Jumat, 25 Desember 2015

[Resensi: Konstelasi Rindu] Perjuangan Rindu di Tahun Pertama Kuliahnya


Judul buku: Konstelasi Rindu
Penulis: Farah Hidayati
Desain sampul: Farah Hidayati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: November 2013
Tebal buku: 352 halaman
ISBN: 978-602-03-0012-2



BLURB

Akhirnya Rindu Vanila menyandang status mahasiswa arsitektur. Ia akan belajar mendesain bangunan menakjubkan seperti Menara Eiffel, atau gedung pertunjukan seperti Sydney Opera House, atau taman buatan Gaudi, mungkin juga mendesain barisan pencakar langit yang menghutan di New York City, atau mal, atau rumah, tentu saja. Untuk seseorang yang ia kasihi.

Namun di hari pertama kuliah, ia sadar menjadi arsitek tidak semudah yang dibayangkan. Berkutat dengan garis lurus selama seminggu penuh, lembur hanya untuk mengarsir, bukan bagian dari impian indahnya.

Menjadi arsitek, juga menjadi impian Djo, Bening, Langit, Sherin dan Saras. Bersama-sama mereka menjadi bagian dari konstelasi Rindu dalam menjalani kehidupan kampus. Bagaimana mereka belajar memaknai setitik garis yang menghubungkan impian mereka masing-masing?

RESENSI

Impian Rindu adalah menjadi mahasiswa arsitektur Universitas Mayapada di Jogjakarta, tapi Abah melarang dan menyuruh Rindu untuk kuliah di Surabaya. Alasan Rindu untuk berkuliah di Jogja sama dengan alasan abah melarang; ibu Rindu yang terbaring koma di rumah sakit universitas Mayapada.
Tapi diam-diam tanpa sepengetahuan abah, Rindu nekat tetap kuliah di Jogja. Ia merasa harus tetap ada seseorang yang menjaga ibu dan mengajak ibu bicara, walaupun itu adalah pembicaraan satu arah.
Di kampusnya, Rindu berkenalan dengan teman-teman yang akan menjadi teman seperjuangannya. Ada Bening dan Djo yang sangat dekat dengannya, Sherin yang aneh, Langit yang jenius, dan Saras yang dengan terang-terangan berusaha mendekati Langit.

Suatu hari, Langit menemukan buku agenda Rindu. Isi agenda itu membawa sesuatu yang familier bagi Langit. Sayangnya, sebelum bisa mengembalikannya pada Rindu, Langit menghilangkannya. Langit tak berani berterus terang sehingga ia merahasiakannya. Tapi ternyata, bukan hanya Rindu dan Langit saja yang punya rahasia.
Rindu, Bening, Djo, Sherin, Langit dan Saras, jiwa-jiwa yang antusias menaklukkan tahun pertama kuliah mereka, juga punya rahasia yang mereka sembunyikan. Masalah yang harus mereka hadapi dan yang harus mereka ungkapkan.
Akankah rahasia Rindu terbongkar? Akankah Rindu bisa melihat ibunya bangun dan tersenyum kembali? Bagaimana kisah cinta Rindu dan Langit sementara ada rahasia dan Saras di antara mereka?

--------------

Wow. Selesai membaca novel ini membuat saya terkagum-kagum pada mahasiswa arsitektur. Saya banyak mendengar tugas-tugas yang harus mereka hadapi, tapi di novel ini lebih banyak yang diungkapkan dan diceritakan.

Menyenangkan sekali membaca novel yang 'berisi' ini. Konstelasi Rindu memberi pengalaman baru bagi saya yang bukan mahasiswa jurusan arsitektur. Ada banyak hal tentang arsitektur menghiasi kisah ini; mata kuliah arsitektur, dalil-dalil arsitektur, tugas-tugas arsitektur, barang-barang khas arsitektur, juga mimpi-mimpi para calon arsitek. Tapi bukannya kebingungan dengan istilah dan ritmenya, saya menjadi semacam tercerahkan. #tsahbahasanya

Konstelasi Rindu dikisahkan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang yang cukup berimbang sehingga saya bisa merasakan keresahan tokoh yang lain. Arus alurnya unik dan sempat membuat saya tersendat-sendat di awal, namun semakin ke belakang saya semakin bisa menikmati.

