamdulillah gigiku bagus semua alias tidak ada yang bolong karena aku sangat menyayangi gigiku seperti aku menyayangi kedua orang tuaku <3 :)

Sekian.
Terima kasih ^^

Khoirunnisah mengatakan...

Nama : Khoirunnisah
Twitter : @NisahK16
Email : khoirunnisah20@gmail.com

Jujur aku tuh paling malas berurusan sama yang nama'a ketemu dokter, bukan karena takut tp karena ga ad waktu *beeeh gaya xD

Sampai sewaktu ketika di pertengahan november kemarin, gigiku sakit (T^T) dipaksa tetep masuk kerja dan ngampus ternyata malem'a tambah sakit jadi ku putuskan untuk ke dokter gigi besokan'a. Setelah diperiksa ternyata ada gigi yang bolong dan baru ketahuan setalah gigi-gigi ini dibersihkan dari karang wkwkwkk...

Aku baru tau, kalau penambalan gigi itu harus beberapa kali balik ga langsung selesai. Buka pasang tambalan tiap minggu, sampai nanti dipermanen tambalan'a. Total aku sudah 6 kali ke dokter gigi, dan minggu depan terakhir (kata dokternya sih gitu)dan semoga aja memang benar yang terakhir hihihii...
Sempet mikir juga, pasien yang berobat gigi itu harus beberapa kali balik jangan-jangan dokternya sampai hafal wajah pasiennya itu terkadang pengen nanya langsung ke dokternya hehehee

Sekian pengalamanku dengan dokter gigi, semoga tidak sering-sering lagi berkunjung ke dokter gigi :D

Feeny mengatakan...

Nama : Feeny
Akun Twitter : @feenyzhang
Email : feeny_0102@yahoo.com
Link Share : https://twitter.com/feenyzhang/status/677786443570421760

"Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi."

Pengalaman ke dokter gigi yaaaa.
Dulu pas aku masih duduk di bangku SMP *sekarang aku udah SMA ya* gigi aku kan agak bolong dikit tuh.
Jadilah aku diajak mama ke dokter gigi, biar cepat-cepat dibenerin atau ditambal giginya. Daripada bolong pakai gigi palsu kan?

Pas di jalan, masih tenang gitu. Gada ketakutan yang luar biasa.
Nah pas udah nyampai, udah mulai dag dig dug serrrrrr
Apalagi pas ada suara mesin yang bzinggg bzing yang serem itu ditambah ada anak kecil yang keluar dari ruangan sambil nangis histeris.

Nah makin takutlah aku, jadi pengen cepat-cepat ngacir dan pergi dari tempat ini secepatnya.
Tapi yang namanya takdir siapa yang bisa merubahnyaaaa.
Dipanggillah namaku ke ruangan dokter gigi itu.

Aku disuruh duduk di kursi yang penuh dengan alat-alat--yang bagi aku keliatan serem banget-- mengelilinginya.
Dan ternyata gak sakit sama sekali. Cuma suaranya aja yang seremin.

Ada sih satu part yang paling sakit, that is : disuntik.
Dokternya nyuntik tanpa aba-aba, tanpa pemberitahuan. Langsung ajaaaa.
Aku yang udah nahan biar gak nangis, mendadak keluar air mata tanpa disadari. Ugh maluu ><

Okeyyyy, dan ternyata itu semua belum selesai. Beberapa hari lagi aku harus ke sana lagi untuk meneruskan perawatan pada giginya.
Setelah gigi ku yang satu ini terurus, dokternya menyuruhku untuk datang lagi mencabut gigi bolongku yang lainnya.
Sampai sekarang aku tidak pernah pergi lagi, i'm scared.
Aku takut disuntik lagi :'(

Tapi sekarang kalau dipikir-pikir. Sebenarnya kita harusnya senang pergi ke dokter gigi. Bukannya malah takut.
Karena dengan pergi ke dokter gigi, gigi kita jadi makin cantik dan rapi, tidak ada sakit-sakit gigi lagi, senyumpun terlihat lebih manis dengan gigi yang rapi :)
Hebat banget dokter gigi.

nurina yanti mengatakan...

Nama: Nur Inayanti
Twitter: @shikshincloud
Email: nurina0806@gmail.com

Waktu kecil gigi ku sering goyang jadi mesti dicabut. Nah aku paling takut kalo ke dokter gigi. Bukan dokternya yang bikin takut tapi peralatan di ruangannya itu yang bikin ngeri. Apalagi pas gigiku dicabut uh! Sakit banget.
Oya ada pengalaman lucu juga, setelah dewasa nih gigi bawah deket geraham kan bolong dan sering bikin sakit gigi. Akhirnya ke dokter gigi untuk cabut gigi itu. Ga begitu sakit karena udab di bius sebelumnya. Cuma obat biusnya itu masih kerasa dan bikin susah gerakin bibir dan sekitarnya hehe refleks tangan megang bibir karena kok ini bibir berat dan susah digerakin. Terus dokternya lihat dan bilang "kenapa? Mau jatuh ya bibirnya?" Haha kocak banget dokternya!
Dari situ udah ga anti pati lagi sama dokter gigi. lagipula emang kita harus sering periksa gigi kan ^^

sary choi mengatakan...

Nama : Sari Rizki
Twitter : @ryeroro
Email : pappermint94@gmail.com

kejadian yang paling membekas diingatan ku itu waktu masih kecil aku pergi ke klinik dokter gigi dengan rasa takut pastinya. konyolnya abis gigi aku dicabutin aku malah minta sama dokternya buat ngasih balik gigi aku yang udah dicabut itu. dokternya sempet bingung, tapi karena aku terus merengek akhirnya dia ngasih gigi ku yg udh dicabut itu dalam bungkusan plastik.
mungkin dulu aku terlalu terpengaruh sama cerita-cerita konyol teman-temanku yang katanya kalau gigi dibagian bawah yang copot harus dibuang keatas, kalau gigi atas yang copot giginya harus di buang kebawah.. nah waktu itu yang dicabut gigi bagian bawah ku, jadi aku takut-takut kalau gigi ompongku nantinya malah tumbuh terbalik karena si dokter ga buang bangkai gigi ku ke atas. jadi begitu pulang kerumah, dengan erornya aku membuang gigi ku itu dengan melemparnya keatas genting rumah tetangga ku...
haha aku waktu itu aku masih terlalu kecil, masih terlalu eror, dan masih terlalu bodoh.. kalau dingat-ingat malu rasanya.

Naning Pratiwi mengatakan...

Nama : Naning Pratiwi
Akun Twitter : @chelseas_lovers
Email : chelsea_lovers83@yahoo.com
Link Share : https://twitter.com/chelseas_lovers/status/678073686927142912

Ehm. Dokter Gigi ya,...
Ahh. Dari kecil aku tidak pernah menyambangi dokter gigi. Kalaupun harus pergi, mending sakit aja, tiduran di kamar yang penting nggak dikasih obat yang pahitnya minta ampun atau disuntik pake jarum :D :D
Jadi ya.. Belum pernah kenalan sama pak atau bu dokter gigi. Tapi, jangan sampek ya.. :D :D Dan aku akan berusaha menghalangi pertemuanku dengan para dokter gigi itu.
Karena, aku pernah mendengar cerita temanku yang katanya pak dokternya itu asal aja mengobatinya. Giginya sakit, tapi kata pak Dokter nggak pa pa. padahal bengkak. Nah..
Disuruh bolak-balik pula. Kan, nyebelin :D :D

desty mengatakan...

Nama : Desty
Akun twitter : @destinugrainy
Email: destinugrainy@gmail.com

Aku paling benci ke dokter gigi. Karena dari kecil nggak pernah dibiasain periksa gigi. Ke dokter gigi itu yah paling buat cabut gigi doang. Kebetulan ada tetangga rumah yang juga dokter gigi, dan papa mamaku cukup akrab dengan beliau. Kadang malah kalau cabut gigi digratisin sama beliau.

Suatu waktu gigi gerahamku mau dicabut. Itu aku masih SD kelas 2. Karena papa mama ndak bisa ngantarin, aku diantar sama tanteku. Setelah cabut gigi selesai, aku langsung minta pulang. Ya kesel, ya sakit, ya pengen nangis (tapi malu)... Pokoknya pengen pulang. Ndak tahulah tanteku ngomong apa sama si dokter (aku sih udah yakin bakal digratisin sih...). Jadi waktu tanteku udah ngajak pulang, dia nyeletuk.."Eh, Desty... bilang apa sama Om dokter?". Aku nyamebr aja, "pulang dulu, Om..."
Dan tanteku sama si dokter ngakak ketawa. Trus si dokternya bilang "sama-sama..". Baru deh aku nyadar harusnya kan bilang terima kasih gitu ya...
Nah, suatu waktu aku udah gedean dikit nih... SMPlah kalo ndak salah. Mau tambal gigi. Datang berdua sama mama. Setelah selesai, (karena udah gede dong...) aku basa-basi nanya, "jadi berapa om biayanya?". Eh si dokter ketawa aja... Dia bilang, "terima kasih saja. Nanti kalau kamu sudah kerja baru bayar".
Sampai sekarang kalau ketemu sama beliau aku masih suka malu-malu. Soalnya pas udah kerja, nggak pernah lagi ke beliau. Lah saya makin parno (dan malas) ke dokter gigi sih... :))

ahmad reza mengatakan...

Nama : Aulia Resky
Twitter : @AuliaaRez
Email : rezaahmad524@gmail.com

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi. Cerita yang unik dan menarik akan berkesempatan mendapatkan novel ini.

Dokter gigi? Hmmmm, baru beberapa hari ini aku ke dokter gigi. Dokter giginya tuh kenalan kakak aku. Katanya sih seniornya dulu. Kebetulan orangnya cowok, tampan, ramah dan kebetulan dia memiliki nasib yang sama denganku, jomblo. Ketika pertama kali melihatnya jujur agak salting, dag dig dug serrrrr:v Pas di suruh buka mulut, jujur agak malu ga seperti biasanya yang udah ga malu-malu kucing lagi:3 Aku takut dia bakal ilfeel ngeliat gigi aku yang ga sebagus dirinya. Jujur aku seneng banget seumur-umur dokter giginya masih muda, cakep lagi. Senyumanya beeuuhhhh, mancay. Setelah selesai, aku ngobrol sebentar dan nanyain kenapa masih jomblo? Kakak kan ganteng^^ *Modus* katanya dia belum dapet yang pas terus kakak aku dateng malah ngejawab kalau dia GAY. Sontak tiba-tiba aku kena serangan jantung kecil-kecilan dan wajah sudah memerah seperti tomat-_- dan bodohnya aku menjatuhkan alat-alat medis yang berada di dekat meja. Temen kakak aku ngebantu, sedangkan kakak sendiri malah ketawa. Aku berharap kalau kakak aku ngibul. Tapi ternyata ga ngibul, si calon doai malah ngeluarin sifat aslinya yang agak lekong:v di bilang "Aaaahh kamu mah gitu! Jangan di sebar atuh, emang salah yaa kalau suka sama cowok?" Dalam hati aku hanya merapalkan mantra-mantra agar tak jadi suka, pokoknya tak jadi suka. Akhirnya aku hanya bisa cemberut sampai aku pulang tapi yang bikin bete, si calon doai eehhh bukan temen kakakku itu malah nyolek pipi aku, terus bilang "Hati-hati dede emeesshhh" jujur serasa mau muntah-_-" sekian pengalamanku. Arigatou Gozaimasu^^

dewa banpos mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Rin Herlina mengatakan...

Nama:Rin
Twitter: @RinShoak
Email : Tomoyo.rin@gmail.com

Pengalaman dengan dokter gigi itu sangat luar biasa, luar biasanya karena kebetulan si dokter giginya jutek abis. Mungkin lagi dateng bulan kali ya dokter cantiknya. heheee.... sebulan yang lalu pertama kalinya beraniin diri dateng ke dokter gigi, waku itu giginya sakit banget ga bisa makan selama seminggu, maklum giginya bolong dan sakitnya itu gak mau lagi, gak kuat, kalau kata Megi Z lebih baik sakit gigi daripada saki hati, kalau bagi aku lebih baik sakit hati daripada sakit gigi. Nah, selama ini kn yang ada di kepalaku kalau cabut gigi itu pake obeng pekakas yang suka di tukang bangunan, eh, taunya pas cabut gigi kemaren, ternyata bukan seperti itu. Hahaaaa.... imajinasi aku berlebihan banget ya. Sebelum dicabut disuntkin obat bius dulu di gusinya tapi gak sakit sama sekali, ketika dicabut pun aman gak sakit. Alhamdulillah, seneng banget pas giginya udah dicabut. Aku bebas dari skait. Jerit hatiku, tapi eh, ko pas mau ke kasir tiba-tiba nyut-nyutan, eh ko sakit. Oh my God! ternyata sakitnya itu dateng setelah gigi dicabut, dan selama seminggu itupun gak bisa makan enak, hanya bubur bungkus yang makannyapun ditelen langsung. dari sanalah aku sadar bahwa gigi juga harus dirawat seperti wajah sendiri. Walau sakit gak bikin kapok pergi ke dokter gigi, walau selanjutnya gak mau ketemu dokter jutek itu lagi, mending ganti jadwal jam berobatnya.

Saharani Indriyanti mengatakan...

Nama : Saharani Indriyanti
Akun twitter : @saharani01
Alamat email : ranikurniawan26@gmail.com

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi. Cerita yang unik dan menarik akan berkesempatan mendapatkan novel ini.

Pengalaman dengan dokter gigi ya =u=)a
Gak ada yang menarik sih menurut aku + aku juga jarang ke dokter gigi :'D
Terakhir ke dokter gigi udah beberapa tahun yang lalu buat cabut gigi. Waktu nama aku dipanggil gak ada rasa takut, dokternya juga ramah banget^^
Waktu dicabut sakitnya gak terasa, trus pas udah selesai aku dinasehatin sama dokternya buat rajin" sikat gigi :D

Ayu Arista mengatakan...

Nama : Ayu Arista
twitter : @AyuArista16
email : ayuarista805@yahoo.co.id
follow via GFC : Ayu Arista
Link share : https://twitter.com/AyuArista16/status/678423943510757377
Pertanyaannya:

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi.

~pengalaman saya dengan dokter gigi >>>
dulu waktu SD saya pernah ke dkter gigi untuk dicabut gigi, saat itu saya takut sekali, padahal setelah dicabut tidak terasa sakit sama sekali.. hehe..

tapi sekarang karena pandangan ku tentang dokter gigi sama sekali tidak menakutkan...

terimakasih giveawaynya^_^

Eka Sasie mengatakan...

Nama: Eka Sasining Putri
Akun Twitter: @cha_ichie
e-mail: ekasasie@yahoo.co.id

Sebenarnya kalau disebut ke klinik dokter gigi sih kurang tepat karena nyatanya aku hanya pergi ke puskesmas. Lantaran malas pergi jauh-jauh, sekaligus memang aku tidak memiliki link yang bagus untuk klinik semacam itu, aku tidak perlu berpikir dua kali saat berangkat.
Waktu itu aku masih junior di SMP,tanpa pikiran negatif terhadap hal-hal yang biasa dikhawatirkan anak-anak seusiaku, aku bermaksud menambal lubang gigi depan (yang sebenarnya tidak kuingat rasa sakitnya). Aku tidak takut pada sosok dokter gigi maupun peralatan berisik yang mereka miliki, meskipun aku ketar-ketir juga menjumpai asap yang timbul dari pengeboran gigi berlubangku. Tapi yang paling menyebalkan di sini adalah ketika aku tidak leluasa berbicara dan makan seperti biasa. Rasanya aneh karena lidahku sendiri merasakan kehadiran entitas baru di antara gigi-gigiku. Sampai saat ini aku tidak memiliki ketakutan pada dokter gigi, tapi selalu ada keengganan untuk kembali ke kursi pasien dan membuka mulut lebar-lebar sembari menahan ringis ngilu.

Rilan mengatakan...

Nama : Trias Nurilani
Akun twitter :@rilanpotter
email :trias_lucu@ymail.com
Waktu aku kecil aku tuh paling takut untuk pergi ke dokter. Apalagi ke dokter gigi, melihat alat-alatnya saja aku udah takut. Pada suatu ketika, waktu aku SD gigi bawah aku sakit. Kata dokter gigi aku harus di cabut. Mendengar itu, aku pun takut. Aku berniat untuk kabur, tapi sayang mama menangkap. Aku pun menangis kejar. Dengan bujuk rayu mama, akhirnya aku nurut untuk dicabut. Tapi aku maunya dicabutnya duduk di pangku oleh mama aku. Dan akhirnya gigi aku di cabut di pangkuan mama.

Mitsaqu mengatakan...