Saya suka penggunaan nama Mayapada sebagai nama universitasnya. Tapi yang terbayang malah kampus UGM. Haha~
Entah kenapa penulis nggak menggunakan kampus asli saja sebagai settingnya dan memilih menggunakan nama fiktif. Toh daerah dan kawasannya asli ada di Jogja.

Saya kagum juga pada tokoh Rindu. Keputusannya menentang abah dan berbohong demi bisa berada di sisi sang ibu sangat berisiko. Saya nggak kebayang bisa mengambil keputusan seperti itu. Cewek yang punya prinsip.
Terus mupeng banget dong sama kemampuan menggambar si Langit. Sampai bisa menang lomba dan punya kesempatan magang.
Suka deh sama interaksi Langit dan Rindu. Cara Langit ngasih perhatian buat Rindu itu berasa manis. Terutama di bagian akhirnya. Aww~
Tapi tokoh yang mencuri perhatian saya malah Sherin. Cewek ini justru pengamat yang cerdas. Dia banyak mengamati dan.... menyelidiki. Haha~
Dan yang membuat saya mengerenyit... adalah tentang Saras. Ketika penulis menggambarkan Saras yang suka menggerombol dengan gengnya dan menggosip, tertawa keras-keras, dan merasa wajar karena mungkin sebagai anak asli Jogja berhak 'menguasai' alias cekakakan di area itu. Saya jadi berpikir, apa saya begitu juga ya dulu di kampus? Bikin teman-teman dari luar Jogja nggak nyaman karena cekakakan di lorong koridor kampus :D

Ending Konstelasi Rindu realistis bagi saya. Bukannya saya mengecilkan keajaiban tapi perjuangan hidup nggak selalu berujung manis. Ada ketegaran yang harus kita pelajari dari sakitnya kehilangan.

Saya rekomendasikan Konstelasi Rindu buat pembaca yang ingin menikmati cerita roman dengan kemasan yang arsitektur banget. Novel ini membuat saya merasa ingin kembali ke masa-masa awal kuliah dan mengingat teman-teman senasib di kala itu.

TEBAR-TEBAR QUOTE

Kalau ada yang menganggapku keras kepala, aku akan mengingat Eiffel dan menaranya.
Aku percaya. Seperti Eiffel yang percaya pada menaranya. (hlm. 8)

Yah, kalau kita baru terhadap sesuatu, kita memang tidak harus langsung memahaminya. Kita memang harus menunggu beberapa waktu sampai pemahaman itu mengendap sendiri di benak, kan? (hlm. 38)

Tak ada yang pasti, tapi menjalani hidup harus penuh keyakinan. (hlm. 88)

Apakah cinta bisa dihasilkan oleh mata seseorang, karena memandangmu membuatku seperti memandang surga. (hlm. 104)

"Ben, kenapa seseorang mempertahankan sesuatu yang nggak seharusnya dipertahankan?" (hlm. 110)

"Keterbukaan dan kejujuran kadang menyakitkan. Tapi ia harus ada dalam hubungan yang sehat." (hlm. 111)

"Tapi sesuatu yang paling penting terkadang adalah sesuatu yang tidak berani kita ucapkan." (hlm. 147-148)

Kehilangan sesuatu sedikit demi sedikit tidak terlalu menyedihkan dibandingkan sekaligus dalam jumlah banyak. (hlm. 151)

Mungkin kata-kata klise itu benar, bahwa kritik adalah vitamin, zat yang tidak bisa diproduksi oleh tubuh namun diperlukan untuk kesehatan jiwa yang bertumbuh. (hlm. 220)

"Berbuat sebanyak-banyaknya selagi masih bisa. Berbuat sebelum semesta menghentikan dengan caranya. (hlm. 250)

Masalahnya, Rin, you can't live the truth if you always try to please everyone.... (hlm. 334)

2 komentar:

Rindang Yuliani mengatakan...

Keren mak. Jadi ngiler pengen baca novelnya.

tya taya mengatakan...

wah jadi penasaran pengen baca bukunya :)

Posting Komentar

 

Nurina mengeja kata Published @ 2014 by Ipietoon