Nama: Fitria Silmi
Twitter:@enekatsu
email:shiina.kamilia@gmail.com
Sejauhini aku cuma pernah ke dokter gigi 3x dan takjub banget pas nemenin mama ngambil bill & bayar angka yang tertera bikin melayang! Ini yang paling aku inget dari dokter gigi, mahal..... hahaha.Untuk kegiatan tindakan aku paling suka yang terakhir kali ke dental khusus perawatan dan kecantikan gigi makanya interior dan pelayanannya jempol banget (ga boleh sebut merek ya?). Ini adalah tindakan terlama di dokter gigi yang pernah aku alami juga aku baru tahu kalo selama ini aku punya masalah gigi yang parah banget yaitu emailnya udah terkikis dan divonis kuliah pakai gigi palsu :( sejak saat itu aku ga berani lagi makan yang terlalu keras atau dingin/panas karena sadar ke dokter gigi itu mahal apalagi kalo sampai pakai gigi palsu ke kampus amit amit deh

Aya Murning mengatakan...

Nama: Aya Murning
Twitter: @murniaya
Email: ayamurning@gmail.com

Waktu masih kecil pernah beberapa kali ke dokter gigi buat cabut gigi karena ga berani nyabut sendiri. Pengalaman di dokter gigi itu ya biasalah nangis jejeritan tarik urat kedengeran sampe langit ke-7 kali ya, padahal nggak sakit apa-apa. Tapi, pas dikasih gelas buat kumur-kumur, karena dibarengi nangis itu jadinya airnya ketelen dan kuminum. Ya abisnya dikasih pake gelas, kukira minum beneran. Tahunya disuruh buang. Ada juga pas baru dicabut tu darahnya masih ngalir banyak. Pas kumur-kumur tu airnya jadi campur darah. Tahu kan rasa darah gimana? Amis anyir gitu. Kukira airnya yang berasa aneh, jadi spontan aku semburin airnya depan muka dokternya. Heuheuheu~ maap pak dokter. Sengaja. #eh

mega widya mengatakan...

Nama: Mega Widyawati
Akun twitter : @Widy4_w
Alamat email: widya.mega354@gmail.com

Pertanyaannya:

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi. Cerita yang unik dan menarik akan berkesempatan mendapatkan novel ini.

Jawabanku:

Jujur saja aku belum pernah ke dokter gigi, jadi akanku ceritakan versi Visual yg ku ketahui. Melihat langsung (maksunya nonton lewat televisi langsung dengan mata kepalaku sendiri).
Ke dokter gigi bagi orang berumur remaja keatas adalah hal yang nggak terlalu nyeremin kok malah terkesan biasa saja.
Tapi tidak untuk balita/anak-anak, yang pasti mereka takut abis, terus nangis2, dan terkesan ketakutan luar dalam, sambil berdoa semoga giginya nggak vakalan dicabut.

Mela Anjar Mustika mengatakan...

Nama: Mela Anjar Mustika
Twitter: @mela1100_
Email: melaanjar.mustika@gmail.com

Ini udah lama banget kalo ga salah SD. Pertama kali ke dokter gigi aku seneng ga ngerasain sakit, karna emang gigi yg mau dicabutnya udah goyang. Yg kedua kalinya mulai ga suka dan ngerasain sakit karna gigi yg dicabutnya belum goyang. Dan seterusnya aku ga mau ke dokter gigi karna ga mau ngerasain sakitnya. Tapi aku dipaksa, dan setelah cabut gigi aku dapet mainan baru. Pernah waktu itu, sebelum cabut gigi aku udah nangis2 pas lagi ngantri, antriannya lumayan panjang. Pas namaku dipanggil sama susternya, aku ga mau duduk di tempat duduknya itu, alhasil aku duduk dipangkuan Mama tercinta :-D Pas gigi ku mau dicabut, aku makin kejer nangisnya, sampe kaki sama tangan ga bisa diem. Alhasil semua dokter yg ada disitu pegangin kaki sama tangan ku. Danpas alat cabut gigi masuk kedalam mulut, aku teriak+nangis, sampe2 orang orang yg ngantri pada ngintip dipintu. Mungkin mereka bingung ini pasien di apain kok sampe nangis kenceng gitu? Dan pulangnya aku dapet mainan baru, satu boneka barbie cantik.

Nadya Firdaus mengatakan...

Nama:Nadya Firdaus
Akun twitter: @NaDyo_12
Email: nadyafirdaus9@gmail.com

Duluu banget,pas aku pertama kali ke dokter gigi,aku sempat bikin heboh satu rumah sakit. Soalnyakan aku dulu yg ga tau apa-apa,tiba-tiba diajak ortuku ke dokter gigi,tapi ortuku ga bilang-bilang sebelumnya.
Okey...langsung aja pas aku tiba di RS. Namaku langsung dipanggil aja dan lgsg masuk ruangan dokter gigi. Liat alat2nya aja udah bikin gemeteran dan secara reflek aku nangis kenceng. Ya takutlah...orang aku ngeliatnya ada semacam bor,suntik,dan alat cabut gigi. Nah...pas aku nangis kencenng di dalam ruangan itu,ternyata pasien lainnya yang merupakan anak kecil juga ikutan nangis kenceng. Dan entah dpt keberanian dari mana tiba2 aku langsung kabur daru ruangan dokter gigi itu tapi pada akhirnya berhasil ketangkap sama ortuku. Akhirnya aku dipaksa duduk dan nurut aja. Aku yg waktu itu cuma anak kecil cuma nurut aja. Dan ternyataa....
Perkiraanku dari tadi itu salah. Ortuku bawa aku ke dokter gigi cuma mau bersihin gigiku dan konsultasi aja. Dan alat2 semacam bor,suntik,dan alat pencabut gigi itu ga buat apa2. Dan pulanglah aku dengan perasaan tenang ^-^

Evita Mf mengatakan...

Nama: Evita
Twitter: @evitta_mf
email: evita.mf27@ymail.com
link share: https://twitter.com/evitta_mf/status/678807836206305280

Ke dokter gigi ya? Hm... kayanya pengalaman dokter gigi itu menyeramkan semua. Apalagi pengalaman pertama ke dokter gigi. Aku dulu nangis waktu pertama kali ke dokter gigi.
Aku mau cerita pengalaman yang menyenangkan aja waktu pergi ke dokter gigi.
Jadi waktu itu gusiku bengkak dan gigi taringku mulai goyang. Mamaku langsung bawa aku ke dokter gigi. Karena itu sudah kunjungan yang kesekian aku udah nggak takut lagi sama dokter gigi. Gigi taringku dicabut dan aku udah nggak nangis lagi. Malah dikasih bonus permen yang warnanya oren buat mengobati gusi bengkakku. Kalau diemut rasanya enak. Kayanya vitamin. ^^
Ah ke dokter gigi nggak selalu menyeramkan kok.. \^^/

Erdina yunianti mengatakan...

Nama : Erdina Yunianti
Twitter : @Dinnaaa_27
Email : erdinayunianti21@gmail.com
Link share : https://twitter.com/Dinnaaa_27/status/678826927281405952

Dulu waktu umur aku sekitar 5 tahunan aku pernah ketemu dokter gigi. Tapi waktu itu aku gak ngerasain apa-apa, dan aku gak inget sama sekali hal menakutkan dengan dokter gigi. Beranjak semakin besar, aku dapet cerita-cerita serem dari berbagai orang-orang di sekelilingku. Intinya, mereka bilang pergi ke dokter gigi malah bikin gigi tambah sakit. Apalagi kalo cabut gigi, bukannya sembuh malah tambah bengkak. Waktu itu umur aku masih 8 tahun, saat umur segini aku lagi labil banget, percaya aja apa yang orang lain bilang. Dan ini merupakan salah satu alasan besar kenapa aku gak pernah mau ke dokter gigi, takut bernasib sama seperti mereka. Apalagi ada yang bilang ke dokter gigi itu nanti giginya di suntik (padahal mana bisa gigi di suntik, yang di suntikkan gusinya). Nah, sekitar umur 10 tahunan aku mulai bandel, males gosok gigi malem *Andai aja iklan pepsodent itu udah ada waktu aku umur segitu pasti aku gak akan males gosok gigi dahh* (mencoba mencari kambing hitam wkwkwk). Namanya anak umur 10 tahun pasti lagi doyan-doyannya makan es krim,coklat,permen. And then, gigi ku pun mulai bolong. Malesnya gosok gigi di tambah makanan manis-manis bikin bolong di gigi ku tambah membesar. Dan ketakutan pada dokter gigi membuat ku harus merelakan salah satu gigi geraham ku buat di cabut. Jangan salah, aku nyabut gigi geraham sendiri, pake benang terus di tarik sekenceng-kencengnya. Yess, giginya berhasil di cabut. Berdarah dikit gak papalahh. Dengan polosnya selama bertahun-tahun kebiasaan males gosok gigi malem ini berlangsung sampai aku berumur 14 tahun. (oke, mbak boleh bilang aku ini jorok -__-). Saat itu aku sadar, bekas cabutan gigi aku dulu itu masih menyisakan akar. Merasa ini bisa membahayakan gigi sebelahnya, aku pun berinisiatif buat pergi ke dokter gigi, melawan semua ketakutan terhadap dokter gigi itu. Saat ini umur ku udah 17 tahun, dan gak seharusnya lagi aku takut sama dokter gigi. Dokter gigi itu gak mungkin bikin aku mati saat cabut gigi. Dia pasti bisa nyabut gigi ku tanpa merasakan sakit. Dan ternyata nyabut gigi ke dokter itu gak seburuk yang aku kira, gak sakit kok selama nyabutnya, yang sakit itu waktu efek obat biusnya udah abis baru tuh kerasa sakitnya. Hahaha nyesel sih dulu males gosok gigi, tapi apa boleh buat sekarang semua sudah terjadi. Paling aku harus lebih rajin lagi nih gosok gigi malem, gak ada alasan lupa lagi :D pengalaman memang guru terbaik buat aku hahaha

Ananda Nur Fitriani mengatakan...

Nama: Ananda Nur Fitriani
Twitter: @anandanf07
Email: anandanftrn@gmail.com

Waktu kelas 1 SMP, aku jatuh tersungkur ke aspal saat lari pagi. Daguku tergesruk dan berdarah, hingga gigiku copot begitu saja dari akarnya :') hal itulah yang menyebabkanku ke dokter gigi. Awalnya, aku takut karena teman-temanku selalu heboh saat bercerita tentang dokter gigi. Tapi, saat masuk ke ruangan sang dokter, aku tidak merasakan ketakutan itu. Gigiku diperiksa dan tidak ada masalah, tidak ada gigi bolong, apalagi sampai harus dicabut, hanya dibersihkan karang giginya. Namun, sayangnya gigiku sudah tidak bisa tumbuh lagi :') dokter menyarankan memakai gigi palsu dan dibehel, tapi aku memilih untuk tidak melakukan itu. Toh, satu gigiku yang hilang tidak akan menjadi masalah besar. Terlebih lagi, aku tidak ingin merepotkan orangtuaku untuk perawatan seperti itu, karena tentu biayanya tidak akan murah. Lagipula ayahku melarang keras penggunaan behel, katanya senyumnya jadi serem xD sang dokter tidak banyak omong namun ramah. Setelah itu, aku dan ibuku keluar ruangan, merasakan kesedihan atas hilangnya satu gigiku :')

Ayyu mengatakan...

Nama: ayyu
Domisili: Bandung
Twitter : @ayyu2124
Email: yuhwakim56@gmail.com
Link Share: https://mobile.twitter.com/ayyu2124/status/679153716851638272?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C2755808151


Aku termasuk yang jarang banget kedokter gigi, terakhir kali periksa gigi itu pas tes masuk kerja. Tapi sekitar tiga minggu yang lalu aku baru nganterin mamah kedokter gigi buat dicabut giginya. Bulu kuduk langsung merinding pas liat tang gigi yang digunakan buat cabut giginya gg kebayang sensasi sakitnya kaya gimana. Dan yang bikin tensin itu yang dicabut gigi mamah aku tapi yang teriak ngilu itu malah aku haha sampe dokternya ngetawain aku duuh malunya :D itu aja sih pengalamanku tentang dokter gigi

siti aliyah mengatakan...

Nama : Siti Aliyah
Twitter : @Adechan18
Email : saliyah@rocketmail.com

Pengalaman ke dokter gigi :
Waktu itu kali pertama ke dokter gigi pas SD kelas 4 (FYI sekarang saya baru lulus SMA). Sebelum ke dokter gigi sering banget yang namanya gigi sakit (waktu itu gigi graham bawah kanan kiri udah bolong), emang sih nantinya juga bakal sembuh sendiri pas minum obat warung gitu, terus pernah juga diobatin pake air garam (entah ngaruh atau nggak, ikutin saran org tua aja). Tapi kalau sakit giginya lagi kambuh tuh rasanya kepala, telinga, sampai tulang pipi berasa kaya ada ngilu-ngilunya gitu. Karena waktu itu masih kecil, jadi pas sakit gigi cuma bisa nangis sampe ketiduran. Karena belum ada perkembangan setelah minum berbagai macam obat, akhirnya saya diajak orang tua pergi ke dokter gigi, rencananya gigi yg sakit itu mau dicabut atau nggak ditambal gitu. Pertama kali pergi ke dokter gigi di dampingin ibu, nunggu lumayan lama karena banyak orang yg juga bernasib sama kaya saya. Sempet kaget dan parno pas ada ibu-ibu keluar dari ruang periksa dgn keadaan pipi bengkak. Yang tadinya tenang-tenang aja nunggu giliran periksa, jadi malah khawatir takut pipinya bakal gitu juga. Akhirnya setelah lumayan lama nunggu dengan perasaan resah, giliran saya yang diperiksa. Kesan pertama masuk ke dalam ruangannya yaitu dingin, untung sikap dokternya nggak ikutan dingin, hehe.. Waktu itu dokternya perempuan dan alhamdulillah baik, nggak judes. Nah pas diperiksa itu saya kaget lagi (maklum orangnya kagetan.. Hehe..) Iya jadi ketika gigi yg bolong itu dibersihin pake selang air (entah apa namanya), airnya langsung nyentuh gigi yg lagi sakit, sontak langsung kaget. Berasa nyut-nyutan. Dan akhirnya gigi yg bolong itu ditambal, awalnya sih berasa ada yg aneh gitu digigi. Tapi akhirnya terbiasa juga. Semenjak dari dokter gigi itu udah nggak pernah lagi yang namanya sakit gigi...

Begitulah pengalaman saya pergi ke dokter gigi untuk pertama kalinya, dan sampai sekarang belum pernah lagi ke dokter gigi.

athaya irfan mengatakan...

Nama: Athaya
Twitter: @jeruknipisanget
Email: athaya.irfan97@gmail.com

Pernah di kasih buku cerita bergambar setelah pulang dari dokter gigi.
Dokternya tau aku suka buku itu saat lagi nunggu di ruang tunggu, tapi awalnya aku malu untuk ambil bukunya. Takutnya si dokter akan marah kalau aku pegang bukunya-begitu pikirku saat masih kecil.

Tapi karena aku jadi anak baik, tenang saat di tambal giginya si dokter mau kasih bukunya buat aku.
Ahh, andai aku bisa kembali ke masa kecil :)

Alvina Vanila mengatakan...

nama : Alvina
twitter : @alvina13
email : orybun(at)gmail.com

Mbak ina mungkin bosen dengerin saya curhat atau update status di grup joglosemar tentang perawatan saluran akar saya ya. Ngoahahaha. Tapi begitulah, sudah dua bulan ini saya ngurusin gigi geraham bawah saya yang harus dirawat saluran akarnya. dulu pernah ditambal, tapi ternyata setelah 4 tahun ditambal suatu hari gusi saya bengkak gitu deh. usut punya usut ada jaringan yang rusak dan harus dibersihkan di dalam sana. Saya yang awalnya anti sama dokter gigi jadi tiap minggu harus sowan (bertamu) ke dokter gigi saya yang manis dan bersahaja (plus suka nelat) itu..
saya takut ke dokter gigi cuma karena satu, saya takut rahang saya dislokasi lagi T_T *trauma yang menyakitkan*


begitulah, sekarng masih satu gigi yang dirawat, dan amsih ada dua gigi lagi antri untuk di PSA.
huhuhu, makanya jagalah gigi sebelum gigimu mendustaimu..

Diddy Syaputra mengatakan...

Nama: Didi Syaputra
Twitter: @DiddySyaputra
Email: syaputradiddy@gmail.com

Sebenarnya rada sedikit samar sih ingatanku mengenai dokter gigi. Karena yah jujur aja, udah lama banget sekitaran 11 tahun yang lalu tepatnya kelas 2 SD ketemu dokter gigi. Eits, bukan sakit gigi lho. Hehe XD. Tapi karena dulu saat kecil aku punya keistimewaaan yang menyakitkan Hiks ;(. Yaitu gigi taring yang lumayan panjang dan nggak tahu kenapa arah gigi tersebut ke atas tepat menembus di bawah hidung. Jadi kalau misalnya kecedot atau kesentuh sedikit aja udah berdarah bahkan hidungnya juga ikutan berdarah. Nah semakin keseringan berdarah awalnya orangtua yang nggak tahu ya mulai curiga, jadi deh aku diperiksa sama Emak terus nemu tuh gigi grandong-nya, mulanya agak berontak mau dibawa ke dokter tapi karena nggak tahan lagi sakitnya, ya udah pasrah aja.

Ritual pertamanya saat di ruang praktek dokter di dongengin dulu sama susternya, agak lumayan tenang sih, tapi abis dokternya dateng dongeng manis itu nggak ngaruh lagi, berubah jadi semacam teror, tapi untungnya semua keluarga yang nemenin nggak disuruh keluar yah karena permintaanku juga, di sana ada Abah, Emak sama Oom yang nemenim. Pas dokternya mulai beraksi dengan ngasih bius itu udah mulai pucat nggak mau buka mulut, buka mulut juga karena dipaksa sama Abah, terus saat benda aneh milik dokter masuk ke mulut aku mulai kejang-kejang mau lari tapi karena 3 orang dewasa yang megangin kaki, tangan sama kepala ya alamat nggak bisa gerak, tapi sempat juga nguladahin pakaian tuh dokter, Hehe. pokoknya cukup berantakan untuk ukuran dokter karena diamukin pasien Hehe. Abisnya takut banget sama alat-alat aneh milik dokter apalagi jarum suntik, bahkan sampai sekarang masih nggak berani sama alat tersebut, mending disuruh minum obat banyak daripada disuntik. Selain sakit, juga malu karena seringnya dokter nyuntik di bokong XD. Mulai saat itu sedkit ngeri kalau liat perlatan dokter, kalau dokternya sih biasa aja, karena rata-rata ramah banget.

Terima kasih!

Celina Faramitha Yuwono mengatakan...

Nama: Celina Faramitha Yuwono
Twitter: @sampanbiru
Alamat email: celinafy79@gmail.com

Halo Kak Nurina, diriku jawab ya kaaak pengalamanku tentang pergigian :3

Jadi begini kak, alkisah ini terjadi sekitar pertengahan tahun 2012. Ehehem
Di suatu hari driku memutuskan untuk memakai kawat gigi setelah bersemedi di hutan. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah-> ginong-gigi nongol. Membuat bimoli-bibir monyong lima senti dan kamseupay-kampungan sekali udik payah. Dan ternyata pasang behel itu nyakitin banget kak *hiks, baik pra maupun pasca. Lebih sakit daripada di-PHP. Selama sekitar sebulan ya kak, diriku cuma bisa makan yang alus-alus karena ngilu banget, hampir gada bedanya sama balita. Atau kalau misal balita kebagusan, diriku mirip lansia ompong.

Oh sebenernya inti cerita bukan ittu. Dokternya yang ngurus ganteeeeeeeng(*ah~)mirip-mirip Junior Liem gitu(*ah~), dan buaiiiik buangeeet. Sayangnya diriku sangat gemar menggrogi di depan cogan. Jadi pas diriku ditanya cuma bisa jawab aa-ee-aa-ee kayak bego. Pas selang berapa lama suka dikepoin via WA gimana kabar gigiku..Hmmm(*ah~).
Jangan-jangan dia menyukai diriku, diriku cantik kah? *abaikan*, tuhkan dok baik banget hampir mirip di sinopsis Cinderella Teeth nih, care banget.

Lalu,
Setiap bulan kan diriku mengganti karet sama ngebersihin, ternyata groginya gak ilang-ilang malah bertambah paraaah. Jadi tiap mau masuk klinik diriku menghela napas panjang dulu berkali-kali. Sambil kadang melakukan hipnosis *sokiye "Diriku, kamu gapapa. Kamu bisa melewati semua ini. Kamu kuat. Beauty is pain, but your dentist is hadsome as hell". Baru masuk ke dalam klinik. Nah, nanti pas nunggu gemeteran lagi, suhu tubuh jadi rada dingin, kadang malah kebelet pipis-tapi aus, terus mondar-mandir WC lebih dari sekali(a.k.a beser) (T^T).

Iya diriku alay dan rada kampungan, memang.
Sebenernya usut punya usut diriku grogi mendalam bukan hanya karena dokternya tamvan kak. Tapi kalo denger bor gigi lumayan bikin efek ngilu gitu. Apalagi bau-bau antiseptiknya. Dokternya tamvan gak ngefek juga sih kak waktu prosesnya soalnya pake masker. ahhh sedih wkwk :3

Kampaiiiii Cinderella Teeth!
Semoga diriku menang ya kak :3 Amin

Wening Purbawati mengatakan...


nama : Wening Purbawati
twitter : @dabelyuphi
email : dabelyu_phi@yahoo.com
share : https://twitter.com/DabelyuPhi/status/677701935722557442

dulu, pas jaman SD kan sering ada tuh bulan pemeriksaan kesehatan gigi yang diadain tiap tahun sekali kalo gak salah. nah, saat itu pemeriksaannya tuh digilir, dari mulai kelas satu terus berurutan sampai kelas enam.
waktu itu aku udah duduk di kelas lima SD, tapi tetep aja tiap tahun rasanya deg-degkan pas ada hari pemeriksaan gigi tersebut, terlebih beberapa hari sebelumnya tuh gigiku emang lagi sering sakit dan ada satu gigi yang udah goyang-goyang. kan makin parno tuh, ntar pasti kena cabut sama dokternya dan pasti sakitnya luar biasa (soalnya gigiku masih agak kuat nempel di gusi)
nah, pas bu dokternya masuk di kelasku, aku makin tambah panik, bingung mau ngumpet mana biar gak ikut diperiksa. tapi sayangnya aku duduk dibarisan depan, jelas nggak bisa ngumpetlah. akhirnya aku cuma bisa pasrah dan harap-harap cemas semoga gigiku bisa lolos.
tapi... ternyata doaku nggak terkabul!! pas bu dokternya meriksa gigiku, beliau bilang kalo gigiku memang harus dicabut, apalagi itu gigi susu, jadi biar cepet diganti sama gigi dewasa.
pas beliau mulai nyiapin alat-alatnya, mulai deh aku nangis karena takut. terlebih liat jarum suntik buat anestesinya! (seumur-umur aku benci banget sama yang namanya jarum suntik) aku sampe harus dipegangin sama wali kelas aku dan asisten dokter itu biar tetep tenang saat dikasih anestesi dan dicabut gigiku itu. walaupun bayanganku prosesnya bakalan lama dan sakit banget, ternyata cuma bentar aja dan gak sesakit pas lagi kumat giginya.
kalo dipikir-pikir lagi, ternyata bu dokter yang dulu nyabut gigiku pas SD dan bikin aku nangis kenceng banget dan paling heboh satu sekolahan ternyata adalah mama orang yang lagi dekat sama aku itu rasanya maluuu banget!! apalagi kalo lagi ikut kumpul keluarga mas pacar, pasti deh suka diingetin momen yang cukup memalukan itu. karena dulu, ada adek kelas yang giginya dicabut juga, nangisnya gak seheboh aku T_T

Ten Akatsuki mengatakan...

Ten | @ten_alten | regulus_noel@yahoo.com

aku dan adekku sama-sama punya pengalaman buruk berhubungan dengan dokter gigi.. ;A; *lap ingus*
aku pengen tau rahasia Saki (yang juga nggak suka dokter gigi) biar nggak takut sama dokter gigi lagi T~T

semua bermula ketika aku SD, saat itu mendadak siswa disuruh baris di kelas, tapi keluar kelas tiap 5 orang bergantian. tiba giliranku, ternyata ada kunjungan rutin dokter gigi ke sekolah. dokter ngetuk-ngetuk gigi kelinciku, salah satu gigi kelinciku cuma goyang sedikit gegara abis jatuh. tanpa babibu cuma bilang "cuma sakit sedikit ya, kayak digigit semut," langsung dicabut saat itu juga hingga berdarah-darah.. T~T *dan baju seragam putih kena darah itu horor betul*
mana ada sakit kayak digigit semuuutt! D'8<
semenjak itu, tiap tahun berikutna ada cek gigi di sekolah, aku kabur ke kantin buat sembunyi atau ke UKS pura-pura sakit dan tidur.. QwQ

yang ini kisah adekku yang bikin aku semakin nggak suka, takut, ngeri, horor sama dokter gigi.
ada salah satu gigi geraham adekku tumbuh miring kalo nggak salah, dan karena miring itu jadi kena pipi dalem. karena kena pipi dalem dan juga buat makan, pernah suatu hari sampai berdarah gitu. karena khawatir, terus dibawa ke dokter gigi. dokternya bilang saat itu harus dikasih obat dulu, baru 2 hari kemudian balik lagi, karena kata dokternya harus operasi. di hari operasi, di tengah-tengah operasi dengan ruangan ada berbagai macem alat yang mengerikan itu, bius lokal adekku abis pas di tengah operasi. jelas gitu adekku nangis.. aku berasa ada di posisi dia.. ngeri, takut, ngilu, campur aduk, dan itu horor banget.. ;A;

Aku semakin menghindari dokter gigi, dokter gigi itu udah kayak Dementor di Harry Potter.. -_-"

Ve Dallas mengatakan...

Vena Dwi Masfiyah
@venadwim
Tulungagung

Cerita menarik saat di dokter gigi? Hoho...
Sebenarnya sejak SD kelas 1 aku sering ke dokter gigi karena tak berani cabut gigi susuku sendiri. Takut sakit. Lalu ayahku mencoba membawaku ke dokter gigi supaya gigiku dicabut. Awalnya sih aku mau-mau saja karena berpikir kalau gigi aku dicabut sama dokter gigi tidak akan sakit. Memang benar tidak sakit, tapi mencium bau obat-obatan di klinik malah membuatku pusing. Bahkan saat nyampe rumahpun aku merasa masih membau bau obat-obatan tersebut.
Jadi, kalau ke klinik tuh takutnya bukan sama dokter giginya, tapi sama bau obatnya. Aneh sih (?)
Tapi untungnya, sekarang kengerianku sama bau obat itu jauh berkurang. Syukur deh ya :)
Itu terjadi karena berkat sering berkunjung ke klinik. Jadi lama-lama terbiasa deh sama bau obat-obatannya :)

Meilina Istanti mengatakan...

Nama : Meilina Istanti
Akun twitter : @meic_chan
Email : meilinaistanti@gmail.com

Cerita ini saat aku kelas 6. Dua gigi seri ku bagian atas hampir copot karena jatuh dari sepeda dan gigiku membentur aspal. Aku takut ompong karena gigiku sudah gigi permanen. Aku menangis, ibuku panik tetapi tidak tinggal diam. Dia membawaku ke dokter gigi yang *ehm* agak menakutkan. Saat-saat itulah aku merasa sangat takut. Takut sama dokternya, sama alat2nya, juga takut ompong. Tapi pada akhirnya aku berterima kasih pada dokter itu. Gusiku dijahit dan aku tidak jadi ompong ^_^ .
Walaupun happy ending, aku tetap menyimpan rasa takut pada dokter gigi. Entahlah~

Putri Prama mengatakan...

Nama: Putri Prama A.
Twitter: @putripramaa
email: anantaprama@yahoo.co.id
Terakhir kali bertemu dokter gigi adalh saat pemeriksaan siswa. Nah, saat itu semua siswa-siswi angkatanku dicek kesehatannya, mulai dari tinggi badan, berat badan, kondisi gigi, telinga, mata, dll. Saat itulah aku ketemu dokter gigi, dokter itu cuma minta aku mangap aja. Kupikir aku bakal diceramahin habis-habisan karena gigi depan bagian bawahku benar-benar nggak rapi dan sisa-sisa makanan sering nempel di sana. Kupikir dokternya bakal komentarin juga tentang gigiku yang ada plaknya karena aku sering ngemil tengah malam tanpa sikat gigi lagi. Kupikir dokternya bakal ngomentarin tentang gusiku yang warnanya nggak sehat. Banyak banget 'kupikir' di otakku ini. Tapi, tapi, tapi, si dokter biarin aku lewat begitu aja kaya laler. Kampret banget. Padahal, aku udah siap nanggung malu kalo si dokter gigi ini ngomentarinnya di depan teman. Tapi, beruntung lah, aku hanya dianggep 'laler' yang hinggap sama dokternya.
Udah gitu doang. Garing banget acara ketemu dokter gigi itu. :3

Shiela mengatakan...

Nama : Shiela Hartiningtyas
Twitter : @ruth_shiela
Email : yskasim@gmail.com

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi.
Jawaban :
Kejadian ini terjadi sekitar 1 tahun yang lalu.
Saat itu, aku sering sekali mengalami pusing, lalu karena tidak sembuh-sembuh, aku kemudian berobat ke dokter.
Dokter mengatakan bahwa aku itu pusing gara-gara giginya ada yang bermasalah.
Akhirnya aku pun periksa ke dokter gigi, dan dokter giginy mengatakan bahwa gigi geraham belakangku tumbuh dan menabrak gigi depannya.
Dokter itu bilang bahwa itu harus dicabut, tapi karena rahangku terlalu kecil, dokternya bilang harus dicabut di ruang operasi.
Kebayang donk takutnya gimana. Ke dokter gigi saja paling males kalau tidak penting-penting sekali, ini malah harus dioperasi.>_<
Aku paling takut ke ruang operasi.
Tapi pasanganku mengatakan bahwa ia bakal menemaniku dan memberiku tiket premiere film X-Men:Days of the Future Past jika mau dioperasi.
Wow, siapa coba yang ga mau nonton premiere sebuah film box office seperti X-Men?
Apalagi aku ngefans berat dengan Hugh Jackman.
Karena iming-iming tiket premiere tersebut, akhirnya aku pun memberanikan diri masuk ruang operasi.
Syukurlah operasinya berjalan lancar, dan setelah itu pun aku menonton premiere film X-Men Days of the Future Past bersama pasanganku.
Meskipun agak tidak nyaman juga sih, karena pipiku masih bengkak seperti sedang makan bakpao.
Tapi gpp, yang penting bisa melihat aksi idolaku Hugh Jackman sebagai Wolverine.^^

Hary mengatakan...

Nama : Hary Gimulya
Twitter : @angels_rutherfo
Email : harygimulya@gmail.com

Menurutku hampir semua orang tidak suka dengan yang namanya ke dokter gigi.
Hayo, bener ga?
Namun bagaimana jadinya ketika dokter gigi yang tadinya terlihat begitu menakutkan bagiku, tiba-tiba berubah menjadi seorang hero untukku?
Kejadian ini terjadi ketika aku masih SD. Saat itu orangtuaku sedang mengunjungi pamanku dan aku ikut dengan mereka.
Ketika mereka sedang mengobrol, aku keluar rumah dan berniat keliling-keliling rumah.
Namun naas bagiku karena ketika sedang berjalan, aku tidak melihat adanya pagar kawat di depanku.
Aku pun terjebak dan mengenai kawat itu. Langsung saja aku pun terjatuh keras.
Aku masih ingat dengan jelas saat itu wajahku langsung mengenai tanah, dan gigiku patah dan berdarah.
Sontak aku menangis dan orangtuaku pun terkejut.
Aku lalu langsung dibawa ke rumah sakit. Oleh rumah sakit tersebut, aku dirujuk untuk dirawat oleh dokter gigi terkait gigiku yang patah tsb.
Saat itu aku makin menangis sejadi-jadinya karena sudah memikirkan dokter gigi yang mengerikan.
Namun segala pemikiranku berubah saat bertemu dengan dokter gigi yang hendak merawatku.
Dengan ramah ia menyapaku, juga membujukku agar tidak menangis.
Ia juga menjelaskan mengenai kondisiku kepada orangtuaku.
Tidak berapa lama kemudian, dokter tsb sudah merawatku dengan telaten.
Dan akhirnya kondisi gigiku pun bisa pulih seperti semula.
Sejak itu, pandanganku berubah tentang dokter gigi.
Bagiku, ia merupakan sosok hero bagiku. Dan sejak itu, aku bercita-cita menjadi seorang dokter gigi.
Sayang, aku gagal mewujudkan cita-citaku tersebut. Namun itu tidak mengubah pandanganku terhadap dokter gigi.
Bagiku, dokter gigi tetaplah seorang hero yang sangat dibutuhkan oleh kita semua.

Nina Denisa mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nina Denisa mengatakan...

Nama : Nina denisa aryani
Twiiter :@Ninadenisa12
Alamat email:Ninadenisa1@gmail.com

Pengalaman dengan dokter gigi saat q kelas 2 smk gigi q yg atas awalnya gak rata jadi mamah q nyuruh q pakai kawat gigi atau dsebut behel
Awalnya q takut karna kata teman2 q sangat sakit sampai ga bisa buat makan pas ktmu dokter q bercerita apa yg dkatakan tmn2 q kata dokter memang sakit tp cuma sebentar nanti seperti biasa dan gigi q bakal rapih akhirnya q beranikan diri walaupun saambil nangis hehe awalnya memang enyut2n kaya sakit gigi bengkak tp lama kelamaan q terbias dan alhamdulilah gigi q skrg rapih dan q dh lepas pakai behelnya

Risna Rahmadyah mengatakan...

Nama: Risna Rahmadyah
Twitter: @heyrisna
Email: rahmadyahr@gmail.com

Terakhir berurusan dengan dokter gigi kalo ga salah pas SD. Sekarang udah kuliah Alhamdulillah ga punya masalah lagi sama gigi. Hehehe.. Tapi dulu ke dokter gigi gara-gara harus cabut gigi dan tambal gigi. Yah.. gigiku dulu berlubang. Dulu waktu pertama kali dicabut sih takut gitu. Ga kebayang bakal sakit kayak gimana. Tapi pas udah di ruang dokter entah kenapa malah biasa saja. Apalagi waktu mau dicabut ditanya "mau pake pasta pencabut rasa apa, Dik?" Karena waktu itu masih SD dan suka sekali strawberry jadilah kupilih rasa itu. Untuk pertama kalinya merasa keren sekali ada pasta dengan berbagai rasa dan pas dicabut gigi jadi ngga sakit. Sungguh. Terus beberapa bulan setelahnya gigiku ada yang berlubang, harus ke dokter gigi lagi. Aku malah senang, haha. Memang tidak ada pasta rasa-rasa lagi sih. Tapi entah mengapa (juga), aku malah senang waktu proses penambalan yang lama. Gigiku jadi geli-geli gimana gitu XD aku jadi nagih .-. Tapi anehnya, aku malah mencium bau sate dari gigi yang ditambal XD aku tidak tahu bagaimana bisa hidungku mencium bau seperti itu. Itu pengalaman di dokter gigi spesialis, lain lagi dengan dokter gigi di puskesmas. Untuk kali pertama, aku merasakan sakit bukan main saat mencabut gigi. Tidak ada pasta rasa-rasa. Si dokter dengan cepat mencabut gigiku X( Sudah sakitnya minta ampun, setelahnya pun linu sekali gusiku.Itu pengalamanku selama mengunjungi dokter gigi. Aku tidak kapok, hanya saja, semoga anak-anak seumuran SD saat mencabut gigi di puskesmas tidak mengalami kesakitan seperti aku :))

nunaalia 79 mengatakan...

Nama: Aulia
Twitter: @nunaalia
Email: auliyati.online[at]gmail[dot]com

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi.

Jawaban:
Pengalaman pertama ke dokter gigi (waktu kecil) aku lebih tertarik dengan peralatan dokter gigi, karena kursinya beda dengan dokter yang lain, bisa disetel naik turun gitu, hehee, lalu ada lampu sorot di atas kepala, silau man! :D Ada juga sebuah alat/tempat yang begitu gelas ditaruh di atasnya akan keluar air, keren!
Aku paling antusias kalau membersihkan karang gigi, walaupun saat pemeriksaan dan perawatannya dan ngilu, tapi melihat hasilnya gigi jadi bersih setelah karang gigi dibersihkan, jadi puas.

Terry Irawan 3 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Terry Irawan 3 mengatakan...

Nama: Tri Wahyuni
Twitter: @tewtri
E-mail: triwahyuni.irawan3@gmail.com

Kalau secara pribadi saya tidak ada masalah sama dokter gigi tapi ada salah satu dokter yang meninggalkan kesan cukup 'gez' waktu saya masih kecil. Itu waktu ayah saya buat pertama kalinya ke klinik gigi buat nyabut gigi gingsulnya. I don't know why? Gigi yang saling tumpang kan kanan sama kiri, kukira yang bakal dicabutnya yah itu yang gingsulnya aja. But hari itu ayah saya mesti kehilangan 4 buah giginya dan diganti dengan gigi palsu. And yah, saya diantara ingin ketawa dan sebel juga. Ompong sebelum waktunya kan itu nggak banget. Oleh karena itu, sebisa mungkin saya berupaya agar bisa terhindar dari masalah gigi. No. Saya tidak mau nasib gigi saya semengerikan itu.

Iyagi Fiction Club (IFC) Kendari mengatakan...

Beberapa tahun lalu, saya pergi ke dokter gigi untuk menambal gigi saya yang bolong. Ternyata, bolongnya gigi saya udah lumayan parah. Sampai ada bagian gusi yang nyempil di sela-sela retakan gigi. Kata dokternya, gusi saya musti 'disingkirkan dikit'. Nggak tahu deh gimana caranya gusi itu 'dilenyapkan', tapi saya ketakutan setengah mati mendengar naasehat dokter itu. Saya bertanya, apa itu akan sakit, dan apa darahnya akan banyak? Dokternya bilang, seperti yang dilakukan semua dokter gigi, itu tidak sakit, akan sedikit berdarah, tapi itu hanya tindakan kecil dan akan cepat banget dikerjainnya. Tapi saya lupa, bahwa kepanikan bisa membuat segala sesuatunya bertambah parah. Dalam tinjauan medis, perdarahan bisa membesar jika pasien merasa stres. Dan itulah yang terjadi pada saya. Karena terlalu ketakutan, gusi saya berdarah lebih banyak dari normalnya. Saya semakin panik, dan saya merasa darah di seluruh tubuh saya berhenti mengalir. Tampaknya, dokternya jadi ikutan panik ngeliat saya yang pucat. Saya nyaris pingsan di sana, dan satu-satunya hal yang saya pikirkan adalah: 'kayaknya hari ini saya bakal mati, deh!'. Soalnya, beberapa minggu sebelumnya, sahabat saya baru saja meninggal dunia karena kehabisan darah di meja operasi. Tapi sebenarnya skalanya beda ama situasi saya. Sahabat saya itu menjalani operasi besar. Sedang saya, hanya menjalani 'penyingkiran nol koma sekian mili gusi'. Saya berharap, hari itu saya bisa terlihat sedikit lebih keren di depan dokter gigi dan ibu saya :D

Nama: NM Rayanti Sari Dewi
Akun twitter: @biblionervosa
Email: biblionervosa@gmail.com

Kitty mengatakan...

Nama: Kitty
Akun twitter: @womomfey
Link share tweet: https://twitter.com/WoMomFey/status/682378418126622720
Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi.

Hmm… jujur aja nih ya! Aku sebenernya mirip sama Saki, tokoh utama dalam Cinderella Teeth ini, yang benci sama Dokter Gigi! Karena aku punya pengalaman gak ngenakin sama Dokter Gigi sewaktu masih kecil dan itu benar-benar terbawa sampai sekarang!
Ceritanya, dulu ketika tiba saatnya gigi susuku mulai tanggal digantikan gigi seri, sering kali gigi susu itu otomatis sudah mulai goyang sebelum gigi seriku tumbuh. Hal ini membuatku senang karena mudah bagiku menanggalkan gigi susu yang memang sudah goyang sehingga aku tidak perlu berkunjung ke Dokter Gigi. Semua hanya berbekal seutas benang yang diikatkan kepada gigi susuku yang goyang dan tinggal tarik, maka gigi itupun tanggal dengan sendirinya.
Namun suatu ketika, saat aku diajak mamaku kunjungan rutin ke Dokter Gigi, setelah melakukan pemeriksaan, Sang Dokter menemukan cikal bakal gigi seri dibelakang salah satu gigi susuku. Yang membuatku sebal, gigi susuku itu belum goyang sama sekali dan akarnya benar-benar masih tertanam dengan kuat di dalam gusiku. Untuk menghindari terjadinya penumpukan gigi, maka Sang Dokter pun memutuskan untuk segera mencabut gigi susuku sebelum si gigi seri benar-benar muncul dan akhirnya berada pada tempat yang salah.
Karena selama ini aku mengalami kemudahan dalam mencabut gigi susuku, awalnya aku tidak keberatan dan langsung mengiyakan tantangan dari Sang Dokter. Tentu saja saat menjawab tantangan tersebut kepercayaan diriku sedang berada dalam puncak kejayaannya. Namun setelah pada akhirnya Sang Dokter melakukan upaya pencabutan gigi menggunakan tang, aku segera menyesali keputusan awalku. Gigi susuku tetap diam tak bergeming meskipun Sang Dokter telah mencengkramkan tangnya dengan gagah untuk mencabutnya. Tentu saja aku merasakan kesakitan yang luar biasa dan kepercayaan diriku turun drastis. Dan entah kenapa, Sang Dokter masih bersikeras mencoba untuk yang ke-2 kalinya dan TETAP GAGAL, saudara-saudara!!!
ARGHHH!! Kalau ingat peristiwa itu aku merasa kesal luar biasa! Akhirnya tendanganku mendarat di perut Sang Dokter saking kesalnya aku menahan sakit dan tangis. Saat itu aku masih berusia 7 tahun! Sejak saat itu aku selalu bersikeras menghindari kunjungan ke Dokter Gigi manapun!

Its Nessie mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nova Indah Putri Lubis mengatakan...

Nama : Nova Indah Putri Lubis
Twitter : @n0v4ip
Email : n0v4ip[at]gmail[dot]com
Link Share : https://twitter.com/n0v4ip/status/682451980048924672

Kalo bicara soal dokter dan klinik gigi, sama seperti Saki, yang saya ingat adalah bunyi nginnngg nginnngg dari suara mesinnya ditambah dokternya yang pake masker. Itu pertama kalinya saya ke klinik gigi dan waktu itu saya pergi nya sama emak dan kedua kakak saya. Kami menunggu antrian di lobby. Yang pertama kali masuk itu kakak saya yang pertama. Saat keluar, dia senyum-senyum, itu artinya prosesnya lancar. Lalu masuk yang kedua, sama seperti kakak pertama, dia keluar dengan senyum-senyum, itu artinya gak ada masalah selama didalam sana. Saya cukup lega meski debar-debar jantung saya tetap gak karuan. Nah, masalah nya datang disaat ada anak laki-laki yang masuk setelahnya. Beberapa menit setelah anak laki-laki ini masuk, terdengar suara jeritan dari dalam dan diikuti suara raungan yang menurut saya memekakkan telinga. Seketika rasa takut itu langsung hinggap. Saya langsung merinding dan gak berapa lama saya nangis di lobby. Emak saya sontak kaget dan langsung mujuk-mujuk saya biar diam tapi saya tetap nangis. Gak berapa lama, si anak laki-laki tadi keluar dengan mata merah, muka merah sambil megangin pipinya. Saya ngerasa dia kayak monster dan saya makin takut waktu itu. Alhasil, waktu tiba giliran saya, saya gak mau masuk kak. Saya meronta-ronta disitu gak mau masuk, saya peluk emak saya kuat. Perawat dan emak saya terus ngebujuk saya dan kakak2 saya juga berusaha meyakinkan saya, kalo di dalam gak bakal diapa-apain. Tapi saya tetap gak mau. Akhirnya, karena emak saya juga ikut kedalam bersama saya, saya jadi mau ikut. Tapi 'penderitaan' saya blum berakhir. Saat dokter ingin melakukan penambalan pada gigi saya, saya gak ngerti apa yang dia lakukan, tapi yang jelas setau saya dia salah tindakan. Karena saya lihat emak saya khawatir banget karena pendarahan di mulut saya. Emak saya marah-marah sama si dokter dan saat itu saya ngerasa sakit banget dan saya nangis. Padahal setau saya, sebelum tindakan dilakukan, saya di bius terlebih dulu. Tapi gak tau kenapa saya bisa merasakan sakit dan air mata saya keluar. Namanya juga anak-anak. Kalo sakit ya cuma bisa nangis, karena saya memang belum ngerti apa-apa. Alhasil, tindakan yang seharusnya sebentar jadi lama. Dari situ saya gak mau lagi ke klinik gigi dan saya benci dokter gigi. Selain karena dokternya yang menurut saya kayak monster, pengalaman yang saya dapatkan selama di klinik gigi juga gak bisa saya lupain. Dan yang lucunya, sekarang atasan saya di kantor adalah dokter gigi... haha. Ironis sekali... :D *lebay*

Terima kasih kak ^^

esti yuliastri mengatakan...

Nama: Esti
twitter: @estiyuliastri
email: estiyuliastri@gmail.com

"Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi"

Pengalamanku dengan dokter gigi macem-macem kak. Karena aku sering gonta-ganti dokter gigi alias gak cocok.hehe
Waktu sekitar umur 6 thn, gigiku sering banget bermasalah, gara-gara berlubang.
Dokter pertama yang aku kunjungi kalau gak salah namanya, drg.Ratna, orangnya sedikit bicara & agak kasar juga cara nanganin pasien.
Akhirnya aku pun minta orang tuaku untuk pindah ke dokter gigi lain. Namanya drg.Yusuf, orangnya ramah ke pasien apalagi pasien anak-anak. Tiap selesai berobat beliau selalu ngasih aku eskrim di lemari es ruang praktiknya. Katanya sih biar meredakan ngilu..hihii aku sih seneng2 aja.
Cukup sering aku berobat ke drg.Yusuf. Sampai suatu hari aku datang lagi untuk cek up gigi, petugas resepsionisnya bilang beliau sudah meninggal minggu kemarin..karna serangan jantung.
sedih dengernya.huhu
Cukup lama gak rajin berobat ke dokter gigi lagi.. Sekarang aku punya dokter gigi langganan baru, yang ternyata teman ibuku SD.
Drg.Yuni, Dokternya juga sabar, tapi agak kurang cekatan dalam nanganin pasien (menurutku sih..hihi).
Jadi intinya,belum ada yang bisa menggantikan posisi drg.Yusuf di hatiku..huhu sedihh kalo inget, karna uda cocok sih.
Sekian..

Sofhy Haisyah mengatakan...

Nama : Sofhy Haisyah
Twitter : @Sofhy_Haisyah
Email : sofhyhaisyah28[at]gmail[dot]com

Pertama kali bertemu dengan dokter gigi itu pas TK. Saat itu, gigi pertamaku yang goyang adalah gigi seri atas sebelah kiri. Aku pun bolos masuk sekolah, karena waktu itu orangtuaku mengira kalau aku ke dokter gigi bawaannya takut. Padahal, aku mah santai aja. Bahkan, bekal coklat yang aku bawa masih sempat aku makan sebelum cabut gigi ^^

Lagipula, tak ada alasan sama sekali buat takut pada pencabutan gigi pertamaku dulu. Karena, aku diantar sama Ayah, dan memang aku lebih senang jika bersama Ayah, jadi pas cabut gigi itu akunya bukan dikursi pasien tapi dipangkuan Ayah. Lalu, rumah dokter giginya luas dan menakjubkan banget (bagi aku yang anak-anak dulu). Soalnya, tamannya luas, ada kolam ikan mas-nya gede-gede, terus ditengahnya ada patung buaya. Jadi, aku yang ngerasain gusiku ngilu dan bibir jadi membengkak sehabis disuntik, tetap senang-senang aja, karena ada tempat main ^^

Nah, adapun kesan yang aku nggak suka dulu itu yaa bau gigi palsu. Aku nggak tahu apa namanya, yang jelas bahan gigi palsu terus dibentuk sedemikian rupa dengan alat, nah debunya itu aku nggak suka bau-nya. Bau ! >_<

Daisy S mengatakan...

Nama : Daisy
Email : Stupidliar367@gmail.com
Twitter : @daisy_skys

Ceritakan pengalaman kalian dengan dokter gigi. Boleh cerita ketakutan atau kesenangan saat bertemu dokter gigi. Cerita yang unik dan menarik akan berkesempatan mendapatkan novel ini.


Jujur , Awalnya aku takut banget ke dokter gigi . Karena waktu kecil dulu aku pernah nonton kartun yang mengkisahkan tentang dokter gigi . kawat gigi , pagar gigi ( behel ) , bisingnya alat - alat milik Pak dokter . Dulu dalam bayanganku sebelum bertemu dokter gigi , dokter gigi itu akan mencabut gigiku dengan tang yang besar dan paati akan terasa menyakitkan , Dia akan melihat dalam mulutku dan memarahiku karena tidak menjaga gigiku dengan baik , lalu dia akan memasang kawat gigi atau behel sebagai hukumanku . Teman - teman membullyku dengan benda asing di gigiku ini .Dan aku nggak mau itu terjadi .

Tapi sayangnya itu cuma khayalan anak kecil umur 5 tahun .
Dokter gigi ternyata tak seburuk itu kok . Yang kutemui kebetulan dokternya cowok dan GANTENG . Biarpun masih anak ingusan aku mah udah bisa bedain mana cowok ganteng mana yang bukan , samapai sekarang pun sama . Selain ganteng orangnya juga ramah , nada bicaranya halus pas nyuruh aku buka mulut . Aku malu - malu mau buka mulut dan tadaaa ... inilah penampakan gigi anak 5 tahun yang suka coklat dan permen gula - gula . Ompong . Gigiku harus dicabut supaya tidak menggangu pertumbuhan gigi baru . Dokter menyuntik gusiku .Aku awalnya bergidik melihat jarum suntik itu , aku memandang minta pertolongan Mama . Seakan - akan mau bilang " Mama yakin ini nggak bahaya ? " .Dan mama mengangguk meyakinkanku . Sakit dan terasa nyeri waktu gusiku disuntik , setelah itu mati rasa . Gigiku sukses dicabut tanpa rasa sakit sesikitpun . Tapi setelah misi pencabutan gigi susuku itu berhasil dokternya kasih aku apel .
" Dok nggak ada racunnya kan ini " ucapku polos waktu itu mengingat kisah putri salju .
Si dokternya ketawa dan bilang nggak ada .
Malamnya sebelum tidur kuletakkan gigiku yang dicopot dibawah bantal . Berharap peri gigi datang dan mengambil gigi tanggalku lalu menggantinya dengan duwit sekoper . Paginya kuperiksa gigi itu masih ditempatnya . Lalu aku berfikir , mungkin peri gigi belum buka cabang di indonesia adanya di Barat . Mungkin buka cabangnya barengan krusty krab punyanya Mr.Krab. hahah ...

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon